CINTA NARA

CINTA NARA
3.50. KEJUTAN DI PAGI HARI


__ADS_3

Pagi harinya, Alya sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit. Setelah memghabiskan sarapannya, wanita yang berpenampilan rapi dan formal itu pamit pada kedua orangtuanya.


Berjalan ke arah depan dan keluar menuju halaman, Alya membuka pintu belakang lalu segera masuk dan duduk di dalam mobil putih yang sudah menjadi teman setianya beraktivitas sehari-hari.


"Kamu tidak ingin duduk di depan bersamaku?" Terdengar suara dari arah kemudi, membuat gerakan tangan dokter kandungan yang akan menutup pintu di sampingnya terhenti seketika.


Pandangan Alya beralih ke depan, memastikan penglihatannya yang semakin melebar saat mendapati orang lain yang berada di sana, bukan Pak Arif seperti biasanya.


"Ka-Kamu ...??" Suaranya tercekat, tak mampu berucap lagi.


Apakah aku sedang berilusi? Mengapa dia bisa berada di sini sepagi ini?


"Bu-bu ... Ya-ya ... Bu-bu ...."


Sontak Alya tersentak begitu mendengar suara mungil yang sangat jelas di telinganya.


Apakah telingaku sedang salah dengar? Mengapa suara lucu itu seakan ada di sini juga?


Bergeser lebih ke tengah lalu memajukan tubuhnya dan mengarahkan pandangannya ke kiri dan ke kanan, Alya baru menyadari bahwa apa yang dilihat dan didengarnya adalah nyata.


"Aura ...!"


Sepasang mata indahnya semakin berbinar saat mendapati bayi kesayangannya duduk sendiri di kursi sebelah kiri. Sementara di belakang kemudi, ada Ardi yang sedari tadi terus menatapnya dengan pandangan kasih penuh kerinduan.


Tangan kiri Alya sudah berada dalam genggaman mungil Aura. Sedangkan tangan kanannya berpegangan pada sandaran kursi kemudi yang diduduki oleh lelaki yang juga dirindukannya.


Untuk sesaat pandangan mereka bertemu dalam jarak yang cukup dekat lantaran posisi Alya yang masih membungkuk ke depan dan tangannya terus ditahan oleh Aura.


Tanpa kata, tatapan keduanya telah saling memberi tanda adanya kerinduan yang sama yang terpancar dari sorotan mata nan lembut sarat cinta yang saling mengunci dan menatap semakin dalam.


Namun tak lama kemudian Alya menunduk kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Aura yang terus berceloteh dan memanggilnya dengan riang.


"Apa kamu tidak ingin duduk bersamanya di depan?" Terdengar lagi suara Ardi yang semula dikira Alya hanya halusinasi semata.


Sejurus kemudian barulah Alya benar-benar tersadar dan percaya dengan semua yang terjadi. Seukir senyuman terpahat indah menghiasi wajahnya yang terasa menghangat dan kemerahan.


Wanita berparas ayu nan penuh kelembutan itu mengangguk lalu melepaskan dengan pelan genggaman tangan Aura. Dia segera turun dan berpindah duduk ke depan bersama putri kecil Ardi yang langsung bermanja di pangkuannya.

__ADS_1


Alya salah tingkah saat Ardi tak kunjung melajukan mobil, justru memaku pandangan ke arahnya. Sepertinya lelaki itu sungguh-sungguh dengan ucapannya semalam, yang mengatakan bahwa dia sangat merindukan Alya.


Merasakan wajahnya semakin menghangat, Alya terus menyembunyikannya dari Ardi. Dia terus bermain bersama Aura yang duduk berhadapan dengan kedua tangan bermain di wajah keibuannya.


Meski belum saling mengungkapkan perasaan setelah bertemu kembali, Ardi merasa lebih tenang setelah bertemu dan melihat keadaan Alya yang baik-baik saja.


Lelaki itu tersenyum melihat keakraban Alya dan putri kecilnya yang tampak semakin ceria setelah berjumpa dengan sosok wanita anggun tersebut.


Meskipun sudah tiga bulan tidak bertemu secara langsung, Aura terlihat nyaman dan langsung lengket dengan Alya. Wanita keibuan itu memang sering bertatap muka dengan putri kecilnya melalui panggilan video, sekedar untuk menyapa dan berceloteh ria bersama bayi cantik yang tumbuh semakin memggemaskan tersebut.


Mengingat waktu praktek Alya semakin dekat, Ardi mulai melajukan mobil menuju rumah sakit, melupakan sejenak kerinduan yg masih ingin dipuaskannya lebih lama.


.


.


.


"Kapan kamu tiba?"


Setelah menidurkan Aura dengan sebotol susu yang telah disiapkan ayahnya di dalam mobil, Alya membuka percakapan dengan Ardi yang sedari tadi masih terus mencuri pandang ke arahnya.


Alya mengangguk dan tersenyum menatap wajah tenang nan pulas bayi cantik di pangkuannya. Dia sangat merindukan Aura, sama seperti dia merindukan ....


Kelana pikirnya terhenti saat mendengar suara dari seseorang yang bayangannya masih melekat dan hampir terucap namanya dalam hati.


"Pagi ini dia akan menjalani pemeriksaan bulanan lagi. Kemarin aku sudah melakukan pendaftaran daring untuk bertemu dengan dokter pagi ini."


Alya semakin berdebar ketika mendengar suara Ardi yang tiba-tiba terdengar lagi saat dia tengah membayangkan lelaki di sampingnya itu.


Dia tidak lupa jika minggu ini adalah waktunya Aura menjalani pemeriksaan bulanan untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatannya. Alya selalu memantau kondisi kesehatan bayi lucu itu, saat tiba waktunya pemeriksaan berkala.


"Mengapa tidak diperiksakan dulu di sana, Di?"


Alya memperhatikan bayi di pangkuannya. Aura terlihat sehat dan segar, tadi sebelum tidur pun sangat ceria dan riang gembira.


Lampu lalu-lintas yang menyala merah membuat Ardi menghentikan laju mobilnya di persimpangan terakhir sebelum sampai ke rumah sakit.

__ADS_1


Kesempatan itu digunakan oleh ayah satu putri itu untuk menatap lembut wajah wanita yang duduk di sampingnya. Pertemuan dan kebersamaan mereka selama ini, mulai mengalihkan kesedihan dan rasa kehilangan Ardi akan kepergian Bunga istrinya.


Kehadiran Alya membuatnya menjadi bersemangat kembali dan terus berjuang demi masa depan dan kebahagiaan Aura, putri cantik yang ditinggalkan bersamanya.


Untuk sesaat dokter duda itu teringat pada almarhumah istrinya, yang sudah tiada tujuh bulan yang lalu. Pikirannya kembali dipenuhi dengan permintaan dan pesan terakhir Bunga yang terus terngiang-ngiang di telinganya.


Apakah kamu benar-benar ikhlas dan rela, jika aku membuka hati lagi dan terus mencoba meyakinkan dirinya agar bersedia menjadi bagian dari kami, aku dan Aura?


Tolong yakinkan aku sekali lagi, bahwa kamu akan tenang dan bahagia di sana jika aku memintanya untuk menjadi pelengkap hidupku dan juga Aura putri kecil kita.


"Ardi ...?" panggilan lembut Alya menyadarkan Ardi dari lamunan sesaatnya. Dia mendapati wajah keibuan wanita itu tengah menatap dan menanti jawabannya.


"Kemarin lusa aku sudah memeriksakan Aura di sana dan kondisinya cukup baik. Kepergian kami kemari memang keputusan mendadak yang aku ambil. Maafkan aku, Al. Mungkin aku egois terhadap putriku sendiri. Tapi aku percaya Aura pasti juga sudah sangat merindukan dirimu ... sama sepertiku."


Seketika seluruh tubuh Alya menghangat dan dipenuhi desiran halus yang menyentuh lembut dinding hatinya. Wajah wanita anggun itu semakin terlihat merah merona dengan sepasang mata indahnya yang telah berkaca-kaca.


Pandangan teduh penuh kasih itu segera beralih dan menghindari tatapan netra pekat Ardi yang tak kalah sendu dan penuh cinta.


Alya kembali memaku pandangannya pada wajah cantik bayi yang dia sayangi sepenuh hati dan selalu dirindukannya saat jauh dan tak bisa bertemu.


Ardi tersenyum dan berpaling menatap jalanan di hadapannya. Terlihat lampu yang menyala merah sudah padam dan berganti dengan warna hijau. Segera dirinya kembali memusatkan konsentrasi untuk melajukan mobil, menuju rumah sakit yang puncak gedungnya telah terlihat dan semakin dekat.


Aku akan mencoba memenangkan hatimu kembali, Al. Aku akan membantu untuk memulihkan trauma dan ketakutan yang masih membelenggu jiwamu, agar kita bertiga bisa segera bersama dan tak terpisahkan lagi.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2