CINTA NARA

CINTA NARA
2.84. MEMAKSAKAN HATI


__ADS_3

Sepulangnya Nara, Alya berdiri dan melepaskan jas putihnya dan menyampirkannya di punggung kursi. Di saat yang bersamaan, pintu diketuk dari luar dan dibukakan oleh perawat yang juga hendak kembali ke ruang piket.


"Selamat sore, Dokter." Perawat mempersilakan Rendy masuk kemudian keluar dan membiarkan pintu tetap terbuka.


"Sudah siap, Al?" tanya dokter tulang itu dengan suara lembut sembari berdiri menunggu tak jauh dari pintu.


Alya mengangguk dan meraih tasnya lalu memegang tongkat penyangga untuk membantu menopang kaki kiri yang belum pulih sepenuhnya.


"Aku sudah siap." Alya menatap Rendy sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan berjalan dengan pelan melewati lelaki itu.


Rendy tersenyum dan mengikuti langkah wanita yang dicintainya itu hingga ke luar ruangan. Mereka berjalan bersama menuju pintu utama di mana mobil lelaki itu sudah siap di samping teras.


Seperti sebelumnya, Rendy membukakan pintu untuk Alya dan melindungi kepala tertutup hijab itu dengan telapak tangan yang berjarak di atasnya.


"Terima kasih," kata Alya yang sudah duduk di dalam mobil sembari merapikan rok panjang yang dikenakannya dan meletakkan tongkat di sampingnya. Dipangkunya tas bertali panjang yang selalu dibawanya setiap bertugas, kemudian mengambil ponsel dari dalamnya.


Rendy menutup pintu dan berjalan cepat memutari bagian depan mobil dan segera masuk dan duduk di kursi kemudi. Wajahnya cerah dan dipenuhi senyuman sejak datang di klinik tadi.


Menyalakan mesin dan mengatur suhu dingin di dalam mobil, lelaki itu berusaha memberikan pelayanan dan kenyamanan yang terbaik bagi penumpang istimewanya kali ini.


Diam-diam dia mencuri pandang ke arah samping, memperhatikan wajah ayu Alya yang tengah fokus dengan layar ponsel yang dipegangnya.


"Semoga dengan seringnya kita bersama seperti ini, bisa menambah kedekatan di antara aku dan kamu, Al. Aku tidak akan berharap apa pun lagi, asalkan aku bisa terus bersamamu, menemanimu dan menjagamu sedekat ini."


Hatinya bergetar indah ketika tiba-tiba Alya menoleh ke arahnya lantaran dirinya yang tak kunjung melajukan mobil. Meskipun hanya sekilas dan wanita itu kembali melihat ke depan, namun tatapan mata itu sudah berhasil membuatnya salah tingkah sendiri.


"Maaf ...." Segera dia mencairkan suasana yang semula hening lalu mulai melajukan mobilnya keluar dari halaman klinik.


Diam di antara keduanya kembali tercipta sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Alya menyibukkan diri dengan ponselnya dan membaca beberapa berita terbaru hari ini.


Rendy pun tak ingin menganggunya. Lagipula wanita itu pasti juga merasa lelah karena sudah bekerja sejak pagi di rumah sakit kemudian berlanjut di klinik dan sekarang sudah harus kembali ke rumah sakit lagi untuk praktek sore hingga malam hari nanti.


Di pertengahan perjalanan, lelaki itu menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai minuman kekinian. Setelah mematikan mobilnya, dia menatap Alya yang sedang meperhatikan ke arah samping.


"Tunggu sebentar, Al. Aku akan membeli minuman dulu."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Rendy segera keluar dan menghampiri penjualnya. Setelah terlihat mengatakan pesanannya, lelaki itu kemudian duduk menunggu di salah satu kursi kosong di bagian depan kedai.


Alya memperhatikan dari dalam mobil. Sesekali Rendy mengalihkan pandangannya ke arah mobil, membuat Alya pun segera melihat ke arah lain karena menyadari bahwa kaca mobil tersebut masih bisa tembus pandang.


Setelah Rendy tak lagi melihat ke arah mobil, wanita itu kembali memperhatikannya. Meskipun penampilannya sederhana layaknya karyawan pada umumnya, tak bisa dipungkiri Rendy mrnpunyai pesona tersendiri dengan sikap santun dan ramahnya kepada semua orang yang dijumpainya.


Alya mulai terpaku menatap lelaki itu. Mengenakan kemeja bercorak garis-garis tipis berwarna biru laut yang dipadu dengan celana kain berwarna biru gelap, Rendy tampak mencuri perhatian pembeli lain yang kebanyakan adalah kaum hawa.


Pesonanya semakin terpancar saat rambut lurusnya teracak oleh sapuan angin jalanan yang menerpa. Lengan kemeja yang dilipat sepertiga bagian juga membuat penampilannya terlihat lebih memikat.


"Dia adalah lelaki yang baik, teman yang baik, berhati baik dan selalu bersikap baik. Tapi mengapa hatiku tidak bisa tersentuh oleh semua kebaikan di dalam dirinya? Mengapa hatiku masih saja enggan membuka celah untuk kehadirannya?"


Alya terus memperhatikan dokter bersahaja itu dan mencoba memahami hatinya dengan lebih mendalam. Namun lagi-lagi yang dia rasakan hanyalah sebuah kekaguman.


"Haruskah aku memaksakan hati ini untuk menerimanya? Mungkin saja seiring berjalannya waktu nanti, kebersamaan kami akan membuat hatiku tergerak dan benar-benar bisa menerima kehadirannya ...."


Wanita itu mengerjap dan mengakhiri kelana pikirnya saat tiba-tiba Rendy sudah membuka pintu dan masuk ke dalam mobil dengan senyuman yang selalu terulas di bibirnya.


Dia menunjukkan dua gelas plastik bertutup segel di kedua tangannya, berisi jus buah segar yang mengundang selera.


"Apel saja."


Rendy memberikan gelas yang dimaksud berikut sedotannya kepada wanita pemilik hatinya.


"Terima kasih," ucap Alya seraya menerima pemberian lelaki itu.


Sebelum melanjutkan perjalanan, keduanya menikmati kesegaran minuman dingin tersebut untuk sesaat tanpa ada percakapan sedikit pun.


Rendy meletakkan gelasnya di tempat penyimpanan di bagian tengah, lalu bersiap untuk kembali melajukan mobilnya. Sedangkan Alya terus memegang gelasnya sambil sesekali meminumnya sedikit demi sedikit.


Sesampainya di halaman parkir rumah sakit, Rendy memilih tempat yang lebih dekat dengan pintu utama agar Alya tidak terlalu jauh berjalan karena kakinya masih harus ditopang dengan tongkat penyangga.


Setelah mematikan mesin mobil, dokter tulang itu menghabiskan dulu minumannya lalu meminta gelas yang sudah kosong di tangan Alya untuk dibuangnya bersamaan dirinya keluar dari mobil.


Setelah Alya menyerahkannya, Rendy keluar dari mobil dan menuju ke tempat sampah di tepi gedung untuk membuang kedua gelas sekali pakai tersebut. Kemudian dia kembali dan membukakan pintu untuk pasien istimewanya selama beberapa bulan terakhir ini.

__ADS_1


Alya tersenyum sembaru mengucapkan terima kasih saat mereka sudah sama-sama berdiri di luar mobil.


"Ayo, kita masuk." Tangan kanan Rendy terbuka dan terayun ke depan, mempersilakan Alya untuk berjalan lebih dulu dan diikuti olehnya di sebelah wanita itu.


Sebenarnya Alya masih merasa canggung saat harus berjalan berdua bersama Rendy sebab banyak orang yang akan memperhatikan mereka di dalam sana, mengingat keduanya adalah dokter spesialis yang cukup disegani oleh banyak pihak.


Hingga sampai di depan ruangan Alya, mereka menghentikan langkah secara serentak. Berdiri berhadapan tepat di depan pintu, mereka beradu pandang untuk sesaat sebelum Alya lebih dulu menyudahinya dan menunduk kemudian.


"Terima kasih atas kebaikanmu hari ini, Ren. Maaf jika aku merepotkanmu lagi."


Ini adalah kali ketiga Rendy menjemput dan mengantarkannya pulang dan pergi dari rumah sakit menuju klinik dan sebaliknya.


Rendy menggeleng dengan senyuman yang terus menghiasi wajah cerianya.


"Jangan bicara seperti itu lagi. Aku sangat senang melakukannya dan berharap bisa terus menemanimu seperti ini, Al."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2