
Malam hari setelah menutup berkas laporan yang harus ditandatanganinya, Yoga menerima telepon penting dari salah satu putra Dokter Danu, dokter yang sangat berjasa bagi keluarga besar Mahendra.
"Telepon dari siapa, Mas?" tanya Nara dari atas tempat tidur. Wanita itu sudah berbaring cukup lama setelah menidurkan bayi mungilnya, akan tetapi masih belum bisa memejamkan kedua mata beningnya yang masih bertahan menemani sang suami menyelesaikan pekerjaan.
"Dari Dokter Dani, putra sulung Dokter Danu. Beliau mengabarkan jika Dokter Danu sakit dan keadaannya cukup mengkhawatirkan saat ini."
Yoga tampak murung setelah mendengar kabar tidak baik tersebut. Nara memintanya duduk dulu untuk menenangkan diri. Dia segera turun dari tempat tidur dan menghampiri suaminya dengan membawa segelas air putih yang selalu tersedia di dalam kamar.
"Ini, Mas. Minumlah dulu dan jangan panik. Tetaplah tenang dan kita doakan beliau bersama-sama." Nara mendekap lengan kiri Yoga sementara tangan kanan lelaki itu memegang gelas yang sedang dia habiskan isinya.
"Iya, Sayang. Aku hanya terkejut karena selama ini tidak pernah mendengar beliau sakit atau mengidap suatu penyakit. Tapi mungkin saja pihak keluarga juga menyembunyikannya, aku tidak tahu ...."
Meletakkan gelas kosong di atas meja, Yoga kemudian merengkuh tubuh Nara dengan kedua tangan dan membawa ke dalam pelukan eratnya. Matanya terpejam, membayangkan banyaknya kebaikan yang sudah dilakukan Dokter Danu untuk keluarganya, dari dia masih bayi hingga sudah berumah tangga saat ini.
"Beliau dirawat di rumah karena bersikeras tidak ingin dibawa ke rumah sakit," lanjut Yoga sambil terus memeluk istrinya.
Tak jauh beda dengan sang suami, Nara juga merasakan kesedihan yang mendalam. Bagaimanapun juga, Dokter Danu adalah salah satu orang yang paling berjasa dalam membantu Yoga untuk menyembuhkan penyakitnya dulu.
Berkat tangan dingin dokter senior yang sangat dipercaya oleh para pasiennya tersebut, Yoga bisa menghadapi penyakitnya dan bersedia menjalani berbagai macam pengobatan yang dilakukan oleh Dokter Danu.
"Aku akan menemanimu membesuk beliau, Mas." Nara merenggangkan pelukannya dan menatap suaminya dengan sendu.
"Bagaimana dengan Gana?" Lelaki itu membalas tatapan istrinya tak kalah sayu.
"Ada Mbak Indah dan Bibi Asih di rumah, bukan? Pak Budi juga bisa membantu menemani Raga."
Dokter Danu tinggal di kota yang sama dengan mereka, akan tetapi rumah beliau berada di tepian kota yang jauh dari hingar-bingar kegiatan duniawi.
Sejak memutuskan berhenti bekerja dan tidak membuka praktek lagi, tepatnya satu tahun yang lalu, dokter yang berhati mulia dan sangat bersahaja itu menetap di rumah lamanya tersebut dan menikmati masa tuanya dengan bahagia bersama keluarga putra sulungnya.
"Baiklah. Besok pagi kita berangkat mengunjungi beliau. Terima kasih, Sayang. Kamu selalu bisa menenangkan aku dan membuatku tidak merasa risau. Aku sangat mencintaimu." Yoga mencium kening Nata dengan segenap perasaan di hati dan jiwanya. Pelukannya semakin erat seolah meminta untuk terus ditemani dan ditenangkan.
"Aku juga mencintaimu, Mas. Sebaiknya kita segera beristirahat guna mempersiapkan kepergian besok pagi."
__ADS_1
Nara mengajak suaminya untuk berbaring di atas tempat tidur dan memejamkan mata bersama-sama. Yoga memeluknya semakin erat hingga mereka berdua terlelap.
.
.
.
Kisah cinta Nara dan Yoga tak terlepas dari peran penting Dokter Danu. Beliau adalah orang yang selalu siap sedia memberikan pelayanan dan perawatan terbaik untuk Yoga selama lelaki itu sakit. Sakit parah yang nyaris meregggut nyawanya dan memisahkan dirinya dari orang-orang tercinta, yaitu Nara dan Raga kala itu.
Tengah malam Nara terbangun sendiri untuk menyusui Gana. Yoga tertidur sangat lelap sehingga tidak mendengar rengekan lapar bayi mungil mereka.
Sambil menyusui di atas sofa, Nara memandangi suaminya yang tidur tanpa perubahan posisi sedikit pun. Ada rasa iba saat melihat kesedihannya tadi. Sedih karena mendengar kabar tentang sakitnya Dokter Danu.
Kita sama-sama berdoa untuk beliau, Mas. Mintalah yang terbaik untuk Dokter Danu. Semoga kita masih diberi kesempatan untuk menemuinya esok hari.
Meskipun tidak mengenal dekat Dokter Danu dan dulu hanya beberapa kali bertemu saat beliau menangani suaminya, sama seperti Yoga, Nara tetap menganggapnya sebagai orang terpenting dalam kehidupan mereka.
Mengingat Dokter Danu juga berarti mengingat sakitnya Yoga. Cerita rumit cinta mereka dulu, berawal dari penyakit yang diderita oleh lelaki itu.
Yoga Mahendra, lelaki yang karena kalut dengan vonis penyakit yang harus diterimanya, memilih sebuah jalan pintas demi bisa segera memiliki Nara dan mendapatkan keturunan dari wanita baik-baik yang sangat dicintainya tersebut.
Perbuatanmu memang salah Mas, dan tidak bisa dibenarkan atas alasan apa pun. Tapi cinta tulus dan perhatian nyata yang selalu kamu tunjukkan dan kamu berikan kepadaku, entah mengapa membuat perasaanku kepadamu menjadi berbalik arah.
Bukannya membenci, aku justru mencintaimu. Kamu berhasil meluluhkan hatiku dengan kejujuran perasaan yang kamu tunjukkan apa-adanya. Kamu hanya sekali mengoyak diriku, tapi kamu berkali-kali menggetarkan hatiku dengan memberikan perhatian dan cinta kasih yang tiada henti.
Nara menyeka air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. Entah itu adalah air mata bahagia atau sebaliknya. Tapi yang pasti dia merasa terharu mengingat kisah cintanya bersama Yoga.
Cinta yang rumit sedari awal dan tidak didasari oleh rasa cinta. Cinta yang berawal sepihak namun berakhir saling mencintai.
Cinta mereka memang luar biasa. Buruk di awal, salah pada mulanya dan tidak bersambut karena masih ada cinta yang lain.
Namun ketulusan dan kesabaran Yoga mampu meluluhkan hatinya dan membuat dirinya mulai menepikan cinta pertama yang sempat diharapkannya menjadi cinta yang terakhir.
__ADS_1
Dan di saat hatinya mulai menyadari cinta yang telah tumbuh dan bersemi di dalamnya, di saat yang bersamaan pula dirinya harus menerima kenyataan bahwa usia Yoga hanya bertahan tak akan lama lagi.
Yoga yang sejak awal sengaja menyembunyikan riwayat penyakitnya, membuat Nara syok saat mengetahui bahwa selama ini dia hidup bersama seorang lelaki yang tengah menunggu ajal menjemput, tanpa mengetahui sama sekali sebelumnya.
Wanita itu tidak pernah menyadari bahwa beberapa kali sakit yang dialami Yoga, sebenarnya adalah penyakit kronis yang sudah berada di ujung waktu, hanya menunggu saat di mana jantungnya berdetak untuk yang terakhir kalinya.
Gana sudah kembali terlelap tanpa gelisah. Nara segera merapikan pakaiannya lalu berdiri dan berjalan menuju boks bayi untuk menidurkan adiknya Raga. Setelah menutupi tubuh mungil itu dengan selimut dan mengurai kelambu di atasnya.
Dia mengisi perutnya dengan segelas air putih untuk memulihkan tenaganya usai memberikan ASI pada bayi yang baru berusia satu bulan itu.
Setelah mencuci tangan dan juga meyegarkan wajahnya dengan kucuran air mengalir di wastafel, Nara terlebih dahulu mengeringkannnya sebelum kembali ke smaping suaminya.
Wanita lembut dan penyayang itu mencium kening Yoga dan membisikkan kata cinta di telinga kekasih hatinya.
Aku mencintaimu, Mas. Terima kasih sudah berjuang dan bertahan demi untuk tetap bersamaku dan anak-anak kita. Terima kasih atas kesabaranmu yang pantang menyerah untuk meluluhkan hatiku dalam diammu, yang tak pernah meminta apalagi memaksakan kehendak kepadaku.
Kamu adalah lelaki luar biasa yang ditakdirkan oleh Allah menjadi teman hidupku dan pelengkap kehidupanku untuk selamanya. Terima kasih, Imamku!
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1