
Setelah melewati perjalanan hangat penuh kemesraan di dalam mobil, sampailah mereka di area parkir di lantai teratas pusat perbelanjaan yang mereka datangi.
Yoga turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Nara dan menyambutnya dengan tangan yang terulur untuk membantu wanita kesayangannya keluar dari mobil dan berdiri di sampingnya.
"Kamu sudah siap untuk berkencan denganku malam ini?"
Tangan Yoga menggenggam tangan istrinya sambil menatap mesra ke arah Nara yang telah mengangguk dengan mata beningnya yang berbinar indah.
"Aku siap, Mas."
Nara membalas genggaman tangan suaminya dan sebelum mereka melangkah menjauh dari mobil, Yoga terlebih dahulu mencium kening istrinya dengan lembut dan sayang.
Berdua bergandengan tangan dengan bahagia, mereka mulai memasuki pusat perbelanjaan dengan senyum yang terus merekah di bibir manis keduanya.
Tak peduli dengan segala macam tatapan para pengunjung lain yang melihat dan memperhatikan kehadiran mereka, Yoga tetap percaya diri melangkah bersama Nara melewati keramaian di lantai teratas yang dikhususkan untuk area bioskop dengan beberapa ruang teater yang besar dan luas.
Dengan mengenakan pakaian kasual berwarna senada kesukaan Yoga, mereka terlihat lebih muda dari usia mereka yang sudah berkepala tiga.
Penampilan Yoga yang terlihat santai dengan rambut yang sedikit teracak membuat Nara sangat bangga berjalan di samping lelaki yang telah menjadi pemilik utuh seluruh hatinya.
Setelah menukarkan tiket yang sudah mereka pesan secara daring, Yoga menatap istrinya yang tampak bingung mencari tempat duduk di ruang tunggu yang sudah penuh.
"Masih ada waktu satu jam sebelum film yang akan kita tonton diputar. Apakah kamu mau kita turun dan berjalan-jalan dulu sebentar, Sayang?"
Ajakan Yoga serupa hadiah yang sangat diidamkan oleh Nara, karena mereka memang sangat jarang bahkan sudah pernah lagi pergi menghabiskan waktu hanya berdua.
Mereka lebih sering pergi bertiga bersama Raga dan memuaskan keinginan pangeran kecil mereka untuk bermain dan juga membeli mainan kesukaannya.
"Iya, Mas. Aku mau!" seru kecil Nara membuat Yoga tersenyum lalu mengusap dan mencium kepala istrinya tanpa malu di hadapan umum.
"Baiklah, Sayang. Ayo kita pergi ke lantai bawah. Aku akan menemanimu berbelanja apa pun yang kamu inginkan malam ini!"
Mereka meninggalkan area bioskop dengan langkah pelan namun pasti menuju eskalator yang berada di bagian tengah gedung besar nan megah tersebut.
Sebelum menapakkan kaki ke anak tangga eskalator, Yoga merengkuh bahu Nara dan mendekapnya penuh perhatian. Mereka turun menggunakan tangga berjalan itu dengan sesekali saling bertemu pandang.
__ADS_1
Sampai di lantai yang dituju, Nara mengajak Yoga masuk ke bagian anak-anak yang terletak di sudut area. Lelaki itu hanya bisa tersenyum sembari menghela nafas sabar.
Lagi-lagi Nara memutuskan untuk membelikan Raga beberapa setel pakaian baru. Perasaan seorang ibu tak bisa diingkari, selalu mengutamakan sang anak dari pada dirinya sendiri.
Demikian pula halnya dengan Nara, walaupun Yoga sudah membebaskannya untuk berbelanja sesuka hati, tetap saja keperluan Raga yang menjadi pilihan utamanya.
"Mengapa tidak membeli pakaian untuk dirimu sendiri, Sayang? Bukankah aku sudah memintamu untuk memilih apa pun sesuai keinginanmu?" tanya Yoga yang hanya ingin mengetahui jawaban sang istri.
Mereka masih mengantri di loket pembayaran dengan Yoga yang membawa kantong besar berisi sejumlah pakaian dan mainan edukasi untuk Raga.
"Inilah keinginanku, Mas. Entah mengapa setiap kali berada di pusat perbelanjaan seperti ini, aku hanya ingin membelikan segala hal untuk Raga. Berbeda dengan dulu saat belum ada Raga, jiwa lapar mataku masih seputar kebutuhan pribadiku."
Tanpa memikirkan sekitarnya, Yoga memeluk Nara dan mencium pipinya lantaran gemas dengan sikap istrinya yang sangat keibuan.
"Aku bersyukur memilikimu sebagai istriku, Sayang. Jika orang lain, mungkin tagihan kartu kreditku akan selalu melebihi batasnya setiap bulan karena wanita selalu menyukai belanja dan memanjakan diri sendiri demi penampilan prima mereka."
Nara cepat-cepat melepaskan pelukan suaminya dan menghindari ciuman berikutnya karena malu dengan perhatian orang-orang di sekitar yang tertuju pada mereka, sementara Yoga sama sekali tidak mempedulikan hal itu.
"Belanja itu harus disesuaikan dengan kebutuhan, Mas. Bukan menuruti keinginan, karena keinginan manusia itu tidak akan ada habisnya." Nara membalas ucapan suaminya tanpa bermaksud menggurui.
"Kita harus banyak bersyukur dengan semua yang sudah kita miliki dan selalu bijaksana dalam menggunakan dan mengelolanya agar tidak habis terbuang sia-sia dan tanpa manfaat," lanjut Nara mengakhiri penjelasannya.
Usai menyelesaikan pembayaran, Yoga mengajak Nara ke satu tempat di sudut yang berbeda.
Tangan kanannya membawa dua kantong paper bag yang berisi oleh-oleh untuk Raga, sementara tangan kirinya menggandeng tangan istrinya dan membawa masuk ke sebuah butik yang dulu sering dikunjungi oleh mamanya.
Di sana mereka disambut oleh pemilik butik yang tak lain adalah sahabat Mama Ratna. Tak lama mereka berada di tempat tersebut karena memburu waktu untuk menonton film.
Yoga hanya memesan beberapa pakaian untuk Nara, lengkap dengan semua pernik pendukungnya dari atas sampai bawah. Meskipun awalnya menolak, akhirnya Nara pasrah dan menurut ketika tubuhnya diukur oleh sang pemilik butik.
"Mas ...??" Nara menatap suaminya dengan sungkan karena perlakuan Yoga yang di luar dugaannya.
"Aku hanya ingin memberikan hadiah istimewa untuk istriku tercinta. Jangan menolaknya."
Yoga menggenggam tangan Nara yang masih berdiri dan diukur dengan cermat disertai beberapa pertanyaan seputar gaya busana dan penampilan yang disukainya.
__ADS_1
"Terima kasih." Akhirnya hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir Nara yang mengulas senyuman untuk mewakili rasa bahagianya.
Setelah pemesanan di butik selesai, mereka pun pamit dan segera kembali ke lantai teratas untuk melanjutkan tujuan utama dari kencan mereka malam ini, yaitu menonton film pilihan Nara.
"Mas, mengapa menatapku seperti itu?"
Nara merasakan tatapan mata Yoga yang berpijar penuh cinta di tengah temaram cahaya di dalam ruang teater yang telah dipadamkan lampu utamanya.
Mereka sudah duduk bersama di kursi bagian tengah teater. Tidak terlalu banyak pengunjung karena malam ini bukan akhir pekan yang selalu penuh penonton di setiap waktu putarnya.
"Hanya sedang mengagumi keindahan mata beningmu yang semakin bersinar indah di kegelapan seperti ini, Sayang. Kamu sangat cantik dan penuh pesona."
Wajah Nara menghangat dan merona meskipun tak terlihat jelas oleh Yoga yang masih terus memalingkan wajah ke arah istri tercintanya.
"Mas, filmnya ada di depan, lihatlah ke sana!"
Nara menyentuh pipi suaminya dan berusaha mengalihkan pandangannya ke depan. Namun Yoga segera menyentuh tangannya, menciumnya dengan lembut lalu menurunkannya ke bawah tanpa ingin melepaskannya.
Lelaki itu menggelengkan kepala tanpa sedikit pun mengalihkan tatapan matanya yang sudah terkunci hanya ke arah wajah Nara.
"Bagiku, film terbaik dan paling menyita perhatianku ada di sini, tepat di sampingku."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.