CINTA NARA

CINTA NARA
2.63. PERTEMUAN DUA WANITA


__ADS_3

Alya sudah mulai bekerja meskipun dengan keterbatasannya. Harus berada di atas kursi roda untuk sementara waktu, tidak menghalangi niatnya untuk tetap mengabdi dengan tugas mulianya yang sudah menjadi cita-citanya sedari kecil.


"Masih ada berapa pasien lagi siang ini, Sus?"


Waktu prakteknya di klinik sudah hampir habis dan setelah itu dia harus segera menuju ke rumah sakit untuk melanjutkan jadwal praktek sorenya di sana.


"Masih ada tiga pasien lagi, Dok." Perawat yang bertugas mendampinginya memberikan satu berkas laporan kesehatan dari pasien berikutnya.


Seperti sebelum-sebelumnya Alya menyapa dengan ramah kemudian melakukan tanya-jawab seputar kondisi ibu hamil di hadapannya, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan ultarsonografi.


Setelah itu dia kembali ke mejanya dan menyampaikan kesimpulan dari pemeriksaannya, kemudian memberikan beberapa pesan dan anjuran serta menyerahkan resep obat yan harus diminum secara rutin hingga waktu pemeriksaan berikutnya nanti.


Dalam waktu setengah jam, dua pasien sudah selesai diperiksa hingga tinggal satu pasien terakhir yang sedang dipanggil oleh perawat untuk masuk ke dalam ruangan.


Seorang pasien masuk seorang diri tanpa didampingi oleh suami atau keluarganya. Dia menatap Alya dengan ragu saat dokter berhijab anggun itu masih menunduk dan membaca laporan kesehatan di dalam berkas pasien yang diterimanya.


Mendadak pandangan Alya terpaku pada nama sang pasien berikut nama suami yang tertera di dalam berkas laporan tersebut.


"Cindy ...?" gumamnya lirih yang tetap didengar oleh pasien yang sudah berdiri di depan mejanya.


"Iya, ini aku ...."


Alya mengangkat wajahnya dan menatap sang pasien sehingga mereka berdua beradu pandang.


Cindy, istri Riko, dialah pasien terakhir Alya kali ini. Sang dokter segera menguasai diri dan menampakkan senyuman ramahnya.


"Selamat siang, Cindy. Duduklah dulu."


Suara lembut Alya meluruhkan ketakutan dan ketegangan di wajah Cindy yang semula masih terus merasa ragu untuk menemui mantan istri dari suaminya tersebut.


"Bagaimana kabarmu dan calon bayimu? Apakah ada keluhan?" tanya Alya sebelum dia memulai pemeriksaannya.


"Kabarku baik dan kandunganku juga baik-baik saja sepertinya."


Wanita itu menunduk dan menatap perut besarnya lalu mengusapinya dengan penuh kasih. Tanpa sadar Alya tersenyum saat turut memperhatikannya.


Ada pemandangan berbeda yang ditangkap oleh penglihatannya pada sosok Cindy kali ini.


Tidak ada lagi pakaian ketat dan terbuka yang biasanya melekat di tubuhnya yang kian bulat berisi tersebut. Wajahnya pun terlihat lebih segar alami tanpa riasan tebal yang sebelumnya selalu tampak menghiasi parasnya.


Cindy yang dilihatnya kali ini adalah wanita dewasa yang apa-adanya, dengan setelan pakaian longgar khas ibu hamil dengan model terkini yang dikenakannya.

__ADS_1


Wajah cantiknya jauh terlihat lebih segar dan alami dengan riasan tipis yang justru semakin memunculkan aura kelembutan dan keibuannya.


"Bagaimana kabar Dokter ....?" Cindy memberanikan diri mengeluarkan sapaannya yang masih terlihat canggung.


"Panggil saja namaku," sahut Alay dengan segera, tak inhin membuat jarak dengan pasien istimewanya.


"Iya, maaf. Bagaimana kondisimu sekarang, Al?" Cindy meralat pertanyaannya dengan kalimat yang terdengar lebih akrab.


"Alhamdulillah, aku sudah jauh lebih baik. Seperti yang kamu lihat sekarang ini."


Alya melebarkan senyumannya membuat Cindy pun mulai merasa nyaman dan membalas dengan senyuman yang sama.


"Sebaiknya kita periksa dulu kondisi kehamilanmu. Silakan."


Alya meminta perawat membantu Cindy berbaring dan bersiap untuk menjalani pemeriksaan ultrasinografi.


Alya memeriksa sejenak laporan terakhir bulan lalu, di mana dulu dirinya juga yang memeriksa Cindy di tempat yang sama.


Setelah Cindy siap, Alya menggerakkan kursi roda elektriknya dengan tombol otomatis di sisi kanan, menuju ke bilik pemeriksaan.


Mereka berdua terlibat pembicaraan seputar kehamilan Cindy dan kondisi calon bayi di dalam kandungannya yang sudah berusia enam bulan lebih.


Cindy pun tampak sangat antusias dan memperhatikan dengan detil semua penjelasan Alya dan diingatnya baik-baik.


Lima belas menit berlalu, Alya mengakhiri pemeriksaannya. Dia kembali ke mejanya untuk menuliskan resep sambil menunggu Cindy merapikan pakaiannya.


"Sus, tolong mintakan obat atas resep ini ke bagian apotik. Sampaikan saja jika saya yang memintanya."


Alya menyerahkan secarik resep kepada perawat yang segera menerimanya dan pamit meninggalkan ruangan.


"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot, Al. Aku bisa membawanya sendiri ke apotik." Cindy terlihat sungkan dengan apa yang dilakukan Alya.


"Jangan dipikirkan lagi. Lagipula aku masih ingin berbincang denganmu dulu. Kamu tidak keberatan, bukan?"


Cindy menganggukkan kepala namun sikapnya semakin rikuk dan gugup, memikirkan apa yang akan dibicarakan Alya dengannya.


"Al ..., aku meminta maaf atas apa yang sudah Riko lakukan padamu hingga kamu menjadi seperti ini."


Akhirnya Cindy memilih untuk mendahului, membuka percakapan dan meminta maaf kepada Alya dengan sedikit rasa takut.


Bagaimanapun juga, suaminya yang salah dan telah bertindak melewati batas sehingga membahayakan nyawa dokter anggun di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Bahkan hasil dari perbuatan nekat Riko yang terakhir kali itu, masih terpampang nyata di depan matanya sekarang.


Alya harus beraktivitas menggunakan kursi roda, karena kedua kalinya masih belum pulih dari sakit yang dideritanya akibat mengalami patah tulang yang cukup parah.


"Aku tidak tahu apakah kamu bisa memaafkan dia atau tidak, tapi sungguh dari dalam hatiku yang terdalam, aku meminta maaf dengan setulusnya."


Alya masih diam dan mendengarkan saja apa pun yang ingin Cindy sampaikan. Dia bisa memahami perasaan Cindy sebagai seorang istri.


Apalagi wanita itu tengah mengandung buah cinta mereka, sementara Riko masih harus mendekam di balik jeruji penjara.


"Riko memang keterlaluan dan sangat membencimu entah karena alasan apa. Aku sudah berusaha mengingatkan dan menghentikan setiap dia ingin mendatangimu dan menyakitimu, tapi aku selalu saja gagal. Aku tetap tidak bisa mencegah dan menghalanginya. Maafkan aku, Al."


Alya merasa kasihan pada Cindy. Sama seperti yang pernah dikatakannya pada keluarga Riko, Cindy tidak bersalah dalam hal ini.


Dia adalah wanita yang baik dan hanya mencintai Riko. Dia selalu setia mendampingi Riko dengan segala sikap dan sifat Riko yang arogan dan keras kepala.


"Aku tidak membenci Riko. Aku juga tidak marah kepadanya. Mungkin lebih tepatnya aku hanya kecewa dengan sikapnya, dengan perilaku buruk yang selalu dilampiaskannya kepadaku."


Setelah mendengarkan semua ungkapan perasaan Cindy, Alya mulai berbicara dan mengatakan semua yang mengganjal di hatinya.


"Bahkan setelah kami menikah pun, Riko tetap tidak berubah. Sebaliknya, dia justru semakin menjadi dalam meluapkan kebenciannya terhadapku."


Cindy mendengarkan cerita Alya dengan perasaan yang tidak tega. Dia bisa membayangkan tersiksanya wanita itu selama menjalani pernikahan dengan Riko.


"Aku sering bertanya padanya, tapi sekali pun dia tidak pernah mau mengatakan alasannya. Dia hanya tidak menyukaiku dan terus membenciku, sejak kami kecil dan tumbuh bersama dulu."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2