CINTA NARA

CINTA NARA
2.30. PENGORBANAN ALYA


__ADS_3

"Suster, ambil saja darah saya sebanyak yang dibutuhkan Bunga!"


Alya berbaring dan mulai ditangani oleh dua orang perawat. Darah sudah mulai mengalir dari lengannya melalui selang yang terhubung dengan kantong darah yang telah disiapkan.


"Tapi, Dok ...."


"Ambil dua kantong, Sus! Bunga sangat membutuhkannya dan tidak ada waktu lagj untuk menunggu pendonor yang lain." Alya tetap memaksa perawat untuk mengambil darahnya melebihi yang seharusnya.


"Tidak akan terjadi apa pun pada saya dan saya yang akan bertanggung jawab atas diri saya sendiri."


Akhirnya kedua perawat tersebut mengikuti kemauan Alya. Mereka menyiapkan satu lagi kantong darah untuk menampung darah berikutnya.


Alya memejamkan mata dan menenangkan pikirannya. Dia terus berdoa dan memohon kekuatan agar bisa menyumbangkan darahnya sebanyak yang dibutuhkan demi keselamatan nyawa Bunga yang tengah kritis sebab kembali mengalami perdarahan.


"Dokter tidak apa-apa?" Salah satu perawat merasa khawatir melihat wajah Alya memucat dan terus memejamkan mata.


"Saya baik-baik saja. Jangan khawatir," jawab Alya tanpa membuka matanya.


Sebenarnya dia sedang merasakan pusing luar biasa sehingga memilih untuk diam dan menutup mata guna meredakan rasa sakitnya.


Dibantu oleh perawat, pelan-pelan dia meninggikan posisi kakinya lebih ke atas dengan meletakkan tumpukan bantal di bawahnya.


Proses pengambilan dua kantong darah yang berlangsung selama satu jam akhirnya selesai. Salah satu perawat segera menyusulkan kantong darah yang kedua, setelah kantong darah yang pertama tadi sudah langsung diantarkan lebih dulu.


Alya menyamankan posisi duduknya agar tetap bisa menyandarkan kepalanya yang masih terasa sangat pusing. Dia juga merasakan tubuhnya sangat lemas.


"Dok, silakan diminum dulu. Setelah itu Dokter harus segera makan untuk memulihkan kondisi."


Seorang perawat lain masuk membawa nampan berisi menu makan siang khusus untuk Alya dan meletakkannya di atas meja lipat yang sudah lebih dulu dibentangkan di atas pahanya.


"Terima kasih." Alya mengambil gelas yang berisi teh manis yang masih hangat dan diminumnya sampi tandas.


Tinggal satu perawat yang masih berjaga mendampingi Alya yang masih beristirahat untuk memulihkan kondisinya.


Sambil menghabiskan makan siangnya yang sudah terlambat, dokter itu membuka ponsel dan mengirimkan pesan kepada pihak rumah sakit tempatnya bekerja untuk memperpanjang ijinnya beberapa hari ke depan.


Dia bukannya tidak tahu resiko bila mendonorkan darah secara berlebihan seperti yang baru saja dilakukannya. Namun demi keselamatan Bunga yang harus diutamakannya, dia mengabaikan kondisi fisiknya sendiri.


Tok ... tokk ... tokkk ...!!!


Perawat membukakan pintu dan masuklah sepasang suami-istri yang dikenali oleh Alya.

__ADS_1


"Bu Nara, Pak Yoga." Alya memberi salam dengan suara lirih. Lalu dia meminta perawat untuk memindahkan meja lipat yang baru saja dipakainya untuk makan di atas pembaringan.


"Bagaimana keadaan Dokter? Saya dengar dari perawat jika Dokter Alya memaksa untuk diambil darahnya hingga dua kantong." Nara mendekati Alya dan memegang tangan lemahnya.


Alya mencoba tersenyum agar tidak terlihat lemas meski sebenarnya dia sungguh merasa semakin tak berdaya.


"Saya akan baik-baik saja dan segera pulih. Yang terpenting sekarang adalah Bunga yang harus diutamakan keselamatannya."


Nara yang dulu pernah ditolong oleh Bunga, sudah menyumbangkan darahnya pagi tadi bersama dengan papanya Bunga.


Selain mereka berdua, tidak ada lagi yang bergolongan darah sama dengan Bunga, sehingga saat mengetahui Bunga kembali mengalami perdarahan, Alya memutuskan untuk mendonorkan darahnya yang kebetulan sama.


"Sebaiknya Dokter beristirahat dulu di sini sampai kondisi Dokter benar-benar sehat dan kuat."


Nara tidak tega melihat kondisi Alya yang masih sangat lemah akibat darahnya yang diambil terlalu banyak.


"Jangan mencemaskan saya. Sungguh saya tidak apa-apa dan akan segera pulih."


Alya mencoba untuk terus tersenyum dan mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain.


.


.


.


Sekarang kondisi wanita yang baru saja melahirkan itu sudah berangsur membaik. Dokter berhasil menghentikan perdarahan yang sempat dialami Bunga untuk kedua kalinya.


Yoga masuk ke ruangan Bunga seorang diri. Nara dimintanya untuk pulang lebih dulu karena sudah meninggalkan Raga di rumah sejak pagi tadi.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Yoga yang sudah berdiri di ujung pembaringan dan melihat sang sahabat duduk di samping istrinya.


"Alhamdulillah , dia baru saja sadar beberapa saat yang lalu. Kondisinya juga sudah stabil dan kembali di ambang normal. Aku memintanya untuk tidur lagi agar kondisinya lebih cepat pulih."


Lelaki itu terus mengusapi kepala sang istri sambil memperhatikannya dengan pandangan penuh kasih sayang.


"Untunglah ada pendonor yang dengan cepat menyumbangkan darahnya tepat waktu, sehingga istriku tertolong dan baik-baik saja sekarang," lanjut Ardi sembari terus menatap wajah Bunga yang masih tertidur pulas.


"Apa kau tahu siapa yang sudah menyelamatkan nyawa istrimu dengan darahnya?"


Ardi menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Siapa pun dia, aku sangat berterima kasih kepadanya. Semoga dia selalu dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Aku berhutang nyawa istriku padanya," jawab lelaki yang baru saja menjadi seorang ayah itu.


"Kamu bisa terterima kasih langsung kepadanya karena dia masih berada di sini," kata Yoga yang membuat Ardi mengalihkan pandangannya ke arah sahabat kecilnya.


"Benarkah? Di mana dia? Aku akan menemuinya saat ini juga."


Setelah meminta seorang perawat untuk menjaga istrinya, Ardi keluar dan mengikuti langkah Yoga menuju ke salah satu kamar pasien tak jauh dari ruangan Bunga.


"Mengapa dia ada di ruang perawatan?" tanya Ardi bingung karena setaunya para pendonor biasanya bisa segera pulang setelah beristirahat sejenak.


"Kondisinya masih sangat lemah karena bersikeras untuk menyumbangkan darahnya melebihi yang seharusnya. Istrimu membutuhkan tambahan darah sebanyak dua kantong sementara hanya dia yang bergolongan sama."


"Jadi, dia menyumbangkan dua kantong darah sekaligus?" Ardi semakin merasa berhutang hudi kepada sang pendonor tersebut.


Yoga mengangguk dan mempersilakan pemilik klinik itu masuk sendiri ke ruang perawatan di depan mereka.


Sementara itu, dia memilih duduk menunggu seraya membuka gawai untuk memeriksa beberapa laporan yang masuk ke email miliknya.


Ardi mengetuk pintu lalu seorang perawat membukakan dan membiarkan sang dokter masuk, sementara dia keluar dan menutup kembali pintunya.


Ardi melangkah pelan medekati pembaringan di mana seorang wanita yang sangat dikenalinya tengah tertidur dengan wajah yang masih terlihat pucat.


Ada haru yang menyeruak begitu saja memenuhi ruang hatinya yang menghangat seketika, setelah menyadari semua yang sudah dilakukan oleh wanita itu.


Dialah yang telah menyelamatkan nyawa Bunga dan sebelumnya juga telah membantu proses persalinan sang istri sehingga putri kecilnya terlahir dengan sehat dan selamat.


"Mengapa kamu melakukan semua ini? Mengapa kamu selalu berkorban demi orang lain? Dan mengapa semua pengorbananmu itu selalu saja berhubungan denganku? Mengapa?"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2