CINTA NARA

CINTA NARA
3.58. BELENGGU MASA LALU


__ADS_3

"Alya, ini untukmu."


Ardi mengeluarkan kotak kecil berlapis kain beludru putih dari saku celana dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan tempat Alya duduk.


Pandangan Alya beralih menatap benda itu lalu kembali menatap Ardi dan menunggu lelaki itu menjelaskannya. Duduknya mulai tidak tenang, sama seperti sikapnya yang tampak gugup dan serba salah.


"Bukalah," pinta Ardi dengan suara lembut dan tatapan mata yang teduh.


Dengan tangan yang gemetar dan hati penuh getaran, Alya memberanikan diri untuk mengikuti permintaan Ardi. Dibukanya kotak kecil itu hingga terlihat isi di dalamnya.


Alya menatap Ardi dengan mata berkaca-kaca. Tangan kanannya menutup mulut, menahan haru yang membuncah memenuhi ruang kalbu. Tak ada sepat kata pun yang terucap darinya, seolah menunggu Ardi memberikan penjelasan atas barang yang diberikan kepadanya.


Sementara itu, Ardi masih terus memaku pandangan pada sosok anggun di hadapannya. Dokter duda itu memperhatikan setiap perubahan yang tampak di wajah Alya, setelah mengetahui apa yang dia berikan kepada wanita istimewanya tersebut.


Masih ada perasaan was-was di dalam hatinya, takut jika Alya tidak berkenan dan justru akan mengembalikan barang itu kepadanya.


"Ini bukanlah apa-apa. Anggap saja ini sebagai pengikat untuk mempererat hubungan di antara aku dan kamu. Semoga nanti seiring berjalannya waktu, hubungan ini akan berubah menjadi satu, yaitu kita."


Ardi melanjutkan ucapannya, sebelum meminta kepastian jawaban dari dokter berhijab anggun yang dia cintai setulus hati.


"Seperti apa yang pernah aku katakan padamu sebelumnya, kita harus mulai membiasakan diri dengan hubungan ini. Belajar untuk saling menggenggam hati dan menjaga perasaan satu sama lain. Selalu yakin dan percaya untuk menjalani kebersamaan ini, meski masih harus terpisah jarak dan waktu."


Alya semakin terharu, tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini dari Ardi. Air mata akhirnya mengalir juga tanpa bisa ditahannya lagi. Wajah yang telah menghangat bersama seluruh tubuh itu, semakin terlihat bersemburat merah seiring tangisan yang mulai terdengar isakannya.


Tak kuasa melihat kekasih hatinya larut dalam tangisan, tangan Ardi terulur begitu saja hendak menghapus air mata Alya. Namun wanita ayu itu menyadarinya lebih dulu dan menghindar.


Alya memundurkan tubuh dan berusaha menghentikan sendiri tangisannya. Kedua tangannya mulai membersihkan permukaan wajah yang telah basah oleh air mata. Kemudian dkeringkannya dengan lembaran tisu yang tersedia di atas meja.


"Maaf ... maafkan aku, Al."


Ardi menahan gerakan tangan dan menariknya kembali. Disatukan lagi kedua tangannya dan saling meremas untuk menghalau cemas. Hatinya mulai berdebar menanti apa yang akan dikatakan oleh Alya sebagai jawaban untuknya.


Setelah mengatur napas dan menguasai diri, Alya mulai memantapkan hati untuk menyampaikan jawabannya.


"Al ...?" Ardi terus menunggu dan menyiapkan hati, seandainya Alya menolak pemberiannya.


Sesaat kemudian, saat pandangan mereka bertemu dan saling mengunci, Alya tersenyum dan mengangguk dengan pasti.

__ADS_1


Ardi mengerjapkan mata, ingin memastikan apa yang baru saja dilihatnya. Sekali lagi dia melihat Alya masih mengulas senyuman dan kembali mengangguk untuk meyakinkan dirinya.


"Alya ... kamu ...?"


Ardi tak melanjutkan kalimatnya. Rasa bahagianya melambung tinggi saat mendengar suara lembut Alya mengucapkan sesuatu.


"Cincinnya sangat indah. Terima kasih, Di."


Alya mencoba tetap tenang meskipun hatinya semakin berdebar dan membuat sikapnya begitu gugup. Dia terus berusaha untuk membuang jauh segala keraguan yang masih dirasakannya. Hampir saja perasaannya melemah dan nyaris merubah keputusan.


"Jadi kamu menerimanya, Al?" tanya Ardi untuk memastikan sekali lagi. Dan Alya pun mengangguk seperti jawaban sebelumnya.


Lelaki itu menghela napas lega dan membuang sisa kegelisahannya semula. Senyumannya tak lagi tertahan, terlepas puas dengan kebahagiaan yang memenuhi ruang di hatinya.


"Terima kasih, Al. Aku sangat bahagia," jujur Ardi tanpa menutupinya lagi.


Wajah tegangnya telah berangsur hilang dan berganti senyuman yang menghiasi wajah bahagianya. Pandangannya tertuju lurus pada Alya yang terus memperhatikan cincin di dalam kotak putih di atas meja.


"Bolehkah aku memasangkannya di jarimu, Al?"


Pertanyaan itu terucap begitu saja dari bibir dokter duda yang tengah menatap lekat dokter berhijab anggun di hadapannya.


Cepat-cepat dia menutup mata rapat-rapat. Di luar kendali dia menggelengkan kepala untuk mengusir bayangan gelap yang datang mengusik kebahagiaannya. Kebahagiaan yang baru saja dia rasakan dan ingin terus dia miliki bersama lelaki pilihan hatinya.


Melihat Alya menggeleng, Ardi mencoba lapang dan tidak ingin memaksakan kehendaknya. Dia sadar permintaannya mungkin terlalu berlebihan dan melewati batasan di antara mereka.


"Baiklah, aku mengerti, Al."


Mendengar ucapan bernada kepasrahan dari Ardi, Alya segera membuka mata. Dia ngin meluruskan sikapnya yang telah disalahartikan oleh lelaki itu.


"Ardi ... bukan seperti itu maksudku. Itu bukan jawaban untukmu. Aku ... aku ..., bayangan itu mengusikku lagi dan aku ingin mengusirnya dengan cepat."


Alya menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bayangan itu masih menghantui pikirannya. Bahkan terus mengganggu di saat dia tengah berbahagia bersama lelaki yang dicintainya.


"Kamu tidak apa-apa, Al?" Ardi berubah panik dan mencemaskan wanita kesayangannya. Disodorkannya segelas air putih yang masih ada kepada Alya.


"Minumlah dulu, Al. Tenangkan dirimu dan cobalah melawan ketakutan itu. Jangan sampai kamu terhanyut dan melemah lagi karenanya."

__ADS_1


Mendengar suara Ardi yang penuh kecemasan, Alya menyingkirkan tangannya dari wajah. Dia menatap sayu lelaki yang masih memegang gelas untuknya.


Ada kekuatan baru yang dimilikinya saat mendengar ucapan dan sikap Ardi yang penuh perhatian kepadanya. Dia menerima gelas itu dan segera menghabiskan air putih yang ada di dalamnya.


Sambil meletakkan gelas kosong di atas meja, Alya terus mengatur napas dan menenangkan perasaannya. Dia masih memejamkan mata lagi, mencoba melawan bayangan gelap itu dan membuang jauh-jauh dari pikirannya.


Dengan perasaan yang masih dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran, Ardi diam dan menunggu. Dia terus memperhatikan Alya yang masih berusaha menenangkan diri.


Ternyata seperti ini dirimu dan hatimu yang sesungguhnya, Al. Di balik sikapmu yang mandiri, ternyata kamu sangat rapuh di dalam sepi. Di balik keramahan serta senyumanmu untuk semua orang, kamu menyimpan luka batin sedalam ini seorang diri.


Beribu penyesalan kembali hadir memenuhi pikiran dan perasaan Ardi. Perpisahan yang dulu dia kira akan membawa kebaikan untuk semua orang, nyatanya justru menjadikan Alya sesakit ini karenanya.


Terbelenggu masa lalu yang sangat kelam dan terpuruk dalam lembah gelap yang dipenuhi bayang-bayang ketakutan yang terus menghantui dan sulit untuk pergi. Sepi dan sendiri. Lemah dan penuh luka.


.


.


.


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.



__ADS_2