CINTA NARA

CINTA NARA
2.15. MENGHADAPI BERSAMA


__ADS_3

"Bubuu ... atiit ... cuuus ...."


Raga duduk di samping Nara, di tepi pembaringan dan dipegangi oleh Yoga. Tangan kecilnya menunjuk punggung tangan Ibunya yang tertancapi jarum infus. Kemudian pandangannya berpindah ke arah tiang di tepi pembaringan, di mana kantong infus Nara tegantung di atas sana.


"Iya, sayang. Ibu sakit, dan harus disuntik oleh Dokter. Raga doakan Ibu supaya cepat sembuh ya, supaya Ibu bisa segera pulang ke rumah bersama Raga dan Ayah." Yoga mengusapi kepala sang putra yang berambut hitam lebat sepertinya.


Bocah kecil itu mengangguk seolah mengerti maksud ucapan sang Ayah. Kedua tangannya diangkat di depan dada sambil mengucapkan kata aamiin dengan suaranya yang masih belum jelas, lalu diusapkan ke mukanya dan diakhiri dengan tawa yang menghiasi wajahnya yang polos nan lucu.


Mata beningnya terus memperhatikan sekeliling yang terasa asing baginya. Bukan di rumah, bukan pula di kantor sang Ayah. Walaupun begitu, bocah menggemaskan itu tetap tenang dan tidak merasa takut dengan perubahan di sekitarnya.


"Gagaa ... bobok ... iyiii .... No bubuu ... no yayaah ...."


Bocah yang mulai ceriwis dengan lafal yang masih belum jelas itu bercerita bahwa semalam dia tidur sendiri tanpa Ibu dan Ayahnya.


"Raga nakal tidak? Atau Raga menangis?" tanya Yoga yang berdiri di belakang buah hatinya yang tetap duduk menghadap ke arah Nara.


Dengan cepat bocah lucu itu menggelengkan kepalanya sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.


Nara tersenyum melihat tingkah Raga yang selalu menggemaskan di matanya. Sejenak dia melupakan kesedihan di hatinya dan mulai bercengkerama dengan Raga dan juga suaminya, bertiga di atas pembaringan.


Di sela keriangan mereka di pagi hari, diam-diam Yoga terus memperhatikan istrinya. Tak bisa dipungkiri, hatinya masih merasakan penyesalan yang dalam karena tidak bertindak lebih cepat saat mengetahui awal keberadaan Marcell di kota yang sama dengan mereka.


"Kalau saja saat itu aku langsung bertindak dan menyingkirkannya, semua ini tidak akan terjadi dan Nara tidak akan mengalami peristiwa sedih seperti ini."


Yoga larut dalam rasa sesal yang masih menyesak di dadanya. Bukannya dia menentang takdir, hanya saja wajar adanya jika selalu ada penyesalan dari setiap kejadian yang seharusnya masih bisa diantisipasi dengan lebih baik sebelumnya.


"Maafkan aku, Sayang. Meskipun kehamilanmu belum menjadi rencana kita, tapi bukan berarti kita tidak menginginkannya, bukan? Aku tahu, kamulah yang paling sedih dan terluka dengan kenyataaan ini. Maafkan aku ...."


Tiba-tiba Nara menarik Raga dan memangku sang buah hati menghadap ke arahnya. Ada desiran halus yang kali ini terasa pilu manakala melihat istrinya terus menciumi putra mereka, semakin cepat lalu berakhir dengan memeluk Raga dengan sangat erat.


Nara terisak seraya menyembunyikan wajah putranya di balik bahu agar bocah kecil itu tidak mengetahui jika Ibunya tengah menangis.

__ADS_1


Hanya Yoga yang melihatnya, melihat wanita kesayangannya tersedu dengan derai air mata yang mengalir membasahi wajah sayunya.


Sebelum Raga tahu dan membuatnya bertanya-tanya, dengan cepat diambilnya sang putra dan menutupi tubuh Nara dengan tubuhnya, lalu dibawanya bocah kecil itu keluar dari ruangan.


Setelah menitipkan buah hatinya pada Mbak Indah dan Pak Budi yang menunggu di luar, Yoga buru-buru kembali ke dalam dan segera menghampiri istrinya yang masih duduk terisak dengan wajah tertunduk lesu.


Lelaki itu duduk di tepi pembaringan, menghadap Nara lalu merengkuh tubuh yang masih lemah itu ke dalam pelukannya.


Tanpa jeda, wanita itu langsung meluapkan isakannya di sana, menangis tersedu-sedu dengan derai air mata yang tumpah-ruah membasahi pakaian suaminya.


Yoga merasakan dadanya kian sesak dan hatinya semakin tersayat-sayat. Rintih tangisan Nara menunjukkan betapa wanita itu tengah terluka hatinya sedemikian dalam.


Air mata tak bisa lagi dibendungnya hingga dia turut menangis, sama derasnya dengan sang istri meskipun tanpa suara yang melagukan kesedihannya.


Hanya tarikan nafas yang semakin cepat yang menandai betapa dia pun tak kuasa lagi menahan kesedihan yang sejak semalam selalu disembunyikannya dari Nara.


Berdua mereka larut dalam suasana mendung di hati. Yoga bisa memahami perasaan Nara sebagai seorang perempuan, pasti rasa kehilangannya jauh lebih besar dan terasa sangat menyakitkan dibandingkan dirinya yang tidak merasakan kodrat perempuan sebagai sosok istimewa yang bisa mengandung dan melahirkan keturunan.


Mendengar ucapan suaminya, Nara pun menangis semakin kencang tanpa ditahannya lagi. Suaranya semakin keras dan meraung mewakili duka nestapanya saat ini.


Yoga dengan sabar dan penuh cinta terus memeluk Nara. Dibiarkannya wanita itu melepaskan seluruh beban yang terpendam di dalam hatinya.


Tangan kanannya membelai rambut Nara disertai ciuman di kepalanya dengan sayang, sementara tangan yang kiri terus memeluk dan mengusapi punggungnya dengan penuh kelembutan.


Hampir tiga puluh menit lamanya mereka berdua berpelukan dan menumpahkan tangisan bersama. Saling berbagi kekuatan dan ketegaran agar bisa menerima semua kenyataan yang digariskan untuk mereka dengan dengan hati yang lapang dan ikhlas.


Nara menarik tubuhnya dari pelukan Yoga dan baru melihat wajah sembab sang suami yang sama sepertinya.


Dengan satu tangan yang bebas tanpa tancapan jarum infus, dibersihkannya wajah rupawan yang biasanya penuh senyuman untuknya dan selalu bisa menenangkan hatinya tersebut.


"Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah berusaha menenangkan hatiku meskipun ternyata hatimu pun serapuh hatiku."

__ADS_1


Nara menampakkan senyuman tipis di bibirnya dan melabuhkan ciuman sayang di pipi suaminya sembari terus membelainya dengan lembut.


"Terima kasih telah bersedia berbagi duka dan kesedihan bersamaku. Terima kasih karena kamu tidak membiarkan aku merasakan dan menanggung semuanya sendirian."


Yoga membalasnya dengan senyuman setulus hati. Baginya, tidak ada yang lebih penting selain mewujudkan senyuman dan kebahagiaan untuk istri dan anaknya. Karena mereka jualah alasan utama dari senyuman dan kebahagiaan dalam hidupnya.


"Mungkin aku tidak bisa merasakan sakit yang sama seperti apa yang kamu rasakan, tapi melihatmu bersedih dan kehilangan senyuman, adalah hal yang paling menyakiti hatiku dan membuatku lemah tak berdaya, Sayang."


Yoga menangkup wajah yang masih terlihat begitu sembab dan memerah itu, kendati Nara telah mengulas satu senyuman manis untuk menghiasinya.


"Jadi, sebisa mungkin aku akan berusaha untuk menghapus kesedihanmu, agar aku bisa melihat lagi senyuman indah di wajahmu ini."


Nara melebarkan senyumannya begitu mendengar ungkapan kasih sayang Yoga yang sangat mengharukan perasaannya.


"Apa pun yang terjadi, kita akan selalu merasakannya berdua dan menghadapinya bersama-sama. Aku dan kamu adalah kita yang kuat dan tidak akan pernah terpisahkan."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2