
Di dalam ruang tamu yang telah ditata sedemikian rupa menjadi tempat akad nikah sekaligus pelaminan sederhana, Ardi dan Alya memulai kehidupan baru mereka sebagai pasangan suami-istri.
Keduanya tak bisa menahan rasa haru, usai Ardi dan papanya Alya saling berjabatan tangan mengikrarkan ijab kabul dengan lancar dan tegas. Seluruh tamu yang hadir menyaksikan pun tersenyum lega dan bahagia saat menyaksikan momen bahagia yang sarat doa dan air mata tersebut.
"Alhamdulillah!" Ardi mengusap wajah penuh syukur setelah doa panjang yang dibacakan oleh penghulu mengakhiri prosesi sakral yang baru saja dijalaninya. Mata teduhnya terlihat berkaca-kaca mengisyaratkan haru yang melambung di dalam kalbu.
Di ruang keluarga yang tersekat oleh tirai pelaminan, Alya tak bisa menahan butiran air mata yang semula menggenangi pelupuk, jatuh menetes membasahi wajahnya. Tak dihiraukan lagi riasan yang akan luntur dan harus dirapikan ulang nanti, tapi hatinya sungguh tengah merasa sangat bahagia dan penuh ucap syukur.
"Selamat, Dokter Alya. Anda sekarang sudah resmi menjadi istri Dokter Ardi." Bergantian dengan Embun istrinya Alam, Nara memeluk pengantin wanita itu dengan senyum bahagia di bibir ketiganya.
Embun membersihkan sisa tangisan Alya dengan selembar tisu, kemudian meminta penata rias untuk merapikan kembali riasan wajahnya.
Nara yang sudah menerima isyarat dari wakil pembawa acara, segera meminta Alya berdiri dan bersiap untuk keluar dan bertemu dengan suaminya. Dituntun dan didampingi oleh Nara dan Embun, wanita ayu nan anggun itu melangkah pelan keluar dari balik tirai.
Seketika Ardi berdiri dan terkesima memandang wanita yang baru saja dia persunting menjadi istrinya. Senyum cerah nan merekah menghiasi wajah tegangnya yang telah berubah lega dan bahagia.
Sepasang netra teduhnya tak berkedip menunggu sang istri sampai di hadapannya dan semakin membuatnya kian terpana tanpa bisa berkata-kata. Alya pun masih terus menunduk menyembunyikan wajah cantik alaminya yang merona malu dan terus terharu.
Begitu Nara dan Embun melepaskan tangan mereka dan mundur meninggalkan Alya, Ardi segera mengulurkan tangannya dan meraih tangan kanan Alya. Perlahan wanita itu mengangkat kepala dan menatap lelaki di hadapannya dengan hati yang bergetar indah diikuti sikapnya yang masih salah tingkah.
Ardi menggenggam erat tangan istrinya dan mengusapi dengan lembut. Sadar akan posisinya sekarang, Alya memberanikan diri untuk menarik tangan Ardi lebih dekat. Dengan memejamkan mata dia mencium punggung tangan suaminya untuk pertama kali.
Bayangan peristiwa yang sama sekian tahun yang lalu, berkelebat dalam pikirannya dan kembali menggoyahkan hati. Tanpa bisa menahan lagi, air mata pun menetes hingga tangan Ardi terbasahi karenanya.
Dokter kharismatik itu mengusap kepala sang istri berulang kali, sehingga Alya melepaskan ciuman dan menarik wajahnya menjauh. Dengan segera Ardi mencium kening Alya selembut mungkin. Cukup lama hingga Alya merasakan tubuhnya bergetar dan dikuasai rasa takut akan sentuhan sang suami.
Ardi yang merasakannya tak tinggal diam. Dia menyudahi ciumannya lalu berbisik di telinga Alya dengan tangan mereka yang masih saling menggenggam.
"Jangan pernah merasa takut lagi, Alya. Mulai sekarang ada aku yang akan selalu menjaga dan melindungimu."
Alya terus berusaha menguasai diri. Dia mengangguk dan menatap wajah Ardi yang sudah lebih dulu menatapnya dengan senyuman.
Serangkaian prosesi mereka jalani kemudian. Mulai dari penyerahan mas kawin, pemasangan cincin hingga penandatanganan berkas pernikahan. Di ujung acara sakral itu, penghulu membacakan doa dan memberikan nasihat pernikahan kepada sepasang mempelai yang telah menikah secara sah tersebut.
Usai dilaksanakannya ijab kabul, acara dilanjutkan dengan resepsi sederhana yang dihadiri oleh tetangga sekitar serta rekan kerja Ardi dan Alya. Seluruh tamu mulai bergantian mendatangi keduanya dan mengucapkan selamat.
__ADS_1
Seorang lelaki bertubuh tegap dan penuh pesona berjalan seorang diri menghampiri Ardi dan Alya di pelaminan kecil yang mereka tempati untuk menyambut para tamu. Senyuman terus tersungging di bibirnya, meskipun di dalam hati teriris perih dan penuh luka.
"Akhirnya Allah menyatukan cinta suci kalian. Aku ucapkan selamat dan semoga bahagia selamanya." Lelaki sahaja itu mengulurkan tangan dan disambut oleh Ardi dengan erat lalu mereka saling berpelukan.
"Terima kasih, Dokter Rendy. Semoga Anda pun senantiasa dilimpahi kebahagiaan oleh Allah." Ardi menutupi perasaan lain yang tersimpan di hatinya.
Dia ingin mengucapkan terima kasih namun takut hal tersebut justru akan merusak suasana tenang di antara mereka. Bagaimanapun juga, selama ini Rendy telah begitu baik menjaga Alya dan selalu ada untuknya, sebelum Allah kembali mempertemukan dirinya dengan wanita ayu nan anggun tersebut.
"Selamat, Al. Mulai sekarang berbahagialah selalu dan jangan pernah mengingat masa lalu itu, karena masa depannmu jauh lebih indah dan berharga."
Ardi menoleh ke samping, memperhatikan Alya yang telah menangkupkan kedua tangan di depan dada dan tersenyum canggung pada Rendy.
"Terima kasih, Ren. Kamu juga harus selalu bahagia." Singkat Alya menjawab dengan rasa sedih yang entah mengapa datang tiba-tiba menyergap hatinya.
"Aku juga pamit pada kalian berdua. Setelah ini aku harus segera pergi ke bandara dan pergi untuk waktu yang ... entahlah, aku belum tahu sampai kapan." Mencoba tetap tersenyum, Rendy berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Kamu akan pergi? Ke mana?" Alya terkejut dan berubah murung setelah mendengar ucapan teman baiknya tersebut.
"Aku mendapatkan tawaran dari Dokter Hanan untuk melanjutkan studi kedokteranku di Jerman. Di sana aku akan memperdalam ilmu dan keahlianku agar aku bisa menjadi dokter yang lebih baik lagi."
"Maafkan aku jika membuatmu bersedih di hari bahagia ini, Al. Tolong doakan saja agar di sana aku bisa melaksanakan tugas belajarku dengan baik dan ..., dan bisa melupakan perasaanku kepadamu."
Rendy tak ingin membohongi hatinya, toh Ardi pun telah mengetahui tentang rasa cintanya pada Alya selama ini. Dia berharap setelah mengatakan sekali lagi di hadapan mereka, hatinya bisa lebih tenang dan ikhlas untuk pergi. Karena memang sudah seharusnya dia menjauh dari kebahagiaan Alya yang sudah menjadi istri Ardi, lelaki yang selalu dicintainya selama ini.
Alya mengalihkan pandangan ke samping, menatap Ardi yang membalasnya dengan senyum dan anggukan kepala. Lelaki itu memberikan kekuatan pada istrinya dengan menggengam erat tangan Alya di bawah.
"Mengapa kamu tidak pernah mengatakannya?" tanya Alya dengan sendu. Bagaimana pun Rendy adalah teman terdekatnya selama ini. Teman yang selalu ada untuknya di setiap waktu.
"Maafkan aku. Kalian berdua sibuk mempersiapkan pernikahan, sementara aku juga sibuk mengurus keberangkatanku."
Dokter tulang yang selama ini mencintai Alya tersebut, melirik jam di pergelangan tangan kiri. Perasaannya semakin tak menentu, penuh keengganan untuk pergi tapi waktu tak bisa menunggu lagi.
Akhirnya Rendy hanya bisa menenangkan diri dengan menghela napas panjang sebelum mengucapkan salam perpisahan kepada wanita yang sangat dicintainya.
"Aku harus pergi sekarang. Untuk kalian berdua, berbahagialah selamanya. Dokter Ardi, tolong jaga Alya dengan cinta dan kasih sayang sepenuhnya. Dia sangat membutuhkan Anda untuk menyembuhkan dirinya. Bahagiakan dia dan jangan pernah menyakiti hatinya!"
__ADS_1
Sekali lagi kedua lelaki itu bersalaman dan saling menggenggam dengan erat. Alya yang menyaksikannya hanya bisa terus meneteskan air mata.
"Pasti, Dokter Rendy! Saya akan selalu mencintai dan menyayanginya dengan sepenuh hati dan jiwa saya. Terima kasih karena selama ini Anda sudah menjaga dan menemani Alya dengan baik."
"Aku pergi, Al. Teruslah bahagia!"
Tak ingin menatap Alya lebih lama lagi, Rendy dengan cepat berbalik dan melangkah pergi. Dengan sisa senyuman yang masih bisa ditampakkan, dia meninggalkan rumah yang akan ditinggali oleh Alya dan suaminya.
Selamat tinggal, Alya. Maafkan aku yang membohongimu dengan alasanku tadi. Sesungguhnya aku yang meminta Pak Hanan untuk mengizinkan aku pergi, agar bisa menjauh dan melupakan dirimu yang telah menjadi milik orang lain. Berbahagialah selamanya, Alya. Aku akan selalu mencintaimu, entah sampai kapan ....
.
.
.
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1