CINTA NARA

CINTA NARA
3.53. MEMBIASAKAN DIRI


__ADS_3

"Lihat aku, Alya. Mari kita selesaikan semua ini sekarang. Aku ingin ...."


Dentuman di dada Alya kian bertalu-talu, membuatnya seketika menahan napas saat Ardi melanjutkan ucapannya. Apalagi pandangan mereka telah terkunci dan saling menatap dalam-dalam.


"Aku ingin kita membiasakan diri mulai sekarang."


Satu tangan mereka sama-sama berpegangan pada tepian pembaringan, di mana Aura terus terlelap penuh senyuman di wajah polosnya.


"A-Apa maksudmu ...? Membiasakan diri?" tanya Alya dengan sangat lirih dan sedikit terbata-bata.


Wanita ayu nan penuh kelembutan itu tak bisa berpikir jernih sebab tatapan teduh Ardi yang begitu dalam menatapnya. Hampir saja dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Segera dipererat pegangannya guna meluruskan keseimbangan tubuh.


"Kita mulai membiasakan diri untuk saling menggenggam hati, menjaga perasaan satu sama lain dan belajar menjalani kebersamaan ini meski masih harus terpisah jarak dan waktu."


Rasa haru memenuhi seluruh ruang kalbu Alya, saat nendengar ungkapan hati Ardi yang diucapkannya penuh keseriusan.


"Jika kita tidak memulainya dari sekarang, aku takut akan kehilangan dirimu lagi. Aku takut ada lelaki lain yang akan meluluhkan hatimu di sini, saat aku tidak ada di sisimu."


Alya menutup mulut dan menahan isakannya. Hanya terlihat air mata yang terus mengaliri kedua pipi, juga menetes jatuh membasahi kain pasmina yang menutupi bagian depan tubuhnya. Dia menunduk, mencoba untuk menyembunyikan tangisannya.


Perasaannya begitu membuncah kali ini sebab Ardi telah menyatakan apa yang selama ini hanya menjadi impiannya. Impian seorang wanita lemah yang membutuhkan hati yang ternyaman dan terkuat untuk tempatnya bersandar dan berlindung.


"Aku tahu tidak akan mudah bagimu, untuk memulai sebuah ikatan yang baru dan berbeda. Aku tahu hatimu masih penuh goresan luka yang tidak akan bisa hilang begitu saja. Bahkan mungkin luka lama itu akan membekas selamanya di sana."


Ardi berhenti sejenak dan menghela napas panjang, seraya menenangkan perasaannya sendiri yang melemah saat melihat tangisan wanita terkasihnya.


"Aku tidak bisa menjanjikan apa pun untukmu. Akan tetapi yang harus kamu tahu, aku datang kepadamu untuk menghapus segala luka. Luka yang pernah sangat menyakiti hatimu dan membuat hidupmu terus terbelenggu masa lalu yang kelam dan sulit terlupakan."


Alya mulai tersedu-sedu tanpa bisa menahannya lagi. Bahunya terus bergerak menandakan isakan yang masih dia keluarkan.

__ADS_1


Ingin rasanya Ardi memupus jarak di antara mereka. Menyeka airmatanya, membawa ke dalam pelukannya dan memberikan kenyamanan yang sangat dibutuhkan wanita lemah kesayangannya.


Akhirnya, hanya sapu tangan miliknya yang bisa mewakili keinginan terpendamnya saat ini. Mangambil dari saku celana depan, Ardi memberikannya pada Alya supaya dipakai untuk membersihkan wajah yang masih basah penuh air mata.


Alya menerimanya dan segera menyentuhkan sepotong kain kecil itu pada permukaan wajah. Indra penciumannya mengenali sebuah aroma yang tak asing baginya. Aroma yang masih sama dari dulu sampai sekarang.


Aroma ini ... setelah sekian lama dan hampir aku melupakannya, sekarang aku masih bisa mencium lagi aroma penuh kenangan ini. Ternyata kamu memang tidak pernah berubah, Di.


Untuk sejenak Alya melayangkan ingatannya pada masa lalu di mana Ardi dan dirinya selalu menghabiskan waktu berdua dan bersama ke mana pun.


Sejak pertama kali mengenal lelaki itu, Ardi sudah mempunyai kebiasaan membawa sapu tangan di dalam kantong celana panjangnya. Walaupun jarang dia gunakan, tapi lelaki itu selalu membawanya setiap hari.


Satu hal lagi yang masih Alya ingat yaitu semua sapu tangan milik Ardi selalu beraroma parfum yang berbeda dari yang lainnya. Dan ternyata sampai sekarang, kebiasaan lelaki itu tidak pernah berubah, termasuk aroma parfum yang tetap digunakan pada sapu tangannya.


Selain itu, Ardi tidak pernah membiarkan sapu tangan miliknya sampai dipegang oleh orang lain. Dia hanya akan memberikan pada Alya jika wanita itu membutuhkan atau memintanya.


Perhatianmu, kasih sayangmu dan sikap istimewamu untukku, semuanya tetap aku rasakan sampai sekarang, meskipun kita pernah terpisah sekian lama tanpa kabar berita sama sekali.


Ardi mengajak Alya duduk di sofa, setelah meninggikan pengaman di kedua sisi pembaringan di mana Aura masih tetap tertidur pulas. Selain karena kelelahan, sepertinya bayi cantik itu ingin memberi kesempatan kepada ayahnya dan juga wanita yang dia sebut Bubu untuk berbicara berdua dari hati ke hati.


"Aku ingin ... sebelum aku kembali pulang nanti, aku sudah mendapatkan restu dari kedua orangtuamu untuk mengikat hubungan kita terlebih dahulu," ucap dokter duda itu dengan sangat yakin, tanpa keraguan sedikit pun.


Ardi tidak main-main dengan ucapannya. Dia tidak ingin salah langkah dan membuatnya semakin jauh dari Alya lagi. Semua harus dimulai dari sekarang atau dia akan kembali menyesalinya nanti.


"Tapi ... aku, aku ...." Alya tak melanjutkan kalimatnya karena Ardi sudah lebih dulu menjawabnya.


"Aku tidak bermaksud untuk tergesa-gesa dan mengabaikan keadaanmu, Al. Tidak sama sekali. Justru aku melakukan ini karena aku ingin bisa menemani dan membantumu melewati semuanya. Aku ingin menjadi tempatmu berbagi kisah dan berkeluh kesah. Aku ingin menjadi seseorang yang selalu bisa kamu andalkan dalam hal apa pun ... seperti dulu."


Alya berhenti mengusap wajahnya dengan sapu tangan pemberian Ardi. Pandangannya mulai beralih menatap lelaki itu dan meminta penjelasan atas ucapannya yang begitu menggugah perasaan.

__ADS_1


"Alya, kamu percaya padaku, bukan?" tanya Ardi dengan tatapan penuh harap.


Kali ini entah mengapa Alya menjawab dengan cepat tanpa pengulangan dari Ardi. Wanita yang masih terlihat penuh keharuan itu mengangguk dengan yakin, seyakin perasaan dan kepercayaannya kepada lelaki pemilik utuh hatinya.


"Aku selalu percaya kepadamu."


Ardi tersenyum dengan perasaan lega begitu mendengar jawaban Alya sebagaimana yang dia harapkan. Dirinya semakin yakin untuk segera menjadikan wanita terkasihnya tersebut sebagai teman hidup.


"Tapi aku masih butuh waktu untuk menerima kamu seutuhnya, Di. Aku ... aku tidak ingin mengecewakan kamu dan Aura. Aku harus memantaskan diriku dulu agar bisa membuat dirimu dan Aura bahagia sepenuhnya."


Ardi memahami perasaan Alya. Peristiwa kelam dan penuh kepahitan yang dia alami dalam pernikahannya dulu, telah meninggalkan luka mendalam di hatinya. Bukan hanya luka semata tapi juga memunculkan ketakutan luar biasa yang terus menghinggapi perasaannya.


"Aku tahu, Al. Aku bisa mengerti keadaanmu. Aku memahami semuanya. Sekarang, yang harus kamu ingat hanya satu, kamu tidak akan pernah sendiri lagi. Ada aku di sisimu. Aku akan selalu ada untuk kamu. Kita akan bersama-sama melawan dan menghadapi ketakutan dan rasa traumamu."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2