CINTA NARA

CINTA NARA
2.101. BERSIMBAH DARAH


__ADS_3

"Pelakunya adalah orang suruhan, Pak."


Beno memberikan laporannya saat Yoga datang ke kantor untuk beberapa urusan penting.


"Siapa yang menyuruhnya?"


Yoga masih memperhatikan satu per satu laporan dari sang asisten yang sangat terperinci. Sampai akhirnya dia sampai pada halaman yang menunjukkan beberapa foto dari seseorang yang dikenalinya.


"Marcell ...!!!" Lelaki itu menggeram dengan penuh emosi.


"Iya, Pak. Dialah dalangnya. Dan menurut pelaku yang sudah tertangkap, Marcell juga bekerja sama dengan Pak Asta dalam kasus kebakaran di proyek kita."


Yoga memukul meja dengan tangannya yang sudah mengepal penuh amarah.


"Berani sekali dia mengusikku dan mencelakai istriku! Aku akan membuat perhitungan langsung dengannya!!"


Yoga melempar laporan yang baru saja dilihatnya ke atas meja. Dengan sigap Beno segera merapikannya agar tidak tercecer dan bercampur dengan bekas pekerjaan yang menumpuk di bagian tepi.


"Hari ini dia keluar dari tempat tinggalnya dan sepertinya sengaja ingin mengelabui pengawasan kami, Pak."


Beno menyampaikan bahwa sejak keluar dari penjara beberapa waktu yang lalu, Marcell diketahui selalu berada di dalam rumah sewaannya dan tidak pernah pergi keluar.


"Di mana dia sekarang?"


"Menurut laporan yang saya terima, Marcell pergi ke apotik lalu mampir sebuah kafe tak jauh dari tempat tinggalnya. Dan sekarang dia sudah kembali ke tempat persembunyiannya."


"Segera hubungi pihak kepolisian! Pastikan dia segera ditangkap dan dimasukkan lagi ke dalam penjara!"


Yoga meraih ponselnya dan bersiap untuk pergi. Dia ingin menemui Marcell lebih dulu dan membuat perhitungan pribadi dengan lelaki obsesif dan licik itu, sebelum pihak yang berwajib menangkapnya kembali.


.


.


.


"Rupanya Anda masih ingat denganku, Tuan yang terhormat."


Yoga mendobrak pintu dan mendapati Marcell duduk di sebuah kursi besar, menyambutnya dengan sikap licik dan tawanya yang remeh. Gaya bicaranya masih seperti dulu, selalu memancing emosi lawan bicaranya.


"Berani-beraninya kamu mencelakai istriku!" Yoga menghampiri lelaki itu dan mencengkeram bagian atas pakaian yang dikenakannya.


Buugghh ...!!! Buugghhh ...!!!


Dua kali pukulan keras langsung mendarat di kedua pipi Marcell yang tampak tidak menghindar dan pasrah berada di bawah kungkungan tubuh Yoga yang terus menekan dan mengunci pergerakannya.

__ADS_1


Senyumannya semakin terlihat licik seiring darah segar yang mengalir di kedua sudut bibirnya.


"Aku ingin mengajak Nara pergi jauh bersamaku. Tapi sayangnya, dia selamat dan tidak jadi sekarat."


Plaaakkk ...!!!


Satu tamparan keras mendarat di mulut Marcell yang masih terus memancing emosi Yoga.


"Sepertinya aku perlu sekali lagi mencobanya agar kami bisa pergi jauh bersama-sama."


Plaaakkk ...!!! Plaaakkk ...!!!


Yoga menggeram dan kembali melayangkan tangan kanannya hingga dua kali tamparan keras pun mendarat lagi di kedua sisi bibir lelaki yang masih berani menampakkan senyuman sinis yang sangat meremehkan.


"Jangan pernah lagi menyebut nama istriku dengan mulut busukmu itu ...!!!"


Bibir Marcell robek dan mengeluarkan banyak darah hingga mengenai tangan Yoga yang berkali-kali menamparnya. Tapi keberaniannya tidak surut juga, justru semakin berani menantang suami dari wanita yang digilainya.


"Aku mencintai Nara. Aku akan membawanya pergi. Nara ... Nara ... Nara ...!!! Hahaahaaa ...!!!"


Yoga berdiri dan menarik serta tubuh tinggi besar Marcell yang masih dicengkeramnya erat-erat. Dipukulinya bagian tubuh lelaki itu dengan seluruh tenaganya, disertai amarah yang semakin meledak-ledak akibat ucapan Marcell yang terus menyebut nama Nara di hadapannya.


Beberapa pukulan keras dan telak darinya, akhirnya membuat tubuh Marcell terhuyung dan jatuh terduduk lagi di tempatnya semula.


Saat tubuh lelaki blasteran itu terhuyung dan terjatuh, saat itulah mata tajam Yoga menangkap keberadaan sebuah benda kecil berwarna hitam yang semula tak terlihat olehnya karena tersembunyi di balik tubuh Marcell.


Beno dan beberapa orang yang berjaga di luar sesuai perintah Yoga, tiba-tiba dikejutkan dengan bunyi letusan dari dalam rumah yang pintunya telah terbuka lebar.


Doorr ...!! Doorr ...!! Dooorrr ...!!!


Dua buah mobil polisi datang dengan beberapa anggota di dalamnya. Seluruh aparat turun kemudian dengan sigap dan waspada segera masuk ke dalam rumah yang sudah berubah hening, tanpa suara pertikaian lagi.


Beno mengikuti para petugas tersebut untuk mengetahui keadaan atasannya. Wajahnya terlihat sangat panik, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Yoga.


Tak lama kemudian, beberapa polisi menggotong keluar dua tubuh yang sama-sama tak sadarkan diri dan bersimbah darah, entah masih hidup atau sudah tak tertolong lagi.


Beno keluar dan bergegas meminta beberapa orang yang bersamanya untuk menyiapkan mobil dan segera membawa Yoga ke rumah sakit.


Sementara itu Marcell dibawa menggunakan salah satu mobil polisi dan satu mobil polisi lainnya memimpin iring-iringan beberapa mobil tersebut sebagai pembuka jalan agar lebih cepat sampai ke rumah sakit.


.


.


.

__ADS_1


"Mas Yoga ...!!!"


Nara terbangun tiba-tiba hingga tubuhnya tersentak dan terduduk di atas pembaringan. Bagian dalam perutnya bereaksi, terasa tegang dan mengeras seketika.


Maaf, Nak. Maafkan Ibu.


Dengan nafas terengah-engah Nara mengusapi perutnya dengan lembut dan terus-menerus, agar rasa nyeri yang dirasakannya segera mereda.


Wajahnya penuh peluh, akibat mimpi buruk yang dialaminya barusan. Bibi Asih yang menemaninya siang ini menghampiri dan membersihkan wajahnya.


"Mbak Nara bermimpi buruk lagi?" tanya sang bibi seraya menyodorkan segelas air putih untuk Nara.


Wanita lemah lembut itu mengangguk dan segera menghabiskan minumannya. Kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi pembaringan yang sudah sedikit ditegakkan oleh Bibi Asih.


"Terima kasih, Bi," ucap Nara lirih dengan wajah yang masih terlihat pucat.


Bibi Asih tersenyum dan mengangguk lalu kembali duduk di sofa tak jauh dari pembaringan.


Nara menyandarkan kepalanya guna menghalau rasa sakit di kepalanya akibat terbangun tiba-tiba. Dipejamkan matanya untuk menenangkan pikiran. Namun bayangan mimpi itu justru hadir seolah nyata di hadapannya.


Ada apa denganmu, Mas? Apa yang terjadi padamu? Mengapa pikiran dan perasaanku menjadi sangat buruk seperti ini?


Diambilnya ponsel di atas meja lalu mencoba untuk menghubungi Yoga. Panggilannya tersambung tapi tidak diangkat. Berulang kali dicoba lagi tetap saja seperti itu.


Perasaannya semakin tidak baik, apalagi mengingat mimpinya yang sangat menakutkan tadi.


Seperti nyata, dia melihat Yoga rebah dengan tubuh bersimbah darah. Wajah tampan suaminya itu pucat pasi dengan bibir yang telah membiru. Tatapan matanya nanar, tak terlihat lagi sinar kehidupan di dalam pancarannya yang telah meredup.


Lambaian tangan sang suami membuat perasaannya semakin dipenuhi ketakutan akan kehilangan sandaran hidup, separuh nyawa pelengkap kehidupannya. Perasaan yang sama seperti saat Yoga akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Semoga kamu baik-baik saja, Mas. Cepatlah kembali, aku ingin segera melihatmu dan memelukmu lagi ....


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2