CINTA NARA

CINTA NARA
BONUS KISAH 4 : KAMU MILIKKU SELAMANYA


__ADS_3

"Aura di mana, Di?" tanya Alya yang baru saja berganti pakaian tidur.


Dilihatnya Ardi masuk ke kamar tanpa sang putri. Alya menatapnya dengan heran karena tak biasanya Ardi meninggalkan Aura bersama Mbak Mia saat malam hari di waktu tidurnya.


Meski sudah disiapkan kamar sendiri oleh Ardi, tapi selama ini Aura selalu tidur malam bersama mereka. Alya yang selalu merasa tidak tega jika Aura tidur terpisah mulai menunjukkan wajah khawatirnya.


Berniat ingin mengambil kembali sang putri dari kamarnya, Alya hendak mengenakan hijabnya tapi dicegah oleh Ardi. Lelaki itu menahan tangannya dengan lembut lalu menarik tubuh Alya ke dalam pelukannya.


"Biarkan Aura di sana, Sayang. Sesekali aku juga ingin menikmati waktu hanya berdua denganmu. Seperti ini ...." Ardi berucap pelan di telinga Alya, sementara tubuh mereka sudah menyatu dalam satu pelukan hangat.


Alya memejamkan mata seraya menyandarkan kepala di dada sang suami. Meski masih dibayangi ketakutan, nyatanya kenyamanan lebih mendominasi perasaannya saat ini. Dia bahagia. Itu yang dirasakannya.


Alya mempererat pelukannya, seolah tak ingin lagi kehilangan sosok yang pernah dia tinggalkan demi menikah dengan pilihan orang tuanya. Lelaki lain yang justru membuatnya terluka dan terpuruk dalam mimpi buruk berkepanjangan.


Satu ciuman lembut terasa di puncak kepala Alya. Hatinya bergetar indah. Seluruh tubuhnya menghangat disertai desiran-desiran halus yang membuat dirinya kian terbenam dalam kepasrahan. Berserah pada sang pemilik utuh hati dan jiwa raganya sekarang.


Dirasa sang istri telah terbuai oleh suasana yang sengaja dciptakannya malam ini, Ardi memberanikan diri untuk mulai bertindak lebih banyak. Dia tak ingin kehilangan kesempatan emas malam ini.


"Aku mencintaimu, Sayang.''


Bisikan lirih Ardi diikuti gerakan lembut tangan lelaki itu di punggungnya, membuat Alya tersentak dan kembali dilanda kegugupan. Bayangan buruk peristiwa kelam yang dulu, tiba-tiba melintasi pikirannya yang tengah terlena dalam bahagia.


Tubuhnya menegang dan dadanya mulai berdebar kencang. Pelukannya mengendur seiring tubuh yang dia tarik mundur. Wanita itu membuka mata dan memberanikan diri menatap wajah sang suami yang sudah terbiasa dengan penolakan tak sengaja darinya.


Ardi tak melepaskan pelukannya kendati Alya memberi jarak di antara tubuh mereka. Melihat Alya telah menatapnya dengan pandangan sayu, dia segera menampakkan senyuman guna menenangkan dan mengembalikan rasa nyaman wanita kesayangannya.


Dua pasang mata itu beradu pandang. Saling mengunci dengan pandangan yang semakin dalam dan lekat. Ardi bisa melihat kilatan hasrat di mata indah Alya, meskipun ada pancaran ketakutan yang tak kalah tampaknya.


"Jangan takut, Sayang."

__ADS_1


Satu kecupan hangat mendarat lembut di kening Alya. Seketika dia memejamkan mata dan meresapinya hingga ke lubuk sanubari.


Sesaat kemudian dia merasakan satu tangan Ardi berpindah menyentuh wajahnya. Jemari lelaki itu bergerak pelan mengelus wajah halus nan ayu Alya yang kian menghangat dan bersemburat merah.


Jemari Ardi berhenti bergerak tepat di atas bibir Alya yang selama ini selalu menggoda hasratnya. Ada yang semakin bergejolak di dadanya. Tak tertahankan lagi dan tak ingin ditunda lagi.


Dia merasa yakin bahwa Alya tidak akan menolaknya. Meski mungkin bayang-bayang masa lalu itu masih ada, tapi Ardi bertekad untuk membuat Alya melupakan semuanya. Hanya cinta dan kenangan mereka yang akan Alya ingat, bukan hal buruk lainnya.


Merasakan jemari Ardi masih berada di atas bibirnya, Alya memberanikan diri untuk membuka mata. Pandangan mereka kembali beradu dengan debar-debar bergelenyar yang semakin meninggikan hasrat yang sudah tak ingin lagi ditawar.


"Alya ...." Bibir Ardi bergetar saat mengucapkan nama wanita di hadapannya. Wanita cinta pertama yang akhirnya kembali menjadi miliknya setelah perpisahan memutuskan jalinan kisah kasih masa lalu mereka.


"Sayang ... bolehkah? Bolehkah aku memintanya sekarang?" Parau suara lelaki itu semakin menunjukkan betapa tingginya gairah yang tengah dia rasakan dan ingin segera dituntaskan.


Tubuh Alya bergetar seketika. Permintaan sang suami adalah sebuah titah baginya. Dia tidak ingin menolak dan mengecewakan lelaki yang sudah bersabar menunggunya selama hampir tiga bulan ini. Akan tetapi, dia masih saja ragu dan tidak berani memulai meski hatinya pun menginginkan.


Kelebat-kelebat peristiwa malam pertama dengan mantan suami kembali melemahkan hatinya. Ucapan dan perilaku kasar Riko yang telah merenggut paksa kesuciannya dengan penuh amarah dan kebencian, membuat Alya trauma hingga saat ini. Setiap kali melakukan, dia merasakannya bukan sebagai kewajiban seorang istri, melainkan hanya sebagai budak pemuas nafsu belaka.


Akhirnya hanya kalimat itu yang terucap lirih dari bibir Alya yang masih tersentuh jemari Ardi. Ada rindu yang menggebu di hatinya sejak lama. Namun, lagi-lagi semua ketakutannya menghalangi hasrat yang mulai tak terbendung.


"Aku hanya butuh jawaban iya darimu dan aku pastikan semuanya akan baik-baik saja. Hanya ada aku dan kamu di sini, Sayang. Hanya kita!"


Ardi melepaskan jemarinya dari bibir manis Alya. Dia menunggu dengan kedua tangan yang kembali mendekap erat tubuh istrinya. Malam ini dia ingin sedikit egois. Meminta tanpa mau jawaban tidak. Memohon tanpa menerima penolakan.


"Aku percaya kamu pasti bisa, Sayang. Yakinkan hatimu sekali lagi dan setelah itu ... biarkan semua mengalir apa-adanya."


Embusan napas Ardi yang menerpa permukaan wajah membuat Alya kehilangan kendali atas hatinya. Dia tak ingin berpikir lagi. Meski ketakutan itu masih ada, wanita itu memberanikan diri untuk memulainya.


Satu anggukan kepala dari Alya adalah segala kebahagiaan bagi Ardi. Walau masih ada kilatan ragu di mata sang istri, lelaki itu membalasnya dengan senyuman demi menenangkan Alya.

__ADS_1


"Katakan kau mencintaiku. Aku ingin mendengarnya, Alya." Tubuh keduanya semakin tegang dan menghangat. Ardi semakin menuntut dengan lembut. Dia mencoba menciptakan suasana yang syahdu dan penuh cinta.


"I-Iya. Aku mencintaimu, Di." Suara lembut itu bergetar. Jawaban itu terucap dengan gugup. Alya telah pasrah, apa pun yang terjadi. Dia hanya ingin membahagiakan suaminya.


"Aku ... aku tidak ingin kehilangan kamu lagi," lanjut Alya tanpa melepaskan pandangannya dari lelaki yang sangat dia cintai.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Kamu adalah istriku. Kamu milikku selamanya!" tegas Ardi.


Di saat Alya mulai luluh dan pasrah, kedua tangannya menangkup wajah ayu Alya dan perlahan memajukan wajahnya hingga tak lagi berjarak.


Alya menutup mata dengan segera dan meremas kedua sisi pinggang Ardi, saat dirasakan bibir mereka telah menyatu dan saling berbagi kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh keduanya.


.


.


.


Masih ada banyak Bonus Kisah terindah di sini. Tetap favoritkan dan tunggu kisah tersimpan yang belum terungkapkan sebelumnya...👍🙏


.


Mohon doanya selalu, agar proses revisi naskah untuk penerbitan buku cetak CINTA NARA dimudahkan dan selesai tepat waktu, terima kasih...🙏💜


.


Cek postingan di FB dan IG kami. Ada info karya terbaru di sana 🙏💜


FB : Aisha Bella

__ADS_1


IG : @aishabella02


__ADS_2