CINTA NARA

CINTA NARA
2.122. BUNGA LAYU


__ADS_3

Pintu ruangan terbuka dan keluarlah Ardi dengan mendekap erat Aura, putri kesayangannya.


Semua mata tertuju padanya, menanti apa pun yang akan dikatakan oleh lelaki yang terus menundukkan wajahnya dengan sayu.


Orangtua Ardi dan Bunga maju mendekati ayah dan anak yang saling mengeratkan pelukan itu. Sang nenek hendak mengambil Aura dari pelukan Ardi, namun bayi itu berontak dan menangis kencang, tak ingin dipisahkan dari ayahnya.


Ardi pun tetap mendekap erat hingga sang putri kembali diam setelah diberikan botol susu untuk diminumnya, tanpa ingin lepas dari dirinya.


Setelah suasana hening kembali, Ardi mulai membuka suara tanpa memandang orang-orang di sekelilingnya. Pandangan matanya menerawang jauh dalam kehampaan, lalu kembali nenunduk dan bermuara pada sepasang mata indah buah hatinya yang masih tenang dengan susunya.


"Bungaku sudah pergi. Dia sudah tidak bersama kami lagi." Air mata kembali menetes membasahi wajah lelaki pilu itu, lalu diciumnya kening sang putri yang tetap tenang meneguk minumannya.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'unย ...."


Semua orang berucap dengan ekspresi kesedihan yang berbeda-beda.


Kedua orangtua Bunga langsung masuk ke dalam ruangan bersama beberapa keluarga lainnya, sementara mamanya Ardi segera memeluk sang putra dan turut menangis. Sang papa mendekat dan memberinya kekuatan lewat beberapa kali tepukan di bahu putra bungsunya.


"Ikhlaskan kepergiannya, iringi dengan banyak doa yang terbaik untuknya."


Ardi mengangguk mendengar ucapan sang ayah dan tangisannya pun tumpah kembali semakin deras. Dia menurut saat sang ayah menuntunnya untuk duduk dengan Aura yang tetap tak ingin dipisahkan darinya.


Alya menutup mulutnya saat mendengar kabar duka yang disampaikan langsung oleh Ardi. Air matanya tak tercegah lagi, turut tumpah dan membasahi seluruh wajah telah murung sedari tadi.


Di sampingnya, Rendy terus menahan diri untuk tidak menyentuh wanita yang tengah diliputi kesedihan mendalam tersebut. Tangannya terkepal menyentuh bangku untuk melampiaskan keinginannya.


"Al, kendalikan dirimu," pinta Rendy saat mendengar isakan yang mulai tak bisa ditahan lagi oleh Alya. Wanita itu menangis tersedu-sedu dan terus menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Di ujung bangku yang berlawanan, Yoga memeluk erat tubuh Nara yang menangis sama kerasnya seperti Alya. Wanita hamil itu rebah lemah di tempat ternyamannya yang nyatanya kali ini tetap tak bisa menghilangkan kedukaannya yang sangat dalam.


Yoga menciumi kepala sang istri untuk menenangkannya, sementara dirinya sendiri pun tak bisa menahan air mata yang juga telah meleleh membasahi wajah.

__ADS_1


Sesekali tatapannya tertuju pada sahabat kecil yang disayanginya serupa saudara. Hatinya semakin sedih saat melihat Ardi yang memangku Aura dengan pandangan mata yang kosong, redup dan sayu.


Senja kali ini, duka menyelimuti hati seorang lelaki yang telah kehilangan belahan jiwa yang sangat dicintainya. Seorang wanita muda yang lemah lembut dan keibuan, penuh cinta dan kasih sayang yang tercurah utuh untuk keluarga kecilnya.


Bunga cantik itu telah layu, seiring langit yang menggelap disertai angin yang berhembus kencang meniupkan guguran dedaunan kering yang terbawa menjauh dari pohon rindangnya.


.


.


.


Setelah semalaman membantu mengurusi segala sesuatu tentang prosedur pemulangan jenazah termasuk seluruh persiapan pemakaman yang direncanakan pagi ini, Yoga telah kembali ke rumah duka bersama Nara tercintanya, juga kedua tamu mereka, Alya dan Rendy yang mereka persilakan untuk menginap di kediaman Yoga.


Di tengah ruang tamu yang telah kosong tanpa perabot, Ardi duduk bersila di depan jenazah Bunga yang telah suci usai dimandikan selepas subuh tadi.


Mengenakan pakaian serba hitam, Ardi kian terlihat penuh kedukaan. Di tangannya terus tergenggam tasbih mungil dan buku kecil yang tak henti dibacanya untuk melantunkan doa terbaik yang sebanyak-banyaknya untuk sang istri tercinta yang telah pergi mendahului, menghadap Sang Pencipta.


Yoga meminta Nara untuk duduk di kursi yang sudah diletakkan di sudut ruangan, agar tubuhnya tidak merasa berat dan tidak nyaman, jika harus ikut duduk di bawah bersama yang lain.


Nara mengangguk saat suaminya pamit menjauh darinya. Kini dia duduk berdua bersama Alya yang terus larut dalam duka sejak semalam.


Kedua wanita itu sama-sama terdiam dalam duka yang semakin terasa menjelang pemakaman Bunga.


Tak lama kemudian, setelah dipastikan semuanya siap, rangkaian acara pelepasan dan pemakaman jenazah Bunga dimulai.


Beberapa sambutan dari pihak keluarga yang diwakili oleh kakaknya Ardi berikut perangkat kelurahan dan perwakilan klinik, mengawali acara yang sarat kesedihan itu.


Setelah acara demi acara selesai, jenazah Bunga diangkat dan dibawa ke dalam mobil ambulans milik klinik Ardi untuk segera diantarkan menuju lokasi pemakaman yang tak jauh dari pusat kota.


Yoga pamit kepada sang istri untuk pergi bersama rombongan yang akan memakamkan jenazah Bunga. Rendy yang akan pergi bersama Yoga tak banyak berucap lagi karena tak ingin mengganggu Alya yang terus menunduk di samping Nara.

__ADS_1


Ketika rombongan telah meninggalkan rumah Ardi terdengar tangisan tiba-tiba dari dalam kamar yang terletak di bagian depan.


Mamanya Ardi yang tidak ikut ke pemakaman untuk menunggui sang cucu di rumah, keluar dengan menimang Aura yang masih terus menangis kencang di dalam gendongannya.


Bayi mungil nan cantik itu terus menangis dan meronta tanpa bisa dihentikan dengan cara apa pun. Botol susu yang disodorkan kepadanya pun ditolak dan tetap menangis semakin keras.


Alya bangkit dari duduknya dan menghampiri mamanya Ardi yang terlihat kewalahan dengan tingkah sang cucu yang tak biasanya. Mungkin bayi itu merasa jika ditinggalkan oleh sang bunda yang sudah dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Setelah meminta ijin terlebih dahulu pada mamanya Ardi, Alya mengambil alih Aura dari tangan neneknya. Diangkatnya tubuh bayi mungil itu ke atas seraya menimangnya dengan untaian kata, lalu perlahan diturunkannya dan didekap ke dalam pelukan hangatnya.


Seolah terbuai oleh timangan dan dekapan Alya yang menenangkan, bayi cantik itu mulai menghentikan tangisannya dan terus menatap Alya dengan mata indahnya yang tampak berkilat oleh air mata yang masih menggenangi.


"Anak pintar. Aura sayang tidak boleh rewel lagi ya, Nak. Kasihan Ayah kalau Aura terus menangis. Ikut Tante dulu, yuk."


Alya membawanyanya duduk dan memberikan botol susu yang semula terus ditolak oleh bayi mungil yang sudah berhenti menangis itu.


Dengan tangan kiri yang menopang tubuh Aura dan memegangi botol susunya agar tidak terlepas dari mulut bayi itu, tangan kanan Alya dengan lembut membersihkan sisa tangisan di sekitar mata indah bayi yang telah tenang di pangkuannya.


"Kasihan kamu, Sayang. Sekecil ini sudah harus kehilangan cinta kasih dan sentuhan lembut seorang ibu yang sangat kamu butuhkan ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.๐Ÿ™๐Ÿ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


๐Ÿ’œAuthor๐Ÿ’œ


.


__ADS_2