CINTA NARA

CINTA NARA
87 BERPIKIR POSITIF


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya, Dok?"


Nara berdiri menyambut keluarnya Dokter Danu dari ruangan Yoga, setelah cukup lama beliau melakukan pemeriksaan dan penanganan pada suaminya.


"Kali ini dia masih mendapatkan keberuntungan sehingga nyawanya pun masih bisa diselamatkan. Tapi saya tidak tahu dan tidak bisa menjamin seperti apa ke depannya, apakah respon tubuhnya masih akan seperti ini jika dia kembali mendapatkan serangan beruntun seperti kejadian kemarin."


"Dan kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kali Yoga alami. Sejak awal dia datang dan mengeluhkan kondisi jantungnya yang sering merasakan sakit tiba-tiba, dia sudah berkali-kali kambuh dan semakin sering mengalami kesakitan itu."


Nara menangis mendengar penjelasan Dokter Danu. Hatinya merasakan ketakutan yang semakin teramat sangat. Dia takut kehilangan suaminya.


"Apakah dia baik-baik saja?"


"Saya hanya bisa memberinya obat untuk mengurangi rasa sakit di tubuhnya sebab sudah tidak ada lagi tindakan medis yang bisa dilakukan pada jantungnya yang sudah semakin lemah."


Nara terus meluapkan seluruh tangisannya di luar ruangan, sebelum dia masuk kembali menemani sang suami.


"Dengan kondisi Yoga saat ini, berapa lama lagi dia akan bertahan, Dok?"


"Tidak ada lagi prediksi dari saya. Yang pasti, kondisi jantungnya sudah tidak bisa disembuhkan lagi kecuali dengan menjalani transplantasi. Untuk masalah waktu, hanya Allah Yang Maha Tahu."


Nara semakin terisak. Dia tidak tau harus bagaimana menghadapi Yoga dengan situasi dan kondisi seperti.


"Apa yang harus saya lakukan, Dok?" Nara tidak bisa berpikir lagi.


"Bahagiakan dia. Manfaatkan waktu yang masih ada untuk bahagia bersamanya."


Nara mencamkan kalimat Dokter Danu di dalam hati dan pikirannya.


"Efek kebahagiaan yang datang dari hati sangat positif bagi kesehatan dan bisa memperkuat kekebalan tubuh." Nara mengangguk dan mencoba membuang jauh semua pikiran negatifnya.


Dia harus berpikiran positif untuk bisa menularkannya pada Yoga. Dia harus kuat agar bisa terus menguatkan Yoga. Dan dia juga harus selalu bahagia agar bisa membuat Yoga lebih bahagia bersamanya.


"Apakah Yoga bisa segera pulang, Dok? Saya rasa rumah dan keluarga adalah tempat ternyaman baginya untuk menikmati hidup dan merasakan lebih banyak kebahagiaan."


Dokter Danu mengangguk dan membenarkan ucapan Nara.


"Saya percaya, kehadiran kamu dalam kehidupan Yoga akan membawa banyak kebahagiaan untuknya, di tengah rasa kesepian dan kehilangan yang selama ini dipendamnya sendiri sepeninggal kedua orangtuanya."


Nara mulai tersenyum kembali. Mulai sekarang dia tidak ingin lagi memikirkan berapa lama waktu yang masih mereka miliki untuk bersama. Dia hanya akan memikirkan bagaimana mereka bisa menciptakan lebih banyak lagi kebahagiaan dari waktu ke waktu tanpa henti.


"Jika kondisinya stabil, besok Yoga bisa melanjutkan pemulihan di rumah. Saya akan memberikan beberapa obat yang harus diminum secara rutin untuk mengurangi dampak kesakitan yag pasti akan sering dia rasakan setelah ini."

__ADS_1


Setelah berbicara lama membahas kondisi Yoga, Dokter Danu kembali ke ruangannya sementara Nara masuk ke ruangan di mana suaminya sudah menunggu.


Wajah pucat itu tersenyum begitu melihat sang istri masuk dan menghampirinya. Tangannya terulur menyambut tangan Nara untuk digenggamnya.


"Mengapa lama sekali, Sayang?"


Nara membalas senyuman Yoga yang sudah duduk bersandar. Dia ikut duduk di tepi pembaringan, menghadap ke arah lelaki itu.


"Aku berbicara dulu dengan Dokter Danu di luar. Aku juga menanyakan kapan kamu bisa pulang dan beristirahat di rumah."


"Lalu, kapan aku bisa pulang?" Satu tangannya yang masih bebas membelai wajah Nara dengan lembut.


"Besok pagi."


"Aku ingin pulang hari ini. Aku tidak mau tidur sendiri di rumah sakit." Yoga merajuk. Sorot matanya mulai memanja.


"Mintalah sendiri pada Dokter Danu. Beliau yang paling tahu kondisimu. Aku hanya mengikuti keputusan beliau."


Akhirnya Yoga diam dan tidak membahas lagi tentang kepulangannya, setelah seorang perawat datang mengantarkan makan siang untuknya.


Nara segera menyiapkan semuanya, lalu kembali duduk di tepi pembaringan untuk menyuapi suaminya.


Pelan-pelan Nara mulai menyuapi Yoga yang makan sembari terus menatap wajah sang istri di hadapannya. Tingkah Nara layaknya seorang istri yang mencintai suaminya dan melayaninya dengan ketulusan.


Dalam hati dia kagum dengan sikap Nara yang selalu penuh perhatian padanya, seolah dia adalah lelaki yang dicintainya.


"Apakah aku terlalu berharap padanya? Padahal sejak awal aku sudah tahu, aku bukanlah lelaki yang dia cintai. Bagaimana bisa aku berharap lebih padanya, hanya karena dia sering memberiku perhatian seperti ini?"


"Lagipula aku akan segera pergi meninggalkannya. Untuk apa lagi aku masih berharap dia membalas perasaanku?"


Nara bisa melihat gurat kegundahan di wajah Yoga yang terus mengunyah pelan dan setengah melamun.


"Dokter Danu berpesan agar kita selalu berpikiran positif supaya hati kita pun senantiasa diliputi kebahagiaan. Jadi, buanglah semua hal negatif yang ada di dalam pikiran dan juga hatimu."


Suapan terakhir sudah masuk ke mulut Yoga. Nara meletakkan piring yang sudah kosong dan mengambil air putih beserta obat yang sudah disediakan oleh perawat.


Satu per satu obat sudah ditelan Yoga dengan bantuan air putih yang gelasnya dipegang oleh Nara.


"Termasuk juga pikiranku tentang perasaanmu kepadaku? Apakah aku juga harus berpikiran positif untuk itu?"


Nara meletakkan kembali gelas di atas meja, bersebelahan dengan piring kosong.

__ADS_1


Sambil membersihkan bibir suaminya dengan tisu, Nara pun menjawab pertanyaan Yoga dengan pertanyaan balik kepada lelaki itu.


"Jadi, selama ini kamu selalu berpikiran negatif tentang aku?"


Bibir Nara menampakkan senyum tipis sambil menatap Yoga, membuat dada lelaki itu berdebar penuh gejolak.


"Aku hanya takut jika aku berpikiran sesuai apa yang aku harapkan, aku justru akan menerima kenyataan yang sebaliknya."


"Apakah itu artinya kamu sudah menyerah?"


Yoga menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Nara yang juga masih menatapnya.


"Akan kuberitahu satu hal padamu ..." Nara mulai berdebar dan memberanikan diri untuk memulainya lebih dulu.


Tanpa Yoga duga sama sekali, tiba-tiba Nara mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki itu, lalu diam sesaat dalam posisi wajah mereka yang hampir bersentuhan. Debaran di dada Yoga semakin terasa tak terkendali.


Dengan satu gerakan saja, bibir Nara sudah menyatu dengan bibir Yoga. Nara mengecupnya sesaat lalu menariknya lagi sebelum lelaki itu menyadari sepenuhnya apa yang sudah dia lakukan kepadanya baru saja.


"Sayang ..., kamu ...."


"Apakah itu sudah bisa menghapus pikiran negatifmu tentang perasaanku padamu?" tanya Nara dan Yoga pun terkesiap karenanya.


"Sayang, apakah kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan itu ...?" Yoga membayangkan kecupan singkat Nara di bibirnya sambil menatap tak percaya kepada wanita tercintanya.


"Bagaimana menurutmu?!" Nara masih terus bermain kata tanpa ingin memberikan jawabannya dengan pasti.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2