CINTA NARA

CINTA NARA
Pertemuan


__ADS_3

Ternyata begini rasanya jadi jendral bintang empat negeri ini. Seperti layaknya pesohor berita Lady Diana Spencer dari kerajaan Inggris. Para paparazi itu begitu menakutkan. Dan Nara mengalaminya hari ini.


Sebagai seorang anak Jendral, Dina mungkin sudah terbiasa merasakannya. Namun berbeda dengan Nara, ia baru merasakan saat ini.


Terbiasa hidup sederhana, itulah yang dialami Nara. Sekarang berbanding terbalik kehidupannya bila ia berada di rumah papanya yang seorang jendral.


Nafas Nara masih terengah - engah saat mengikuti papanya begitu panik melihat kerumunan para wartawan yang tahu kehadirannya di rumah sakit ini.


Sebenarnya ada hasrat Nara ingin di wawancarai, gak ada masalah baginya perihal percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh ibu tirinya. Namun tidak dengan Dina. Ia sangat mengkhawatirkan sosok mama, ibu tirinya.


Kini Dina sudah melihat langsung kondisi mamanya. Mama terlihat jauh lebih baik dari yang ia pikirkan.


Dina lalu menghampiri mama. Mencium punggung tangan kanannya dan menjatuhkan badannya untuk memeluk mama yang masih terbaring di tempat tidurnya.


"Ma ... mama, " kata pertama saat Dina melepaskan pelukannya.


Mama masih saja diam. Pipinya terlihat tegang. Dina mencoba menepuk halus kedua pipi mamanya. Beberapa kali ditepuk oleh Dina, mama baru bisa menjawab panggilan anak tirinya itu.


" Iya sayang. Terimakasih sudah mau besuk mama, " ucap mama pelan.


"Mama sudah baikan bukan !! " tanya Dina memulai percakapan.


"Alhamdulilah sudah lebih baik, " jawab mama pelan.


Dina kemudian meraih tangan kanan mamanya. Tangan yang dipegang Dina terasa panas. Lalu Dina mencoba memegang kening dan leher mamanya. Panas suhu tubuh mama sepertinya naik lagi.


" Mama demam ya pa, " celetuk Dina sambil bertanya dengan papanya.


Papa, Nara dan Dina sedari tadi duduk diam dikursi. Mereka hanya melihat saja bagaimana sikap Dina pada mamanya. Mereka semua hanyut terbawa perasaan melihat Dina yang sangat mengkhawatirkan sang mama.


" Oh iya, Dina. Tadi pagi saja mamamu demam. Ini berati yang kedua kalinya mamamu demam berulang, " jawab papa sambil menghampiri mama dan ikut memegang kening mama juga.


Papa kemudian memencet tombol bel yang ada di dinding dekat tempat tidur mama. Bel yang diperuntukan untuk memanggil perawatnya untuk datang menghampiri pasien.


Ibu Ayana dan Nara masih duduk diam melihat aksi papa dan Dina. Ibu Ayana, ibunya Nara. Sebenarnya ia tidak ingin ikut Dina ke Jakarta. Ia ingin Dewi Anjani, mama yang dianggap Dina. Untuk menemuinya, bukan sekarang ini. Justru malah Ibunya Nara yang dikira meminta bertemu mama, istri papa.


Hanya selang dua menit, seorang perawat wanita datang ke kamar bel yang berbunyi.

__ADS_1


" Permisi, " sapa perawat wanita itu saat memasuki kamar.


"Ada apa ya bu ? " tanya sang perawat pada pasiennya.


" Itu mama saya demam, coba suster periksa dulu, " pinta Dina.


"'Baiklah, saya akan ambil termometernya terlebih dahulu, " jawabnya perawat itu sambil berlalu meninggalkan pasiennya.


Selang dua menit, perawat wanita itu kembali masuk ke kamar mama. Lalu ia terlebih dahulu mengelap ketiak mama dengan tisue yang telah ia bawa.


Semua orang yang ada di dalam kamar mama, untuk sesaat diam saja. Sibuk melihat si perawat mengukur suhu tubuh mama.


Angka yang tertera dalam termometer menunjukan angka 39 derajat celcius.


Mama kemudian tampak menggigil. Saat dingin melanda , Dina dengan sigap menyelimuti mamanya dengan bed cover yang menempel diatas tempat tidur. Begitu perhatiannya Dina pada mama yang telah membesarkannya dengan baik.


Saat menggigil dan dengan bibir yang masih bergetar mama memanggil nama seseorang, " Aaayana ... kemari sebentar, " pintanya memohon.


Enggan rasanya ibu mendekati sosok yang tergolek lemah itu. Ia membencinya bertahun - tahun. Wanita yang tergolek lemah itu telah merebut suami dan anaknya yang seharusnya ada padanya.


Nara tetap setia disamping ibunya, menggenggam erat tangan kanannya. Nara dapat merasakan ada amarah dari sorot mata ibu. Amarah yang di pendamnya bertahun - tahun.


Suasana dalam ruangan menjadi tegang. Tak ada suara lain, senyap. Nara juga tak mengajak ibunya beranjak menghampiri mama. " Toh, apa peduli ku. Seharusnya aku juga ikut marah. Aku kehilangan papa gara - gara mama. Sepatutnya aku membencinya, seperti ibu. Tak seharusnya ibu ikut datang melihat mama yang hidup sebagai istri seorang jendral bintang empat negeri ini.


Dina lalu menghampiri ibunya. Ia tak tega melihat mama yang masih bergetar memanggil ibunya.


Dina lalu bersimpuh di kaki ibunya. Memohon ibu memaafkannya.


"Ibu, aku mohon ... maafkan mama. Ia menyesal telah melakukannya. Mama salah, jadi maafkan mama, " pinta Dina sambil berderai air mata.


Setelah lama terdiam, akhirnya ibu pun berbicara. " Mengapa kau yang harus minta maaf pada ibu nak, sedangkan orang yang berbuat salah yang fatal saja tidak mau meminta maaf langsung padaku, " tutur ibu dengan suara terisak.


" Ibu tega !!! mama lagi sakit bu, " pinta Dina dengan suara memelas.


Tetap saja ibu tidak bergeming. Ia tak ingin anaknya yang harus minta maaf demi orang lain.


Setelah mengumpulkan semua sisa kekuatan yang ada pada dirinya. Mama turun perlahan berjalan tertatih menghampiri Dina dan ibunya.

__ADS_1


Mama lalu bersimpuh di kaki ibu, sahabat yang telah di khianatinya.


"Ayana ... , maafkan aku. Mohon buka pintu maafmu. Aku menyesal, sangat menyesal. Bagaimana caranya agar kau mau memaafkanku. Aku tahu aku tak pantas kau maafkan, '' tutur mama sambil terus menangis di depan Ayana.


"Wik ... aku bukan seperti yang dulu, yang dengan mudah kau tikam dari belakang, " ucapnnya sambil menepis tangan yang mencoba meminta maaf.


Pak Donnie bingung apa yang harus ia lakukan. Dia tak bisa mendiamkan suasana yang terjadi dalam ruangan ini.


Sekali lagi aku minta maaf Ayana. Aku salah, tak pantas aku mendapat kata maaf darimu. Lalu tiba - tiba tubuh Dewi Anjani limbung. Ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Ia terjatuh di hadapan Dina dan ibunya.


Dina lalu menangkap mamanya yang ambruk disamping dirinya. Wanita paruh baya itu terkulai lemas tak berdaya di pangkuan Dina yang berada persis disampingnya. Ternyata mama pingsan.


Ibu masih tetap diam tak menghiraukan apa yang terjadi dengan sosok yang telah menghancurkan hidupnya selama ini. Lalu kemudian tetes air mata perlahan membasahi wajahnya. Ia tak tega juga melihat mantan sahabatnya itu pingsan dihadapannya.


Dina mencoba membangunkan mamanya. Tangan kanan menepuk pelan dada kiri mama sambil terus berucap, " Mama bangun, bangun ma ... bangun ma."


Pelan - pelan mama mulai mendengar suara orang yang memanggilnya. Namun matanya masih tetap tertutup. Sayup terdengar seseorang yang menyebut namanya.


" Kau kah itu Ayana !! " maafkan aku, lirih suaranya.


" Ini aku ma, Dina, " balas pelan Dina.


" Oh kau rupanya, Ayana telah pergi ya nak, " ucapnya pelan.


Hati Ayana bukannya batu. Ia akhirnya turun dari kursinya dan sambil terisak ia pun menyahut.


" Iya, aku di sini Wik, " ucapnya pelan.


Setelah mendengar jawaban Ayana, Dewi Anjani mulai membuka matanya perlahan.


Ia lalu mencoba bangun dari pangkuan Dina. Kini dua orang bersahabat itu duduk di lantai saling berhadapan. Dewi Anjani lalu menggenggam kedua tangan orang yang dulu pernah ia rebut suaminya itu. Dengan linangan air mata ia pun berkata, " Aku tahu, aku tak termaafkan. Maafkan aku Ayana ...."


" Iya, " jawab pelan Ayana dengan senyum yang dipaksa.


Dewi Anjani lalu memeluk erat Ayana. Sahabat yang selalu baik padanya. Justru ia menikamnya dari belakang. Lintasan peristiwa berkelebat diantara Ayana dan Dewi Anjani. Dulu mereka seperti ini, sebelum mereka jatuh cinta pada laki - laki yang sama.


Nara tersentuh hatinya, melihat dua orang bersahabat itu kini saling memaafkan. Membuang kisah masa lalu yang kelam, untuk menggantinya dengan hari esok yang jauh lebih baik ....

__ADS_1


__ADS_2