CINTA NARA

CINTA NARA
2.114. PERMINTAAN BUNGA


__ADS_3

"Mas, bisakah aku meminta tolong padamu?"


"Katakan saja, Sayang. Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"


Ardi duduk di samping pembaringan dengan tangan mereka yang saling menggenggam erat.


Bunga tampak masih ragu untuk mengatakan pada Ardi yang sudah menatapnya dan menunggunya melanjutkan ucapan. Ada rasa takut yang menghampiri, jikalau sang suami akan menolak permintaannya kali ini.


"Aku ingin bertemu dengan Dokter Alya."


Seketika pandangan mata Ardi berubah tajam dan menatapnya dengan penuh pertanyaan. Ada yang tidak dia mengerti sama sekali, tentang keinginan istrinya tersebut.


"Mengapa kamu ingin bertemu dengannya?"


Bunga menggeleng lemah dengan wajah yang semakin pasi. Dia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya pada Ardi.


Wanita itu ingin memastikan semuanya terlebih dahulu dengan Alya, sebelum dia memutuskan sesuatu yang penting untuk kebaikan masa depan mereka nantinya.


"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Ada banyak hal yang harus aku bicarakan dulu dengan Dokter Alya."


"Tapi aku pastikan pada suatu saat nanti, kamu akan mengetahui semuanya."


Ardi memejamkan kedua matanya lalu mengusap wajahnya disertai dengan helaan napas yang terasa sangat berat. Tubuhnya bersandar pada kursi yang setia menjadi tempat duduknya setiap kali menemani sang istri di sampingnya.


Bunga menarik pelan tangan Ardi yang digenggam olehnya di tepi pembaringan. Perlahan diciumnya dengan lembut lalu didekapnya di atas dada.


"Mas, kamu akan mengabulkan permintaanku, bukan?"


Ardi kembali membuka matanya dan memandangi wajah Bunga yang berusaha menampakkan senyuman tipis di bibir pucatnya.


"Baiklah. Aku akan melakukan apa pun permintaanmu, Sayang."


Ardi menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Bunga, yang seketika tersenyum lebih lebar.


"Tapi semua keputusan ada di tangan Alya. Aku tidak bisa memaksanya untuk menuruti permintaanmu. Lagipula, dia juga harus meminta ijin kepada suaminya lebih dulu. Semoga saja, dia berkenan dan bersedia untuk menemuimu."


Bunga menngangguk lemah dan merasa lega dengan jawaban suaminya. Setidaknya Ardi telah bersedia untuk menghubungi Alya dan menyampaikan keinginannya.


"Terima kasih, Mas." Bunga mempererat genggaman tangan mereka dan tersenyum bahagia.


Setelah keinginannya terpenuhi, lambat-laun pandangannnya mulai kabur dan kedua matanya perlahan menutup dengan sempurna.


"Aku ingin tidur, Mas. Aku sangat lelah ...."


Masih terdengar lirih suaranya, sampai akhirnya Bunga terlelap seiring lunglai yang telah mendera tubuhnya, usai melakukan serangkaian terapi selama beberapa jam sebelumnya.


"Beristirahatlah, Sayang. Aku selalu ada di sini bersamamu."

__ADS_1


Ardi berdiri dan mulai memperhatikam tubuh istrinya yang kian hari kian terlihat kurus akibat tergerus sakit yang dideritanya selama ini.


Wajahnya pun terlihat putih pucat dan sangat lelah, namun tidak mengurangi sedikit pun kecantikan alami yang dimilikinya, yang selalu dikagumi oleh Ardi.


Perlahan dilepaskannya genggaman tangan mereka dan diletakkannya tangan Bunga di atas perut, menyatu dengan tangan lainnya yang dialiri cairan infus melalui punggung tangan wanita itu.


Dengan hati yang dipenuhi kehawatiran dan ketakutan setiap saat, dilabuhkannya satu ciuman hangat yang cukup lama di kening istrinya.


Dirasakannya sesuatu yang berat dan basah mulai menggelayuti kedua matanya yang juga terasa pedih dan mulai tergenangi cairan bening yang memburamkan pandangannya.


Dengan satu kedipan mata, luruhlah air mata yang semula tertahan di pelupuknya, mengalir membasahi kedua pipi.


"Andai aku tahu sejak dulu, mungkin aku masih bisa merubah takdir kita dengan melakukan banyak hal yang masih bisa aku upayakan lebih cepat, untuk membuatmu tetap bersamaku lebih lama, Sayang.


"Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau, Sayang. Sebisaku dan semampuku aku tidak akan pernah lagi mengecewakanmu dan membuatmu bersedih hati. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan. Aku akan mewujudkan semua harapanmu yang belum bisa aku lakukan sebelumnya."


"Aku mencintaimu, Bungaku."


.


.


.


Di luar ruang perawatan Bunga, Ardi duduk di sebuah bangku tepat di seberang pintu. Dia telah memegang ponsel di tangannya untuk menghubungi seseorang sesuai permintaan sang istri.


"Maafkan aku, Sayang. Aku harus menghubunginya hanya karena aku ingin memenuhi permintaanmu."


Setelah menemukannya, tanpa menunda lagi Ardi segera menghubungi nomor tersebut. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mewujudkan keinginan Bunga yang bisa saja itu merupakan permintaan terakhirnya.


Ardi memejamkan matanya seketika dan menghalau pikiran buruk yang tiba-tiba terbersit di benaknya.


Panggilan telah tersambung dengan cepat. Terdengar di seberang sana, suara seorang wanita yang sangat lembut dan mendayu.


"Halo, Assalamualaikum ...."


Dengan suara yang sedikit bergetar, Ardi menjawab salam itu dan mulai bersikap tenang dan sewajarnya.


"Waalaikumsalam ...."


Alya yang menerima telepon itu di dalam ruangannya, meletakkan kembali tas yang sudah dijinjingnya di atas meja.


"Alya Annisa, ini aku ...."


"Ardi?" Dengan mudah dokter berhijab anggun itu bisa menebaknya dengan benar.


Tidak penah ada satu pun orang yang memanggilnya demikian selain Ardi.

__ADS_1


Alya yang saat itu tengah bersiap untuk pulang usai mengakhiri tugas malamnya, kembali duduk dan menenangkan diri.


"Iya, ini aku. Maaf aku mengganggumu di malam hari seperti ini."


Ardi terlebih dahulu meminta maaf karena tanpa tahu waktu terpaksa menghubungi Alya yang mungkin saja saat ini tengah beristirahat di rumah bersama keluarganya.


"Tidak apa-apa, Di. Aku masih berada di rumah sakit."


Alya merasakan dadanya mulai bertalu lebih cepat dari sebelumnya. Tapi dia tahu, Ardi tidak mungkin menghubunginya jika tidak ada sesuatu yang penting atau bahkan mungkin sangat penting.


Jntuk sesaat Ardi terdiam dan mulai mengumpulkan kekuatan umtuk mulai menceritakan tujuannya menghubungi Alya.


"Alya, aku ingin meminta tolong kepadamu. Mungkin ini tidak penting bagimu, tapi sangat penting dan berarti bagiku."


Mendengar suara Ardi yang berat dan terbata, Alya tahu bahwa ada suatu masalah besar yang tengah dihadapi oleh lelaki itu. Dan perasaannya tidak pernah salah jika itu berhubungan dengan Ardi.


"Katakan saja, Di. Apa yang bisa aku bantu? Jika aku mampu, dengan senang hati aku akan melakukannya."


Ardi mulai menceritakan semua yang tengah dialami oleh Bunga, yang mengharuskan sang istri melakukan perawatan dan menjalani terapi guna menekan laju penyakitnya dan membuatnya bertahan lebih lama lagi.


Alya menutup mulutnya seketika untuk menahan agar tidak sampai mengeluarkan suara keterkejutannya.


Mendadak wajahnya terasa menghangat dan kedua matanya yang indah mulai basah saat mendengarkan lanjutan cerita Ardi tentang istrinya.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Bunga?" Alya langsung mengajukan pertanyaan yang serupa pernyataan akan kesiapannya untuk membantu Ardi dan Bunga.


"Bunga ingin bertemu denganmu, secepatnya."


Ardi tanpak pasrah jika Alya tidak bisa memenuhi permintaannya tersebut. Dia tahu diri untuk tidak memaksakan kehendaknya pada dokter kandungan itu.


"Aku tidak akan memaksamu jika kamu merasa keberatan, Al. Lagipula, kamu pasti harus meminta ijin dulu kepada suamimu, dan belum tentu dia mengijinkanmu untuk pergi dan menemui Bunga."


Alya menahan isakannya agar tidak sampai terdengar oleh Ardi di seberang panggilan. Entah mengapa dirinya begitu sedih dan serasa teriris perih saat mengetahui kenyataan tentang Bunga.


"Aku akan datang ke sana. Aku akan menemui Bunga secepatnya."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2