CINTA NARA

CINTA NARA
3.60. BANTU AKU


__ADS_3

Dua hari berikutnya, Ardi dan Aura pulang bersama Yoga dan seluruh keluarganya yang akan berlibur ke kota asal mereka. Membawa tiga anak balita bersama-sama, sudah pasti akan penuh keriuhan dan kerepotan.


"Biar aku yang menggendong Aura, Di. Dia sudah terlihat lelah. Aku akan menidurkannya."


Ardi menyerahkan putri kecilnya kepada wanita anggun yang duduk di sebelahnya. Mereka masih menunggu Yoga dan keluarganya turun untuk berangkat bersama ke bandara.


Aura yang baru saja selesai bermain bersama Raga terlihat mulai terkantuk-kantuk. Dengan cekatan Alya segera memangku dalam posisi berbaring, lalu memberinya botol susu yang terisi penuh.


"Aku akan memasukkan koperku ke bagasi dulu." Alya mengangguk mengiyakan ucapan Ardi.


Wanita itu memperhatikan Ardi yang membawa koper dari kamar tamu lalu menariknya keluar untuk dijadikan satu dengan koper miliknya yang sudah ada di dalam mobil.


Kepulangan Arya dan Aura kali ini akan ditemani oleh Alya. Setelah makan malam yang penuh kejadian tak terduga itu, Alya memutuskan untuk memenuhi permintaan Ardi. Dia mengambil cuti bekerja selama tiga hari untuk ikut bersama rombongan Ardi dan Yoga yang akan pulang ke kota kelahiran mereka.


"Ayo, kita berangkat sekarang."


Yoga turun bersama Raga yang dia gandeng, sementara Nara menggendong Gana dalam dekapannya.


Alya turut berdiri dengan Aura yang sudah terlelap dalam dekapannya. Ardi yang baru saja masuk dengan sigap membuka tas perlengkapan Aura dan mengambil gendongan instan seperti yang sudah digunakan Nara.


Tak ingin bertindak melewati batasannya, lelaki itu meminta tolong pada Mbak Indah untuk membantu Alya mengenakan gendongan tersebut agar lebih nyaman membawa Aura bersamanya.


Setelah semuanya siap, mereka berangkat menuju bandara menggunakan dua mobil yang dikemudikan oleh Pak Budi dan Pak Arif.


"Alya ...." Panggilan Ardi membuat Alya memalingkan wajahnya ke arah lelaki yang duduk di sampingnya.


"Terima kasih atas kesediaanmu untuk pulang bersamaku. Aku sangat bahagia, Al."


Pancaran kebahagiaan terlihat jelas di wajah Ardi yang penuh senyuman. Dia menatap kekasih hatinya dengan pandangan penuh cinta. Tak ada lagi keraguan di hatinya untuk memilih wanita itu sebagai teman hidup selamanya.


Alya menunduk saat pandangan Ardi masih terus tertuju ke arahnya. Hatinya dipenuhi bunga-bunga bermekaran, bahagia tak terkira. Diam-diam dia tersenyum sendiri sambil memandangi cincin pemberian Ardi yang melingkar di jari manisnya.


Meskipun masih banyak ketakutan dan trauma yang belum pulih sepenuhnya, dia mencoba meyakinkan diri sendiri untuk berani melangkah ke depan. Dia tidak mau kehilangan kebahagiaannya untuk yang kedua kali.

__ADS_1


Tanpa dia duga sama sekali, tiba-tiba tangan Ardi terulur ke arah dadanya. Alya menatap lelaki itu dan sudah bersiap untuk menjauhkan diri. Tapi niatnya urung dilakukan tatkala menyadari arah tangan lelaki itu tidak seperti sangkaannya semula.


"Maaf, aku hanya ingin merapikan ini."


Tangan Ardi merapikan kain pasmina yang sebelumnya tertarik ke samping, sehingga bagian dadanya tersingkap dan tidak tertutupi hijab. Setelah seluruh bagian atas tubuhnya tertutupi lagi, lelaki itu segera menarik tangannya dan memandangi penampilan Alya.


"Sudah rapi dan tertutup semua, Al. Maaf jika Aura membuatmu menjadi sedikit berantakan."


Alya gugup dan menahan malu karena telah salah sangka kepada Ardi. Buru-buru dia menunduk untuk menyembunyikan wajah memerahnya. Dia kembali tersenyum tipis saat memperhatikan hijabnya yang telah ditata ulang oleh dokter yang penuh perhatian itu.


"Kamu semakin menawan setelah berhijab, Al," puji Ardi dengan tulus tanpa berkedip, menatap dari samping penampilan wanita cinta pertamanya tersebut.


Alya semakin merona mendengar pujian Ardi. Senyumnya semakin terlihat meskipun masih tertahan dan coba disembunyikan.


"Sejak kapan kamu mulai mengenakannya?" lanjut Ardi masih membahas tentang perubahan dari wanita kesayangannya itu.


"Sejak aku meminta talak darinya dan memulai proses perceraian kami." Senyuman yang sebelumnya masih tampak walau samar, kini sirna tak tersisa. Alya berubah murung, mengingat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dihadirkannya lagi dalam pikiran.


Dokter berhijab anggun itu menggeleng dan menampakkan senyuman untuk lelaki yang dia cintai tanpa henti. Dia memang harus membiasakan diri untuk mendapatkan banyak pertanyaan serupa.


"Tidak apa-apa. Aku memang harus belajar untuk lebih terbuka dan tidak menghindarinya lagi."


Alya sudah bertekad untuk sembuh dan bahagia. Dia akan melawan ketakutan dan rasa traumanya. Dia ingin sembuh dan dia harus sembuh.


"Bantu aku untuk menyembuhkan luka ini, Di. Aku harus mulai melakukan hal-hal yang disarankan oleh psikologku. Aku harus berani membuka diri dan berbagi dengan orang lain yang bisa kupercaya. Aku harus melepaskan beban di hatiku dan tidak lagi menyimpannya sendiri hingga menumpuk dan semakin melemahkan diriku."


Alya menatap Ardi dengan sendu. Dia mulai menaruh banyak harapan pada lelaki pilihan hatinya tersebut.


"Aku percaya padamu. Oleh karenanya aku ingin berbagi denganmu. Aku ingin menceritakan segalanya kepadamu. Aku juga butuh kamu untuk tempatku berkeluh-kesah. Aku butuh dirimu untuk menopang dan menguatkan diriku. Tolong bantu aku untuk melakukan semua itu."


Dengan penuh keyakinan Ardi mengangguk dan menatap Alya lekat-lekat. Dia ingin meyakinkan wanita itu untuk teguh dengan tekadnya dan tidak goyah oleh godaan yang bisa menariknya untuk kembali pasrah dan menyerah kalah.


"Pasti. Pasti, Alya! Kamu harus bisa dan kamu pasti bisa. Jangan pernah lupa bahwa ada aku yang akan selalu ada di sisimu. Ingat selalu keberadaanku di hatimu agar kamu tidak pernah merasa sendirian lagi."

__ADS_1


Alya mengikuti Ardi, mengangguk tanpa ragu. Dihiasi wajahnya dengan senyuman terindah, di antara air mata yang mulai mengalir membasahi kedua pipi.


Ya Allah, tetapkanlah keyakinanku pada apa yang sudah aku putuskan kali ini. Aku mohon, terus bimbing aku agar tidak bimbang dengan pilihan ini. Sungguh hatiku begitu lemah dan tak berdaya. Aku butuh dia bersamaku. Aku membutuhkan kehadirannya untuk menemani diriku dan menguatkan hatiku.


Ardi mengeluarkan saputangan dari saku celananya. Kemudian dengan penuh kasih dia menyeka air mata di pipi Alya dengan kain persegi kecil yang dia pegang. Wanita itu pasrah, sebab kedua tangannya masih terkunci untuk menopang tubuh mungil Aura di dalam dekapannya.


Alya memejamkan mata begitu saja saat merasakan saputangan itu mulai menyentuh permukaan wajahnya. Dia meresapi setiap gerakan lembut kain itu terusap di wajahnya, membersihkan tetesan air bening yang masih tertinggal di sana.


Wajahnya menghangat seketika saat tiba-tiba dia merasakan hembusan napas yang menerpa sebagian pipinya. Tanpa Alya ketahui, Ardi telah mendekatkan wajah tepat di samping telinganya.


Sejurus kemudian, didengarnya sebuah kalimat yang diucapkan dengan lirih namun tegas dan sangat jelas.


"Aku mencintaimu, Alya. Aku merindukan dirimu yang dulu."


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2