CINTA NARA

CINTA NARA
Pengakuan mama


__ADS_3

Papa memenuhi janjinya pada Nara. Ia dan mama pulang jam setengah duabelas siang. Nara tidak menanyakan dari mana mereka berdua pergi. "Untung saja Nara sudah keluar dari kamarnya Dina, " gumam Nara.


Setidaknya Nara tahu kalau begitu besar cinta Dina pada sosok Angga. Dina mulai menyayangi Dina setelah tahu mereka berdua adalah saudara kandung.


Saat papa dan mama datang, Nara sedang makan di ruang makan yang ada di lantai satu. Lumayan enak masakan yang dibuat oleh pembantunya mama.


Papa dan mama jadi ikutan makan bersama Nara. Mereka berdua jarang sekali makan bersama seperti ini. Sepertinya papa mengambil kesempatan makan bersama kali ini untuk akrab dengan putri kecilnya yang telah menjelma menjadi gadis dewasa.


"Nara, makan yang banyak ya. Ini mama keluar sengaja untuk membeli kamu ayam bakar, " tawar mama sambil mengeluarkan bungkusan ayam bakar dan diletakan diatas piring yang telah tersedia di atas meja.


"Iya ma, makasih, " ucap Nara sambil mengambil ayam bakar yang telah dibelikan mama.


Tak lama kemudian terdengar suara adzan mengalun indah. Papa dan mama Nara mengajak Nara untuk ikut sholat berjamaah bersama mereka.


Papa dan mama sepertinya sedang mengambil hati Nara. Semua tampak dibuat - buat. Membuat Nara jadi kikuk bersama mereka.


" Nara ... , setelah sholat langsung kita pergi ya, " pinta papa.


" Iya, pa, " jawab Nara.


Akhirnya papa dan Nara keluar dari rumah. Mereka berdua pergi ke tempat penerbit yang bekerja sama dengan Nara.


Mobill pajero hitam itu melesat meninggalkan mama sendiri. Papa sengaja pergi berdua saja dengan Nara. Tidak membawa supir pribadinya yang biasa menemani aktivitas sang jendral polisi ini.


Papa begitu bahagia bisa bersama sang putri. Papa yang memegang kendali mobil sedangkan Nara duduk manis disebelahnya. Nara tak pernah menyangka memiliki seorang ayah kandung, seorang jendral polisi yang tampan dan kaya raya.


"Nara ... papa bahagia kamu disini. Semoga kamu masih lama berada di Jakarta ini, " maunya papa.


"Hehe ... , beda banget sama doaku pa. Aku maunya segera pulang ke Bengkulu, " jawab Nara sambil terkekeh.


Berjalan berdua begini, pasti dikira banyak orang Nara jalan bersama pacarnya. Papa Nara yang bernama Pak Donnie Pramudya ini masih tetap menggoda, masih terlihat awet muda diusianya yang menginjak kepala lima.


Kita tinggalkan sejenak Nara dan papanya pergi. Tinggal mama sendiri di rumah bersama para pembantunya dan beberapa anggota polisi yang berjaga saat itu.


Setelah mama sholat berjamaah bersama Nara dan papa di sudut ruangan di lantai satu yang dijadikan mushola oleh papa Nara. Mama masuk ke dalam kamarnya yang juga berada dilantai dua. Kamarnya mama berada di samping kamarnya Nara.


Rumah mewah berlantai dua ini. Khusus di lantai dua terdiri dari tiga kamar berukuran luas. Ada sebuah ruangan keluarga yang berada di tengah diantara kamar yang ada.


Ruang keluarga ini di lengkapi sebuah TV flat 55 inchi dilengkapi dengan home theater speaker untuk bisa menikmati sensasi bioskop di dalam rumah. Ditambah ada dua buah sofa bed yang menghadap ke arah TV


Mama termenung dalam kamarnya. Duduk di depan meja rias yang selalu menjadi tempat favoritenya untuk merenung.


Dipandanginya pantulan sosok dirinya di depan cermin, masih cantik dan memikat.


Wajah cantik inilah yang menjadi modalnya dikala itu untuk merebut Pak Donnie dari istrinya. Tak cuma itu ia harus berpikir keras bagaimana menaklukan Pak Donnie muda yang amat setia dengan istrinya.


Berawal berpura - pura menjadi sahabat istrinya Pak Donnie, prahara itu pun terjadi. Menikam sahabat dari belakang, itulah sosok Dewi Anjani muda dikala itu. Penuh ambisi dan berbuat apa saja demi tercapainya apa yang ia inginkan.


Air matanya mama menetes di kedua sudut matanya. Lama - lama tak terbendung, air mata itu turun menggenangi wajah cantiknya. "Sebuah rahasia yang ia pendam, apakah suaminya akan memaafkannya, " batinnya berteriak.

__ADS_1


Sudah beberapa hari ini setelah Dina memohon padanya. Memintanya minta maaf pada ibu kandungnya Dina. Anak tiri yang sangat ia cintai.


Sebenarnya mama, Dewi Anjani merasa sangat bersalah. Ia nekat melakukan apa saja demi memiliki Pak Donnie dikala itu. Waktu itu ia masih muda, cinta dan harta membuang akal sehatnya.


Kesadaran itu timbul setelah mama sering mengikuti pengajian dan tausiyah islami beberapa tahun ini. Membuatnya memendam rasa bersalah yang amat dalam.


Puncak kesedihannya mama, saat ia putus asa. Saat Dina membutuhkan donor sumsum tulang belakang dan ia bersama papanya tidak bisa berbuat banyak.


Papa Dina izin terlebih dahulu pada mama untuk menghubungi mantan istrinya. Demi kesembuhan Dina. Sebenarnya bisa saja Pak Donnie tak perlu meminta izin padanya. Seharusnya ia langsung menghubunginya dan tak perlu mendapat izin darinya.


Pak Donnie Prambudya adalah orang baik. Hanya ia terlalu percaya pada asutan Dewi Anjani dikala itu, sebuah foto perselingkuhan istrinya membuatnya marah. Membuatnya harus membuang istrinya dari sisinya.


Namun mama belum berani mengutarakanya pada papa. Ia takut suaminya itu murka dan berbalik membencinya. Ia tak punya keberanian untuk membuat pengakuan dosa pada suaminya.


Namun ia tak boleh berdiam diri. Dina sudah meminta padanya. Demi Dina, mama harus melakukannya. Ia tak punya jalan lain, ia tak ingin anak yang sedari kecil dibesarkannya itu membencinya.


Dari perkawinannya dengan papa, mama tak bisa memberikannya keturunan. Ini yang membuatnya sedih, ia mandul dan tidak akan pernah bisa memberikan keturunan buat suaminya.


Pak Donnie Prambudya dikala itu bisa saja menceraikannya. Namun itu tak pernah ia lakukan. Makanya mama sangat menyayangi Dina. Dina yang membuat hubungan mereka menjadi lengkap. Seorang anak kecil bawaan anak dari mantan istrinya.


Kegalauan melanda mama. Kini saatnya ia harus berterus terang. Ia tak ingin memendam rasa bersalah ini bertahun - tahun lamanya.


Lama berdiam diri di depan cermin meja rias, membuat mama mengantuk. Akhirnya ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Melupakan sesaat rasa bersalah dalam dadanya.


Adzan magrib membangunkan mama dari tidurnya. Ia mengucek matanya dengan tangan kanan. " Hah ... ," desah mama sambil melihat pukul 6 sore dari jam dinding kamarnya. Sudah jam segini papa dan Nara belum juga kembali.


Mama lalu beranjak bangun dan langsung mandi. Tak lupa ia mengambil wudhu untuk menunaikan sholat magrib. Dalam doanya mama menangis memohon ampun pada yang Khalik. Ia tak sanggup lagi menyimpan rasa bersalah pada Ayana, ibu kandung Nara.


Air mata mama tak henti menetes keluar dari kedua sudut matanya. Menggenangi wajahnya yang cantik. Ia meratapi menyesali diri mengapa ia sangat kejam pada Ayana, seorang sahabat yang ia tahu betul perjuangannya untuk menikah dengan Pak Donnie Prambudya.


Masih menggunakan mukena, mama berjalan mendekati meja rias. Mengambil sesuatu dari dalam laci. Kemudian ia menggoreskan silet tepat di urat nadi pergelangan tangan kirinya. "Au ... hiks ...hiks ... hiks, " suara jerit kesakitan dan tangis keluar dari mulut mama. Lalu darah segar mengalir dari luka bekas sayatan silet itu. Melihat darahnya sendiri bercucuran di lantai, membuat mama lemes. Matanya berkunang - kunang lalu " bruk " ia pun jatuh terduduk di lantai mencoba bersandar pada kursi meja rias.


Tiba - tiba pintu kamar mama ada yang mengetuk pintu. Ada setengah jam pintu kamar tidak terbuka. Semua menjadi cemas dibuatnya. Tadinya papa ingin membuka paksa pintu kamarnya. Untung saja papa menyimpan kunci serepnya. Akhirnya pintu pun terbuka. Papa, Nara dan dua orang pembantu di rumah menemukan mama yang masih menggunakan mukena terduduk lemas di lantai dekat meja rias.


Papa histeris melihat istrinya lemas tak berdaya. Ia langsung membuka mukena putih mama yang tersimbah darah itu. Lalu mukena itu di gulung seadanya dan di ikat pada pergelangan tangan kiri istrinya. Ia mencoba menekan luka dengan kain mukena untuk menghentikan kucuran darah yang masih terus mengalir.


Nara kaget melihat apa yang baru saja ia lihat. Sebuah kejadian yang membuatnya berpikir keras. Mengapa mama sampai nekat melalukan percobaan bunuh diri itu ? Suatu perbuatan yang dilaknat oleh Allah dan merupakan dosa besar yang tak terampuni.


Semua panik, papa bergerak cepat. Dengan tubuhnya yang masih kekar di usianya. Papa membopong istrinya keluar kamar turun ke bawah mengikuti tangga yang terasa amat lama baginya. Dua orang pembantu perempuan ternyata lebih sigap lagi, mereka duluan turun untuk memanggil bala bantuan.


Nara mengikuti langkah kaki papanya yang membopong istrinya yang lemas tak berdaya. Wajah sang istri pucat pasi lantaran darah yang keluar banyak dari sayatan silet dari pergelangan tangannya.


Bik Ijah yang sedang masak di dapur langsung keluar melihat suara gaduh yang terjadi. Pak supir dan beberapa penjaga rumah yang yang notabene seorang anggota polisi yang sedang menjaga rumah sang jendral bintang empat. Mereka langsung sigap menyambut Pak Donnie ketika turun dari tangga beton putar rumahnya yang megah. Saat mereka ingin mengulurkan tangan untuk membantu mengganti membopong istri sang jendral.


Pak Donnie langsung berteriak saat turun dari tangga. " Pak Izal ... tolong keluarkan mobil dari garasi. Cepat !!! " perintahnya dengan suara keras.


Pak Izal langsung berlari - lari masuk ke dalam mobil dan segera mengeluarkannya secepatnya. Ia tampak gugup menyetir mobil pajero hitam yang biasa digunakannya.


Nara berlari duluan untuk membuka pintu mobil. Di ikuti pak satpam yang juga buru - buru masuk duluan untuk menyambut istri majikannya. Setelah pintu terbuka lebar papa langsung menduduki istrinya di jok mobil tengah. Lalu mama ditarik pelan oleh pak satpam ke sisi dekat pintu samping kirinya. Kemudian papa naik dan duduk di kursi mobil. Lalu pak satpam turun lewat pintu samping kiri.

__ADS_1


Pak satpam lalu duduk di samping kiri Pak Izal. Nara pun langsung masuk duduk di jok paling belakang. Lalu mobil pajero hitam itu melaju ke rumah sakit terdekat di dekat rumah kawasan Pondok Indah.


Tiba di depan IGD rumah sakit, seorang satpam rumah sakit dengan sigap mengeluarkan brankar untuk menyambut pasien yang baru datang.


Mama lalu di dorong masuk ke dalam IGD. Ia langsung di sambut perawat IGD yang cekatan. Seorang dokter muda kemudian memeriksa keadaan umum mama.


Untung saja papa dan Nara cepat pulang. Biasanya percobaan bunuh diri dengan memotong urat nadi tidak serta merta langsung meninggal. Meninggalnya secara perlahan apabila perdarahannya banyak tidak bisa diatasi.


Cukup lama juga saat mama menyayat urat nadinya dengan papa yang membuka pintu kamar hampir setengah jam lamanya. Dan lima belas menit perjalanan menuju rumah sakit terdekat.


Perdarahan yang lumayan banyak membuat mama kehabisan darah. Mama harus di rawat di rumah sakit dan memerluhkan tranfusi darah untuk pengobatan selanjutnya.


Menjelang dua hari pasca tranfusi darah kesehatan mama berangsur pulih. Raut wajahnya mulai sedikit merona. Namun rasa malunya membuat ia enggan bertemu orang - orang.


Pak Donnie dengan setia menemani istrinya di rumah sakit. Ia tidak menanyakan penyebab istrinya berbuat nekat untuk mengakhiri hidupnya. Ia ingin istrinya sendiri yang akan mengatakan langsung padanya.


Sore hari di rumah sakit. Mama belum diperbolehkan pulang sebelum bertemu dengan dokter psikiatri. Rencananya baru besok ia akan di konsulkan dengan dokter bagian kejiwaannya.


Dalam kesempatan kali ini. Mama mulai mencoba berbicara pada suaminya. Masih menggunakan pakaian pasien dari rumah sakit dan masih terbaring di tempat tidur pasien.


" Papa ... maafkan mama. Mama mau membuat pe-ngakuan pada pa-pa. Terlebih dahulu mama minta maaf, " pintanya terbata bata sambil meneteskan air mata.


" Apa yang ingin mama sampaikan padaku, " tanya papa pelan dan duduk mendekat di kursi samping pasien.


"Berat rasanya mama menceritakan semua pada papa. Namun harus mama ungkapkan di sini. Mohon papa jangan menyela. Dengarkan saja dulu apa yang akan mama ucapkan.


Papa mengangguk saja apa yang istrinya akan jelaskan padanya. Sebenarnya papa sudah tahu apa yang ingin dijelaskan istri cantiknya ini.


" Ayana pa ... ia tidak pernah berselingkuh dengan supir pribadinya. Itu semua mama yang mengaturnya. Mama menjebaknya dengan meminta bantuan orang dari Bengkulu untuk melakukannya, " jelas mama.


" Foto - foto itu hanya rekayasa saja. Saat Ayana mau jatuh saat ia mau pingsan dan dipeluk oleh sang supir yang baik itu, " terang mama.


Papa hanya diam saja mendengarnya, tidak bergeming sedikitpun. Ia mencoba mengingat sesuatu yang ingin dipertanyakannya.


"Namun ... mengapa ada foto mereka berdua pergi ke pesta pernikahaan dengan baju yang senada, " tanya papa penasaran.


"Ayana mengajak papa untuk menemaninya ikut pesta pernikahan itu, tapi papa tidak bisa ikut karena saat itu aku meminta bantuan papa. Aku korban tabrak lari yang membuatku di rawat di rumah sakit. Lantas papa membantuku. Sementara Ayana yang menunggu papa tak kunjung datang. Akulah orang yang menyuruh Ayana pergi bersama supirnya. Baju yang seharusnya buat papa digunakan supirnya untuk menemaninya dalam acara pernikahan itu.


"Itu yang papa marah. Beraninya Ayana memberikan baju lalu digunakan oleh sang supir. Papa murka dikala itu, " terang mama.


"Namun mengapa papa percaya saja yang diucapkan mama di kala itu, " tanya papa lagi.


" Iya pa. Papa pasti akan menurut sama mama. Mama memiliki susuk yang ada diwajah mama. Susuk berlian yang di taruh dimuka mama sampai sekarang, " terang mama lagi.


"Apa ? " tanya papa.


Pak Donnie shock mendengar istrinya memiliki susuk. Ia juga heran di kala itu. Mengapa ia percaya saja pada ucapan sahabat istrinya yang sekarang menjadi istrinya.


Papa bengong saja mendengar pengakuan istrinya. Dia diam tak bergeming, mau marah tapi tidak dilakukannya.

__ADS_1


"Maafkan aku pa, aku stres menyimpan rahasia ini rapat - rapat. Aku sekarang sudah mau bertobat. Perbuatanku dimasa lampau menghantuiku sepanjang hidupku, " mohon mama sambil memegang erat tangan kanan suaminya.


__ADS_2