CINTA NARA

CINTA NARA
2.78. ANDAI KAMU TAHU


__ADS_3

Di kota yang lain, di sebuah ruang pemeriksaan, seorang dokter tengah beristirahat sejenak sebelum pulang dan bertemu dengan keluarga kecil yang sangat disayangi dan dicintainya.


Dia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi pesan guna memeriksa serta membalas banyak pesan yang masuk. Beberapa di antaranya adalah pesan yang masuk dalam grup perpesanan yang diikutinya.


Grup perpesanan yang membuatnya mengetahui kabar tentang wanita masa lalunya. Wanita yang dulu teramat sangat dicintainya dan ingin segera dilamarnya untuk menjadi teman hidup.


Masa lalu. Kini semuanya telah menjadi masa lalu. Masa lalu yang menciptakan sebuah kenangan, yang tak bisa dipungkirinya telah menjadi kenangan yang terindah sepanjang hidupnya.


Dia sadar masa lalu itu tak mungkin kembali dan saat ini kehidupan mereka telah terpisah dan menjadi masing-masing. Keduanya telah hidup bahagia bersama orang tercinta di samping mereka.


Sepasang netranya bersinar ceria saat memperhatikan sebuah foto bersama yang entah kapan diambil. Tapi sepertinya masih baru-baru saja karena di dalam foto tersebut terlihat sesorang yang menjadi pusat perhatiannya masih duduk di atas kursi roda.


Beberapa teman lama yang tinggal satu kota dengannya, kadang kala meluangkan waktu untuk mendatanginya di rumah sakit tempatnya bekerja, sekedar untuk melepas rindu dan berbagi cerita ringan.


"Aku bersyukur masih bisa melihat senyuman di wajahmu. Tetaplah tersenyum seindah ini, karena senyumanmu sanggup memberikan banyak kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarmu, bahkan yang jauh darimu sekalipun, seperti aku di sini ...."


Tok ... tokk ... tokkk ...!!!


Seorang perawat masuk dan memberitahu Ardi jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Setelah mendapatka ijin, perawat membuka lebar pintu ruangan dan mempersilakan sang tamu masuk, lalu dia keluar dan menutup pintu kembali.


"Kamu di sini rupanya, Ga?" Ardi meletakkan ponselnya di atas meja lalu berdiri dan menghampiri Yoga untuk menyambut kedatangan sahabat kecilnya dengan pelukan hangat.


"Ya. Ada beberapa agenda di sini, tapi besok kami sudah akan kembali ke sana."


"Bagaimana kamu tahu jika aku masih ada di klinik?" tanya Ardi.


"Aku melihat mobilmu masih terparkir di depan, jadi kuputuskan untuk mampir menemuimu."


Yoga membalas pelukan Ardi lalu melepaskannya untuk sama-sama duduk berhadapan. Sekilas pandang, matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatian pada layar ponsel Ardi yang masih menyala terang di atas meja.


Ardi yang menyadari arah pandangan Yoga segera mengambil ponselnya dan menutup pesan berupa foto yang masih terbuka sebelumnya.


"Sudah kukatakan padamu berulang kali, jangan pernah bermain api!"


Ardi hanya tersenyum tipis menanggapi peringatan yang sudah dia hafal dan selalu diingatnya di luar kepala.

__ADS_1


"Jangan berburuk sangka kepadaku. Kamu yang paling tahu siapa aku dan apakah mungkin aku mengorbankan kebahagiaanku hanya demi sesuatu yang bukan lagi menjadi takdirku."


"Lalu, apa itu tadi?" cecar Yoga yang sengaja mencoba mengorek isi hati dokter pemilik klinik tersebut.


"Foto itu aku lihat di grup perkuliahan kami dulu. Aku tidak mungkin mencarinya dengan sengaja seperti dugaanmu," jawab Ardi dengan tenang.


"Andai kamu tahu apa yang sebenarnya tentang dia dan apa yang telah dia alami selama ini, masihkan kamu setenang ini dan benar-benar menganggapnya hanya sebatas masa lalu?"


Yoga terdiam, tak ingin Ardi sampai tahu tentang sebuah kenyataan yang mau tak mau harus dirahasiakannya.


Bukan semata karena permintaan wanita itu kepadanya, tetapi juga karena keinginannya untuk menjaga semua pihak yang terlibat supaya tetap berada pada garis kehidupan yang mereka yakini saat ini, tanpa mengorbankan kebahagiaan salah pihak di antaranya.


"Aku turut merasa senang karena masih ada teman-teman lama kami yang meluangkan waktu untuk mengunjunginya selama sakitnya ini."


Ardi mengambil minuman dingin kesukaan Yoga dan air mineral untuknya di kulkas mini di sudut belakang. Dia kembali duduk dan menyerahkannya pada Yoga untuk mereka minum bersama.


"Apa kamu harus sepeduli itu sampai merasa perlu memastikan keadaannya?"


Yoga masih berusaha menekan Ardi dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan lelaki itu.


"Tidak, Ga. Bukan seperti itu maksudku. Tapi dengan aku mengetahui kabar tentangnya dan terlebih jika aku tahu bahwa dia selalu baik-baik saja selama ini, aku merasa lebih tenang dan tidak merasa semakin bersalah lagi karena dulu telah melepaskannya begitu saja."


"Dia selalu ditemani orangtuanya dan orang-orang terdekat di sekelilingnya."


"Dan yang harus selalu kamu ingat, Di. Tanggung jawabmu bukan di sana. Tapi di sini, di rumahmu. Istri dan anak kesayanganmu. Jangan pernah sekali pun mempermainkan mereka!" Yoga menandaskan peringatannya pada sang sahabat.


Ardi mengangguk dengan pasti. Dia bukan ingin mengabaikan keluarganya. Hanya saja, terkadang ada keinginan untuk mengenang masa lalu, sekedar untuk mengingat penggalan kenangan yang selamanya tak akan bisa pergi dari hati.


"Hanya sesekali mengingatnya, bukan berarti mengharapkannya kembali." Ardi mempertegas dengan pasti.


"Aku pegang kata-katamu!" Yoga mengakhiri perdebatan kecilnya dengan sang sahabat dan mulai mengalihkan pembicaraan.


Ardi menghabiskan minumannya dan membuang botol plastiknya ke kotak sampah di bawah meja.


"Jadi, adakah yang ingin kamu bicarakan selagi kita bertemu di sini?" tanyanya kemudian dengan menatap Yoga penuh selidik.

__ADS_1


"Ada. Tentang istriku dan keinginannya untuk segera hamil lagi."


Yoga duduk bersandar dan memainkan botol minuman di tangannya sembari menenangkan perasaannya yang mendadak gelisah karena apa yang ingin diceritakannya.


"Sebenarnya aku masih ragu, tapi juga tak bisa menolak keinginannya," jujur Yoga dengan pandangan menerawang ke langit-langit ruangan.


"Apa yang masih kamu ragukan? Kamu takut dia akan mengalami keguguran lagi?"


Ardi menebak dengan gamblang langsung pada hal yang sudah bisa dilihatnya dari raut kegelisahan di wajah lelaki yang sangat mencintai Nara tersebut.


"Iya." Yoga pun mengangguk dan membenarkan seluruh ucapan Ardi.


"Bukan dia yang merasa trauma sekarang, melainkan diriku sendiri."


Kendati telah memutuskan untuk menuruti keinginan Nara bahkan meluangkan waktunya demi bisa melakukan bulan madu singkat bersama sang istri, tapi jauh di dalam lubuk hatinya lelaki dingin namun penuh perhatian pada keluarganya itu tak bisa mengingkari ketakutan yang masih nyata dirasakannya.


"Seharusnya kamu mendukungnya sepenuh hati, bukan malah berputar-putar sendiri dalam ketakutan yang terlalu berlebihan," ucap Ardi.


"Aku melihatnya sendiri dua kali berturut-turut, bagaimana sedihnya dia dulu, sampai setiap waktu dia memilih diam dan menyendiri dalam isakannya. Bahkan setiap malam, dia sering mengigau meratapi kehilangannya."


Yoga menceritakan semua yang dialami Nara setiap kali istrinya itu mengalami keguguran dan harus rela kehilangan calon bayi yang sangat diinginkannya.


Nara mungkin terlihat kuat dan baik-baik saja di hadapan orang lain. Namun di saat sendiri, barulah dia menumpahkan seluruh kesedihan yang dirasakannya dalam tangisan pilu yang menyayat hati.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2