CINTA NARA

CINTA NARA
2.112. TAKUT KEHILANGAN


__ADS_3

Satu minggu kemudian, kondisi fisik dan organ gerak Yoga sudah berfungsi normal kembali, sehingga dokter mengijinkan lelaki itu untuk pulang dan menjalani pemulihan lanjutan di rumah.


"Alhamdulillah ..., akhirnya bisa pulang dan kembali ke kamar kita, Sayang."


Yoga masuk ke dalam kamar dengan menggendong Raga yang sejak di dalam mobil sudah tertidur nyenyak. Nara mengikuti di belakangnya dengan membawa berkas kesehatan milik suaminya.


"Malam ini kita akan tidur bersama di sini. Kita bertiga. Ummph ...!!!"


Sangat pelan dan hati-hati, Yoga membaringkan putra kesayangannya tepat di bagian tengah tempat tidur. Lalu diberikannya ciuman di kedua pipi tomat Raga dan berakhir di keningnya.


"Kita berempat, Mas. Bersama adiknya Raga."


Nara mendekati tempat tidur dan duduk memperhatikan kedua lelaki kebanggaannya yang berbaring bersama. Yoga menopang wajahnya dengan satu tangan sembari terus memandangi pangeran kecilnya yang semakin terlelap di sampingnya.


Yoga menggeser tubuhnya ke arah Nara lalu merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri, tepat berhadapan dengan perut bulat Nara yang menggemaskan.


Nara menunduk dan membelai wajah suaminya yang sudah menghadap ke samping untuk menyapa dan menciumi calon anak keduanya di dalam kandungan istrinya.


"Aku mencintai kalian semua. Aku sangat senang kita bisa b0erkumpul lagi seperti ini."


Lelaki itu masih terus memberikan ciuman-ciuman kecil pada permukaan perut Nara yang besar tersebut. Tangannya ikut meraba, mencari-cari gerakan kecil dari dalam yang sangat dirindukannya.


Dan benar saja, tiba-tiba wajah Yoga merapat di perut Nara tatkala tangannya merasakan sebuah tendangan yang dinantikannya.


"Dia bergerak, Sayang. Dia menendang."


Nara tersenyum dan terus mengusapi kepala suaminya yang sudah semakin rapat dengan ujung perutnya. Dia pun merasakan gerakan-gerakan kecil yang terus-menerus menekan dinding rahimnya hingga terasa di permukaan perut.


"Sekarang dia sudah semakin lincah dan sering menyapa, Mas. Kamu pasti akan sering merasakannya nanti. Karena setiap kita berdekatan, dia selalu bergerak lebih cepat dan lebih keras."


Yoga masih terus menikmati sapaan calon buah hatinya dari dalam perut Nara. Tanpa sadar lelaki itu terus menampakkan senyuman bahagia.


"Benarkah itu?"

__ADS_1


"Iya, Mas. Saat kamu masih terbaring diam di rumah sakit, setiap kali aku datang dan menemanimu, dia pasti selalu menunjukkan gerakannya dengan aktif."


Yoga mendengarkan Nara tanpa menghentikan aktivitasnya yang terus menguasai perut istrinya dan bermain-main dengan calon anak keduanya.


"Aku selalu membawa tanganmu untuk menyentuh perutku dan kuusapkan di seluruh permukaannya. Saat itulah, dia mulai menunjukkan gerakannya dan akan terus-menerus bergerak sangat lincah hingga aku pamit pulang meninggalkanmu."


Yoga mulai terharu mendengar kata-kata terakhir istrinya. Dia bisa membayangkan betapa selama ini Nara selalu kerepotan dengan banyak sekali kegiatan yang harus dia selesaikan satu per satu seorang diri.


"Kamu benar-benar istri yang sangat luar biasa, Sayang. Aku bersyukur memilikimu sebagai teman hidupku, pendamping hidupku untuk selamanya."


Yoga bangun dan duduk di samping Nara dengan posisi tubuh berhadapan. Tangan mereka telah sama-sama mengunci tubuh satu sama lain, dengan wajah yang semakin berdekatan dan saling menatap penuh kasih.


"Aku semakin merasa bersalah kepadamu, Sayang. Kamu melakukan semuanya sendiri, demi aku dan demi anak-anak kita. Kamu berusaha menguatkan dirimu untuk tetap berjuang demi keluarga kecil kita. Maafkan aku, sebab karenaku kamu harus banyak berkorban selama ini."


Yoga mengunci pandangannya ke arah Nara, menatap dengan penuh haru bercampur bahagia. Nara pun membalasnya dengan senyuman yang terus menghiasi bibir manisnya.


"Apa pun akan aku lakukan demi keluarga kita, Mas. Apalagi demi dirimu yang telah banyak berkorban untuk diriku. Kamu selalu mengabaikan dirimu sendiri hanya demi membelaku dan menyelamatkan aku."


"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya tidak terima melihat wanita yang paling aku cintai dicelakai bahkan hingga nyaris membuatku kehilangan dirimu."


Yoga membayangkan kembali kondisi Nara saat diracuni hingga membuatnya kritis dan membahayakan keselamatan calon anak di dalam kandungannya.


Sepasang netra hitam nan tajam yang selalu menatap Nara dengan lembut itu, mulai berkaca-kaca mengingat dirinya yang hampir saja kehilangan Nara jika dia terlambat datang dan membawanya ke rumah sakit saat itu.


"Kamu tidak pernah bercerita dan selalu menyembunyikan semuanya dariku, Mas. Aku yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba dikejutkan dengan kabar tentang dirimu yang celaka dan hampir tiada."


Wajah Nara pun memerah dan menghangat, merasakan sesuatu yang membuat dadanya berdebar penuh ketakutan.


Ketakutan yang sama seperti saat dirinya mendapatkan kabar tentang suaminya yang telah terbaring koma di ruangan lain yang terpisah darinya, yang saat itu juga masih dirawat di rumah sakit yang sama.


"Kamu tidak tahu rasanya seperti apa, Mas. Aku merasa ingin ikut pergi bersamamu saja kala itu. Kamu benar-benar membuatku hilang akal dan hampir melupakan anak-anak kita."


Nara menjeda kalimatnýa lalu menoleh dan menatap Raga yang masih terlelap di dekat mereka. Kemudian dia juga menunduk dan menatap perut besarnya.

__ADS_1


Yoga semakin merasa bersalah dan segera memeluk istrinya dengan erat. Dia memejamkan mata dan berusaha untuk menghalau bayangan buruk akan peristiwa yang telah lalu itu.


"Maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku, Sayang."


Hanya itu yang bisa diucapkan Yoga pada istrinya. Berulang kali meminta maaf dengan hati yang diliputi ketakutan yang sama seperti yang selalu dirasakan oleh Nara.


"Setiap hal yang membuatmu terluka sekecil apa pun itu, selalu membuatku takut dan khawatir, Sayang. Apalagi dengan kejadian di luar dugaan yang tiba-tiba membuatmu hampir pergi dariku saat itu. Aku sangat takut, Sayang. Aku takut kehilangan kamu."


Yoga mendekap tubuh istrinya lebih erat tanpa mengabaikan perut besarnya. Ditumpahkannya air mata di balik bahu Nara yang sama-sama terguncang ringan sepertinya. Mereka menangis bersama, mengingat peristiwa buruk yang nyaris memisahkan keduanya.


Nara tak bisa lagi membendung tangisannya. Bahu sang suami yang menjadi tempatnya bersandar kini telah basah hingga menembus kulit tubuh lelaki itu. Kedua tangannya melingkar semakin erat di leher Yoga, menunjukkan betapa besar ketakutan yang dirasakannya saat ini.


"Jangan seperti ini lagi, Mas. Aku mohon, jangan pernah bertindak nekat lagi, jika itu hanya akan akan membuatmu celaka dan membuatku kehilangan dirimu!"


Yoga mengangguk di balik bahu Nara. Mereka masih sama-sama menangis dan berusaha saling menenangkan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, mereka semakin larut dalam kesedihan dan ketakutan yang sama. Ketakutan akan kehilangan satu sama lain.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜


.


__ADS_1


__ADS_2