CINTA NARA

CINTA NARA
97 PERGI DAN KEMBALI


__ADS_3

Pagi itu, enam bulan yang lalu ....


Tante Arum sudah berdandan rapi dan cantik dengan kain kebayanya, untuk menghadiri upacara wisuda putra sulungnya, Dicky. Dua adik Dicky, Rizka dan Ricky tidak ikut menemani mamanya karena mereka ada ujian di masing-masing sekolahnya.


Mereka sekeluarga terpaksa meminta ijin pada Yoga karena tidak bisa datang memenuhi undangan syukuran satu tahun pernikahannya dengan Nara. Yoga memakluminya dan mengucapkan selamat kepada Dicky atas kelulusannya.


"Papamu pasti bangga, Nak. Putra sulungnya sudah menjadi sarjana seperti harapannya."


Tante Arum mengusap kepala Dicky dengan haru. Beliau teringat almarhum suaminya, yang meninggal dunia karena kecelakaan bersama Dicky, tujuh tahun yang lalu.


"Ini semua juga berkat kebaikan hati keluarga Mahendra, Ma. Terutama Mas Yoga yang tetap memperhatikan keluarga kita, meskipun Om Surya dan Tante Ratna menyusul Papa meninggal dunia."


Tante Arum mengangguk. Dalam hatinya, setiap saat di selalu bersyukur mempunyai sahabat baik seperti Ratna, mamanya Yoga yang juga bersuamikan seorang dermawan, Surya Mahendra.


"Apa pun akan aku lakukan untuk membalas kebaikan keluarga Mas Yoga. Bahkan jika nyawaku bisa untuk mengganti budi baik mereka, aku pasti akan memberikannya, Ma."


Jantung Tante Arum berdegup kencang. Ucapan sang putra membuatnya teringat pada kenyataan pilu yang didengarnya tanpa sengaja beberapa waktu yang lalu.


Saat itu, mereka sekeluarga datang ke kediaman Yoga untuk menghadiri acara aqiqah Raga sekaligus menyambut kepulangan Yoga dari rumah sakit.


Acara berlangsung lancar dan khidmat, hingga tiba pada saat ramah-tamah dan istirahat, Tante Arum tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan dua orang lelaki berbeda generasi, yang sedang menyebut nama Yoga dalam perbincangan serius mereka.


"Saya justru semakin merasa takut, Dok. Mengingat sakit yang masih diderita Yoga, saya takut kebahagiaan itu tidak akan lama mereka rasakan bersama." Demikian yang diucapkan lelaki yang lebih muda usianya, yang tak lain adalah Ardi.


Karena penasaran dengan topik pembicaraan mereka tentang penyakit Yoga, Tante Arum pun menghentikan langkahnya menuju dapur dan berdiri merapat di balik ujung dinding yang bisa digunakannya untuk bersembunyi.


"Sangat sulit untuk mendapatkan pendonor dalam waktu secepat ini, sementara waktu kita sangat terbatas dan semakin berkurang bahkan di setiap detiknya." Lelaki paruh baya yang tak lain adalah Dokter Danu menanggapi perkataan Ardi.


Berawal dari sanalah, Tante Arum mulai mengetahui tentang riwayat penyakit yang dimiliki Yoga dan beberapa kali sudah nyaris merenggut nyawanya.


Sejak saat itu, diam-diam Tante Arum selalu mencari informasi tentang kondisi kesehatan Yoga dari waktu ke waktu.


Karena gigih mencari tahu dengan alasan ingin membantu Yoga menemukan pendonor jantung untuknya, akhirnya Tante Arum bisa bertemu Dokter Danu dan menyampaikan keinginannya tersebut.

__ADS_1


Namun kenyataannya, memanglah sulit untuk mencari pendonor jantung mandiri dalam waktu yang terbatasi oleh harapan hidup Yoga yang kian menipis.


"Ma, ayo kita berangkat sekarang. Jangan sampai terlambat tiba di gedung."


Suara Dicky membuyarkan lamunan Tante Arum tentang Yoga yang malang. Dia mengangguk lalu mengikuti sang putra keluar dari rumah dan mengunci pintu, sebelum masuk ke dalam mobil yang dikendarai sendiri oleh Dicky.


Prosesi wisuda berlangsung lancar sesuai rangkaian acara yang direncanakan. Rizka dan Ricky memberi kejutan kepada kakaknya dengan kehadiran mereka usai acara, selepas mereka pulang dari sekolah.


Setelah melakukan beberapa kali pemotretan keluarga dengan baju toga kebanggannya, Dicky mulai merasakan sakit kepalanya kambuh kembali dan membuatnya sangat kesakitan.


"Ma ... kepalaku, Ma!" Dicky memegangi kepala bagian belakangnya dan memanggil Tante Arum yang tengah berbincang dengan beberapa kenalannya yang juga menghadiri wisuda anak mereka.


Begitu Tante Arum menoleh, Dicky sudah tak sadarkan diri di pangkuan kedua adiknya.


"Dicky ...!! Rizka, Ricky, kita ke rumah sakit sekarang!"


Dengan bantuan teman-teman Dicky, mereka akhirnya sampai di rumah sakit dan Dicky segera mendapatkan pertolongan darurat dari dokter yang menangani penyakitnya sejak awal dulu.


Saat mengalami kecelakaan bersama papanya tujuh tahun yang lalu, Dicky yang terkena cidera parah di kepalanya segera dioperasi dan setelah itu harus rutin melakukan terapi untuk pemulihan kondisi otaknya yang mengalami trauma berkelanjutan.


Dan akhirnya, hari terburuk itu pun tiba. Dokter menyatakan kondisi Dicky kolaps dan kritis. Pembuluh darah di bagian otaknya sudah mengalami kerusakan sehingga menghambat asupan oksigen ke otak dan menyebabkan beberapa bagian sel otaknya mengalami kematian.


Tante Arum merasa akan kehilangan putra sulungnya, menyusul sang ayah tercinta. Dan seperti telah menjadi garis takdir mereka untuk bertemu, saat Tante Arum keluar dari ruangan dokter, beliau melihat Nara yang didampingi beberapa orang di sekitarnya terus menangis memanggil nama suaminya.


Seketika wanita paruh baya itu teringat tentang riwayat penyakit Yoga. Tanpa membuang waktu lagi, beliau kembali menemui dokter yang menangani Dicky untuk berkoordinasi dengan Dokter Danu, guna memeriksa kemungkinan Dicky untuk mendonorkan jantungnya, apabila putra sulungnya tersebut meninggal dunia sebelum Yoga.


Selagi para dokter melakukan pemeriksaan terhadap kedua pasien kritis tersebut, Tante Arum pergi ke musholla dan mendapati Nara juga sudah berada di sana lebih dulu.


Saat beliau menghampiri dan menepuk pundaknya, Nara langsung menghambur dan menangis di pelukannya, tanpa tahu jika dirinya pun tengah merasakan hal yang sama dengan Nara.


Dia mencoba menenangkan Nara sementara dirinya sendiri pun sedang berusaha menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Dicky.


Tak berapa lama kemudian, mereka kembali ke ruang perawatan Yoga sementara Tante Arum yang belum menceritakan tentang kondisi Dicky pada Nara, diam-diam berlalu untuk pergi ke ruangan putranya dan menanyakan hasil pemeriksaan yang tadi dilakukan.

__ADS_1


Begitu menerima kabar bahwa hasil pemeriksaan keduanya cocok dan Dickh bisa menjadi pendonor untuk Yoha, tanpa berpikir lagi Tante Arum segera menandatangani surat penyataan persetujuan tindakan, apabila Dicky telah dinyatakan meninggal dunia.


Bersamaan dengan usainya persetujuan administratif yang dilakukan oleh Tante Arum, seorang perawat memanggil dokter untuk kembali ke ruangan Dicky karena kondisi pasien semakin kritis.


Dicky akhirnya meninggal dunia, sesaat setelah Tante Nara diijinkan menemui sang putra dan berbicara untuk terakhir kalinya. Beliau juga menceritakan tentang kondisi Yoga dan hasil pemeriksaan tethadap mereka berdua.


"Aku ikhlas, Ma .... Aku bahagia bisa memberikan jantungku untuk Mas Yoga. Anggap saja ini adalah sebagian kecil dari balas budi keluarga kita kepadanya ...."


"Terima kasih, Nak. Kamu akan selalu menjadi kebanggaan Mama selamanya." Tante Arum mencium kening putranya dan mencoba tetap tersenyum untuk melepaskan kepergian putra sulungnya.


Dicky menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang setelah mengetahui jika jantungnya masih bisa bermanfaat untuk orang lain dan orang tersebut tak lain adalah Yoga, sang penolong bagi keluarga mereka selama ini.


Beberapa menit setelah itu, kondisi Yoga pun mengalami penurunan kesadaran dan semakin kritis, setelah berbicara dan mengucapkan kata perpisahan pada sang istri tercinta.


Nara diminta keluar tanpa diberitahu bahwa telah ada pendonor yang cocok untuk suaminya. Dokter Danu lebih mengutamakan kecepatan penanganan pada Yoga terlebih dahulu dan membiarkan Nara berlalu dengan rasa kehilangannya.


Begitulah kehidupan. Tak selalu indah, tapi tak selamanya buruk. Tak selalu sesuai harapan kita, namun tak jarang harus bertentangan dengan keinginan di hati.


Ada yang datang, ada pula yang pergi. Ada kelahiran, ada juga kematian. Sama seperti takdir Dicky dan Yoga. Di saat Dicky pergi untuk selamanya, Yoga akhirnya kembali dengan kehidupan barunya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2