
Sesuai janjinya, Ardi datang untuk membesuk istri dari sahabat kecilnya yang juga adalah pasien lamanya.
Dia datang bersama Beno yang diminta untuk menggantikan sang atasan selama Yoga menemani Nara dalam proses pemulihan pasca dua kejadian buruk yang dialaminya.
"Aku sudah berbicara dengan Alya, dokter kandungan yang menangani Nara. Dia adalah teman kuliahku dan sekarang bertugas di kota ini."
Sebelumnya Ardi juga tidak mengetahui jika dokter yang menangani Nara adalah Alya, teman kuliah sekaligus mantan kekasihnya semasa kuliah dulu.
"Dia adalah dokter yang hebat dan berprestasi. Aku juga sudah menitipkan Nara kepadanya. Nara sudah ditangani oleh orang yang tepat."
Yoga merasa lebih tenang setelah mengetahui jika Alya adalah orang yang pernah dekat dengan Ardi. Sekarang dia tidak perlu khawatir lagi karena meskipun jauh dari Ardi, di sini Nara telah mendapatkan dokter yang sama hebatnya seperti Ardi.
"Dokter, apakah saya masih bisa hamil lagi?" tanya Nara pada Ardi.
Ardi sudah terbiasa mendengar pertanyaan itu dari para pasiennya yang mengalami kegagalan kehamilan seperti Nara.
"Tentu saja. Sangat bisa, Ra," jawab Ardi yang membuat Nara merasa lebih lega dan tidak takut lagi.
"Tidak ada masalah apa pun dengan organ reproduksimu. Rahimmu sudah bersih dan sangat sehat. Tidak masalah jika kalian ingin mencoba lagi secara alami."
Yoga menoleh ke arah istri di sampingnya dan mereka pun saling berpandangan.
"Sebenarnya kami pun tidak mengetahui tentang kehamilan Nara kemarin." Yoga menjelaskan yang sebenarnya pada Ardi.
"Saya melupakan jadwal terakhir suntik bulanan saya, Dok." Nara ikut menjawab dengan malu-malu.
Ardi hanya mengangguk dan tidak menanggapinya lebih lanjut. Dia menghargai privasi pasiennya termasuk alasan mereka masih menunda kehamilan berikutnya.
"Saranku, jika nanti kalian sudah berencana untuk menambah momongan, lakukan saja secara alami, nikmati prosesnya dan serahkan hasilnya pada Yang di Atas. Allah Yang Maha Tahu kapan saat yang terbaik untuk kalian menerima kepercayaan itu lagi."
.
.
.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi di sini, Al. Bagaimana kabarmu?"
Ardi menyempatkan waktu untuk berbincang sejenak dengan Alya, sebelum dia bertolak pulang kembali, karena tidak bisa terlalu lama meninggalkan istrinya yang tengah hamil.
"Kabarku baik, Di. Aku juga tidak menyangka akan menangani pasienmu yang sekarang menjadi pasienku."
Ardi mencuri pandang ke arah Alya. Ada yang berubah dengan penampilannya sekarang. Wanita itu telah mengenakan hijab yang jujur saja membuat Ardi tertegun dan kagum saat pertama kali mereka bertemu kembali, beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
"Kamu masih seperti yang dulu, Al. Tenang, anggun, selalu ceria dan penuh senyuman."
Alya bukan tidak mengetahui tatapan Ardi kepadanya. Namun dia sengaja berpura-pura tidak mengetahuinya dan tetap membuka obrolan ringan dengan mantan kekasihnya yang sekarang sudah menjadi suami wanita lain.
"Sudah berapa bulan kandungan istrimu?" tanya Alya sekedar untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka.
"Masuk bulan kelima, Al," jawab Ardi dengan sebuah senyuman, membalas senyuman Alya yang selalu terukir di bibirnya.
Setelah itu, hening pun kembali tercipta di antara mereka. Tak tahu harus berbincang apa lagi, tapi belum ingin mengakhiri pertemuan tak disengaja tersebut.
"Bagaimana denganmu sendiri? Bukankah kamu juga sudah menikah dengan pilihan orangtuamu dulu?"
Alya hanya tersenyum menjawab pertanyaan Ardi.
"Sudah berapa tahun usia putra atau putrimu?" Suami Bunga itu melanjutkan pertanyaannya yang kali ini dijawab oleh mantan kekasihnya.
"Aku belum mempunyai anak."
Masih dengan senyuman khasnya, Alya menjawab dan kali ini memberanikan diri untuk menatap wajah lelaki yang duduk di hadapannya, di ruang pemeriksaannya.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Ardi juga berpaling menatap ke arahnya, sehingga pandangan mereka bertemu dan beradu untuk beberapa saat.
Ada kerinduan yang sama yang terpancar dalam sinar mata keduanya. Kerinduan akan kebersamaan yang tak terlupakan, yang dulu selalu mereka isi dengan menciptakan kenangan indah sepanjang waktu.
Saat kesadarannya kembali, buru-buru Alya mengalihkan pandangannya dan menghindari tatapan Ardi yang masih tertuju padanya, entah apa yang tengah dipikirkannya.
"Ya, Sayang?" Ardi menjawab dengan canggung karena ada Alya di dekatnya.
Ada setitik perih yang menyentuh relung hati Alya saat mendengar panggilan mesra Ardi kepada istrinya.
"Aku tidak boleh membiarkan perasaan ini bersemi kembali. Ini salah, Alya. Ini hanyalah sebuah kebetulan dan tidak akan berlangsung lama. Jangan terbelenggu masa lalumu lagi!"
Alya berdiri dan meninggalkan Ardi yang sedang menerima panggilan suara dari istrinya. Dia masuk ke bilik pemeriksaan dan bersembunyi di balik tirai yang menjadi pembatasnya.
Cepat-cepat disekanya air mata yang sudah menggenang dan memburamkan pandangannya. Diaturnya nafas yang sudah mulai menyesakkan dadanya.
Alya diam, memejamkan mata dan menghela nafas panjang untuk menenangkan diri.
"Jangan sampai dia mengetahuinya, Al. Kendalikan dirimu di hadapannya!"
Alya keluar dari bilik dan kembali duduk setelah mendengar Ardi menutup sambungan teleponnya.
"Maaf, Al. Aku harus pergi sekarang. Pesawatku akan berangkat kurang dari dua jam lagi," ucap Ardi setelah menyimpan ponselnya.
__ADS_1
Ada rasa enggan untuk berpisah secepat ini dengan wanita masa lalunya tersebut. Tapi Ardi sadar, semuanya sudah berakhir dan tak lagi sama seperti dulu. Sekarang mereka telah sama-sama bahagia dengan kehidupan masing-masing.
Lagi-lagi Alya hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Senang bertemu kembali denganmu, Di. Semoga perjalananmu lancar dan selamat sampai tujuan."
Ardi melakukan hal yang sama, mengangguk dan membalas senyuman Alya, dengan berat hati.
"Aku harap kita masih bisa bertemu lagi, Al. Meskipun pertemuan denganmu tidak akan merubah apa pun di antara kita, tapi aku bahagia bisa melihatmu lagi."
.
.
.
"Jangan ... jangan mendekat lagi .... Jangan menyentuhku ...."
Rintihan itu terdengar lagi di saat Nara tengah terlelap dalam tidurnya.
Hati Yoga kembali tercabik mendengarnya. Dia kembali teringat saat melihat sendiri bagaimana Nara terus berusaha melepaskan diri dari kungkungan tubuh Marcell, saat dia berhasil mendobrak pintu kamar waktu itu.
"Tidak akan ada yang berani mendekatimu kecuali aku, Sayang. Dan tidak akan ada yang berani menyentuhmu kecuali aku. Karena kamu hanya milikku, milikku satu-satunya."
Yoga mengusapi kepala Nara dan mencium keningnya dengan hati teriris. Kesedihannya begitu mendalam setiap kali mendengar sang istri merintih dan memohon tanpa sadar di dalam tidurnya.
Trauma akan kejadian penculikan ฤan penyekapan yang hampir saja menodai harga dirinya tersebut, walaupun hanya sebentar namun sangat membekas dan menorehkan luka psikis di dalam hatinya.
Entah kapan trauma itu akan sembuh dan menghilang dari dirinya, tapi yang pasti saat ini Nara masih selalu dibayangi ketakutan akan peristiwa buruk tersebut.
"Jangan takut lagi, Sayang. Aku akan selalu ada di sampingmu dan kita akan bersama-sama melewati masa-masa sulit ini berdua. Ingatlah apa yang selalu aku katakan padamu, kita kuat karena cinta kita kuat dan luar biasa!"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.๐๐
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
๐Author๐
.