CINTA NARA

CINTA NARA
3.22. MEYAKINI PERASAAN


__ADS_3

"Lantas di mana laki-laki itu sekarang?"


Ardi sudah selesai membuka semua laporan yang dimiliki Yoga tentang Alya. Dia kembalikan laptop pada sang pemilik yang kemudian mematikan lalu memasukkannya kembali ke dalam tas kerja.


"Masih mendekam di balik jeruji penjara. Aku membuat laporan tentang penganiayaannya pada Dokter Alya. Syukurlah waktu itu, Dokter Alya akhirnya bersedia menandatangani laporan tersebut sehingga kasusnya bisa segera diproses secara hukum dan diputuskan dengan cepat."


Ardi bisa bernapas sedikit lega kali ini. Meskipun di dalam hati dia masih belum bisa menerima semua perlakuan buruk yang diberikan oleh lelaki bernama Riko itu terhadap wanita masa lalunya yang sangat dia cintai.


"Maafkan aku, Al. Ternyata keputusanku dulu adalah sebuah kesalahan yang harus kamu tanggung dalam derita selama bertahun-tahun lamanya, tanpa aku ketahui sama sekali."


Ardi merasa bersalah dan mulai menyalahkan dirinya sendiri. Sekalipun tidak dilakukan secara sengaja, akan tetapi akibat dari perpisahan yang dia relakan waktu itu nyatanya justru memberikan kesedihan bagi hidup Alya, bukan kebahagaiaan sebagaimana yang diharapkannya semula.


"Berapa lama lelaki itu akan menjalani hukumannya? Seharusnya dia disiksa terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam sel tahanan. Seharusnya dia juga merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh Alya sebagai akibat dari perbuatan tak beradabnya tersebut!"


Ardi terus menumpahkan emosinya dengan beberapa umpatan kecil yang terus terlontar dari mulutnya. Seandainya Alya mendengarnya, dia yakin wanita anggun itu pasti akan melarang dan mengingatkannya.


"Seharusnya bukan hanya umpatan dan sumpah serapah yang aku lontarkan kepadanya. Jika saja kami bisa bertemu, maka kupastikan lelaki gila juga akan menerima pukulan dan siksaan yang sama seperti yang sudah dia lakukan pada Alya selama ini!"


Yoga tersenyum tipis mendengar luapan kemarahan Ardi yang sangat jelas terlihat tidak terima dengan semua kenyataan yang diketahuinya tentang Alya.


"Sayangnya hanya sebentar, satu setengah tahun termasuk masa tahanan sebelum vonis hakim dijatuhkan. Dokter Alya melaporkannya atas kejadian yang terakhir saja. Untuk yang lainnya, dia mengatakan jika ingin melupakan semuanya, asalkan lelaki itu tidak lagi mengusik kehidupannya."


Ardi kembali meluapkan kekesalannya dengan umpatan yang sama seperti sebelumnya. Kedua tangannya terkepal erat dan saling beradu di depan dada.


"Kemarin aku sudah meminta Pram untuk memantaunya kembali, karena dari kabar yang aku dengar, dia mendapatkan potongan beberapa bulan masa hukuman karena berperilaku baik selama berada di tahanan. Bisa jadi dia sudah bebas atau akan bebas dalam waktu dekat."


Lagi-lagi Ardi mengeluarkan umpatannya meskipun akhirnya dia menyesal dan terus beristighfar. Yoga memakluminya karena dia tahu bagaimana perasaan Ardi terhadap Alya.


Siapa pun orangnya, pasti mereka tidak akan rela jika wanita yang dicintainya diperlakukan tidak baik bahkan sudah sangat keterlaluan dan melampaui batas oleh lelaki lain.

__ADS_1


"Sungguh aku ingin bertemu dengan lelaki itu. Aku akan membuat perhitungan dengannya!" kata Ardi berapi-api.


"Atas dasar apa kamu ingin membuat perhitungan dengan lelaki itu? Siapa kamu dan apa hakmu untuk membela Dokter Alya?" tanya Yoga dengan tenang namun mampu membuat Ardi terdiam seketika dan menahan ucapannya.


"Aku ...."


Ardi bungkam, suaranya tercekat di tenggorokan. Pertanyaan dari Yoga menyadarkannya kembali, bahwa saat ini dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Alya, selain hubungan pertemanan biasa. Saat ini, dia bukan siapa-siapa bagi Alya. Dan benar kata Yoga, dia tidak berhak membalas lelaki itu dengan serta-merta hanya dengan status sebagai seorang teman.


"Jangan gegabah dan jangan terpancing emosi tanpa bisa mengendalikan akal sehatmu. Aku mengerti perasaanmu, tapi pikirkan juga perasaan Dokter Alya jika kamu sampai bertindak nekat seperti itu."


Ardi mencerna kata-kata Yoga dalam diam. Masih menahan luapan kemarahan di hatinya, dia mencoba meredam emosi dan terus beristighfar.


Diambilnya botol minuman yang masih berisi setengah, lalu diteguknya sampai tandas.


"Masih ada dua hal lagi yang perlu kamu tahu tentang Dokter Alya, jika kamu berniat untuk menyatukan perasaan kalian."


Belum habis keterkejutannya atas kenyataaan yang baru saja diketahuinya tentang Alya, ternyata Yoga masih menyimpan hal lain yang dirahasiakannya.


"Bukan mengabaikan, karena kamu memang harus mengutamakan keluargamu. Bunga yang kamu cintai, juga putri yang sangat kamu sayangi. Merekalah prioritas utama kamu."


Yoga mencoba menjelaskan pada Ardi supaya lelaki itu tidak salah paham dengan tindakannya menyembunyikan kebenaran tentang Alya.


"Karena itulah, aku menyembunyikan semua ini darimu. Aku khawatir kamu tidak bisa berpikir jernih dan justru salah mengambil sikap yang akan mengakibatkan masalah dalam rumah tanggamu."


Ardi mengangguk tanpa sepatah kata. Dia bisa mengerti alasan sahabat kecilnya tidak memberitahu langsung saat mengetahuinya dulu.


"Katakan padaku, semua hal yang belum aku ketahui tentang Alya, Ga."


"Apa kamu yakin? Bagaimana dengan hatimu? Ke mana kamu akan membawa hubungan kalian setelah ini?" tanya Yoga mencoba untuk memastikan lagi, meskipun dia sendiri sudah bisa melihat pancaran cinta pada sepasang mata teduh lelaki itu.

__ADS_1


Ardi menatap Yoga dengan pandangan yang telah mulai sendu, tak lagi berapi-api seperti sebelumnya.


"Aku akan berusaha agar dia mau membuka hatinya untukku. Aku tidak akan membiarkan Alya menderita lagi. Aku akan menjaga dan melindunginya agar tidak ada lagi siapa pun itu menyakiti hatinya, jiwa dan raganya!" jawab Ardi dengan mantap dan penuh keyakinan.


Entah apa yang akan dihadapinya ke depan nanti, tapi setelah mengetahui bagaimana kehidupan yang Alya jalani selepas mereka berpisah, dokter duda itu tidak ingin lagi melepaskan Alya.


Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang dulu pernah dilakukannya dengan membiarkan Alya menjadi milik lelaki lain. Sekalipun itu sama sekali bukan menjadi kehendak mereka berdua, melainkan atas dasar keterpaksaan demi membahagiakan keluarganya.


Sekarang dia mulai memahami perasaannya pada Alya. Jika sebelumnya dia masih berusaha menepikan perasaan indah yang mulai menggetarkan hatinya lagi seperti dulu, maka tidak lagi untuk saat ini.


Sekarang dia sudah meyakini perasaannya pada Alya dan tidak ingin kehilangan wanita itu untuk kedua kalinya. Lelaki satu putri itu akan berusaha untuk memenangkan hati Alya seperti dulu agar mereka bisa menyatukan kembali cinta yang telah lama terpisah karena suratan takdir.


"Bukan aku ingin melupakanmu, Bungaku. Akan tetapi seperti katamu dulu, aku harus bisa melanjutkan hidup bersama Aura, putri kesayangan kita. Dan kini aku percaya bahwa semua yang pernah kamu sampaikan waktu itu adalah untuk kebaikan kami, aku dan Aura."


"Selamanya kamu akan tetap menjadi Bungaku dan selalu menempati ruang tersendiri di lubuk sanubariku. Semua cintamu, kasih sayang dan perhatianmu untuk diriku dan Aura, akan selalu menyertai kami dan tersimpan indah di tempat terbaiknya di hati kami."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2