
Masih dalam suasana libur sekolah. Begitu pula dengan Arif. Masuk kuliah kembali awal september. Bila september ini tiba berarti setahun sudah ia kuliah di Jakarta. Tinggal setahun lagi (2 semester) yang harus dilewatinya.
Berat hatinya meninggalkan Nara di Bengkulu. Tak mengapalah tinggal setahun lagi kuliahnya berakhir. Namun ia harus melakukannya. Demi masa depannya, demi Nara juga .
Masa - masa libur ini banyak dihabiskan Arif dan Nara bersama. Nara sebenarnya belum begitu yakin memilih Arif sebagai kekasihnya. Tapi tak mengapalah yang penting dijalani dulu.
Biarkanlah semua berjalan baik. Semoga saja Arif bisa dipamerkannya pada Angga. Semoga Angga bisa terpancing emosinya. Bukannya itu adalah yang diinginkannya.
Misi balas dendam yang sebentar lagi akan terwujud. Jalan sudah terbuka lebar. Nara sudah tak sabar bagaimana melihat reaksi Angga. Andai ia tahu Arif teman satu kantornya berpacaran dengan mantan kekasihnya. Nara tersenyum pahit, memikirkan apabila ini terjadi. Apakah Angga mau marah atau hanya berdiam diri.
Kota Bengkulu yang asri. Kota sejuta kenangan bagi Nara. Setiap sudut kota pernah dijelajahinya oleh Nara dan Angga. Melakukan berbagai hal bersama. Kali ini napak tilas perjalanan Nara dan Angga, terulang kembali di sini. Tapi bedanya seseorang itu bukan Angga melainkan Arif.
Menyelusuri pantai panjang bersama Arif. Seperti mengulang kembali memorinya bersama Angga. Semua terlintas begitu saja, padahal sekarang seseorang yang sedang bersamanya adalah Arif.
Tak pernah bosan ke sini. Pantai panjang. Menjejaki hamparan bulir bulir pasir putih yang lembut. Lalu ombak silih berganti datang dan pergi. Nara dan Arif berdiri diam menanti ombak menerpa badan mereka. Sambil menanti senja yang singgah. Menanti senja yang setia menghampiri datangnya malam. Lembayung senja yang memantul di atas permukaan air laut memancarkan cahaya merah jingga menambah elok panorama pantai panjang.
"'''''''''''''
Tak dipungkiri Nara. Arif memang sosok yang baik dan ramah. Memiliki wajah yang lumayan menarik. Tak kalah dengan Angga. Angga adalah sosok yang pendiam. Berbeda dengan Arif yang ramah. Selalu menebar senyum dan menyapa setiap orang di dekatnya. Tak ayal Arif menjadi idola para emak - emak di komplek perumahaan tempat tinggal kami. Hah ... , para gadis juga loh.
Setiap malam sebelum tidur. Nara masih terngiang perkataan Arif bahwa Angga ada di Bengkulu. Diam - diam air mata Nara sudah menggenangi wajah cantiknya.
Nara tak habis pikir. Padahal masa - masa liburan begini. Mengapa Angga tak terbesit di hatinya untuk menemui Nara. Begitu tak berartinya dirinya di mata Angga.
Nara pernah membaca sebuah qoute tentang mantan oleh seorang sastrawan Indonesia. Namanya lupa. " Sebenarnya kita tak pernah bisa melupakan mantan, tapi kita berusaha berpura - pura melupakannya. " Begitulah hal yang dialami Nara saat ini.
__ADS_1
Sudahlah biarlah waktu berlalu.Kenangan itu tak pernah bisa terhapus begitu saja. Nara mulai menyemangati dirinya. Sekarang Nara sudah mempunya seseorang yang mencintainya, Arif.
Semenjak menjadi kekasihnya Nara. Arif tak pernah sedikit pun membicarakan Angga. Nara juga enggan membicarakannya. Biarlah diam, tak usah membicarakan seseorang yang pernah singgah di hatinya.
Liburan anak sekolah telah berakhir. Berarti Nara pun masuk sekolah. Ada kerinduaan pada wajah - wajah bocah TK yang menjadi muridnya. Kerinduan mendengar celoteh mereka.
Dengan adanya Arif di Bengkulu. Setiap pagi Arif mengantar Nara ke sekolah TK tempat Nara mengajar. Pulang mengajar pun dijemput oleh Arif. Begitulah rutinitas yang Arif lakukan untuk mengisi waktu liburnya.
"Arif ... , kamu gak usah setiap hari mengantar aku kerja. Aku jadi keenakan, " ucap Nara sambil terseyum manja.
"Gak apalah, kapan lagi. Nanti setahun lagi aku tidak bisa mengantar kamu. Kan enak diantar jemput ama tuan yang ganteng, " jawab Arif sambil mengulum senyum.
"Hehe ... , bisa aja , " Nara terkekeh mendengar ucapan Arif.
Hari terus bergulir, tibalah waktu bagi Arif untuk kembali ke Jakarta. Malam sebelum keberangkatannya. Arif mengajak Nara makan disalah satu tempat nongkrong anak muda kota Bengkulu. Salah satu cafe favorite Arif yang sering dikunjunginya.
Pantai tapak paderi yang terletak berderetan dengan pantai panjang dan pantai jakat yang terhubung langsung dengan laut dan udara. Pantai yang tak kalah indah dengan pantai panjang.
Untuk menjangkau pantai tapak paderi ini diperlukan waktu hanya 10 menit dari pusat kota. Pantai Tapak Paderi dahulunya adalah sebuah dermaga paling utama di Bengkulu. Dermaga yang digunakan bekas peninggalan Inggris dan Belanda 2 abad silam. Akibat terkikis ombak jadilah dermaga ini menjadi tempat wisata sejarah kota Bengkulu.
Di atas bukit di tepi pantai tapak paderi berdiri sebuah benteng kokoh peninggalan Inggris. Benteng Marlborough namanya. Benteng yang menjadi saksi sejarah penjajahan Inggris di kota Bengkulu.
Menikmati makan malam dengan menu sea food andalan di cafe Konakito. Mampu menggugah lidah pengunjung untuk datang kembali ke sini. Suasana romantis terlihat di sini.Lampu - lampu yang sengaja dihias pada beberapa pohon rindang. Memancarkan cahaya warna warni di cafe out door ini. Sambil menikmati makanan kita juga dimanjakan oleh alunan musik jikustik yang dibawakan oleh penyanyi lokal.
Nara dan Arif begitu menikmati malam romantis mereka berdua. Suguhan yang menarik di cafe ini sungguh berkesan di hati Nara. Ditambah sayup hempasan deru ombak pantai tapak paderi yang masih terdengar.
__ADS_1
"Makasih ya Rif.., sudah bawa aku kesini. Nanti saat kamu kembali lagi ke Bengkulu. Kita kesini lagi yuk, " ajak Nara pada Arif.
" Iyalah, pasti kesini lagi. Suasananya enak di sini. Tapi jangan sering - sering. Bikin tongpes, " kelakar Arif.
Hehe ... , " disambut gelak tawa Nara.
Malam belum begitu larut. Jam ditangan Nara menunjuk pukul 9. Takut kemalaman pulang dan takut dimarahi oleh ayahnya Nara. Maka mereka berdua meninggalkan cafe Konakito yang pengunjungnya masih terlihat ramai.
Melenggang pulang melintas jalanan menuju rumah. Motor Arif melaju kencang. Jalanan terlihat lengan hanya beberapa mobil dan motor yang lalu lalang. Tiba di perempatan lampu lalu lintas di simpang lima Bengkulu. Arif menghentikan laju motornya. Lampu merah menghentikannya.
Saat Arif dan Nara berhenti di simpang lima. Tampak seseorang yang mengendarai motor yang berhenti juga. Ia berada di belakang motor Arif tepat di belakangnya. Seseorang memperhatikan gerak gerik keduanya. Seseorang itu adalah Angga.
Arif dan Nara memakai helm tertutup. Tapi Angga amat mengenal motor si pengendara.
Angga yakin Arif yang mengendarai motor tersebut. Tapi siapa gadis yang ada di belakang punggung Arif.
Sepertinya Angga juga mengenal sosok yang ada di belakang punggung Arif. Tapi siapa? tidak mungkin. Gadis itu bukan Nara. Tapi mengapa penampilannya dari belakang terlihat seperti Nara. " Tidak mungkin ! " gumam Angga dalam hatinya.
Lampu merah telah berganti dengan lampu hijau. Arif bergegas mengendarai motornya. Melaju menuju rumah Nara tujuannya. Saat Angga berpikir sekian detik. Sekelebat motor Arif sudah hilang dari pandangan Angga.
"Ya sudahlah, " kenapa aku memikirkan Nara. Bukannya aku sudah memiliki Dina. Tapi kenapa Dina dan Nara memiliki wajah yang persis sama. Hanya Dina bertubuh lebih kecil dibanding Nara, " gumam Angga.
Teriakan klakson mobil dan motor yang saling bersahutan membuyarkan lamunan Angga. Dikemudikannya laju motornya menuju rumahnya.
Malam ini malam terakhir Angga dan Arif di Bengkulu. Keesokan harinya, pagi - pagi Arif dan Angga bertemu di bandara Fatmawati kota Bengkulu. Mereka pulang dengan pesawat terbang dan jam yang sama. Pulang ke Jakarta menuju kampus tercinta.
__ADS_1
Nara minta maaf pada Arif karena tak bisa mengantar kepergiannya ke Jakarta. Bukan oleh sebab apapun, tapi jadwal anak - anak Tk itu bentrok dengan keberangkatan Arif ke Jakarta. Hal ini dikarenakan anak - anak TK jauh jauh hari sudah merencanakan untuk study tour ke rumah Sukarno, rumah peninggalan mantan presiden RI yang pertama. Rumah yang menjadi saksi sejarah pengasingan beliau di Bengkulu. Dan menambati hatinya pada gadis Bengkulu, Ibu Fatmawati.
Hanya ucapan perpisahan melalui pesan Wa yang dikirim Nara pada Arif. Terlebih Arif tidak memaksa Nara untuk mengantarnya ke bandara. Arif berjanji akan sering menghubungi Nara. " Janji ya, jaga hatimu hanya untuk aku seorang ya ! " ucap Arif saat mau naik pesawat. Kemudian pesawat itu menerbangkan Arif, Angga dan para penumpang lain menuju ibu kota Jakarta.