CINTA NARA

CINTA NARA
2.118. PILIHAN BUNGA


__ADS_3

Perlahan kedua mata Bunga terbangun dan mulai mencoba mengenali sekitarnya. Dengan tatapan sayu dia melihat suaminya yang segera datang menghampiri di tempat biasanya dia setia menunggui.


Ardi mencium kening Bunga dan menggenggam tangannya dengan senyum yang dipaksakan. Wanita lemah lembut itu beralih ke sisi yang lain dan melihat Nara dan Yoga berdiri bersampingan.


"Mbak Nara ..., Pak Yoga ...."


Keduanya serempak tersenyum dan mengangguk, lalu Nara menurunkan wajahnya di dekat wajah Bunga.


"Jangan banyak bicara dulu. Beristirahatlah dengan baik," ucap Nara sambil menyentuh tangan Bunga dan mengusapinya.


"Mbak, aku titip Aura. Nantinya, sering-seringlah menengoknya bersama Raga."


Nara terkejut dengan kalimat yang dilontarkan Bunga kepadanya, seakan menjadi sebuah pertanda akan sesuatu.


"Pikirkan dulu dirimu. Pikirkan kesembuhanmu."


Bunga tetap tersenyum tanpa menghiraukan kata-kata Nara.


"Aku berharap anak-anak kita bisa selalu bersama hingga mereka dewasa kelak."


Ardi yang semula diam dan hanya memperhatikan percakapan Bunga dan Nara mulai bereaksi saat ucapan Bunga mulai meracau ke mana-mana.


"Sayang, jangan banyak pikiran dulu. Tenangkan dirimu." Ardi kembali mencium kening istrinya, sementara Nara sudah menjauhkan wajahnya dan kembali tegak di samping Yoga yang kemudian merengkuh dan mendekap bahunya.


"Mas, aku ingin bicara berdua saja denganmu. Waktuku mungkin tidak akan lama lagi."


Mendengar ucapan Bunga, Yoga segera mengajak istrinya keluar setelah berpamitan pada Ardi. Mereka memberi waktu pada sepasang suami-istri itu untuk bersama dan berdua saja.


Setelah kedua tamunya keluar, Ardi membantu Bunga yang ingin duduk. Dia menekan tombol di samping pembaringan untuk meninggikan posisi kepalanya.


Setelah dirasa Bunga nyaman dan merasa lebih tenang dalam duduknya, Ardi ikut duduk di tepi pembaringan sembari terus menggengam erat tangan kanan istrinya yang sudah terlihat sangat pucat, sama seperti wajahnya.


"Mas, aku ingin bertemu dengan Aura. Tolong sampaikan pada dokter untuk mengijinkannya."


Sudah yang kesekian kalinya Bunga meminta hal tersebut. Jika sebelum-sebelumnya Ardi hanya mempertemukan mereka melalui panggilan video, kali ini atas ijin dokter pagi tadi, dia sudah meminta orangtuanya untuk membawa Aura untuk menemui Bunga.

__ADS_1


"Sebentar lagi putri kita akan datang. Papa dan Mama sudah berada dalam perjalanan menuju kemari."


Jawaban Ardi membuat Bunga tersenyum bahagia. Dia akan segera bertemu dengan putri kecilnya yang sudah lama tak bisa dijumpainya secara langsung.


"Terima kasih, Mas." Bunga menggenggam erat tangan suaminya yang menatapnya dengan sayu.


"Mas, jangan khawatirkan Aura jika aku sudah tiada nanti. Akan ada ibu baru untuknya yang menyayangi dan mencintainya sama sepertiku. Percayalah padaku."


Ardi menatap lebih tajam ke arah Bunga. Dia tisak menyukai arah pembicaraan mereka kali ini.


"Tidak ada yang lebih baik darimu, karena kamulah ibunya. Oleh karena itu, berjuanglah untuk tetaplah bersama kami, Sayang."


Bunga menggeleng lemah tak berdaya. Dia sudah bisa merasakan bahwa waktunya tiak akan lama lagi.


"Seandainya bisa, aku pasti sudah melakukannya demi tetap bersama dirimu dan Aura, Mas. Tapi kita tidak bisa mengingkari kenyataan yang ada. Bahkan semua dokter pun sudah tidak bisa berbuat hal yang lainnya lagi."


Ardi menunduk dan menyembunyikan butiran bening yang menetes tanpa bisa dicegahnya lagi. Dia tahu itu, dia tahu bagaimana dokter telah berupaya sangat keras dan pada akhirnya hanya bisa menyerahkan semuanya pada garis takdir Yang Maha Kuasa.


"Mas, tolong kabulkan permintaan terakhirku ini. Kembalilah bersama Dokter Alya. Hanya dia satu-satunya wanita yang aku pilih dan aku percayai untuk berada di sisimu."


Ardi terlihat tidak suka dengan kalimat panjang yang diucapkan oleh istrinya. Wajahnya berubah memerah dan menyorotkan kemarahan yang tertahan.


Bunga tersenyum tipis meskipun hatinya terasa sakit. Tapi bagjnya, rasa sakitnya saat ini tak lagi sepadan dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan derita dan sakit hati yang dirasakan dan dialami oleh Alya selama ini.


Dia mengingat kembali pembicaraannya dengan seorang teman lama yang dijumpainya di rumah sakit tempat Yoga dulu dirawat, yang juga merupakan tempat bertugas Alya.


Dari teman lamanya itu, dia mengetahui semua tentang Alya yang tidak banyak diketahui oleh orang lain. Tentang pernikahannya, tentang masalah dalam rumah tangganya, tentang semua hal buruk yang dialami Alya selama pernikahannya.


Alya memang tidak pernah mengakuinya dan selalu menyembunyikan kisah pribadinya dari orang lain. Tapi beberapa orang yang mengenalnya sehari-hari masih bisa mengetahui cerita sedih yang disimpan rapat oleh dokter berhijab anggun tersebut.


Banyak dokter dan karyawan yang memuji kepribadian dokter berprestasi itu, termasuk teman lama Alya yang menceritakan semua tentang Alya yang sudah diketahui oleh beberapa orang secara diam-diam.


Di tengah kemelut rumah tangganya yang berujung perpisahan, Alya selalu menjaga sikapnya dan menunjukkan posisinya sebagai wanita bermartabat dan tidak pernah mengumbar kisah pahit kehidupannya.


Sikapnya yang ramah dan baik hati selalu memikat hati siapa pun yang mengenalnya. Seluruh civitas rumah sakit pun selalu menghormati dan menghargai pilihan sikapnya yang ingin menutup rapat masalah pribadinya.

__ADS_1


Orang lain di sekitarnya hanya mengenal Alya sebagai dokter kandungan handal dan berprestasi yang menjadi salah satu dokter kebanggaan rumah sakit tempatnya bertugas.


Bunga yang sebelumnya tidak mengetahui sama sekali kebenaran tentang kehidupan Alya, mulai berubah pikiran dan mencari tahu lebih banyak tentang Alya.


Melalui temannya yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit yang sama dengan tempat bertugas Alya, Bunga mulai mengumpulkan banyak informasi tentang kehidupan pribadi Alya yang memang tersembunyi dan tidak pernah diperbincangkan oeh orang-orang di sekitarnya.


Bunga juga mengetahui tentang kedekatan Alya dengan Rendy yang juga menjadi perhatian para dokter dan karyawan di rumah sakit tersebut.


Dari cerita temannya, Bunga mengetahui kenyataan bahwa hanya Rendy yang menyimpan perasaan terpendam terhadap Alya, akan tetapi tidak dengan sebaliknya. Alya hanya menganggapnya sebatas teman baik, dari dulu hingga sekarang.


Dari banyaknya cerita yang diketahui oleh Bunga sekarang, wanita itu bisa mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya Alya masih menyimpan perasaan lamanya pada Ardi suaminya.


Tetapi demi menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga Ardi dan Bunga, Alya memilih untuk tetap menyimpan seluruh perasaannya di dalam hati.


Bahkan demi kebahagiaan Ardi, Alya pun rela melakukan banyak hal untuk menghilangkan kesedihan Ardi. Termasuk di antaranya membantu proses kelahiran Aura yang cukup dramatis kala itu.


Tak hanya itu saja, Alya diam-diam telah menyumbangkan banyak darahnya untuk menyelamatkan nyawa Bunga yang saat itu mengalami perdarahan hebat usai melahirkan putri mungilnya.


Jika bukan karena ketulusan cinta, rasanya tidak mungkin Alya akan melakukan semua itu dengan ringan hati dan mengesampingkan semua perasaannya, hanya demi kebahagiaan keluarga Ardi.


Mengingat semua itu, Bunga tak lagi mempunyai keraguan untuk memutuskan pilihannya yang baru saja disampaikannya kepada sang suami tercinta.


"Hanya Dokter Alya yang aku ijinkan untuk menjadi istrimu dan ibu untuk Aura."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2