
Saat jam makan siang tiba, Ardi sudah tiba di rumah sakit dan menunggu Alya di depan ruangannya. Meskipun di sekitar ruangan itu sudah sepi karena jadwal pemeriksaan pasien telah usai, Ardi tetap setia menunggu seperti ucapannya pagi tadi.
Ardi tidak bisa menghubungi Alya dan mengatakan tentang kedatangannya karena dia memang belum menyimpan nomor ponsel Alya secara pribadi, kendati sudah mengetahuinya dari grup perpesanan yang sama-sama mereka ikuti.
Ardi masih menjaga kesepakatan mereka di masa lalu, bahwa selepas perpisahan itu, keduanya tidak akan saling menghubungi agar bisa lebih mudah saling melupakan dan menjalani masa depan masing-masing.
"Aku akan mengakhiri kesepakatan kita waktu itu, Al. Aku akan berjuang untuk mendapatkanmu kembali, meskipun itu akan sangat sulit dan membutuhkan lebih banyak waktu dan kesabaran."
Setengah jam menunggu, tepat di saat waktu menunjukkan pukul dua belas siang, tampak dari arah tangga Alya datang dengan langkah pelan dan sedikit ragu.
Dia masih gugup untuk bertemu dengan Ardi, apalagi Ardi mulai menawarkan diri untuk mengantarkannya pergi bertugas.
Dari tempatnya duduk, Ardi tersenyum menyambut kedatangan wanita yang telah membuat hari-harinya mulai berwarna ceria lagi.
Ada yang terasa lain di hatinya, sebab kali ini dia telah mengetahui kesendirian Alya dan semua kebenaran yang selama ini selalu disembunyikan oleh wanita masa lalunya tersebut.
Tidak ada lagi ganjalan di hati seperti sebelumnya. Jika pada pertemuan yang telah lalu dia masih harus menahan diri dan menjaga sikap karena menganggap Alya sebagai istri orang lain yang telah memiliki kebahagiaan dengan keluarganya, maka tidak lagi untuk sekarang.
Kali ini hatinya telah sepenuhnya terbuka dan yakin untuk meraih kembali cinta pertama yang dulu pernah dia relakan untuk pergi dan terpisah lama darinya.
Alya masih terus menundukkan pandangannya meskipun sudah tiba di hadapan Ardi, yang segera berdiri menyambutnya. Lelaki itu tersenyum lebar dan mengucapkan salam, sebelum menyapa wanita anggun yang terlihat lelah tersebut.
"Sudah selesai, Al?" tanyanya basa-basi untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka, sebab Alya masih tampak menjaga jarak.
"Sudah. Sebentar, aku akan mengambil tasku dulu di dalam."
Alya sekilas membalas tatapan Ardi lalu kembali mengalihkan pandangannya. Dia membuka pintu ruangan tanpa mempersilakan Ardi masuk.
Ardi memakluminya dan menyadari bahwa mereka hanya berdua di depan ruangan Alya, sementara masih ada beberapa pasien di depan ruangan lain yang masih berlangsung pemeriksaannya.
Ardi tetap berdiri menunggu sampai Alya keluar lagi dengan tas yang tersampir di bahunya dan membawa satu kantong kertas besar yang kemudian diserahkannya pada Ardi.
__ADS_1
"Apa ini, Al?" tanya Ardi yang tidak bisa melihat isi di dalamnya karena bagian atasnya masih tertutup rapi oleh segel toko.
"Aku membelikan boneka untuk Aura. Tolong berikan kepadanya saat kamu pulang nanti. Semoga dia menyukainya."
Malu-malu Alya menjawabnya, tanpa berani menatap Ardi yang sudah mengembangkan lagi senyumannya. Lelaki itu senang dengan perhatian yang diberikan Alya kepada putri kecilnya.
"Terima kasih, Al. Aku akan membawanya dan menyimpannya dulu di mobil. Tapi nanti kamu yang harus memberikannya sendiri pada Aura. Dia pasti akan sangat gembira jika menerimanya langsung dari tanganmu."
Alya hanya bisa mengangguk dan mengiyakan, tak ingin menolak permintaan lelaki yang sangat dicintainya dalam hati.
"Ayo, kita berangkat sekarang. Masih ada sedikit waktu untuk kita makan siang. Aku tidak mau kamu sakit karena terlalu sibuk bekerja hingga melupakan kesehatanmu."
Alya tertegun sesaat. Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Ardi mengingatkannya pada masa lalu di kala mereka masih bersama.
"Kamu harus selalu makan tepat waktu, atau akan jatuh sakit karena kelelahan. Sayangi diri kamu sendiri, Al."
Ardi melanjutkan perkataannya yang lagi-lagi membuat hati Alya berdesir halus dan terbayang kenangan lama di antara mereka.
Dalam hati, Ardi merencanakan sesuatu untuk Alya. Dia tidak ingin bertindak terlalu agresif dan cepat-cepat, sementara mereka baru saja bertemu lagi setelah beberapa bulan yang lalu dirinya terpuruk dalam rasa kehilangan atas kepergian Bunga.
Mungkin benar kata Bunga dulu, jika hanya Alya yang terbaik dan pantas untuk bersama dirinya dan Aura. Bukan sebagai pengganti keberadaan Bunga, akan tetapi sebagai sosok baru yang memang selayaknya hadir untuk melengkapi kebahagiaan hidupnya bersama sang putri kesayangan.
"Bukan maksudku untuk membuatmu bertanya-tanya akan sikapku ini, Al. Tapi inilah caraku untuk mengingatkanmu secara perlahan tentang kisah indah kita di masa lalu."
Ardi berjalan berdampingan dengan Alya diiringi debaran bahagia di dalam dada. Sama halnya dengan Alya, yang hanya bisa terus menunduk saat berjalan di sisi lelaki yang selalu menggetarkan hatinya setiap kali mereka bertemu dan berdekatan.
Bersama mereka masuk ke dalam lift yang kebetulan segera terbuka sesaat setelah mereka menunggu, masih dalam diam yang menjadi teman langkah mereka siang itu.
Di dalam lift, Ardi tampak tenang bersandar pada dinding di belakangnya, dengan satu tangan dimasukkan ke dalam kantong celana dan satu tangan yang lain memegang erat kantong besar pemberian Alya. Sebaliknya, Alya berdiri di sampingnya dengan tidak tenang. Kedua tangannya terus terjalin dan tidak berhenti bergerak di depan tubuhnya.
Saat pintu lift terbuka karena telah sampai di lantai bawah, Ardi mempersilakan dokter berhijab anggun itu untuk keluar lebih dulu, diikuti olehnya yang tersenyum simpul sembari menjajarkan kembali langkah mereka.
__ADS_1
"Waktuku di sini tidak banyak lagi, Al. Hanya tinggal tiga hari. Aku tidak ingin menyia-yiakan sedikit waktu ini tanpa usaha untuk membuatmu lebih dekat denganku."
Diam-diam Ardi terus mencuri pandang ke arah Alya, yang sesekali juga memberanikan diri untuk menoleh dan melempar senyuman kecil ke arahnya, saat pandangan mereka bertemu dan sekilas saling menatap.
"Aku tidak berharap banyak untuk saat ini. Tetapi aku akan terus berusaha mengingatkanmu pada satu per satu kenangan kita, sehingga lambat laun semoga hatimu pun ikut terbuka dan bisa menerima kehadiranku lagi, bersama Aura kesayangan kita."
Tanpa keduanya sadari, sepasang mata sendu tengah menatap mereka dari kejauhan, sejak Alya dan Ardi keluar dari lift dan berjalan menuju halaman rumah sakit.
"Baru beberapa hari kehadirannya di sini, kamu sudah terlihat lebih nyaman berada di sampingnya, daripada bersama denganku selama ini, Al. Apakah hatimu juga mulai terbuka untuk menerimanya seperti dulu?"
Rendy, pemilik sepasang mata yang tengah meredup sendu itu, menghirup napas dalam-dalam dan melepaskannya dengan lega, setelah beberapa saat yang lalu merasakan sesak yang melunjak.
"Aku senang jika demikian kenyataannya. Seperti permintaanku semalam, berbahagialah bersama dia yang kamu cintai dan membuatmu terus tersenyum di sepanjang waktumu. Dengan demikian, maka aku pun akan ikut merasa bahagia atas kebahagianmu itu, Al."
"Tapi ..., mengapa rasanya tetap sesakit ini di hatiku, saat melihatmu berdua bersama dengan dirinya ...??"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1