
Sampai menjelang petang, proses transfusi darah untuk Aura masih berlangsung. Bayi cantik itu sudah tertidur lagi setelah Alya datang dari klinik dan terus menemaninya.
"Bagaimana keadaanmu, Al?"
Dengan penuh kekhawatiran Ardi memperhatikan wajah Alya yang tampak sangat lelah dan sedikit pucat. Apalagi tadi pagi wanita itu juga diambil darahnya untuk didonorkan pada Aura, sudah pasti kondisi fisiknya tak sekuat biasanya. Namun wanita itu selalu berusaha untuk menutupi dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya.
"Aku baik-baik saja," jawab Alya tanpa menatap ke arah lelaki yang bertanya kepadanya.
Mengambil langkah pelan, Ardi mendekati wanita yang sangat dirindukannya selama ini. Dia berhenti dan berdiri di tepi pembaringan, tepat di sebelah kanan Alya yang terus menggenggam lembut tangan mungil Aura.
Ada getaran syahdu yang sama-sama mereka rasakan dalam diam. Tanpa kata, lagu rindu itu terlantun merdu, di relung kalbu yang terus berdesir lembut.
"Jangan memaksakan diri bila ragamu memang butuh waktu untuk memulihkan tenaga."
Ardi bersuara lirih di sisi Alya, membuat hati wanita itu semakin berdebar tanpa kendali. Bersama dalam posisi sedekat ini, membuat tubuhnya bergeming gugup, meski masih ada sela dan jauh dari sentuhan.
"Alya ...." Lelaki di sampingnya kembali memanggil. Jantungnya berdetak keras membuat dirinya tersentak sendiri.
Dengan gerakan cepat Alya merespon panggilan yang sempat mengejutkannya itu. Wajahnya menoleh ke samping, tepat bersamaan dengan Ardi yang juga menatap lekat ke arahnya.
Tubuhnya semakin bergeming dalam hening, saat pandangan mereka bertemu dalam jarak yang cukup dekat. Hanya mengikuti kehendak hati, yang masih ingin berada dalam posisi seperti itu lebih lama.
Diam tanpa suara, hanya hati yang saling menautkan rasa. Tanpa harus terucap kata, hanya ingin saling memuaskan kerinduan.
"Aku merindukanmu, Al." Ardi berbicara lembut, mengungkapkan rasa di dalam hati.
Alya megerjapkan mata indahnya bersamaan dengan degup jantungnya yang kian bertalu-talu. Seketika itu pula, dia menarik pandangannya dari sepasang netra teduh yang masih terus menatapnya dengan lekat dan sendu.
Dokter berhijab anggun itu mengalihkan pandangannya kembali ke atas pembaringan. Dia menatap wajah Aura yang masih tenang dalam tidurnya.
"Al, katakan padaku ...." Suara Ardi masih terdengar begitu dekat di samping Alya. Lirih namun sangat jelas di telinganya.
"Katakan bahwa kamu juga rindu padaku, sama seperti ucapanmu di telepon semalam," pinta Ardi tanpa sedikit pun mengalihkan tatapannya dari Alya, meski wanita itu tidak lagi membalas tatapannya.
Alya tampak semakin gugup dan salah tingkah. Masih ada rasa ragu untuk mengakuinya di hadapan Ardi secara langsung.
Namun hatinya kini berkata lain. Tak ingin menyembunyikan lagi dari lelaki yang dicintainya, setengah sadar Alya menganggukkan kepala.
Ardi tersenyum walaupun masih belum puas karenanya.
"Aku ingin mendengarnya, Alya ...."
__ADS_1
Alya memejamkan mata guna mengumpulkan kekuatan dan meyakinkam hati untuk menuruti permintaan ayah dari putri kecil di hadapannya.
Perlahan wanita anggun itu memutar kepalanya dan kembali beradu panndang dengan tatapan mata Ardi yang semakin dalam dan sarat kerinduan.
Butiran bening mulai memenuhi pelupuk matanya, seiring wajah Alya yang terasa begitu hangat dan memerah. Diberanikan dirinya untuk menatap lagi netra pekat milik Ardi yang juga sudah berkaca-kaca.
"Aku juga merindukan dirimu ...."
.
.
.
Malam hari usai menyelesaikan praktek, Alya kembali ke ruang perawatan Aura dan mendapati Ardi tertidur dalam posisi duduk di sofa.
Pintu ruangan yang tidak tertutup rapat membuat dokter berhijab anggun itu bisa masuk tanpa menimbulkan suara dan membiarkan Ardi tetap melanjutkan tidurnya.
Kamu pasti sangat lelah.
Alya mengambil selimut yang disediakan di ujung sofa lalu dengan hati-hati membentangkan di atas tubuh Ardi hingga menjuntai ke lantai guna menutupi kedua kakinya.
Kamu adalah ayah yang hebat, Di. Aku kagum dan bangga dengan perjuanganmu dalam mengasuh Aura seorang diri selama ini. Aku juga bersyukur karena kamu masih menyisipkan aku di dalam hatimu, di tengah kesibukan dan tanggung jawabmu yang tidak sedikit di sepanjang waktu. Terima kasih.
Sudah tidak terlihat lagi peralatan transfusi darah di tubuh mungil itu maupun di sekitarnya. Hanya cairan infus saja yang masih mengalir melalui jarum suntik di punggung tangan kecil itu.
Telapak tangannya dilapisi papan penahan bermotif kartun yang disatukan dengan bebatan perban guna mengunci gerakan agar tidak mengganggu kelancaran aliran infus ke tubuhnya.
Membungkukkan tubuhnya ke depan, dengan sangat hati-hati diciumnya kening Aura dengan segenap rasa sayang. Matanya terpejam seraya memanjatkan doa-doa terbaik untuk bayi cantik kesayangannya.
"Bu ... Bu-bu ...."
Terdengar igauan lirih Aura membuat Alya menarik wajahnya pelan-pelan dan menatap wajah yang masih terus terlelap. Sudut bibirnya melengkungkan senyuman kecil, membuat wanita keibuan itu turut menyunggingkan senyuman yang sama di bibirnya.
"Tante ada di sini, Sayang. Tante sayang Aura."
Senyuman Alya memudar saat dirasakannya seseorang sudah berdiri tak jauh darinya.
"Ardi ...." Tanpa sadar bibirnya malafalkan nama lelaki yang ternyata sudah terjaga dari tidurnya dan diam-diam menyusulnya ke tepi pembaringan.
"Apakah kamu tidak ingin menjadi Ibunya? Mengapa masih saja menggunakan sebutan itu?" Tatapan dokter duda itu dengan raut wajah murung, karena Alya belum juga memenuhi permintaannya.
__ADS_1
Alya yang baru menyadari keberadaan Ardi, seketika gugup dan salah tingkah saat pandangan mereka beradu. Dia tidak menyangka ucapan lirihnya terdengar oleh lelaki itu.
"Maaf ...," sesal Alya sembari menundukkan pandangannya.
"Aura memanggilmu Bubu karena dia menganggapmu sebagai Ibunya. Apa kamu ingin mengecewakannya dengan tetap memposisikan diri sebatas sebutan yang kamu ucapkan tadi?"
Alya bisa menangkap kekecawaan dalam nada kalimat yang Ardi ucapkan. Sesungguhnya dia pun tidak bermaksud untuk melakukannya. Dia hanya merasa belum siap dan belum pantas untuk menyandang panggilan itu.
"Aku tidak bermaksud demikian, Di. Aku hanya ... aku hanya takut tidak bisa menjadi seperti yang kalian inginkan. Aku takut aku tidak bisa memenuhi harapan kalian kepadaku."
Alya semakin menunduk dan menyembunyikan genangan air mata yang sudah siap untuk luruh membasahi wajah. Tapi sayangnya Ardi telanjur mengetahuinya. Lelaki itu menghela napas panjang dan mencoba menahan perasaannya.
"Aura memanggilmu demikian karena dia merasa nyaman saat bersamamu. Dia merasa ada yang menyayanginya selain aku. Tidakkah kamu merasakan kepolosannya itu?"
Alya mengangguk dan mengiyakan ucapan Ardi. Dia sama sekali tidak meragukannya. Baik kasih sayang dari Aura maupun cinta yang ditunjukkan Ardi kepadanya.
"Lihat aku, Alya. Mari kita selesaikan semua ini sekarang. Aku ingin ...."
.
.
.
Sekali lagi penulis mohon maaf karena update belum bisa sebanyak biasanya sebab masih ada beberapa tugas negara di rumah yang menumpuk untuk diselesaikan...ππ
Selain itu, penulis juga harus mempersiapkan riset kecil-kecilan guna memberikan tulisan yang lebih bermakna dan sarat informasi bermanfaat, sehingga menjadikan pembaca lebih puas karenanya...ππ
Insyaallah secepatnya akan update rutin 2-3x sehari menjelang berakhirnya kisah indah dalam novel ini...π₯Ίπ
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.