CINTA NARA

CINTA NARA
2.120. DI UJUNG KISAH


__ADS_3

"Mas, aku harap kamu akan mengabulkan permintaan terakhirku ini."


Ardi masih terus terdiam tanpa ingin menjawab permintaan Bunga. Di hatinya masih dipenuhi perasaan was-was akan kondisi istrinya.


"Selama hidup bersamamu, aku sudah mendapatkan semuanya, Mas. Kebahagiaanku sudah lengkap aku miliki tanpa kurang sedikit pun."


"Cintamu, cinta dari keluargamu, seorang putri jelita buah hati kita, juga kehidupan bahagia bersamamu dan keluarga kecil kita. Aku sudah mendapatkan semuanya dan merasakan semuanya, lebih dari harapanku selama ini."


Bunga tersenyum dan mencium tangan Ardi yang digenggamnya.


"Sekarang waktunya kamu untuk membahagiakan dia, orang yang seharusnya lebih dulu bahagia bersamamu. Orang yang tempatnya memang seharusnya ada di sisimu dan menjadi pendampingmu."


"Dia yang seharusnya berbahagia sejak dulu, namun memilih untuk mengabaikan perasaannya demi kebahagiaan orang-orang di sekitarnya."


Ardi menatap Bunga, semakin bingung dengan maksud ucapan wanita kesayangannya itu.


"Selama ini, dia berkorban sangat banyak demi keluarganya, demi melihat senyuman kedua orangtuanya. Dia rela melepaskan cinta di hatinya dan menggantinya dengan pengorbanan besar yang membuat hidupnya tersiksa dan penuh luka. Dan dia memendam semua kesedihannya seorang diri demi mewujudkan kebahagiaan keluarganya."


Bunga menatap Ardi yang masih terus menyimak ceritanya. Lelaki itu terlihat bingung dengan penggalan cerita sang istri yang terakhir.


"Berkorban? Tersiksa? Penuh luka? Apa maksud dari semua itu ...??"


"Dia juga sudah berkorban sangat besar dan luar biasa demi keutuhan dan kebahagiaan keluarga kita. Dia menolong dan melahirkan putri kita dengan tulus hati, bahkan dia juga memberikan kehidupan lebih lama untukku dengan banyak darahnya, sehingga aku masih bisa berkumpul lebih lama bersama kamu dan putri kita. Dia adalah malaikat bagi keluarga kecil kita, Mas."


Untuk sesaat Ardi terbawa cerita istrinya dan membayangkan peristiwa hampir setahun silam, pada hari di mana Bunga harus segera melahirkan akibat perdarahan yang dialaminya dan terus berlanjut hingga usai proses persalinannya.


Nyawa Bunga selamat dengan bantuan dua kantong darah dari Alya yang membuat sang istri bisa kembali bersama dirinya dan keluarga kecil mereka.


"Aku mohon, jaga dia seperti kamu menjagaku selama ini. Dan soal cinta, rasannya tidak perlu aku memintanya kepadamu, karena kamu sudah pasti tahu bagaimana seharusnya mencintai dan menyayanginya."


"Jangan mencintainya seperti kamu mencintaiku. Tapi cintai dia dengan caramu sendiri. Cara yang sama seperti yang dulu pernah kamu lakukan untuk dirinya."


"Cintai dia dengan setulus hatimu. Aku tahu kamu tidak pernah berhenti mencintainya, sama halnya dengan dirinya yang sedetik pun tidak pernah berhenti mencintaimu. Aku tahu perasaan kalian selalu bertautan tanpa kalian menyadarinya satu sama lain."


Ardi memejamkan matanya dan menahan sesak di dadanya. Dia merasa bersalah kepada Bunga karena diam-diam pernah memikirkan wanita lain meskipun hanya sebatas mengenang masa lalu.

__ADS_1


"Jangan merasa bersalah kepadaku, Mas. Aku tidak pernah merasa kekurangan akan cinta dan kasih sayangmu, meskipun kamu masih menyimpan kenanganmu bersamanya."


Bunga seolah menjawab apa yang baru saja dirasakan oleh suaminya di dalam hati.


"Itu adalah hal yang wajar bagiku, sebagaimana aku juga menyimpan kisah masa laluku dan sesekali pernah mengenangnya. Lagipula dari awal kamu dan aku telah saling jujur dan menceritakan semua masa lalu kita."


Tak ada yang bisa lelaki itu lakukan, selain mencium kening istrinya dan menumpahkan segenap perasaannya dengan tulus. Dia bersyukur memiliki wanita itu dalam hidupnya, walaupun sekarang dia harus menyiapkan hati untuk melepaskan kepergiannya.


"Cinta kalian selalu terikat erat meskipun terpisah jarak dan waktu yang membentang sekian lama. Cinta kalian sangat kuat hingga kekuatan lain apa pun itu tidak pernah sanggup untuk menghilangkan perasaan cinta itu dari hati kalian."


"Cinta kalian sangat istimewa dan luar biasa. Jangan sia-siakan dia lagi. Jangan sakiti dia lagi. Dia berhak bahagia setelah segala yang dia korbankan untuk semua orang."


"Dia tidak butuh banyak kebahagiaan. Dia hanya butuh satu kebahagiaan saja untuk membuat hidupnya kembali bersinar dan ceria seperti dulu lagi. Dan satu kebahagiaan itu adalah kamu, Mas. Hanya kamu satu-satunya lelaki yang bisa membuatnya bahagia."


Pikirannya semakin kacau dan banyak pertanyaan di hati Ardi. Lelaki itu benar-benar tidak bisa memahami maksud dari semua ucapan istrinya, meskipun sebagian di antaranya dia akui kebenarannya.


"Bagaimana mungkin jika akulah kebahagiaannya? Bagaimana dengan suaminya? Bagaimana dengan pernikahannya?"


"Mas, aku mengatakan seperti ini bukan karena aku menyerah untuk memperjuangkan cinta kita, tetapi karena waktuku memang telah habis hanya sampai di sini."


"Jika seandainya aku masih hidup, aku pasti akan tetap bersamamu dan mempertahankanmu, Mas. Tidak akan kubiarkan siapa pun merebutmu dariku, selama aku masih bernyawa dan ada di sampingmu."


"Aku mencintaimu, Sayang. Aku ingin bersamamu selamanya," ucap Ardi dengan suara bergetar menahan tangisan yang sudah mendesak ingin keluar.


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas. Tetapi selamanya kita sudah berakhir sampai di sini. Selamanya kita hanya Allah ijinkan sampai di titik akhir saat ini."


"Dan itu artinya, kita sudah sampai di ujung kisah kita berdua. Kisah cinta yang manis dan penuh keindahan, tanpa satu pun pahit dan getir di sepanjang perjalanan cerita sempurna kita."


Tangisan tak lagi bisa dibendung oleh Ardi yang sedari tadi menahannya sekuat tenaga. Dipeluknya sang istri dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi. Isak tangisnya pecah, menyatu dengan air mata Bunga yang juga telah menangis bersamanya.


.


.


.

__ADS_1


Seluruh keluarga besar Ardi dan Bunga telah berkumpul di dalam ruang perawatan wanita itu. Masih ada pula di sana, Nara dan Yoga bersama Alya dan Rendy, yang berdiri di luar lingkaran keluarga di sekeliling pembaringan.


"Aku ingin tidur bersama Aura, Mas."


Dengan segera Ardi mengambil sang putri dari gendongan mamanya dan membaringkannya di samping Bunga yang menyambutnya dengan senyuman bahagia, yang membuat wajahnya menjadi berseri.


"Aku juga ingin ditemani olehmu, Mas. Aku ingin kita tidur bertiga di sini, seperti yang selalu kita lakukan di rumah."


Bunga memandangi satu per satu keluarganya dan berlanjut kepada keempat tamu istimewanya. Wanita itu memberikan senyuman terindahnya kepada semua orang yang menyayangi dan mencintainya.


Semua orang beriringan keluar dari ruangan, meninggalkan satu keluarga kecil yang ingin menikmati kebersamaan bertiga mereka.


Bunga mendekap Aura di sampingnya, setelah sebelumnya memeluk dan menciuminya dibantu oleh Ardi yang memegangi sang putri.


Ardi ikut naik dan berbaring bersama istri dan putri kesayangan mereka, dengan Aura yang semakin merapat di samping tubuh Bunga, terapit oleh kedua orangtuanya.


"Beristirahatlah, Sayang. Kami ada di sini bersamamu."


Ardi melabuhkan satu ciuman hangat nan lembut di kening Bunga, membuat keduanya memejamkan mata dan meresapi ciuman yang terasa sangat berbeda di dalam hati.


"Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintai kalian berdua."


Perlahan Bunga memejamkan sepasang mata indahnya, dengan bibir manisnya yang terus mengulas senyuman bahagia.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2