
"Mbak Nara, maafkan aku yang dulu tidak sempat menjenguk ke rumah sakit, karena kami harus segera menuju bandara agar tidak terlambat check-in."
Sementara para suami sedang mengadakan pertemuan bersama di kantor Yoga, Nara dan Embun memilih untuk menunggu mereka di kafe yang lokasinya tak jauh dari kantor Yoga.
"Tidak apa-apa, Mbak. Lagipula aku hanya beristirahat di rumah kok, tidak harus menginap di klinik."
Embun merasa berempati dengan apa yang kembali harus dialami oleh Nara.
Keguguran lagi dalam jarak waktu yang tidak terlalu lama, pastinya sangat membuat wanita itu terpukul dan mengalami trauma berulang yang lebih menyakitkan.
"Aku turut menyesal dan prihatin atas apa yang terjadi pada Mbak Nara. Aku harap semoga kejadian ini tidak membuat Mbak Nara terpuruk dalam kesedihan yang berkepanjangan."
Nara tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia bisa merasakan ketulusan yang tersirat dalam ucapan Embun kepadanya.
"Terima kasih, Mbak. Alhamdulillah, aku baik-baik saja sekarang. Awalnya memang tidak mudah bagiku untuk menerimanya ...."
Nara menjeda kalimatnya sebentar guna mengatur emosinya saat teringat lagi pada peristiwa itu.
"Tapi kembali lagi, jika Allah sudah berkehendak lain dan belum berkenan atas ikhtiar kita saat ini, kita hanya bisa menerimanya dengan hati yang lapang dan ikhlas."
Nara melebarkan senyuman untuk menghalau kesedihan yang datang sepintas. Hampir saja air matanya luruh jika tidak ingat bahwa mereka sedang berada di tempat umum.
"InsyaAllah di saat terbaik yang telah ditentukan oleh-Nya, Mbak Nara dan Pak Yoga akan dianugerahi pengganti yang lebih baik. Aamiin ...!"
"Aamiin ...!!"
Nara tak ingin larut dalam kesedihan lagi. Dia harus optimis menjalani kehidupannnya ke depan bersama orang-orang baik di sekelilingnya yang selalu menyayangi dan mencintainya.
Obrolan demi obrolan mereka lanjutkan dengan beberapa bahasan ringan tentang beberapa hal ynag terjadi di sana selama Nara dan keluarganya tengah pulang ke kota mereka.
Salah satu yang mereka bicarakan adalah dokter kandungan mereka, yaitu Alya. Embun bercerita tentang kepindahan Alya ke rumah kontrakan yang baru.
"Sekarang Dokter Alya juga membuka praktek di salah satu klinik ternama di kota ini. Dia dipercaya menjadi penanggung jawab utama di sana."
Embun yang sudah mengetahui kabar tersebut dari Alya sendiri, segera memberi tahu Nara karena wanita itu pasti akan menghubungi Alya untuk melanjutkan konsultasinya setelah mengalami kegagalan kehamilan yang kedua kalinya
__ADS_1
Atas informasi dari Embun, Nara berniat untuk segera membuat jadwal pemeriksaan dengan Alya di kliniknya sekaligus ingin mengetahui kabar terbaru dari dokter yang mulai menjadi sahabat baiknya tersebut.
.
.
.
"Mas, jangan lupa temani aku ke klinik Dokter Alya besok lusa. Aku sudah membuat jadwal pemeriksaan tadi siang."
Nara membantu suaminya memakai pakaian usai mandi sepulang kerja. Sambil terus bercerita, tangannya sibuk menyisiri rambut Yoga yang mulai panjang dan berantakan karena sudah lama tidak dipotong dan dirapikannya.
"Iya, Sayang. Ke rumah sakit atau ke klinik?" tanya Yoga sembari memainkan ujung rambut Nara yang terurai ke bagian depan, tepat hadapannya.
"Kamu sudah mengetahuinya, Mas?"
Nara tampak terkejut lantaran Yoga sudah mengetahui sebelum dirinya bercerita tentang Alya. Diselesaikannya kegiatan merapikan rambut sang suami lalu meletakkan sisirnya di atas meja rias.
Yoga mencium kening istrinya lalu mengajaknya duduk di sofa sembari menikmati cokelat hangat dan lapis legit yang sudah disiapkan Nara saat lelaki itu masih berada di dalam kamar mandi.
Selanjutnya Yoga pun menceritakan semua kejadian yang menimpa Alya, sebelum dan sesudah kepulangan dokter anggun itu ke tanah kelahirannya beberapa waktu yang lalu.
Dia pula yang ternyata meminta Beno supaya mengambil tindakan berani untuk membongkar rahasia dan masalah besar Alya dan mantan suaminya, agar keluarga Riko dan juga keluarga Alya mengetahui keburukan dan kejahatan Riko yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.
Tanpa ada orang yang mengetahuinya, atas titah Yoga maka Beno bergerak cepat dengan mengutus timnya untuk mengirimkan beberapa bukti kuat tentang kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh Riko terhadap Alya selama ini, kepada keluarga Riko.
Yoga juga menyampaikan penyesalannya, karena ceroboh dan hampir melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan papa Alya mengalami serangan jantung ringan setelah mengetahui kabar buruk tentang kandasnya pernikahan putri semata wayangnya.
Nara mendengarkan cerita Yoga dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa trenyuh sekaligus bersyukur karena suaminya selalu bertindak cepat dan lebih dulu sebelum orang lain memikirkannya apalagi melakukannya.
"Semoga setelah ini Dokter Alya bisa menjalani kehidupan ke depannya dengan lebih baik dan selalu bahagia, tanpa didekati dan diganggu lagi oleh mantan suaminya."
Alya membersihkan sisa kue yang mengotori sudut bibir Yoga dengan selembar tisu, lalu memberikan sekilas kecupan sebelum dirinya bermanja di pelukan hangat suami tercintanya.
"Apa pun dan siapa pun yang berhubungan langsung dengan keluargaku, akan kupastikan semuanya baik-baik saja," tegas Yoga dalam keseriusan ucapannya.
__ADS_1
"Aku akan menyingkirkan semua orang dan semua hal yang meresahkan dan mengganggu kehidupan bahagia kita dan orang-orang di sekeliling kita, Sayang!"
Yoga mencium lembut puncak kepala Nara yang sudah rebah di atas dadanya. Lelaki itu semakin mempererat pelukannya saat Nara pun melingkarkan kedua tangannya sangat erat di dalam dekapannya yang penuh cinta.
"Kamu adalah lelaki luar biasa yang telah ditakdirkan Allah untuk melengkapi hidupku dan mengelilinginya dengan kebahagiaan, Mas. Aku tidak akan pernah berhenti bersyukur sepanjang waktu, karena akulah yang menjadi pemilik hatimu seutuhnya. Terima kasih, Mas!"
Nara mengangkat kepalanya dan dengan segera melabuhkan ciuman hangat dan lama di bibir manis suaminya. Dia memejamkan matanya dan menikmati getaran rasanya hingga ke dasar sanubari.
Yoga dengan cepat menyambutnya dengan rasa bahagia yang membuncahkan jiwa, membalas ciuman istrinya tanpa ingin melepaskannya lagi. Semakin lama semakin dalam, semakin basah dan penuh gairah.
Saat mereka melepaskan ciuman panjang itu, Nara menurunkan pandangan ke bagian tubuh Yoga yang membuat darahnya selalu berdesir hebat dan bergejolak mengingat kenangan yang melekat erat di dalamnya.
Seolah tahu arti tatapan mata Nara kepadanya, Yoga pun membuka penutup tubuh bagian atasnya, hingga terpampanglah apa yang ingin disentuh oleh wanita kesayangannya.
Tangan Nara mulai bergerak pelan meraba permukaan dada bidang Yoga yang berkulit lembut dengan bulu halus yang membuat perasaannya semakin bergejolak tak menentu.
Setelah puas meraba dan memandanginya, Nara memejamkan mata dan mulai mendekatkan wajahnya untuk memulai ritual tanda cintanya di sepanjang luka bersejarah penuh kisah.
Luka bersejarah yang akan selalu menjadi pengingat akan kisah cinta luar biasa mereka, yang akhirnya bisa bersatu dalam bahagia, setelah begitu banyak luka dan derai air mata yang tumpah-ruah mengawali cerita penuh liku mereka di masa lalu.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1