
Di dalam mobil yang masih melaju di bawah kendalinya, seorang lelaki terus mengeluarkan kata-kata kasar dan merutuki dirinya sendiri yang gagal melaksanakan rencananya.
"Hari ini dia masih bisa selamat, tapi tidak untuk besok! Dia sudah berani mengambil milikku. Dia harus segera aku singkirkan dan setelah itu aku akan membawa Nara bersamaku!"
Lelaki yang terus menggeram dan mengeluarkan sumpah serapahnya itu adalah Marcell, lelaki yang terobsesi ingin memiliki Nara dan berusaha untuk selalu menyingkirkan semua lelaki lain yang dekat dengan wanita itu.
"Tiga tahun aku kehilangan wanitaku dan saat aku akan datang menemuinya ternyata dia sudah memilih lelaki lain untuk menjadii suaminya. Aku tidak akan tinggal diam. Aku harus segera merebutnya dan menjadikannya hanya milikku!"
Marcell terus melajukan mobilnya dengan penuh amarah. Dia kembali ke tempat persembunyiannya untuk menyusun ulang rencananya.
Sementara itu, Yoga sudah sampai di rumah. Dia meminta Pak Budi untuk tidak menceritakan kejadian di halaman restoran tadi pada istrinya.
Lelaki itu turun dari mobil dan disambut dengan teriakan riang putra kesayangannya. Dia segera menurunkan tubuhnya, berjongkok untuk menyambut larian kecil Raga yang menuju ke arahnya.
"Yayaah ... laang ... Yayaah Gagaa ...." Bocah tampan itu langsung memeluk ayahnya dengan erat dan melingkarkan kedua tangannya di leher Yoga.
Yoga tertawa dan berdiri dengan Raga yang sudah digendong dan diciuminya dengan gemas. Disentuhnya kening sang putra untuk memeriksa suhu tubuhnya yang ternyata sudah kembali normal.
"Uumm ..., Raga sudah sembuh ya? Anak pintar, anak ayah harus sehat terus. Besok kita pergi jalan-jalan ke wahana permainan bersama Ibu. Raga mau, Nak?" tanya Yoga sambil berjalan ke arah Nara yang menunggunya di ambang pintu.
Bocah kecil itu mengangguk lalu mencium kedua pipi ayahnya bergantian dan dibalas hal yang sama oleh Yoga. Setelah itu tangan kanan Yoga ditarik Nara untuk dicium dan dibalasnya dengan mencium kening sang istri sembari mengusap lembut kepalanya.
"Kok langsung pulang, Mas? Tidak kembali ke kantor?" Nara mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam rumah dan menuju kamar mereka. Dilihatnya sang suami belum membawa tas kerja dan tidak mengenakan jasnya.
"Hari ini tidak ada pertemuan penting, jadi aku bisa menyelesaikan pekerjaan di rumah. Nanti Pram yang akan mengantarkan mobil sekaligus tas dan jas yang masih tertinggal di kantor."
Yoga menurunkan Raga di atas karpet bulu yang terbentang di tengah kamar untuk tempat bermainnya. Seperti biasa Nara membantu melepaskan sepatu dan kaos kaki suaminya lalu menaruhnya di dalam rak.
Merasa seperti ada yang menarik perhatiannya sekilas tadi, Nara kembali mendekati suaminya dan mengamati pakaian Yoga yang kotor di beberapa bagian.
"Mas, kamu jatuh?" tanya Nara sembari memeriksa celana dan kemejanya yang kusut dan bernoda.
Yoga memperhatikan arah pandangan istrinya dan mencoba bersikap tenang agar Nara tidak curiga kepadanya.
"Oh, tadi aku bertubrukan dengan Pak Alam di halaman restoran dan kami sama-sama terjatuh, Sayang." Yoga menghindari tatapan istrinya dengan bermain bersama Raga dan membuat bocah riang itu terus tertawa.
__ADS_1
"Ternyata dia juga diundang untuk bertemu teman-teman media di sana. Saat aku akan pulang, dia baru saja datang." tambah Yoga menjelaskan.
"Yayaah ... Gagaa boboo ...." Bocah lucu itu berguling-guling dan mengajak serta ayahnya. Rupanya dia mulai mengantuk setelah Nara memberinya obat yang terakhir selepas makan siang tadi.
"Raga mau bobok sama Ayah?" tanya Yoga dan bocah itu menganggukkan kepala berulang-ulang.
"Raga bobok sama Ibu dulu ya, Ayah kotor belum mandi." Nara membujuk sang buah hati dan meminta Yoga membersihkan diri lebih dulu.
Yoga buru-buru ke kamar mandi agar anaknya tidak terlalu lama menunggu. Tak sampai sepuluh menit, dia sudah keluar dengan tubuh segar dan mengenakan pakaian rumahan.
Dia segera mengajak Raga naik ke tempat tidur dan mulai menina-bobokan bocah yang sudah sangat terkantuk-kantuk itu di dalam pelukannya.
Nara tersenyum di tepi tempat tidur, melihat sang suami yang begitu sabar dan telaten menemani putra mereka. Melihat keduanya akhirnya terlelap bersama, wanita itu memilih untuk keluar dan melanjutkan makan siangnya yang terjeda karena kedatangan sang suami.
.
.
.
Raga begitu riang dalam gendongan sang Ayah sementara Nara terus tersenyum di samping suaminya. Yoga sendiri tampak sangat bahagia menikmati waktu kebersamaan bersama keluarga kecil kesayangannya.
Sesekali satu tangannya merengkuh bahu Nara dan mencium kepala sang istri dengan mesra di sepanjang perjalanan mereka menuju lantai atas.
Seperti sebelum-sebelumnya, Yoga selalu terlihat antusias menemani sang buah hati mencoba berbagai macam wahana permainan yang tersedia.
Nara mengikuti mereka dan mengabadikan momen bahagia tersebut dalam banyak rekaman video dan foto di dalam ponselnya.
Puas bermain hampir dua jam lamanya, Nara mengajak mereka beristirahat di salah satu kafe yang biasa mereka datangi setiap kali menemani Raga bermain di sana.
"Sayang, aku ke toilet dulu sebentar."
Yoga mendudukkan putra mereka di atas kursi panjang menyerupai sofa yang nyaman untuk balita seusia Raga. Nara menjaganya sambil memesankan menu makan siang untuk mereka.
Dari luar kafe, seseorang memperhatikan Nara sejak pertama kali mereka datang beberapa jam lalu dan terus mengikutinya dalam jarak tertentu untuk menyamarkan tingkah lakunya.
__ADS_1
Beberapa saat setelah melihat Yoga pergi ke arah toilet, orang itu segera berjalan mendekati meja yang ditempati Nara yang tengah sibuk mengawasi anaknya.
"Lama kita tidak berjumpa, Nara."
Sapaan dan suara itu membuat tubuh Nara menegang seketika meskipun dia belum mengalihkan pandangannya. Hatinya mendadak diliputi ketakutan luar biasa.
Sebelum memberanikan diri untuk menoleh ke asal suara dari arah belakang tubuhnya itu, lebih dulu diraihnya Raga yang masih asyik memegang mainan dan didekapnya dengan erat.
"Akhirnya kita bertemu lagi. Apa kabarmu?" Orang itu kembali bertanya saat Nara telah berbalik dan menatapnya dengan gugup.
"Ma-Marcell ...." Suara Nara tercekat, lirih dan penuh getar ketakutan. Didekapnya Raga semakin erat untuk mengurangi kegugupannya.
"Aku senang kamu masih mengingatku, karena aku juga tidak pernah bisa melupakanmu, Nara."
Orang yang mengikuti Nara dan keluarganya sejak tadi adalah Marcell, lelaki yang terobsesi padanya dan sekarang bertekad untuk segera memilikinya setelah tahu Nara sudah menikah dan hidup bahagia.
"Bubuuu ... Yayaah Gagaaa ...." Raga merengek mencari ayahnya, membuat Nara memeluknya lebih erat dan menyembunyikan wajah bocah itu di balik bahunya.
"Dia anakmu?" Mata licik Marcell menatap tajam ke arah bocah kecil yang terus merengek itu.
Kepolosan sikap Raga menunjukkan bahwa dia merasa tidak nyaman dengan orang asing yang ada di hadapan mereka.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.