CINTA NARA

CINTA NARA
3.15. INGIN MENGETAHUI


__ADS_3

"Jika ternyata dia bukan lagi milik siapa pun, apakah kamu siap berhadapan dengan lelaki lain yang ingin merebut hatinya dan memilikinya?"


Ardi yang masih memegangi Aura yang minta berdiri dan terus bergerak aktif, untuk sesaat mengunci pandangannya ke arah Yoga yang tetap terlihat tenang dan tidak merasa bersalah.


"Jangan semakin gila pikiranmu, Ga!" Ardi membalas tatapan Yoga sama tajamnya.


"Aku masih waras dan tidak gila, Di. Mana mungkin aku akan mendukungmu pada hal gila yang tidak masuk akal," tegas Yoga dengan suara yang diperjelas kata per katanya.


"Alya bukan wanita yang masih hidup sendiri, Ga. Dia sudah bekeluarga dan mempunyai suami. Jangan menggunakan namanya lagi untuk berandai-andai akan hal seperti itu," pinta Ardi yang merasa bersalah karena sudah membicarakan Alya di belakangnya.


"Apa kamu yakin jika benar-benar seperti itu kenyataannya?" Yoga kembali memancing Ardi yang mulai jengah dan merasa tidak nyaman.


"Ga! Jangan membicarakan dia lagi. Aku tidak mau dan tidak berniat untuk mengganggu kehidupannya lagi. Dia sudah bahagia, jadi biarkan tetap seperti itu selamanya."


Ardi mulai meninggikan suaranya, namun tetap menampakkan senyuman dan tawa kecilnya pada Aura agar putri kecilnya tidak merasa terganggu oleh pembicaraannya dengan Yoga.


Yoga pun sama, sesekali dia tetap menanggapi celotehan Aura dan menemaninya bermain, sehingga bayi mungil. itu tetap menikmati keceriaannya.


"Aku juga ingin melihatmu bahagia. Maka dari itu kukatakan semua ini padamu, agar kamu tidak menyesal di kemudian hari nanti."


Ardi kembali menoleh ke arah sahabatnya yang tetap tenang dan sama sekali tidak merasa bersalah dengan semua ucapannya.


"Menyesal? Apa maksudmu? Apa yang sebenarnya terjadi?" Ardi mulai curiga dengan ucapan Yoga dan menatapnya lagi dengan penuh selidik.


Saat pikirannya dipenuhi dengan semua ucapan Yoga yang terus menyinggung tentang Alya, tiba-tiba Ardi teringat akan sesuatu yang pagi tadi sempat pula merisaukan hatinya.


Sesuatu yang tidak ada dan tidak dikenakan oleh Alya. Kemudian dia mulai memghubungkan hal tersebut dengan semua ucapan Yoga yang dipenuhi teka-teki dan menjadi tanda tanya besar baginya kini.


"Ga, katakan padaku yang sebenarnya! Apakah ada sesuatu tentang Alya yang tidak aku ketahui selama ini?" Ardi mulai menunjukkan kecurigaan yg semakin membuatnya merasa penasaran.


Yoga kembali menatapnya dengan tajam dan lebih serius kali ini.


"Apa kamu benar-benar ingin mengetahui kebenarannya?"


.


.


.

__ADS_1


Selesai memandikan Raga dan Gana bergantian, kemudian dilanjutkan dengan menyusui Gana sampai bayi mungil itu tertidur nyenyak dan dibaringkannya di dalam boks bayi, Nara keluar dari kamar hendak menemui Aura yang baru saja sampai di rumah bersama Ardi dan Yoga.


"Sebaiknya kalian membersihkan diri dulu. Biar Aura bersamaku dan Raga di sini."


Nara mengambil alih Aura yang sudah ceria usai bangun tidur dan melihat Raga di hadapannya.


"Mas, pakaianmu sudah aku siapkan di atas tempat tidur."


Yoga mengangguk lalu mencium kepala istrinya sebelum naik menuju kamar mereka yang berada di lantai atas.


Sementara itu Ardi juga masuk ke kamar tamu yang sudah ditempatinya satu malam bersama Aura, sebelum putri kecilnya dirawat di rumah sakit dan menginap semalam di sana.


"Adik Aya ... cembuh ... Bu? Adik Aya ... udah ... cehat?" tanya Raga pada Ibunya sembari menciumi pipi tomat Aura, seperti kebiasaannya setiap kali keduanya bertemu dan bermain bersama.


"Iya, Nak. Adik Aura sudah sembuh dan boleh pulang kemari. Mas Raga bisa 'kan, membantu Om Ardi menjaga Adik Aura?" tanya Nara sambil mendudukkan Aura di atas karpet bulu yang dibentangkan di lantai ruang tengah sebagai tempat bermain.


Raga mengangguk dengan cepat lalu memeluk Aura dengan sayang dalam pengawasan Nara, agar tidak terlalu keras saat mendekap tubuh Aura.


"Maga ... cayang ... Aya!" Raga berucap lantang lalu sekali lagi mencium pipi bayi cantik itu.


"Raga sayang tidak sama Tante Alya?" Sebuah suara lembut terdengar seiring kemunculannya dari arah pintu depan dengan senyum yang menghiasi wajah ramahnya.


"Maga ... cayang ... Te Aya ...," jawab bocah tampan itu lalu kembali duduk bermain bersama Aura.


"Bu-bu ... aaaa ... bu-bu ...." Kedua tangan Aura terulur ke arah Alya yang sudah duduk bergabung di atas karpet bulu.


"Iya, Sayang. Sini ikut Tante lagi."


Aura diberdirikan oleh Nara dan dibantu melangkah ke arah Alya yang sudah siap menyambut dengan senyuman lebar di bibirnya.


"Uummh ... anak pintar!" Alya memeluk dan menciumi Aura setelah bayi cantik itu sampai dan menghambur ke arahnya.


Aura terus bergerak menjejakkan kedua kakinya bergantian seolah ingin mengajak Alya membimbingnya untuk belajar berjalan.


Alya memastikan lebih dulu bahwa Aura tidak lagi demam, baru kemudian menuruti keinginan bayi mungil yang sudah aktif kembali.


Wanita dengan hijab sederhana yang menutupi bagian kepala dan dadanya itu berdiri dan sedikit membungkuk, menyesuaikan tinggi kedua tangan Aura yang terangkat ke atas dan digenggam erat oleh Alya untuk mendampinginya belajar menapakkan langkah demi langkah kecilnya mengitari ruangan di dalam rumah Nara.


Teriakan kecil dan celotehan lucu Aura terdengar riang di sepanjang langkah-langkahnya yang mulai terlihat kuat dan kokoh saat sesekali berhenti dan berdiri tegak.

__ADS_1


Tanpa merasa lelah Alya terus mengikuti langkah bayi cantik yang sangat bersemangat itu hingga untuk kedua kalinya mereka sampai di depan pintu kamar tamu, tepat di saat Ardi membukanya dari dalam dan muncul dengan penampilan yang sudah terlihat segar dan menawan.


Alya tertegun saat kedua mata indahnya bertemu pandang lagi dengan sepasang netra milik Ardi yang menatapnya dengan teduh dan dalam.


Untuk sesaat waktu seolah berhenti berputar dan hanya berpusat pada pandangan lekat yang telah terkunci di antara kedua dokter kandungan yang sama-sama merasakan getaran indah di hati mereka.


Dari atas karpet, Nara memperhatikan kedua orang tersebut dengan senyuman bahagia yang menghiasi wajahnya. Dia merasa senang melihat interaksi mata kedua orang yang sama-sama dekat dengan keluarganya itu.


"Semoga kali ini Allah berkenan untuk menyatukan kembali cinta kalian yang sempat terpisah sekian lama sebelumnya."


"Al, kamu sudah sampai di sini?" tanya Ardi mendahului setelah Alya menunduk lebih dulu untuk mengakhiri tatapan mata keduanya.


"Iya. Baru saja," jawab Alya singkat.


Dokter duda itu berjongkok di hadapan Aura dan menciumi putri kecilnya yang terlihat sangat ceria belajar berjalan didampingi oleh Alya.


"Ya-ya ... bu-bu ...." Aura terus berceloteh memanggil Ardi dan Aura bergantian disertai tawa riang yang terus terlihat di wajah cantiknya.


Ardi memegang sang putri lalu menggendongnya dan berdiri kembali tepat di depan Alya yang membuat keduanya kembali bersitatap dalam jarak yang semakin dekat.


Tanpa diduga, tiba-tiba Aura menarik ujung hijab di bagian dada Alya yang tak ayal membuatnya tertarik begitu saja dan merapat ke arah Ardi.


Beruntung ada tubuh Aura yang digendong oleh Ardi sehingga menghalangi mereka bersentuhan secara langsung, meskipun lagi-lagi kepala Alya terantuk wajah Ardi dan sempat ditahan oleh tangan kanan Ardi supaya tidak tersentak ke belakang.


Pandangan dua insan itu bertemu lagi dalam posisi tangan Ardi masih menyentuh belakang kepala Alya yang tertutup hijab. Tatapan mereka semakin lekat dan dalam, diiringi debaran yang bertalu-talu menggetarkan dinding kalbu keduanya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2