CINTA NARA

CINTA NARA
3.17. PERHATIAN ISTIMEWA


__ADS_3

"Al, mengapa kamu tidak pernah terlihat bersama suamimu?"


Deggg ...!!! Jantung Alya berdegup kencang mendengar pertanyaan Ardi yang tidak disangkanya tersebut.


"Mengapa dia bisa menanyakan hal itu? Apa dia mulai curiga dengan keadaanku? Apa yang harus aku katakan padanya?"


Alya masih terdiam, tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.


Di belakang kemudi, diam-diam Ardi mulai memperhatikan Alya dan menunggu jawaban dari pertanyaannya. Semua ucapan Yoga terus dia pikirkan dan membuatnya kini merasa penasaran dan ingin mengetahui kebenarannya.


"Jika kamu tidak ingin menjawabnya tidak apa-apa. Maaf jika pertanyaanku telah menyinggung perasaanmu. Lupakan saja, Al."


Ardi semakin curiga dengan sikap Alya yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang menurutnya sangat sederhana dan bisa dijawab dengan mudah.


Alya memilih diam dan menatap jauh ke luar jendela dengan kegelisahannya. Dia masih waspada jika Ardi akan melontarkan pertanyaan yang lebih dalam dan membuatnya lebih gelisah dari saat ini.


"Maafkan aku, Di. Aku tidak bisa membuka cerita lamaku dengan siapa pun. Aku ingin melupakannya dan menjalani hari-hariku sekarang tanpa bayang-bayang kisah kelam itu lagi."


Selama ini wanita anggun itu selalu menghindari pertanyaan yang berhubungan dengan kehidupan pribadinya. Dia tidak ingin berbagi kisah pahitnya dengan siapa pun. Apalagi dengan lelaki pemilik hatinya yang sekarang berada di sampingnya, duduk berdua bersamanya.


"Diammu semakin membuatku ingin mengetahui lebih jauh tentang kehidupanmu selama ini, Al. Benarkah kamu bahagia ataukah sebaliknya?"


Dulu, di beberapa kali awal pertemuan mereka setelah berpisah bertahun-tahun lamanya, Ardi sempat menaruh kecurigaan karena Alya selalu menghindari pertanyaan yang menyinggung tentang kehidupan pribadinya, terutama seputar rumah tangganya.


Namun saat itu, dia tidak terlalu mempermasalahkannya karena mereka pun hanya bertemu sepintas lalu dan tidak lagi membahasnya.


"Kali ini aku akan mencari tahu kebenarannya sampai semuanya terkuak dengan jelas, Al. Kamu telanjur masuk kembali ke dalam kehidupanku yang sekarang, maka aku pun harus mengetahui yang sebenarnya tentang kehidupan pribadimu selama ini."


Ardi membiarkan hening di antara mereka tercipta sampai mobil memasuki halaman rumah sakit dan berhenti di area parkir tak jauh dari pintu utama.


Alya menatap Ardi yang telah mematikan mesin mobilnya dan bersiap untuk turun.


"Di, sampai di sini saja." Dengan suara lirih Alya menahan Ardi agar tidak keluar dari dalam mobil.


Namun Ardi tidak mengindahkannya, dia hanya tersenyum dan membuka pintu kemudi.


"Aku akan mengantar sampai ke ruanganmu."


Alya tidak bisa menolak dan mencegah Ardi lagi. Dokter duda itu sudah turun dan berputar ke depan mobil lalu berdiri di samping kiri dan membukakan pintu untuk dirinya.


"Ayo, turunlah. Jangan membuat pasienmu menunggu."


Alya merasa tersanjung dengan perlakuan Ardi kepadanya. Selama ini dia tidak pernah mendapatkan perlakuan luar biasa seperti ini selain dari lelaki cinta pertamanya itu.

__ADS_1


Bahkan dengan Riko yang dulu menjadi suaminya, sekali pun wanita itu tidak pernah menerima perlakuan yang layak sebagai seorang istri, apalagi sampai mendapatkan perhatian seistimewa ini.


"Terima kasih." Alya turun dan berdiri di samping Ardi dengan degup jantung yang terpacu semakin cepat dan tak beraturan.


Ardi membuka jalan untuk Alya kemudian mengikutinya dan menjajari langkah pelan dokter berhijab anggun tersebut memasuki lobi rumah sakit.


Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara keduanya, hingga mereka sampai di depan ruang pemeriksaan Alya yang tempat duduknya sudah dipenuhi oleh pasien yang menunggu antrian untuk dilayani.


"Selamat bekerja, Al. Jangan lupa untuk beristirahat sejenak jika dirimu merasa lelah."


Alya tersenyum begitu saja saat mendengar ucapan Ardi yang terdengar penuh perhatian dan menjadi penyemangat tersendiri baginya.


Wanita lembut itu mengangguk dan menekan gagang pintu yang sudah dipegangnya.


"Aku masuk dulu. Terima kasih sudah mengantarku."


Ardi segera membalas senyuman manis itu sebelum Alya menyadari dan menarik kembali senyumannya.


Lelaki itu menunggu hingga Alya masuk dan menutup pintu, baru kemudian berbalik arah dan memulai langkahnya untuk turun dan kembali pulang.


Keluar dari lift dan melanjutkan langkah lakinya menuju area parkir, Ardi mulai melewati lobi yang masih ramai dipenuhi antrian pasien di loket pendaftaran dan beberapa loket pelayanan yang lainnya.


"Dokter Ardi!"


"Maaf, Anda Dokter Ardi, bukan?" tanya seseorang yang kini sudah berdiri di hadapannya.


Ardi mengangguk dan memperhatikan sosok yang terlihat sangat senang bisa bertemu dengannya.


Lelaki itu tidak mengenal seseorang yang baru saja menyapanya, akan tetapi seseorang tersebut sudah cukup mengenalnya. Dia meminta ijin dan mengajak Ardi untuk berbicara tentang sesuatu.


.


.


.


"Sayang, apa tindakanku berlebihan kali ini?" tanya Yoga pada sang istri yang tengah menyiapkan hidangan makan malam di dapur.


"Menurutku tidak, Mas. Kita melakukannya di saat keduanya sudah sama-sama sendiri. Lagipula mereka terlihat masih saling menyimpan rasa."


Yoga mencium kepala Nara lalu mempererat pelukannya dari belakang, tak peduli sang istri masih sibuk mematangkan sayur dan lauk-pauk di depan kompor yang menyala.


"Aku hanya ingin melihat mereka bersama dan bahagia. Terutama demi Aura."

__ADS_1


Yoga menopangkan dagunya pada bahu Nara, sambil sesekali memberikan ciuman kecil beruntun dengan manja, hingga sang istri meronta pelan karena merasa geli oleh sentuhan lembut dari suaminya.


"Mas ..., sudah dong! Jangan di sini."


Yoga memang mulai terbiasa bersikap mesra dan manja tanpa kenal tempat, toh baginya masih dalam batas wajar apa yang ditunjukkannya di tempat umum. Nanmun tetap saja Nara malu dan sering menghindar karena sungkan dengan sekitarnya.


"Diamlah saja dan teruskan memasakmu. Aku tidak akan menganggu justru menemanimu, Sayang."


Bukannya menjauh dan melepaskan pelukannya, Yoga justru mengulangi sentuhan bibirnya di seluruh permukaan tubuh Nara yang terjangkau olehnya, membuat wanita itu menggeleng dan menghela napas pasrah dengan sikap suaminya.


"Jangan marah kalau nanti ketahuan Raga dan kamu dipukuli lagi oleh putramu," pesan Nara mengingatkan.


Dan benar saja. Baru saja selesai mengatakannya, tiba-tiba Raga berlari cepat dari arah ruang tengah lalu memukuli tubuh bagian bawah ayahnya dengan tangan kecilnya yang juga berkekuatan ringan.


"Ayah ... no ...!! No ... Ibu Maga .... Maga cayang Ibu ...!!!"


Yoga melepaskan pelukannya setelah mencuri ciuman cepat di bibir manis istrinya yang kebetulan menoleh untuk melihat keberadaan putra sulungnya.


"Aku mencintaimu!" Nara menahan senyumannya saat bibirnya disentuh mesra oleh bibir suaminya.


Wanita itu lalu mematikan kedua kompor yang masih menyala untuk melerai dulu kedua lelaki kesayangan yang selalu berebut perhatian darinya.


Tanpa diminta Bibi Asih datang dan segera mengambil alih masakan Nara yang sudah hampir matang. Beliau membiarkan keluarga bahagia itu keluar dari dapur masih dengan teriakan Raga yang terus digoda oleh Ayahnya.


"Maga cayang Ibu. Ayah no ... no ganggu Ibu ...!!"


Raga menangis dalam gendongan Ibunya saat melihat Yoga dengan sengaja kembali memeluk dan menciumi Nara dari belakang.


"Ayah juga sayang Ibu. Saaaangat sayang ...!!!"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2