
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Nara diijinkan pulang dan menjalani pemulihan di rumah.
Secara fisik kondisinya sudah kuat dan bisa beraktivitas seperti biasa. Hanya saja ingatan tentang penculikan dan penyekapan dirinya masih membekas dan membuat luka psikisnya berkepanjangan.
Yoga bahkan mengundang seorang psikolog ke rumah untuk membantu proses penyembuhan trauma yang masih dialami oleh Nara.
"Mas, aku baik-baik saja dan tidak kenapa-kenapa. Tidak perlu lagi mendatangkan psikolog ke rumah."
Nara mulai merasa tidak nyaman setelah satu minggu lamanya bertemu dengan seorang psikolog wanita yang direkomendasikan oleh Alya.
"Kamu yakin, Sayang? Aku hanya ingin kamu segera sembuh dan bisa melupakan semua kejadian buruk yang masih sering menghantui pikiranmu itu."
Yoga menemani Nara memasak makan siang di dapur. Sejak pulang dari rumah sakit, wanita itu lebih sering menyibukkan diri di dapur.
"Aku merasa jauh lebih nyaman bila terus bersamamu, Mas. Jadi ijinkan aku menemanimu lagi di kantor agar aku bisa berada di dekatmu selalu."
Nara menatap suaminya sekilas sambil terus mengolah menu masakannya hari ini. Dia tersenyum melihat Yoga mulai terbiasa membantunya mengiris buah dan sayuran serta menggoreng lauk sederhana.
"Baiklah. Apa pun yang kamu minta selama itu baik untukmu dan membuatmu bahagia, aku pasti akan mengabulkannya, Sayang."
Tangan kiri Yoga meraih kepala istrinya dan mengacak pelan rambutnya yang tergerai sepanjang bahu. Nara pun tersenyum lebar mendengar jawaban dari suaminya.
"Terima kasih, Mas. Keberadaanmu di sisiku adalah obat paling mujarab yang bisa menjadi penawar kesedihan dan pelipur laraku."
Sambil menunggu sayuran di dalam panci masak, wanita itu menghampiri Yoga dan memberikan satu ciuman singkat di bibir suaminya.
"Jangan menggodaku, Sayang. Ini di dapur." Yoga mengingatkan istrinya membuat pipi Nara bersemburat merah menggemaskan.
Ingin rasanya membalas ciuman dari Nara, sekedar untuk mengungkapkan besarnya kasih sayang yang dia miliki untuk wanita kesayangannya tersebut.
"Aku hanya berusaha agar aku bisa segera melupakan bayangan lelaki itu, Mas. Aku ingin melupakan kejadian itu untuk selamanya."
Nara melihat masakannya sebentar, lalu kembali mendekati Yoga dan bermanja di pelukannya. Mau tak mau lelaki itu membalas pelukan istrinya dengan satu tangan yang merengkuh bahu Nara.
"Aku ingin hanya kamu yang selalu aku lihat, aku peluk dan aku cium setiap kali aku membuka mataku dan sebelum aku memejamkannya kembali."
Ucapan Nara membuat perasaan Yoga bergejolak. Jngin terus menahannya saja, tapi Nara justru memberi ruang dan kesempatan untuk mereka melakukannya.
Akhirnya setelah memastikan hanya ada mereka berdua di sana, Yoga pun membalas ciuman singkat Nara tadi dengan ciuman yang lebih lama dan lebih hangat, lalu saling meresapi dan saling berbalas mesra.
"Bubuu ... Gagaa mamam ...."
__ADS_1
Suara nyaring Raga yang memanggil mereka, membuat Yoga dan Nara segera memisahkan bibir mereka dan saling menjauh.
Raga berlari kecil menghampiri Nara diikuti Mbak Indah di belakangnya. Bocah yang selalu aktif bergerak itu merasa lapar dan ingin segera disuapi.
Yoga mengangkat lauk yang sudah matang dari wajan dan meniriskan di atasnya. Dia mematikan kompor lalu berjongkok menyambut kedatangan anaknya.
"Ibu masih memasak, Nak. Raga makan sama Ayah, mau? Kita makan siang sambil bermain di sana."
Yoga menunjuk ke arah ruang keluarga yang dipenuhi beraneka macam mainan edukasi untuk putra tampan mereka.
Raga mengangguk lalu menarik tangan Ayahnya untuk segera keluar dari dapur.
Mamam ... Yayaah ...."
Yoga pamit pada Nara lalu mengambil semangkok makan siang Raga yang sudah disiapkan oleh istrinya, kemudian mengikuti langkah kecil bocah lucu itu ke tempat bermainnya.
Sementara Yoga menyuapi buah hati mereka sambil menemaninya bermain, Nara masih menyelesaikan masakannya bersama Bibi Asih yang baru saja datang dari supermarket untuk membeli buah-buahan segar yang persediaannya di kulkas sudah habis.
Setelah makan siang matang dan tersaji lengkap di meja makan, Nara bergabung bersama Yoga dan Raga di ruang keluarga.
Diambilnya mangkok dan sendok yang dipegang sang suami lalu menggantikannya menyuapi putra mereka.
"Makanlah dulu, Mas. Sudah aku siapkan di atas meja."
Lelaki itu duduk kembali di samping Nara, meletakkan gelasnya di atas bangku kecil lalu mulai menyendok makanannya dan menyuapkan ke mulut Nara.
"Lho, Mas?!" Nara menatap Yoga dengan raut bingung.
"Kita makan bersama di sini, bertiga bersama Raga."
Nara tersenyum dan akhirnya membuka mulut untuk menerima suapan dari suaminya. Kemudian dia juga menyuapi Raga yang sudah ikut membuka mulutnya yang sudah kosong.
Mereka menikmati kebersamaan bertiga dalam suasana yang hangat dan penuh keceriaan, diselingi celoteh riang sang putra kesayangan yang semakin riang karena ditemani oleh kedua orangtuanya.
Diam-diam Mbak Indah mundur menjauh dan pergi meninggalkan mereka bertiga, menyusul Bibi Asih dan membantunya untuk membersihkan dapur.
.
.
.
__ADS_1
"Mas, jam sepuluh nanti ada jadwal pertemuan dengan Mas Alam untuk meninjau pembangunan proyek apartemen kalian."
Nara sudah duduk di belakang meja kerjanya dan memeriksa agenda kegiatan suaminya hari ini. Dia mulai sibuk dengan beberapa berkas yang menumpuk di atas meja.
Meskipun sebagian sudah dibantu dan diseleaaikan oleh Pram, tetapi masih ada beberapa laporan yang harus dia susun sendiri untuk laporan bulanan pada bagian personalia.
"Aku akan pergi bersama Beno, Sayang. Dia akan pulang sore nanti, jadi masih bisa mendampingi aku sebelum dia bertolak ke bandara."
Nara mengangguk dan tersenyum ke arah Yoga yang juga sudah duduk serius menatap layar kerjanya yang sudah menyala terang.
Ponsel Nara yang diletakkan di atas meja berdering. Nara mengambil dan membukanya. Ada pesan baru dari Embun yang mengajaknya makan siang bersama, selagi suami mereka nanti bekerja di lapangan.
"Mas, Mbak Embun mengajakku makan siang bersama sekaligus pergi ke galeri batiknya. Apakah aku boleh menerima ajakannya?"
Sebelum menjawabnya, Nara terlebih dahulu meminta ijin pada suaminya.
"Pergilah, Sayang. Nanti aku akan menjemputmu di galeri setelah pekerjaanku selesai."
Nara terlihat semringah setelah mendapatkan ijin dari Yoga. Segera dia membalas pesan dari embun dan menerima ajakannya.
Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering dan pesan yang baru saja masuk tersebut masih dari Embun.
"Nanti Mbak Embun akan menjemputku ke sini, Mas." Nara memberitahu suaminya.
Yoga membalasnya dengan anggukan dan senyuman. Dalam hatinya dia bahagia melihat Nara mulai ceria dan melewati harinya dengan penuh semangat.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang masih diliputi kemurungan dan ketakutan, setelah kembali ke kantor Nara lebih banyak tersenyum dan mulai bisa melupakan peristiwa yang nyaris merenggut kehormatannya sebagai seorang perempuan dan istri dari lelaki yang sangat dicintainya kini.
"Aku ingin kamu terus berbahagia seperti ini, Sayang. Semoga bukan hanya di kantor kamu bisa melupakan kejadian buruk itu. Aku harap di rumah dan di mana pun kamu berada, bayangan menakutkan itu tidak akan pernah lagi mengganggumu."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.