
Sampai di rumah Alan, Sasha mengikuti Alan masuk ke dalam. Alan benar-benar berusaha untuk menahan hasratnya dan mengabaikan Sasha.
Mencoba untuk terus berpikiran jernih dan tidak terbawa gairahnya yang sudah memuncak, Alan meminta Sasha meninggalkan dirinya.
"Pergilah, Sha. Tinggalkan aku sendiri!"
Alan berjalan menuju kamarnya dan mulai membuka kancing kemejanya dengan nafas yang memburu. Dihentakkan kakinya untuk melepaskan sepatunya dengan asal lalu menbuang kaos kakinya ke sembarang arah.
"Aku tidak akan pergi sementara kondisimu seperti ini, Lan."
"Aku bisa hilang kendali, Sha. Aku tidak mau berbuat kurang ajar padamu!"
Tanpa melihat kekasihnya sama sekali, Alan membuka kemeja serta celana panjangnya lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuh dan kepalanya berkali-kali.
"Aaarghh ...!!!" Lelaki itu berteriak kencang guna menahan sendiri hasratnya dan mencoba menghalau pikiran kotor yang menguasainya akibat efek obat yang semakin kuat.
Sasha memperhatikan Alan dari ambang pintu kamar mandi. Dia tidak tega meninggalkan Alan dalam kondisi seperti itu. Lelaki itu pasti sangat kesakitan menahan dirinya sedemikian rupa.
Alan merasakan tubuhnya kian mendidih meskipun sudah basah kuyup terguyur air dingin. Dia membuka matanya dan mendapati Sasha masih ada dan tengah menatap khawatir ke arahnya.
Pandangan mereka bertemu dengan pikiran masing-masing yang berkecamuk. Sementara Sasha yang melihat kekasihnya semakin menjadi, justru kasihan dan merasa sangat bersalah.
Bagaimanapun kuatnya Alan berusaha menahan dan melawan, efek obat yang sudah masuk ke dalam tubuhnya benar-benar tak bisa lagi dibendungnya.
Entah siapa yang memulai sebelumnya, tapi detik berikutnya setelah pandangan mereka beradu, Alan dan Sasha sudah saling berpelukan. Tak peduli pakaian yang dikenakannya basah karena pelukan erat Alan, Sasha terus mendekap kekasihnya dan menangis tersedu-sedu.
Alan semakin berhasrat begitu merasakan tubuh Sasha menyatu dengan tubuhnya yang sudah dipenuhi gejolak.
"Lepaskan saja, Lan. Lepaskan kesakitanmu. Lepaskan hasratmu. Aku akan membantumu sebisaku."
Rasa bersalah yang menyelimuti hatinya membuat Sasha berpikiran lain. Seandainya tidak ada Alan yang mengawasi dan menyelamatkannya tadi, pasti sang pengusaha itu sudah berhasil melancarkan aksinya dan memperdaya dirinya.
Sasha membayang dirinya yang meminum obat tersebut dan bersikap seperti Alan saat ini. Pasti lelaki yang berniat buruk padanya tadi sudah melakukan perbuatan terlarang bersama dirinya yang terpengaruh obat perangsang.
"Tidak, Sha! Aku tidak akan merusakmu. Aku mencintaimu!"
Sasha membawa Alan ke bawah shower dan menyalakannya dengan deras, sehingga mereka berdua basah kuyup. Alan tak bisa berpikir lagi. Dia sudah menyerah, tak bisa lagi menahannya. Apalagi Sasha sudah berada dalam pelukannya.
"Sha, maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu, maafkan aku ...."
.
.
__ADS_1
.
Di tempat yang berbeda, di ruang perawatannya, Yoga duduk bersandar dengan posisi pembaringan bagian atas yang dinaikkan menyesuaikan kenyamanan duduknya.
"Diminum dulu obatnya, Ga."
Setelah menyuapi makan siang, Nara membantu sang suami menelan satu per satu obatnya dengan segelas air putih yang dipegangnya. Lalu dibersihkannya bibir basah Yoga dengan selembar tisu.
"Terima kasih, Ra."
Yoga menahan tangan Nara dan menciumnya dengan lembut. Nara membalasnya dengan senyuman yang menggetarkan hati Yoga, lagi dan lagi.
"Kapan kita pulang?" tanya Yoga pada istrinya yang sudah sibuk menyiapkan tas pakaian dan barang-barang yang akan dibawa pulang di atas sofa.
Hari ini Dokter Danu sudah mengijinkan Yoga pulang dan beristirahat di rumah bersama keluarganya.
"Nanti sore Pak Budi akan menjemput kita. Sekarang kamu istirahat saja."
Nara kembali dan duduk di tepi pembaringan, berhadapan dengan Yoga.
"Boleh aku peluk kamu?"
Permintaan Yoga dijawab Nara dengan anggukan kepala. Lelaki itu pun segera menarik tubuh sang istri dan didekapnya dengan bahagia.
"Aku sudah rindu dengan kamar kita, Ra. Aku rindu tidur bersama denganmu."
Hati Nara menghangat mendengar ucapan Yoga. Sejujurnya dia ingin mengatakan hal yang sama, tapi dia malu mengungkapkannya.
Sejak anak mereka lahir, Nara merasakan perubahan besar dalam dirinya. Dia tak lagi ragu untuk menunjukkan perhatiannya pada Yoga. Pun dengan perasaannya, dia tidak lagi menutupinya dari Yoga kendati dia belum berani mengakuinya.
"Tidurlah, Ga. Agar sore nanti kamu pulang dengan kondisi yang lebih segar."
Nara melepaskan diri dari pelukan Yoga, memberi ruang bagi lelaki itu untuk beristirahat sejenak sebelum mereka pulang.
"Jangan jauh dariku, Ra." Yoga memegang tangan istrinya dengan wajah memohon.
"Aku tidak akan ke mana-mana. Hanya ingin menghubungi Ibu untuk menanyakan tentang anak kita di rumah."
Nara melepaskan tangan Yoga dan meletakkannya di atas perut. Yoga tidak membantah lagi, dia tersenyum lalu memejamkan matanya.
Setelah Yoga terlelap, Nara mengirim pesan pada Ibu yang selama ini tinggal di kediaman suaminya untuk membantu merawat bayi mungilnya.
Memastikan lebih dulu sesuatu yang mereka bicarakan sebelumnya saat di rumah tadi, Nara kemudian menanyakan kabar anaknya di sana.
__ADS_1
Selesai bertukar pesan dengan Ibu, Nara mengirim pesan kepada Ardi dan memintanya untuk datang ke rumah bersama Dokter Danu nanti sore. Nara juga meminta Ardi mengajak serta Bunga bersamanya.
Dua jam berlalu dan sore pun telah menjelang. Yoga baru saja bangun dan terlihat sangat bersemangat karena akan segera pulang dan bertemu dengan buah hati kesayangannya.
"Mandilah dulu. Aku sudah menyiapkan pakaian gantimu di dalam kamar mandi."
Nara membantu Yoga bangun dan turun dari tempat tidur. Saat hendak mendampinginya menuju kamar mandi, Yoga menolaknya.
"Aku bisa berjalan sendiri, Ra. Aku sudah kuat."
Yoga mencium kening Nara sebelum melanjutkan langkahnya, membuat Nara terdiam dengan seulas senyum yang terbit di bibirnya.
Tak lama kemudian Pak Budi datang. Sambil menunggu Yoga selesai mandi, beliau membawa semua tas dan barang lainnya yang sudah disiapkan Nara untuk dimasukkan ke dalam mobil.
Nara berdiri di depan meja untuk memasukkan ponsel ke dalam tas miliknya yang diletakkan di atasnya.
Tiba-tiba sepasang tangan menelusup ke pinggangnya, memeluk dari belakang. Seketika seluruh tubuh dan hati Nara menghangat disertai debaran hebat di dadanya.
"Aku tidak akan pernah bosan untuk mengatakan ini padamu ...." Suara Yoga terdengar begitu lirih.
"Aku mencintaimu, Ra." Yoga berbisik lembut di telinga Nara seraya mempererat pelukannya hingga tubuh mereka semakin menyatu.
Nara memejamkan matanya menahan gejolak di hatinya yang dipenuhi bunga bermekaran. Tangannya mulai bergerak pelan, menyentuh kedua tangan Yoga di pinggangnya.
Ada yang berbeda dirasakannya kini. Hatinya teramat bahagia setiap kali Yoga mengucapkan kalimat itu.
Dan seolah tahu apa yang tengah Nara rasakan, Yoga mengulangi ucapannya dan memberikan ciuman mesra di pipi sang istri.
"Aku sangat mencintaimu ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
__ADS_1
.