
"Dia anakmu?" Mata licik Marcell menatap tajam ke arah bocah kecil yang terus merengek itu.
Kepolosannya menunjukkan bahwa dia merasa tidak nyaman dengan orang asing yang ada di hadapan mereka.
"Ya! Dia anak kami. Dan saya adalah suami Nara!"
Suara berat dan bernada tinggi terdengar dari belakang Marcell, membuat Nara sontak bangkit dari duduknya dan melangkah cepat menghampiri Yoga yang berdiri dengan kilatan amarah di matanya, menatap dengan sangat tajam ke arah Marcell yang sudah berbalik badan.
Meskipun belum pernah bertemu dan bertatapan secara langsung sebelumnya, tapi pandangan kedua lelaki itu menyiratkan adanya sesuatu yang disembunyikan satu sama lain. Entah dendam, entah amarah, atau keduanya.
Yoga dengan sigap mengambil Raga dari Nara dan menggendongnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya merengkuh tubuh sang istri hingga merapat dengan putra mereka yang langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Yoga dengan sangat erat.
Nara pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami, dengan wajah yang masih pias dan penuh ketakutan.
Mereka bertiga saling berpelukan, menjadi satu ikatan yang saling menguatkan untuk menghadapi seseorang di hadapan mereka yang hanya diam dan tersenyum kecut melihat kedekatan emosional ketiganya.
"Ooh, sepertinya saya sudah mengganggu kebahagiaan keluarga kalian." Senyum sinis Marcell kali ini serupa ejekan bagi mereka yang melihatnya.
Yoga menahan emosinya yang sudah memuncak. Ucapan lelaki itu membuat wajahnya semakin tegang dan merah padam.
"Baiklah, saya akan pergi. Selamat menikmati kebersamaan kalian."
Tapi sebelum pergi, pandangan mata Marcell beralih ke wajah Nara. Dia menatapnya dengan liar dan penuh maksud, membuat Yoga semakin marah dan terusik.
"Jaga pandangan Anda! Jangan bertingkah kurang ajar pada istri saya!!"
Marcell tertawa kecil penuh kepuasan. Dia senang bisa memancing kemarahan lawan bicaranya saat ini.
"Saya hanya menikmati pemandangan indah yang terpampang nyata di hadapan saya. Apa itu salah?"
Seketika Nara menyembunyikan wajahnya di atas dada suaminya, dibantu Yoga yang ikut melindungi dengan mendekap kepalanya.
"Saya pergi sekarang. Tapi saya pastikan saya akan kembali lagi untuk mengambil milik saya."
Dengan senyuman licik di bibirnya, lelaki itu melangkah menjauh meninggalkan Nara dan keluarganya yang masih berdiri dengan perasaan tidak nyaman.
Tak ada lagi selera makan saat seorang pramusaji menghidangkan pesanan mereka. Raga pun sudah tertidur di bahu ayahnya.
Akhirnya Yoga memutuskan untuk membawa istri dan anaknya pulang, dan meninggalkan pesanan mereka untuk pramusaji yang sudah mengantarkannya.
.
__ADS_1
.
.
Yoga masih sibuk dengan ponselnya. Dia meminta Beno mengatur penjagaan untuk Nara dan Raga lebih rapat dari sebelumnya.
"Mas ...."
Yoga menyudahi panggilan suaranya dengan sang asisten begitu mendengar suara lembut Nara mendekat ke arahnya.
Belum sampai dia berbalik, dirasakannya tubuh istrinya sudah menempel di punggungnya dan merebahkan kepalanya di bahu belakang. Pelukan Nara seketika menghangatkan hati dan jiwanya yang tengah dirundung kekhawatiran.
Disentuhnya kedua tangan Nara yang melingkari pinggangnya, diambilnya satu dan dibawanya ke atas, lalu dengan mata terpejam diciumnya tangan itu dengan penuh perasaan. Hatinya bergetar, seindah biasanya.
Dari belakang tubuh Yoga yang disandarinya, Nara turut memejamkan mata dan meresapi ciuman hangat dari lelaki itu, kemudian dibalasnya dengan ciuman penuh kasih di bahu sang suami.
Yoga tersenyum merasakan kemanjaan istrinya. Kemanjaan yang selalu membuatnya bahagia dan terus bersyukur karena dirinyalah yang telah menjadi pemilik hati wanita istimewa tersebut.
"Ada apa, Sayang?" tanya lelaki itu seraya memalingkan wajahnya ke samping, melihat istrinya yang masih menyamankan pelukannya dari belakang.
"Aku takut, Mas ...." Yoga merasakan sang istri semakin mempererat pelukannya sekuat tenaga.
Serta-merta Yoga berbalik dan merengkuh tubuh Nara ke dalam pelukannya. Disatukannya tubuh mereka rapat-rapat tanpa sekat, dipeluknya sangat erat.
Yoga melabuhkan ciuman hangat di kening istrinya. Tak lupa dipanjatkannya doa-doa untuk keselamatan mereka sekeluarga.
Di dalam hatinya, lelaki itu sebenarnya sangat gelisah dan mengkhawatirkan istrinya. Namun dia tak bisa menunjukkannya karena Nara sendiri sudah sangat ketakutan akan kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa mereka.
"Serahkan semuanya pada Allah, Dia yang akan menjaga kita semua dari segala bentuk kejahatan dan niat jahat orang lain yang hendak mencelakai keluarga kita."
"Ingatlah selalu perjuangan kita untuk menyatukan cinta yang luar biasa ini. Percayalah pada kekuatan cinta sejati kita!" Yoga melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala wanita tercintanya.
Nara mengangguk di dalam pelukan suaminya. Dia terus berdoa dan memohon perlindungan pada Allah dari segala kemungkinan buruk yang tengah mengancam keselamatan mereka sekeluarga.
"Tidak akan kubiarkan siapa pun merenggut kebahagiaan keluarga kita, Mas. Aku akan berjuang bersamamu, melawan siapa pun yang mencoba untuk memisahkan kita. Akan kupastikan, dia tidak akan bisa melakukannya!"
Nara tak ingin menjadi wanita lemah dan dilemahkan oleh pikiran buruk yang hampir saja mengikis kepercayaan dirinya. Ucapan suaminya menjadi sumber kekuatan di dalam hatinya.
Wanita itu terus meyakinkan diri untuk mengalahkan ketakutannya dan berjuang mempertahankan keutuhan keluarganya, tanpa seorang pun yang akan sanggup untuk mencerai-beraikan mereka bertiga.
"Aku percaya pada kekuatan cinta kita, Mas. Kekuatan cinta kita telah teruji sedemikian hebatnya di awal pernikahan dulu. Dan selamanya, kekuatan cinta kitalah yang akan terus menyatukan aku dan kamu untuk selamanya!"
__ADS_1
.
.
.
Yoga berangkat ke kantor seorang diri. Dia tidak ingin mengambil resiko dengan membawa keluar istri dan anaknya dan membahayakan keselamatan mereka.
Lelaki itu merasa lebih tenang apabila Nara dan Raga berada di rumah dan dikelilingi penjagaan tersembunyi dari orang-orang pilihan Beno, sesuai permintaannya beberapa hari yang lalu.
Sesampainya di kantor, dia menghubungi Nara untuk memantau kondisinya di rumah. Saat berjauhan seperti ini, hatinya semakin merasa tidak tenang dan terus memikirkan Nara dan juga buah hati mereka.
"Sayang, jangan pergi ke mana pun selama aku tidak ada. Segera setelah pertemuanku hari ini selesai, aku akan pulang." Yoga menelepon istrinya dan terus mengingatkan supaya tetap berada di rumah apa pun yang terjadi.
Dia baru menutup panggilannya setelah Pram masuk dan memintanya untuk segera datang ke ruang pertemuan karena tamu mereka sudah menunggu.
Dua pertemuan dijalani Yoga dengan lancar, sampai tiba saatnya waktu istirahat. Di dalam ruangannya, sudah tersaji menu makan siang yang baru saja diantarkan Pak Budi dari rumah.
Dengan lahap Yoga menikmati hasil masakan istrinya yang selalu menggugah selera makannya. Dia menghabiskan semuanya dengan cepat karena harus segera berangkat untuk memenuhi undangan dari salah satu pengusaha setempat yang ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaannya.
Tanpa didampingi Pram, Yoga meninggalkan kantor seorang diri menuju gedung perusahaan di mana sang pemilik telah mengirimkan undangan beberapa hari sebelumnya.
Dia tidak menyadari jika sejak keluar dari kantor tadi,
dirinya sudah diikuti oleh sebuah mobil yang dikemudikan oleh Marcell.
Lelaki itu telah merencanakan sesuatu untuk mencelakai Yoga dan membawa Nara pergi bersamanya.
"Aku akan segera menemukan celah lengahmu dan kupastikan aku akan mengambil Nara darimu, secepatnya ...!!!"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.