
Enam minggu berlalu, usia kandungan Nara sudah memasuki sembilan bulan. Hanya tinggal menghitung hari menuju saat kelahiran sang buah hati.
Sesuai saran Ardi, sejak satu bulan yang lalu Nara sudah rajin berjalan kaki untuk memperlancar proses persalinannya nanti.
Seperti pagi ini, selepas sarapan pagi secukupnya dan minum vitamin yang rutin diberikan oleh Ardi, Nara bersiap untuk jalan pagi mengitari kompleks sekitar kediaman Yoga.
Yoga selalu siaga menemani sang istri dan sigap membawakan beberapa kebutuhan untuk berjaga-jaga mengingat sekarang sudah mendekati hari perkiraan lahir bayi mereka.
"Sudah siap, Ra?"
Mengenakan celana selutut dan kaos polos berwarna senada dengan dress kasual yang dipakai Nara, Yoga selalu tampil serasi ddngan sang istri sekalipun mereka hanya berada di dalam rumah setiap harinya.
"Sudah. Ayo ...."
Nara tidak membawa apa-apa karena Yoga tidak pernah mengijinkannya. Hanya suaminya yang membawa tas selempang yang ditempatkannya di bagian depan, untuk menyimpan ponsel dan obat-obatan Nara serta air mineral apabila sang istri kehausan.
Berdua mereka berjalan pelan dan santai untuk mulai mengitari jalan di seputaran kompleks yang masih sepi dan tidak banyak lalu-lalang kendaraan bermotor.
Sepanjang jalan Yoga selalu menggandeng tangan Nara dengan penuh perhatian. Sesekali dia meminta Nara berhenti sejenak untuk mengatur ulang nafas yang mulai tak beraturan karena lelah.
Tak lupa dia memberikan air mineral yang dibawanya untuk diminum sang istri guna menyegarkan tubuh dan memulihkan kembali tenaganya.
"Masih kuat?" tanya Yoga setelah mereka berkeliling hampir tiga puluh menit lamanya.
Dengan handuk kecil disekanya peluh yang mulai membasahi kening Nara dan menetes di tepian wajah cantiknya.
Nara tersenyum dan menatap ke arah suaminya.
"Sebentar lagi, ya?" pinta Nara yang selalu diiyakan oleh Yoga. Lelaki itu mengangguk dan membalas senyuman istrinya.
Mereka terus melanjutkan perjalanan sembari mengambil arah jalan pulang.
Hampir sampai di persimpangan terakhir menuju kediaman mereka, ponsel di saku celana Yoga berdering. Sambil terus berjalan, lelaki itu mengambil ponselnya dan segera menerima panggilan telepon dari sang asisten.
Tanpa sadar Nara melepaskan tangannya dari Yoga yang berjalan melambat sambil berbicara dengan Beno, sementara dirinya terus berjalan sembari menunduk mengusapi perutnya yang terus bergerak-gerak kecil.
Sampai di persimpangan, Nara berhenti bermaksud menunggu Yoga yang masih tertinggal beberapa meter di belakangnya.
Dia tidak menyadari ada bahaya yang mengintai dirinya saat menoleh ke belakang untuk melihat suaminya. Dan justru yang melihat hal itu adalah Yoga sendiri.
Tepat di saat Nara berbalik ke belakang, sebuah sepeda motor dari arah kanan hampir bertabrakan dengan mobil yang melaju dari arah depan.
__ADS_1
Demi menghindari sepeda motor yang tiba-tiba melintas lantas mengerem mendadak itu, mobil membanting setirnya ke kanan agar tidak terjadi tabrakan.
Namun naas, searah dengan laju mobil yang terus menerobos persimpangan, berdiri di sana Nara yang sedang menghadap ke arah suaminya.
Dan Yoga yang melihat kemungkinan buruk di belakang istrinya, secepat mungkin berlari untuk menyelamatkan Nara lebih dulu. Namun kedatangannya tepat bersamaan dengan posisi mobil yang sudah mengarah lurus pada Nara.
"Nara, awas Ra ...!!"
Yoga berhasil meraih tubuh Nara dan mendorongnya ke belakang agar menjauh dari persimpangan.
"Mundur, Ra ...!!"
Nara yang masih belum mengetahui apa yang sedang terjadi, terdorong cukup jauh hingga tubuhnya jatuh terjerembab ke tepian aspal.
Akan tetapi malang bagi Yoga, belum sempat dia menghindar setelah menyelamatkan istri tercintanya, mobil sudah menabraknya di depan mata Nara.
"Yogaaa ...!!!"
.
.
.
Pikirannya hanya tertuju pada tiga nyawa yang sangat dikhawatirkannya saat ini. Tiga nyawa yang sama-sama tengah berjuang demi tetap bisa bersama, bertiga selamanya.
"Kamu tidak boleh menyerah sekarang, Ga! Ada Nara dan anak kalian yang membutuhkanmu! Kamu harus bertahan, Ga. Harus ...!!"
Ardi terus bergumam sendiri, seolah dirinya tengah berbicara dengan sahabat kecil yang sangat disayanginya itu.
"Ra, kamu juga harus kuat! Berjuanglah demi anakmu yang akan segera lahir. Yoga sangat membutuhkan dukunganmu dan bayi kalian membutuhkan ibu terhebat sepertimu, Ra ...!!"
Lift yang tak kunjung terbuka pintunya, membuat Ardi segera berlari lagi ke arah tangga, menaikinya dengan cepat tak peduli lelah dan nafas yang mulai terengah.
"Baby boy, kamu keponakan Om yang luar biasa. Kamu kuat seperti ayahmu dan hebat seperti ibumu. Teruslah bertahan dan berjuang! Om akan segera menemanimu, Baby ...!!"
Setelah naik melewati beberapa tangga yang cukup menguras tenaga, sampailah Ardi di depan ruang operasi yang ditujunya.
Di salah satu pintu, seorang dokter kandungan yang juga teman baiknya sudah menunggu untuk segera melakukan operasi sesar yang harus mereka lakukan secepatnya demi menyelamatkan ibu dan bayi dalam kandungannya.
Seorang perawat membawa beberapa berkas yang sudah disiapkan dan segera ditandatangani oleh Ardi selaku perwakilan dari keluarga Yoga dan Nara.
__ADS_1
Sebelum masuk melalui pintu di depannya, Ardi melihat ke arah pintu yang lain. Ada Yoga di dalam sana yang juga sedang berjuang, sama seperti Nara dan bayi mereka.
"Bagaimana keadaan Yoga?" tanyanya pada teman dokter di sampingnya.
"Dia sudah ditangani. Sebentar lagi operasinya juga akan dilakukan," jawab sang teman.
Untuk sejenak Ardi terdiam dan memejamkan mata. Dia menenangkan diri sekaligus berdoa dengan khusyuk demi kelancaran operasi yang akan dilalui Yoga dan Nara, yang salah satunya juga akan ditangani oleh dia sendiri sebagai dokter kandungan Nara selama ini.
Setelah merasa tenang dan siap melaksanakan tugasnya, Ardi pun segera masuk ke dalam ruang operasi di mana Nara sudah terbaring lemah tak sadarkan diri, menunggu proses operasi yang akan dijalanimya.
Tak lama kemudian, terlihat dari luar lampu indikator di atas dua pintu menyala, tanpa proses operasi sudah dimulai.
Bersamaan dengan itu, Beno dan kedua orangtua Nara datang dengan wajah panik dan cemas. Beno menuju ke meja pelayanan untuk mencari informasi tentang atasannya dan sang istri.
"Pak Yoga dan Ibu Nara sedang menjalani operasi. Di sini ruangannya."
Beno kembali dan menunjukkan dua pintu ruang operasi yang mana lampunya masih menyala terang. Kemudian dia mempersilakan kedua mertua atasannya tersebut untuk duduk menunggu.
"Apakah mereka baik-baik saja?" Ibu terus berurai air mata membayangkan apa yang terjadi pada putri dan menantunya, juga calon cucu pertama mereka.
"Serahkan semuanya pada Allah, Bu. Sebab segala yang terbaik selalu terjadi atas kehendak-Nya. Kita hanya bisa berdoa dan memohon kepada Allah." Bapak merengkuh bahu Ibu untuk berbagi kekuatan bersama istrinya.
"Seluruh dokter terbaik sedang menangani Bapak dan Ibu. Semuanya pasti akan baik-baik saja."
Beno mencoba terus menenangkan keduanya, padahal dirinya sendiri sama khawatirnya dengan mereka.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
.
__ADS_1