
"Ayah ...! Ibu ...!"
Teriakan Raga selalu saja membuyarkan suasana syahdu kedua orangtuanya. Betuntung Mbak Indah selalu lebih dulu mengetuk pintu sebelum bocah tampan itu membuka pintu dan masuk sendiri tanpa rasa bersalah.
"Sssttt ...!! Raga jangan berteriak terlalu keras, Sayang. Adikmu masih tidur." Nara mengingatkan putranya dengan suara lembut, sementara Yoga segera menurunkan tubuhnya untuk menyambut si sulung kesayangan mereka.
"Ayah, no peyuk Ibu ... nanti Ibu cakit. Maga cayang Ibu ..."
Yoga tersenyum lebar mendengar ucapan protes dari Raga. Putra sulungnya itu memang sangat lembut dan perasa hatinya, apalagi jika sudah berhubungan dengan sang Ibu.
"Ayah tidak menyakiti Ibu. Ayah sayang Ibu, sama seperti Ayah sayang Raga."
Yoga mempererat pelukannya dan mencium kepala putranya dengan penuh kasih. Lelaki ingin bocah itu mengerti maksud ucapannya dan merasakan sikap dan perhatiannya yang sama yang dia berikan kepada Raga dan juga Ibunya.
"Ayah ... Maga lapal, mau mamam."
Wajah bulat Raga semakin terlihat lucu saat mulutnya mengerucut sambil mengelus-elus perutnya sendiri. Yoga sangat gemas dengan tingkah sang putra dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi di seluruh bagian wajahnya.
"Uumm ...!! Ayah juga sangat lapar. Ayo, kita turun dan menikmati sarapan yang sudah dibuat oleh Ibu," ajak Yoga yang diangguki oleh bocah menggemaskan itu.
Yoga menurunkan Raga dan menggandeng tangannya lalu mengajak serta istrinya dengan memeluk pinggangnya dari samping. Bertiga mereka keluar dari kamar dan tetap membiarkan pintunya terbuka lebar.
Biasanya Mbak Indah atau Bibi Asih akan segera datang dan menggantikan Nara untuk menjaga Gana, sementara Nara menemani suami dan putra sulungnya sarapan di ruang makan.
"Sayang, nanti aku ada pertemuan dengan Mas Alam. Kami akan makan siang bersama di salah satu kafe di dekat apartemen yang akan diresmikan. Jadi kamu tidak perlu mengantarkan makan siang ke kantor. Nanti aku akan pulang dan menikmati masakanmu usai dari sana."
Selesai sarapan bersama, Nara mengantarkan suaminya ke depan di mana Pak Budi sudah siap dengan mobilnya. Sementaraitu, setelah mencium tangan Ayahnya Raga kembali ke kamar dan bermain bersama Mbak Indah sembari menjaga adik bayinya.
"Iya, Mas. Aku akan tetap menyiapkannya di rumah untuk kamu. Sampaikan salamku pada Pak Alam." Nara melepaskan pelukannya di pinggang Yoga lalu mencium tangan suaminya dengan takdzim.
"Salammu tidak akan aku sampaikan, Sayang. Aku tidak suka melihatmu memberikan perhatian pada lelaki selain aku." Wajah Yoga berubah tegas membuat Nara kaget dan hampir saja meminta maaf kepada pada Yoga.
"Aku hanya bercanda, Sayang. Aku tidak akan pernah marah dan aku selalu percaya kepadamu." Yoga kembali menampakkan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
Nara yang mendengarnya segera mencubit perut suaminya dan membuat lelaki itu berpura-pura mengaduh kesakitan untuk menggoda istrinya lagi.
"Kamu membuatku takut, Mas."
Yoga membelai wajah cemberut istrinya lalu mencium kedua pipinya bergantian dan diakhiri dengan ciuman panjang di kening wanita tercintanya.
"Maafkan aku, Sayang. Berikan aku senyumanmu, baru aku akan berangkat." Yoga mengusapi kepala istrinya dengan sayang hingga Nara kembali menampakkan senyuman manisnya.
"Selamat bekerja, Mas. Kami bertiga menunggumu di rumah." Yoga mengangguk dan tersenyum.
"Bekerjalah dengan jujur dan ikhlas agar hasil kerjamu senantiasa menjadi berkah untuk keluarga kita."
"Pasti, Sayang. Aku mencintaimu!"
Sebelum berbalik dan melangkah, Yoga meninggalkan satu ciuman kilat di bibir Nara hingga wanita itu mundur ke belakang lantaran terkejut dan malu sebab ada Pak Budi tak jauh dari mereka.
"Aku pergi dulu." Yoga mengusap kepala Nara yang mengikutinya sebelum masuk dan menutup pintu mobil.
.
.
.
"Al, kamu tidak makan siang?" Rendy melihat ke dalam ruangan Alya yang terbuka dan mendapati wanita itu masih duduk di belakang meja.
"Sebentar lagi, Ren. Kamu duluan saja tidak apa-apa." Alya menjawab dan menatap sekilas ke arah teman baiknya lalu kembali menunduk dan menyelesaikan beberapa berkas yang akan dibawa perawat kembali ke bagian administrasi.
"Boleh aku menunggu saja? Kita turun bersama nanti," pinta Rendy dan tetap berdiri di ambang pintu untuk menunggu jawaban dari wanita yang dicintainya.
Alya mengangguk dan mempersilakan dokter tulang itu masuk lalu duduk di hadapannya. Perawat yang awalnya berdiri di samping Alya mulai mengalaihkan perhatiannya dengan merapikan brankar pemeriksaan dan memastikan kembali kebersihan di dalam ruangan tersebut.
Rendy memperhatikan wajah Alya yang tampak serius dan fokus dengan lembaran-lembaran kertas penting di depannya. Tidak ada yang berubah menurutnya. Alya masih menunjukkan sikap yang sama seperti yang dikenalnya selama ini.
__ADS_1
Terima kasih karena kamu tidak berubah sikap kepadaku, Al. Kamu tidak menghindariku walaupun dia sudah kembali mengisi hatimu dengan cinta lama kalian.
Rendy melihat ke sekeliling meja yang masih dipenuhi tumpukan berkas riwayat kesehatan pasien yang sudah selesai ditangani oleh Alya selama tiga jam praktek paginya. Terlihat pula olehnya ponsel milik Alya yang diletakkan di tepi kanan meja tepat di samping vas bunga.
Rendy sudah menoleh dan akan mengedarkan pandangannya ke arah lain, saat ekor matanya menangkap ada yang tak biasa di sekitar meja kerja Alya. Urung berpindah arah, tatapannya kembali tertuju pada sebuah benda yang sebelumnya tidak pernah dia lihat ada di sana.
Mengapa sekarang ada benda itu di sini? Apakah dia membawanya sendiri dari rumah? Atau ...?
Sebelum pertanyaan di hatinya semakin banyak, lelaki ramah dan bersahaja itu kembali menemukan sesuatu di samping benda yang dilihatnya tadi. Satu potongan kertas kecil berwarna merah muda yang menyerupai sebuah kartu ucapan.
Meskipun terbalik dari arah tempat duduknya, Rendy masih bisa mengeja deretan kata yang tertulis di kartu kecil tersebut. Dia juga membaca inisial nama pengirimnya yang dengan mudah sudah bisa dia tebak siapa orangnya.
Ternyata dia cukup cerdas dengan memberikan vas bunga segar untuk diletakkan di atas meja kerja Alya. Dia ingin selalu terlihat dan diingat oleh Alya, sekalipun di tengah kesibukan kerjanya sepanjang hari. Hanya sebuah perhatian kecil, tapi sangat mengena di dalam hati.
Lagi-lagi Rendy hanya bisa tersenyum getir. Ada seiris perih yang kembali dirasakannya di dalam hati. Selama ini, dia tidak pernah memberikan perhatian-perhatian semacam itu kepada Alya, padahal dia mempunyai begitu banyak kesempatan untuk melakukannya.
Aku terlalu memikirkan bagaimana caranya mengungkapkan perasaanku kepadamu, sehingga lupa untuk memberimu kejutan dan perhatian seperti ini. Andai saja aku melakukannya, mungkinkah hatimu juga akan tergerak dan sedikit terbuka untuk memberiku kesempatan, Al?
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1