
Alya memutuskan untuk mencari rumah kontrakan baru yang lebih dekat dengan rumah sakit tempatnya mengabdi. Tidak terlalu dekat namun lingkungannya jauh lebih nyaman daripada lokasi sebelumnya.
Dia juga berencana untuk menambah jam prakteknya di luar jadwal rutinnya saat ini, guna mengisi sela waktunya yang masih kosong.
Ke depannya, dia ingin bisa segera mewujudkan cita-cita keduanya setelah menjadi dokter spesialis kandungan dan kebidanan, yaitu membuka dan mengelola klinik miliknya sendiri.
Karena itu dia bertekad untuk lebih giat bekerja agar pundi-pundi tabungannya terisi lebih cepat lagi, setelah sekian lama terkuras habis untuk menuruti keinginan Riko yang tak pernah henti mengganggu kehidupannya.
"Permisi, Dok. Direktur Rumah Sakit ingin bertemu. Dokter Alya sudah ditunggu di ruangannya"
Seorang perawat masuk ke ruang praktek Alya dan menyampaikan sebuah pesan untuknya.
"Baiklah. Saya akan segera datang menghadap. Terima kasih."
Alya melepaskan jas putih kebanggaannya karena jam praktek pertama telah usai dan akan berlanjut pada praktek kedua sore nanti.
Setelah merapikan penampilan dan hijab sederhananya, wanita anggun yang selalu penuh senyuman itu bergegas keluar dan berjalan menuju ruangan sang direktur.
Menuju lantai berikutnya dengan berjalan kaki dan menaiki satu per satu anak tangga dengan hati-hati, akhirnya Alya sampai di depan ruangan Dokter Hanan.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, Alya membuka pintu dan memberi salam hormat kepada dokter senior yang sangat diseganinya tersebut.
Dilihatnya pula di sofa, duduk seorang wanita dengan penampilan sekelas Dokte Hanan, yang tak lain adalah istri tercinta beliau.
"Selamat siang, Dokter Hanan dan Ibu." Sapa Alya ramah lalu menghampiri istri sang dokter senior dan menyalaminya dengan takdzim.
Dokter Hanan berdiri dan meninggalkan meja kuasanya, dan bergabung bersama Alya dan istrinya di sofa.
"Maaf menganggu waktu Anda, karena kami ingin menyampaikan sesuatu atas permintaan istri saya. Ma, sampaikan saja sekarang!" pinta sang dokter senior pada sang istri dengan lembut.
Namun istrinya tetap meminta Dokter Hanan yang menyampaikannya kepada Alya, membuat Alya tersenyum dan menunggu mereka berdua berdebat kecil dengan sikap yang mesra di hadapannya.
"Ehhemm...! Begini, Dokter Alya. Beberapa minggu yang lalu, Dokter Irfan yang sebelumnya bertanggung jawab di Klinik Ibu dan Anak milik kami, mengundurkan diri karena beliau akan pindah tugas ke luar kota."
Alya mengangguk dan menunggu sang direktur melanjutkan ucapannya.
"Saya dan istri telah sepakat untuk meminta Dokter Alya menjadi penanggung jawab baru di klinik kami sekaligus membuka praktek tambahan di sana."
__ADS_1
Wajah Alya seketika berubah tegang karena gugup mendengar tawaran emas dari dokter senior tersebut.
"Dok ... ini, emm ... maaf, saya terlalu terkejut dengan semua ini." Kedua tangan Alya tertangkup di depan dadanya, sembari menatap sepasang suami-istri paruh baya di hadapannya dengan pandangan masih tak percaya.
"Kami tahu Dokter Alya mempunyai cita-cita memiliki klinik sendiri seperti suami saya. Karena itulah kami memutuskan untuk memilih Dokter Alya sebagai pengganti Dokter Irfan guna melanjutkan tanggung jawab dalam mengelola dan mengembangkan klinik tersebut."
Sepasang mata bulat Alya mulai berkaca-kaca, dengan sikap yang masih gugup sedari tadi.
"Anda adalah seorang dokter kandungan dengan banyak pengalaman dan prestasi yang membanggakan. Selagi menunggu waktu hingga Anda memiliki klinik impian Anda sendiri, bersediakah Dokter Alya bergabung bersama kami?"
Dokter Hanan dan sang istri menunggu jawaban Alya dengan tenang. Mereka yakin Alya tidak akan menolak tawaran tersebut.
Tanpa berpikir lagi, Alya menganggukkan kepala dan menerima tawaran luar biasa yang ditujukan kepadanya dengan tiba-tiba. Tanpa pernah disangkanya apalagi dia bayangkan sebelumnya.
.
.
.
"Mas, aku sudah siap jika kita kembali ke sana. Kamu juga sudah terlalu lama meninggalkan Raga Properland yang masih membutuhkan tangan dinginmu secara langsung, agar bisa berkembang lebih pesat dari sebelumnya."
"Aku juga sedang memikirkannya, Sayang. Aku menunggu kondisimu benar-benar pulih dan kuat dulu."
Yoga merenggangkan pelukannya dan memandangi wajah polos istrinya yang baru saja selesai mandi sore. Terlihat segar bersemburat merah.
"Aku sudah siap, Mas. Di sana aku bisa melanjutkan konsultasiku dengan Dokter Alya."
Yoga mengangguk dan tersenyum tanpa mengalihkan perhatiannya dari kecantikan alami bidadari kesayangannya.
"Jadi, kapan kita kembali?" Yoga membelai pipi ranum Nara lalu mencubitnya dengan pelan dan gemas.
"Besok? Atau lusa? Kapan pun aku siap, Mas. Asalkan kita selalu bersama seperti ini."
Nara mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh sang suami, lalu berjinjit dan mencium kedua pipi, kening, ujung hidung dan sekilas bibir Yoga secara lembut dan berurutan. Sama persis seperti yang sering dilakukannya pada Raga.
Tawanya terlepas saat melihat reaksi kaget suaminya atas tingkah spontannya.
__ADS_1
"Apakah aku sangat megggemaskan seperti Raga, humm ...?" Yoga mencubit ujung hidung Nara sebagai balasannya dan wanita itu pun tertawa semakin lepas.
Di dalam hatinya Yoga merasa bahagia melihat senyuman dan tawa lepas Nara yang sempat sirna beberapa minggu yang lalu karena kehilangan yang dialaminya lagi.
"Teruslah tertawa lepas seperti ini, Sayang. Aku rela menjadi bahan tertawaanmu setiap saat, asalkan itu bisa membuatmu selalu bahagia."
Yoga merubah posisi berdirinya menjadi di belakang Nara. Didekapnya dengan erat tubuh sang istri sambil memandangi deraian air hujan yang masih turun membasahi bumi.
Angin basah semakin kencang berhembus menerpa tubuh mereka berdua. Yoga semakin erat merengkuh tubuh Nara yang hanya mengenakan dress longgar lengan pendek berbahan tipis.
"Dingin sekali?" tanya lelaki setengah berbisik tepat di samping telinga istrinya, dengan kepala yang telah bersandar manja di bahu wanita tercintanya.
"Menjadi sangat hangat karena dirimu, Mas."
Kedua manik mata bening Nara menatap ke samping dan beradu pandang dengan sepasang netra teduh Yoga yang hangat menatapnya tiada henti.
Aliran darah mereka berdesir halus menciptakan kehangatan di ruang hati keduanya, menelusupkan getaran yang tak kalah indahnya di relung yang terdalam.
Dengan tangan kiri yang tetap menggenggam erat lengan Yoga yang melingkari tubuhnya, tangan kanan Nara terulur ke samping wajahnya dan mulai mengusapi pipi sang suami.
Seketika Yoga memejamkan mata, meresapi setiap sentuhan lembut jemari tangan Nara yang bermain di permukaan wajahnya.
Nara tersenyum memperhatikan suaminya yang masih menutup rapat matanya dan membiarkan tangannya terus bermain di wajah yang telah memerah dan menghangat tersebut.
Dan saat jemarinya berhenti di bibir yang kian menggoda itu, Yoga membuat gerakan pelan ke arah depan, memberikan kecupan-kecupan cinta yang membuat Nara turut memejamkan matanya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.