CINTA NARA

CINTA NARA
3.29. TIDAK BISA TENANG


__ADS_3

Malam harinya setelah menidurkan Aura dan membaringkannya di atas tempat tidur, Ardi keluar dari kamar dan menemui Yoga di ruang tamu seperti biasa.


Sekilas tadi, saat mereka berdua berbincang sore di beranda depan, Ardi sudah menceritakan tentang pertemuannya dengan Riko dan Cindy yang belum dikenalnya. Pertemuan yang dirasanya menyimpan banyak rahasia yang membuat penasaran.


Yoga membuka ponselnya dan mencari sebuah data penting yang disimpannya dalam sebuah berkas berikut dengan beberapa foto yang mennyertai.


"°Diakah orang yang kamu lihat tadi pagi?" Yoga menunjukkan satu foto yang sudah terpampang pada layar ponsel miliknya.


Ardi memajukan wajahnya untuk memperhatikan dan memastikan sosok yang ada di dalam foto tersebut. Wajahnya berubah antusias saat mengenali seseorang tersebut.


"Ya! Itu dia, Ga. Dia yang aku lihat tadi pagi," jawab Ardi dengan penuh keyakinan.


"Siapa dia? Kamu mengenalnya?" lanjut tanya Ardi pada sang sahabat.


Yoga menarik kembali ponselnya, menutup lalu meletakkannya di atas meja. Dia menatap tajam ke arah Ardi yang menunggunya dengan wajah penuh keingintahuan.


"Dia adalah Riko, mantan suaminya Alya."


Seketika raut muka Ardi berubah mendung dan suram. Sorot matanya berubah penuh amarah dan rasa tidak terima yang sangat jelas terlihat mendominasi sikapnya.


"Aku sudah menduga jika dia adalah bagian dari masa lalu Alya, tapi aku sama sekali tidak berpikir bahwa dia adalah lelaki gila dan tidak beradab itu!"


Yoga pun merasa kembali terlambat mendapatkan informasi tentang kebebasan Riko. Pagi tadi di kantor, Pram baru menyerahkan hasil pencarian dari titahnya di hari sebelumnya.


Ternyata tepat pada hari di mana dia memperoleh informasi tentang kemungkinan kebebasan Riko, saat itulah lelaki tersebut juga sudah keluar dari penjara dan pulang ke rumahnya.


"Bagaimana dengan Alya? Apakah dia baik-baik saja setelah itu?" tanya Yoga memastikan lagi.


Ardi menggeleng tak pasti. Tidak yakin dengan apa yang dilihatnya sebab Alya sangat pandai menyembunyikan perasaannya.


"Tidak. Jika lelaki itu adalah mantan suaminya, aku yakin Alya tidak mungkin bisa tenang setelah ini. Tapi setiap kali aku menanyakan keadaannya, dia hanya menggeleng dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sangat jelas terlihat bahwa dia tengah menyembunyikan sesuatu dariku."


Ardi mulai mencemaskan Alya. Dia sangat yakin jika saat ini Alya pasti dipenuhi kecemasan dan ketakutan luar biasa. Mendadak dia ingin segera menemui wanita itu dan memastikan lagi keadaannya.


Dilihatnya petunjuk waktu yang terlihat pada layar ponsel dalam genggamannya. Sepertinya dia masih bisa melakukannya jika bisa datang tepat waktu.


"Aku tidak bisa menunggu lagi, Al. Meskipun sebelumnya aku berpikir untuk membiarkan semua mengalir apa-adanya, tapi setelah dia kembali, sungguh aku tidak bisa membiarkanmu menghadapinya seorang diri!"


Yoga yang melihat gerak tubuh yang tidak tenang dari sahabat kecilnya, segera masuk ke dalam dan kembali lagi dengan membawa kunci mobil yang kemudian dia letakkan di atas meja.

__ADS_1


"Aku harus pergi sekarang. Aku tidak bisa tenang sebelum aku menemuinya."


Tanpa mengganti pakaian rumahannya, Ardi berdiri dengan cepat seraya menyambar kunci mobil yang baru saja diletakkan Yoga.


"Semoga aku belum terlambat!"


.


.


.


Berjalan cepat menuju ruang pemeriksaan Alya, Ardi terus berdoa dalam hati semoga dia masih bisa menemui wanita anggun itu dan mengungkapkan semuanya malam ini juga.


Lelaki itu bisa bernapas lega saat melihat masih ada satu pasien menunggu di depan ruang pemeriksaan dokter berhijab anggun yang ingin segera ditemuinya.


Duduk seraya mengatur napas yang masih memburu karena berjalan tergesa-tergesa melewati tangga, Ardi pun mulai menata perasaan di hatinya agar bisa setenang mungkin saat berhadapan dengan Alya setelah ini.


Pasien terakhir sudah dipanggil masuk ke dalam, meninggalkan dokter duda itu duduk sendiri di bangku tunggu.


Saat melayangkan pandangannya ke sekeliling, tiba-tiba tatapannya terhenti saat melihat seorang lelaki yang dikenalnya keluar dari ruangan lain di bagian ujung.


"Sepertinya aku harus mulai membiasakan diri untuk melepaskan perasaan ini, demi kebahagiaannya."


Menampilkan senyuman terbaik di wajahnya, lelaki itu berjalan dengan hati yang masih berkecamuk dan menghampiri Ardi lalu menyapanya.


"Selamat malam, Dokter Ardi." Tangannya terulur untuk memberi salam, yang segera disambut oleh Ardi yang berdiri dan membalasnya dengan senyuman yang sama ramahnya.


"Selamat malam, Dokter Rendy. Baru selesai prakteknya?"


"Ya. Baru saja selesai," jawab Rendy dengan senyuman yang masih terus ditampakkannya.


Setelah sama-sama melepaskan jabatan tangan mereka, Ardi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan mencoba bersikap setenang mungkin meski pikirannya masih tertuju sepenuhnya pada Alya.


"Semoga hatimu masih sepenuhnya terjaga untukku, Al. Masih bolehkah aku berharap demikian saat ini?"


Tak tahu harus memulai obrolan apa, Ardi memilih untuk menatap pintu ruangan Alya yang masih tertutup. Rendy yang melihatnya hanya bisa menghela napas sabar dan turut menenangkan hatinya sendiri yang sama gelisahnya.


Tak lama kemudian pintu terbuka dan keluarlah pasien terakhir Alya bersama perawat yang bertugas mendampinginya. Melihat Rendy dan Ardi yang berdiri di depan ruangan, sang perawat kembali masuk dan memberi tahu Alya.

__ADS_1


Dari tempatnya berdiri, Arďi bisa melihat ke dalam dan tanpa sengaja pandangannya bersiroboh dengan Alya yang juga sedang menatap ke arah luar, setelah mendengarkan apa yang disampaikan oleh perawatnya.


Ardi melemparkan senyuman untuk wanita masa lalunya, yang mulai dia harapkan bisa kembali menjadi miliknya.


Alya salah tingkah dan buru-buru mengalihkan pandangannya, sebelum dentuman di dadanya menghantam semakin keras dan menyesakkan hati.


Setelah menyelesaikan semua tugasnya, dokter berhijab anggun itu keluar bersama perawat yang langsung pamit mendahuluinya kembali ke ruang jaga.


"Sudah selesai, Al?" Ardi lebih dulu menyapa wanita anggun itu, sebelum Rendy sempat bersuara.


Alya hanya mengangguk dan sekilas menatap ke arah Rendy yang terus terdiam karena kesempatannya lebih dulu diambil oleh lelaki di sampingnya.


"Aku antar kamu pulang sekarang?" ajak Ardi dengan rasa percaya diri yang coba ditunjukkannya di hadapan dokter tulang yang sama-sama mempunyai perasaan lebih kepada Alya.


Alya masih merasa bimbang lantaran ada Rendy yang biasanya mengantarkan dia pulang. Namun saat melihat teman baiknya tersenyum dan menganggukkan kepala, akhirnya dia mengiyakan ajakan Ardi.


Dengan senyuman yang semakin mengembang menghiasi wajah cerahnya, Ardi mempersilakan Alya berjalan lebih dulu, sementara dia tetap menjajari langkah Rendy dan menemaninya di belakang wanita yang sama-sama mereka kasihi.


"Aku tak apa, demi kamu yang harus mendapatkan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang dari hidupmu, Al. Aku pasti bisa melewati semuanya. Dan aku akan tetap baik-baik saja setelah ini."


Mereka bertiga berpisah di halaman rumah sakit. Rendy melepaskan kepergian Alya yang mulai berjalan beriringan dengan Ardi menuju mobil Yoga dibawa oleh sahabat kecilnya.


"Bukalah hatimu untuk kehadirannya kembali, Al. Berbahagialah bersamanya, dia yang mencintaimu sama seperti perasaanmu kepadanya. Aku percaya, dia pasti akan selalu menjaga dan melindungimu dengan sepenuh hati."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2