
"Kamu yakin tidak apa-apa jika aku tinggal pulang, Mas?" Nara menatap sedih ke dalam mata sayu Yoga yang masih terlihat sembab dan memerah.
Sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan lelaki itu sendirian, namun Yoga sudah memutuskan dan tetap memintanya segera pulang agar anak-anak mereka tidak semakin lama ditinggalkan.
"Jangan khawatirkan aku, Sayang. Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Percayalah padaku, aku tidak akan kenapa-kenapa di sini." Yoga terus meyakinkan istrinya yang masih ragu untuk menuruti permintaannya.
"Pulanglah. Kasihan Raga dan Gana yang sudah setengah hari kamu tinggalkan. Aku akan pulang bersama Pak Budi setelah suasana lebih tenang."
Hanya bisa mengangguk pasrah, akhirnya Nara ditemani Yoga berpamitan pada Dani dan anggota keluarga yang lain. Kemudian mereka keluar menuju mobil yang sudah siap bersama sopir yang sebelumnya datang menyusul bersama Pak Budi.
"Aku menunggumu di rumah, Mas." Nara mencium tangan suaminya yang dibalas Yoga dengan mencium kening sang istri selembut biasanya.
"Ya, Sayang. Aku mencintaimu."
Yoga menutup pintu mobil setelah Nara masuk dan melambaikan tangan saat mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah.
Lelaki itu kembali masuk ke dalam rumah melewati beberapa orang yang masih duduk di tepi halaman dan teras depan. Mereka adalah kerabat dekat Dokter Danu dan keluarga besarnya.
Para pelayat pun mulai berdatangan setelah mendapatkan kabar bahwa dokter senior dan sarat prestasi tersebut telah menghembuskan napas terakhirnya pagi tadi.
Dokter Danu akhirnya meninggal dunia di dalam kamarnya, didampingi putra sulung dan menantu pertamanya yang sempat menangani beliau dan berusaha untuk memberikan pertolongan. Namun ajal memang telah sampai pada waktunya untuk menjemput dokter jantung kepercayaan keluarga Mahendra.
Dokter Danu segera dimakamkan di pemakaman umum tak jauh dari rumah beliau, setelah semua putra-putrinya yang berjumlah tiga orang datang dan berkumpul lengkap bersama keluarga masing-masing.
Pemakaman dilakukan dengan hanya dihadiri oleh sedikit pelayat, sebagaimana keinginan Dokter Danu sebelum meninggal dunia. Beliau juga sudah mempersiapkan semua keperluan untuk pemulasaraannya sendiri dan berpesan untuk dikebumikan dengan segera dan sederhana, sebagaimana prinsip hidupnya selama ini.
Yoga masuk ke dalam rumah dan memilih duduk di sana, menepi dari para pelayat yang masih datang silih-berganti di bagian depan dari rumah asri nan luas tersebut.
Lelaki itu sangat terpukul dengan kepergian Dokter Danu, tepat setelah menemuinya dan menyampaikan beberapa kisah lama tentang sang papa yang belum sempat diceritakan kepadanya.
Dani melarangnya pulang lebih dulu karena ada pesan dari Dokter Danu yang harus dia sampaikan langsung sesuai pesan dari sang papa. Yoga akhirnya memutuskan untuk menunggu sampai kondisi di rumah Dokter Danu kembali tenang dan mulai sepi dari para pelayat.
Beberapa jam kemudian saat sore mulai menjelang, Dani dan Yoga berbicara berdua di dalam kamar Dokter Danu. Dani menyerahkan sepucuk surat beramplop putih dan sebuah dokumen penting dalam map berwarna coklat.
"Beberapa hari yang lalu Papa berpesan kepadaku untuk menyerahkan semua ini kepada kamu, Ga. Aku juga tidak tahu apa isi di dalamnya. Papa hanya mengatakan bahwa itu adalah titipan dari Om Surya dulu."
Yoga menatap dua buah berkas tersebut tanpa ingin menyentuh lebih dulu ataupun melihat isi di dalamnya.
__ADS_1
"Om Surya menitipkannya kepada Papa sebelum keberangkatan beliau dan Tante Ratna untuk pergi menghadiri sebuah acara di luar kota, di mana dalam perjalanan pulangnya beliau berdua mengalami kecelakaan pesawat terbang dan meninggal dunia."
Sepasang netra Yoga yang masih sayu dan sembab kembali berair dan memburamkan pandangannya. Segera disekanya genangan air mata di kedua pelupuknya, agar tidak sampai menetes dan mambasahi wajahnya lagi.
Kalian semua adalah orangtuaku. Papa, Mama, Dokter Danu dan Tante Diana. Terima kasih atas seluruh limpahan kasih sayang dan perhatian yang selalu kalian berikan kepadaku selama ini. Aku menyayangi kalian semua.
.
.
.
Nara menatap sendu dan penuh kasih ke arah suaminya yang tertidur sangat pulas, usai membersihkan tubuh sepulang dari rumah Dokter Danu beberapa saat yang lalu.
Jangan pernah merasa sendiri lagi, Mas. Ada aku dan anak-anak yang akan selalu ada bersamamu. Kita akan saling menggenggam hati dan tetap saling menguatkan apa pun yang terjadi.
"Sayang, maaf aku ketiduran." Tiba-tiba Yoga terbangun dan membuka matanya saat merasakan ciuman hangat di keningnya.
Nara tersenyum dengan wajah yang masih berada di hadapannya. Tangan yang selalu terampil dan cekatan dalam kegiatan rumah tangga itu masih membelai wajahnya dengan sentuhan lembut yang selalu dia rindukan.
"Tidurlah lagi jika masih mengantuk, Mas. Masih ada waktu sebelum maghrib tiba. Kamu pasti sangat lelah hari ini."
"Ada kamu di dekatku dan melihat senyumanmu, sudah menjadi pelipur lelahku, Sayang. Terima kasih atas perhatian dan kasih sayangmu yang tak pernah surut, justru selalu bertambah setiap saat. Kamulah yang terbaik!"
Yoga mengulurkan tangannya, meraih tubuh Nara dan membawanya ke dalam pelukan yang rapat tanpa sekat. Sesaat mereka saling berbagi kehangatan dan saling menenangkan satu sama lain.
"Memilikimu dan menjadikanmu ibu dari anak-anakku adalah kebahagiaan terbesarku. Kamu adalah anugerah terindah yang Allah percayakan untukku. Aku akan selalu menjaga dan melindungimu dengan segenap hati, jiwa dan ragaku selamanya. Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu ...."
Yoga mengucapkannya dengan penuh perasaan, setelah merenggangkan pelukannya sehingga wajah mereka kembali berhadapan dan saling mengunci pandangan dengan begitu dalam dan lekat.
"Aku juga sangat bersyukur atas kehadiranmu dalam hidupku, Mas. Kamu adalah sosok lelaki terbaik yang membuatku selalu merasa bahagia karena telah dicintai dan selalu diistimewakan oleh dirimu. Kamu juga terbaik, Mas. Kamulah yang terbaik untuk aku dan anak-anak kita. Terima kasih, Sayangku."
Nara menghadiahi ciuman di kedua pipi Yoga, membuat pemilik wajah penuh pesona itu melebarkan senyuman bahagianya.
Pandangannya kemudian beralih ke arah boks bayi di samping tempat tidur. Kelambunya masih terurai di atasnya, menutupi sosok mungil yang terlelap di dalamnya.
"Bagaimana keadaan anak-anak? Apakah mereka rewel selama kamu tinggalkan?" tanya Yoga yang sudah duduk dengan kedua kaki menjuntai menyentuh lantai, tepat di sebelah Nara yang berposisi sama.
__ADS_1
"Kata Bibi Asih mereka tidak merepotkan sama sekali. Gana masih lebih banyak terlelap seperti biasanya, sementara Raga juga semangat belajar bersama Mbak Indah dan sesekali bermain bersama Pak Budi sebelum beliau menyusul kita tadi."
Yoga beranjak dan berdiri di samping boks bayi. Dia memandangi bayi mungilnya yang terlihat sangat tampan dengan mata yang terpejam rapat dan senyuman kecil di salah satu sudut bibirnya. Tanpa sadar lelaki itu ikut mengulas senyuman, seolah ingin memberikan balasan untuk putra keduanya.
Nara yang hendak beranjak mengikutinya, melihat ke atas meja, di mana terdapat dua barang serupa berkas penting yang dibawa suaminya sepulang dari rumah Dokter Danu.
"Mas, apa kamu tidak ingin membuka surat dan dokumen itu?" tanya Nara lirih sembari melangkah mendekati suaminya yang masih memaku pandangan ke arah Gana.
Yoga menoleh dan menatap ke arah meja. Masih ada ragu di hatinya untuk membuka dan mengetahui isi di dalam kedua berkas tersebut.
Apa lagi yang Papa tinggalkan untukku kali ini? Sebuah amanah pentingkah? Atau hanya sekedar surat wasiat biasa?
.
.
.
Mohon maaf atas keterlambatan update dua hari kemarin. Banyak tugas negara yang tidak bisa diabaikan oleh emak sok sibuk ini...ππ
Insyaallah mulai hari ini update akan rutin kembali.
Salam sehat selalu, sukses untuk kita semua dan tetap semangat...ππ€π
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.