CINTA NARA

CINTA NARA
3.63. AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Sepulang dari makam Bunga, Ardi mengajak Alya untuk makan siang bersama. Bukan makan siang biasa, karena tanpa sepengetahuan Alya, lelaki itu sudah menyiapkan kejutan untuknya.


"Di, ini ... kamu masih ingat tempat ini?"


Alya tidak menyangka jika Ardi akan membawanya ke sebuah tempat yang dulu seringkali mereka datangi berdua. Tempat di mana pertama kali Ardi menyatakan perasaannya pada wanita cinta pertamanya tersebut. Namun pada akhirnya, di tempat ini pula mereka memutuskan untuk berpisah kendati keduanya sama-sama tidak menghendakinya.


"Aku tidak akan pernah melupakan semua hal tentang kita berdua, Al. Kebersamaan kita, perpisahan kita dan pertemuan kita kembali."


Ardi dan Alya duduk bersebelahan dengan tas Alya sebagai pembatas di tengahnya. Mereka menempati sebuah bangku panjang serupa sofa yang menjadi tempat duduk khas rumah makan yang mereka datangi. Sementara itu Aura yang baru saja tertidur sesampainya di sana, dibaringkan di atas kereta bayi yang selalu ada di dalam mobil Ardi.


Alya mengingat semuanya. Sama sepeti Ardi, tak ada satu pun yang terlupakan olehnya jika tentang lelaki itu dan segala kenangan di antara mereka.


"Maafkan aku, Alya. Aku telah mengabaikanmu begitu saja setelah kita berpisah. Harusnya aku masih bisa menjagamu dari jauh dan memastikan kebahagiaanmu lebih dulu. Aku justru berlalu begitu saja dan tidak pernah ingin tahu tentang dirimu demi segera bisa melupakanmu."


Ardi menatap Alya dengan sendu. Ada penyesalan di sudut hatinya atas sikap dirinya di masa lalu. Jika saja dia mengetahuinya, dia pasti akan menyelamatkan Alya dari perilaku tak beradab suaminya.


Meskipun tidak akan bisa merubah semua yang telah terjadi, tapi setidaknya Alya tidak akan setrauma saat ini. Akibat terlalu lama terpuruk dalam kejadian yang sangat buruk itu, semuanya telanjur menorehkan luka dengan goresan yang dalam dan sangat menyayat.


"Aku akan menebusnya mulai sekarang dengan memberimu kebahagiaan yang tertunda untuk kamu miliki. Aku akan membahagiakan kamu, Alya. Mulai sekarang dan selamanya."


Alya membalas tatapan mata Ardi dalam-dalam. Tidak ada sedikit pun kebohongan yang ditemukannya di sana. Yang ada hanya kejujuran dan cinta yang sangat jelas terlihat. Pelupuknya semakin penuh oleh genangan air mata yang siap luruh dengan satu kali kedipan.


"Aku pasti akan sangat menyusahkanmu nanti, Di. Aku belum sembuh. Hatiku masih sangat rapuh dan sulit tersentuh. Ini tidak akan mudah ... tidak mudah bagiku, terlebih lagi bagimu."


Kedua pipi Alya sudah basah teraliri tangisan yang mulai pecah tanpa suara. Hanya terus menumpahkan air mata, dalam diamnya memandangi lelaki itu. Hatinya begitu sakit, dadanya penuh sesak oleh rasa ragu bercampur haru yang terus merundungi.


"Aku tahu semua ini tidak akan mudah, Al. Apalagi jika kita masih melakukannya sendiri-sendiri. Oleh karena itu aku ingin kita secepatnya bersatu dan bersama, agar lebih mudah bagi kita berdua untuk menyembuhkan dirimu."


Alya menangis semakin tak terkendali. Isakannya mulai terdengar oleh Ardi yang sudah menggeser tubuhnya menghadap ke samping. Pandangannya menjadi lebih leluasa untuk menatap Alya lekat-lekat.


"Kamu pasti memahami maksud ucapanku. Aku ingin kamu segera sembuh. Aku ingin membantumu melakukannya. Aku tidak akan membiarkanmu berusaha sendiri. Aku akan selalu ada bersamamu, Alya."

__ADS_1


Ardi telah memegang saputangan dan mulai mengulurkan tangannya ke wajah ayu Alya. Dokter berhijab anggun tersebut tidak menunjukkan penolakan saat lelaki itu mulai menggerakkan saputangan di permukaan wajahnya. Terasa perlahan, hati-hati dan sangat lembut.


Lambat-laun hatinya mulai tergerak untuk membiarkan setiap sentuhan Ardi. Sentuhan yang masih terhalang kain persegi kecil yang telah basah oleh air matanya. Alya memejamkan mata dan terus berusaha melawan ketakutan dan bayangan peristiwa kelamnya.


"Aku mencintaimu, Alya," ucap Ardi di tengah gerakan tangannya menghapus air mata wanita itu. Dia berhenti sejenak dan hanya memandang wajah Alya dari jarak yang cukup dekat.


Tubuh Alya bergetar hebat. Batinnya terus beradu, antara ingin menguasai keadaan dan membiarkan, atau tetap melakukan penolakan dan menutup diri.


"Aku mencintaimu dan akan selalu menemanimu. Ingat itu selalu di dalam hati dan pikiranmu."


Alya mengangguk masih dengan memejamkan mata. Dia meresapi semua kata-kata Ardi dan terus meyakinkan diri sendiri untuk melawan ketakutannya.


Perlahan dia membuka mata dan mendapati wajah Ardi yang masih menatapnya sedari tadi. Dia memberanikan diri untuk mengulas sebuah senyuman yang ditujukan untuk lelaki itu.


"Terima kasih, Di. Terima kasih sudah memiih untuk tetap bersamaku setelah kamu tahu yang sebenarnya tentang diriku."


Ardi membalas senyuman Alya dengan hati bahagia. Sekali lagi dia membersihkan sisa tangisan di wajah wanita itu lalu menyimpan saputangannya.


Ardi memandang Aura dan Alya bergantian. Setelah itu pandangannya beralih ke arah cincin permata yang tersemat di jari manis tangan kiri Alya yang ada di atas meja. Cincin itu terlihat berkilauan begitu indah.


"Tolong jaga cincin itu seperti kamu menjaga hatimu selama ini. Ingatlah selalu cinta dan kasih sayang yang aku titipkan di dalamnya. Aku akan selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada, Al."


Alya menepis ketakutannya. Dia juga mengusir pergi semua bayangan buruk yang berkelebat hendak mengganggunya lagi. Tangannya yang gemetar hebat sedari tadi, kini kembali tenang dan diam sepenuhnya.


Wanita anggun itu berusaha bangkit dengan tekad yang telah bulat. Dia ingin sembuh dan bahagia. Apalagi sekarang, ada Ardi bersamanya. Lelaki yang selama ini hanya bisa diingatnya dalam hati dan selalu disebut namanya dalam setiap doa.


"Aku tidak akan mengecewakanmu dan Aura. Aku akan segera sembuh dan pulih demi kalian. Kembali menjadi Alya yang dulu kamu kenal dan pernah kamu miliki. Alya yang selalu mencintai dan menyayangimu tanpa henti di dalam hati ini. Aku ... aku ...."


Alya memejamkan sepasang mata indahnya untuk menenangkan diri. Ada yang ingin disampaikannya dan tak ingin ditundanya lagi. Dia takut keberaniannya akan hilang kembali jika tak segera diselesaikannya saat ini juga.


Melihat Alya yang kembali goyah dan melemah dalam diamnya, Ardi segera meraih tangan kiri Alya. Digenggamnya tangan yang berhiaskan cincin indah itu dengan lembut dan diusapinya dengan penuh kasih.

__ADS_1


Meski masih terasa gemetar, namun tangan itu tak lagi sedingin sebelumnya. Ardi terus menggenggamnya dan perlahan mulai merasakan balasan dari pemiliknya.


Alya membuka mata setelah menenangkan diri dan mendapatkan lagi kekuatannya. Dia tersenyum seraya membalas genggaman tangan Ardi tanpa ragu.


"Aku mencintaimu, Ardi. Aku juga mencintai dan menyayangi Aura. Aku ingin membahagiakan kalian berdua. Aku ingin hidup bahagia dan menghabiskan sisa usiaku bersama kamu dan Aura, selamanya."


.


.


.


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2