
"Mas ... jangan membuatku khawatir! Tolong terima teleponku, sebentar saja!" lirih Nara berbicara sendiri.
Wanita itu panik karena sejak semalam ponsel Yoga tidak bisa dihubungi. Perasaannya benar-benar tidak bisa tenang sedikit pun. Ditambah lagi Gana yang entah mengapa sejak kemarin juga rewel dan terus menangis tanpa sebab.
Hanya Raga yang masih terlihat tenang seperti biasanya. Balita tampan dan sangat penyayang itu bahkan terus menenangkan ibu dan adiknya dengan gaya bocah nan polos.
Tidak ada yang tahu jika di dalam hatinya, dia juga menunggu kabar dari sang ayah. Sebelum berangkat ke kota kelahiran mereka kemarin, Yoga sudah berjanji pada putra sulungnya, akan selalu menghubungi setiap pagi dan malam hari.
Berkali-kali Nara menghubungi Beno, tapi sang asisten tidak pernah menerima panggilan darinya. Bahkan Indra adiknya juga mematikan ponselnya dan sama sekali tidak bisa dihubungi. Sonia yang masih setia menjadi sekretaris di Mahend Land pun selalu mengalihkan panggilan darinya ke mesin penjawab otomatis.
"Mas Pram, apakah sudah ada kabar dari Mahend Land? Apakah Mas Yoga sudah menghubungimu atau kamu bisa berkomunikasi dengannya?"
Satu-satunya harapan Nara adalah Pram. Asisten muda yang ditugasi mengurus segala kepentingan di Raga Properland tersebut mungkin sudah mengetahui kabar tentang Yoga.
"Maaf, Bu. Pak Yoga belum bisa saya hubungi sampai sekarang. Beliau juga belum menelepon saya lagi, setelah semalam kami berbicara tentang beberapa pekerjaan di kantor." Jawaban Pram dari seberang panggilan membuat Nara semakin gundah dan kian mengkhawatirkan keadaan suaminya.
Semoga kamu baik-baik saja, Mas. Tidak biasanya kamu tanpa kabar seperti ini. Aku mohon, segeralah memberiku kabar, agar aku dan anak-anak kembali merasa tenang di sini.
Sembari menimang Gana di dalam gendongannya, Nara mondar-mandir dengan hati gelisah. Dia mengingat saat kemarin Yoga hendak berangkat, perasaannya sudah sangat tidak nyaman.
"Kamu masih tidak ingin aku pergi?" tanya Yoga setelah dirinya siap untuk pergi ke bandara.
Nara yang baru saja membantu merapikan penampilan suaminya hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Yoga. Hatinya memang masih berat, seolah tidak rela untuk ditinggalkan.
"Jujur, aku juga tidak ingin pergi kali ini. Akan tetapi ada yang menungguku di sana bersama sejumlah pekerjaan yang harus aku selesaikan."
Yoga merengkuh tubuh Nara ke dalam pelukannya. Sejenak mereka melalukan waktu dalam kehangatan. Sama-sama mencoba untuk melupakan keengganan untuk meninggalkan dan ditinggalkan.
Pada akhirnya, Yoga tetap harus pergi dan berjanji akan pulang secepatnya. Nara memaksakan senyuman di wajahnya, sebagai sebuah kebiasaan setiap kali melepaskan suaminya pergi bekerja.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Nara tentang Yoga. Berjalan pelan untuk membukanya, wanita itu terus menimang Gana yang mulai memejamkan mata.
"Mbak Nara, ada Mas Ardi di depan. Katanya ingin bertemu dengan Mbak Nara." Bibi Asih sudah berdiri di depan pintu kamar dengan wajah gugup yang coba disembunyikan.
"Dokter Ardi?" Nara mulai curiga sebab tak biasanya sahabat kecil Yoga itu mencarinya saat sang suami tidak ada di rumah.
__ADS_1
Tanpa menunggu lagi dia mengenakan jilbab instan seadanya lalu lekas meninggalkan kamar. Pelan-pelan dia menuruni anak tangga untuk menemui Ardi. Perasaannya semakin tidak nyaman saat melihat wajah Ardi yang murung dan sendu. Hatinya mulai berdebar penuh ketakutan.
"Dokter Ardi, ada apa? Apakah Dokter mengetahui kabar tentang Mas Yoga?" Entah mengapa partanyaan itu terucap begitu saja dengan bibir yang bergetar saat menyebutkan nama lelaki yang sangat dicintainya.
"Apa Yoga sudah menghubungimu pagi ini?" Ardi justru balik bertanya, membuat Nara kembali lemas dan kian cemas. Dia menggeleng pelan dengan mata yang tiba-tiba sudah berkaca-kaca.
"Sejak mengetahui rencana kepergiannya, saya sudah merasa tidak tenang, Dok. Mas Yoga juga terlihat berat untuk pergi, tapi dia tetap berangkat demi tanggung jawab pekerjaannya di sana."
Ardi tidak tega melihat Nara yang begitu khawatir, padahal belum ada sehari Yoga tidak menghubunginya. Ada rasa tidak tega di hatinya, tapi dia masih harus merahasiakannya dari Nara.
Maafkan aku, Ra. Kalau bukan Yoga yang memintanya aku tidak akan setega ini membiarkan kamu dan anak-anak terus menunggu kabar darinya. Teruslah berdoa dan jangan kehilangan harapan. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Semoga ...!!!
"Apakah Mas Yoga pernah menghubungi Dokter dalam dua hari ini? Atau mungkin ada sesuatu yang pernah diceritakannya pada Anda?" Nara masih berharap ada sedikit kabar yang bisa dia ketahui dari Ardi. Sayangnya, Ardi juga menggelengkan kepala sama sepertinya.
"Aku kemari untuk melihat keadaanmu dan anak-anak. Tadi Pram menghubungiku dan menceritakan semuanya," dalihnya agar Nara tidak curiga.
"Raga baik-baik saja walau saya tahu dia juga terus menunggu kabar dari ayahnya. Hanya Gana yang sedikit rewel, tidak seperti biasanya."
Ardi mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan kepada seseorang. Beberapa kali dia terlihat bertukar informasi sebelum akhirnya menyudahi kesibukannya dan menyimpan benda pipih itu di saku celana.
Raga turun dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Yoga dan Nara. Bersama Mbak Indah, bocah tampan itu terlihat bersemangat untuk pergi bersama Ardi.
"Aku bawa Raga dulu agar dia bisa bermain bersama Aura di rumah."
Sebelum Nara menemuinya tadi, Ardi sudah bertemu dengan Raga dan memintanya untuk bersiap-siap.
"Terima kasih, Dokter. Saya titip Raga di sana. Sampaikan salam dari saya untuk Dokter Alya."
Setelah pamit dan mencium tangan Nara, Raga menghampiri Ardi lalu menggandeng tangannya. Diikuti Mbak Indah yang membawakan tas mainan, mereka keluar dari rumah Yoga dan berjalan kaki menuju rumah dokter kandungan yang hanya berjarak tiga rumah tersebut.
Nara kembali ke kamar dan membaringkan Gana yang sudah terlelap setelah kelelahan menangis tanpa henti. Wanita itu turut merebahkan diri di samping putra keduanya.
Sekujur tubuhnya mulai terasa sakit karena semalaman tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Dia harus terus menenangkan Gana yang tidak mau lepas dari gendongan.
Saat memejamkan mata untuk beristirahat, bayangan wajah Yoga melintas jelas dalam pikirannya. Jantungnya berdegup kencang seketika hingga matanya kembali terbuka lebar.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, bingkai foto keluarga yang diletakkan di atas meja kerja Yoga tiba-tiba jatuh begitu saja hingga suaranya mengagetkan Nara.
Wanita itu beranjak turun dan menghampiri meja. Dilihatnya bingkai itu sudah ambruk menghadap ke atas. Dengan tangan gemetar Nara mengambil dan memperhatikan bingkai itu. Masih utuh, hanya penyangga di bagian belakang patah dan terlepas dari pengaitnya.
Nara tidak ingin berpikiran buruk. Namun bayangan kejadian lampau saat Yoga dia temukan tak sadarkan diri dengan memeluk bingkai foto keluarga mereka waktu itu, hadir memenuhi pikirannya. Firasat buruk pun mulai dirasakan hingga wanita itu semakin mengkhawatirkan keadaan suaminya.
Ada apa denganmu, Mas? Jangan membuatku semakin takut dan berprasangka yang tidak-tidak. Aku tidak mau! Aku hanya ingin kamu segera pulang. Kamu pasti baik-baik saja, Mas!
.
.
.
Cek postingan di FB dan IG kami. Ada info karya terbaru di sana ππ
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1