CINTA NARA

CINTA NARA
77 MALAM TERINDAH - PART 2


__ADS_3

Dalam detik yang sama mereka memejamkan mata, dan selanjutnya ....


Cuppp!!!


Nara merasakan bibirnya hangat oleh sentuhan lembut yang sangat berbeda dirasakannya di hati. Sama halnya dengan Yoga, sesaat dunianya seolah berhenti berputar bersamaan dengan kehangatan yang dirasakannya saat bibir mereka mulai bersentuhan.


Ciuman pertama mereka, setelah sekian purnama Yoga menantikan saat terindah seperti ini. Pun Nara, meskipun tidak memikirkannya seperti Yoga, namun ciuman mereka terasa sangat istimewa baginya karena akhirnya mereka melakukan setelah melewati beberapa kesempatan yang terus tertunda.


Masih memejamkan mata, keduanya begitu meresapi sentuhan bibir mereka yang masih tanpa gerakan. Hingga akhirnya Yoga mulai menggerakkan bibirnya secara perlahan, ke atas dan ke bawah berlawanan dengan Nara yang juga mulai mengikuti gerakan suaminya.


Yoga mempererat pelukannya di pinggang Nara, sementara tangan Nara pun mulai merambat naik ke bagian leher suaminya. Mereka melanjutkan ciuman mereka diiringi desiran halus yang terus menyisiri rongga dada.


Setelah beberapa waktu memuaskan diri menikmati ciuman pertama mereka, Yoga dan Nara sama-sama menyudahinya dengan menarik bibir mereka menjauh satu sama lain.


Mata mereka mulai terbuka dan saling memandang dengan hati yang masih dipenuhi getaran cinta. Yoga lalu memberikan ciuman lembut di kening Nara sebagai tanda ketulusan perasaan yang dia miliki untuk wanita yang dicintainya.


"Terima kasih, Ra ...."


Nara menunduk dengan wajah bersemu merah menahan malu setelah apa yang baru saja mereka lakukan. Dirinya semakin malu mengingat dia juga membalas ciuman Yoga sehingga ciuman mereka berlangsung cukup lama.


Mengerti apa yang dirasakan sang istri, Yoga segera memeluk Nara dengan erat dan penuh kasih. Nara langsung menyembunyikan wajahnya di dada Yoga yang penuh kenyamanan, seraya melingkarkan tangannya memeluk sang suami.


"Aku mencintaimu, Sayang!" bisik Yoga di telinga Nara.


Nara merasa ada yang berbeda dalam pendengarannya. Ada yang tidak biasa didengarnya dari ungkapan cinta Yoga kali ini.


Sayang? Yoga memanggilnya dengan sebutan sayang, dari yang biasanya hanya menyebut namanya saja.


Ingin bertanya tapi dirinya merasa malu. Akhirnya dia memilih tetap diam di dalam pelukan suaminya. Tanpa sadar sebuah senyuman terbit di bibirnya saat mengingat panggilan baru Yoga kepadanya.


Cukup lama mereka berdiri berpelukan, sampai Yoga mendengar bunyi sesuatu dari dalam perut Nara. Menyangka Nara belum makan malam karena terus mengurusi Raga, lelaki itu merasa bersalah karena tidak bisa memperhatikan istrinya sendiri.


"Kamu belum makan, Sayang? Ah ... maafkan aku, aku ...."


Nara menggeleng setelah pelukan mereka merenggang.


"Aku sudah makan malam tadi. Ini sudah biasa terjadi, aku memang sering merasa lapar di malam hari dan harus mengisi perutku lagi."

__ADS_1


Yoga masih belum mengerti maksud ucapan istrinya.


"Raga selalu terbangun dan minum ASI setiap dua jam sekali, bahkan kadang-kadang bisa lebih cepat dari itu. Karenanya aku juga menjadi sering lapar karena harus terus menyusui dia."


Yoga yang memang baru saja pulang dari rumah sakit, mulai mengerti maksud Nara dan memahami kebiasaan baru sang istri.


"Baiklah, sebelum Raga terbangun lagi, ayo, aku temani kamu makan."


Nara menggeleng lagi.


"Tidak perlu, Ga. Biasanya Bibi Asih sudah menyiapkan di meja makan dan aku tinggal membawanya untuk dimakan di sini."


"Kalau begitu tunggulah saja di sini, aku yang akan mengambil makanannya."


Yoga meminta Nara duduk di sofa dan menunggunya, sementara dia langsung memakai sandalnya dan keluar menuju ruang makan.


Nara tersenyum melihat kesigapan suaminya. Dia juga merasa senang karena sekarang sudah ada Yoga yang menemaninya menjaga buah hati mereka.


Sambil menunggu Yoga kembali, Nara bersandar ke belakang dan memejamkan mata sejenak untuk menghalau lelahnya. Tapi justru bayangan ciuman pertama mereka yang muncul mengganggu pikirannya.


Ciuman tadi, terasa begitu indah dan menyenangkan baginya. Apalagi Yoga memulainya dengan permintaan yang lembut dan melakukannya secara perlahan, sehingga mereka menikmati setiap detik ciuman yang mereka lakukan dengan perasaan bahagia.


Sangat jauh berbeda dengan saat dia meminta Alan menciumnya pada hari di mana Yoga akan menikahinya dulu.


Saat itu, mereka atas permintaan dirinya yang tengah kalut, melakukan ciuman itu dengan cepat dan tanpa bisa meresapinya lebih dalam dan lebih lama, karena terburu waktu yang sangat terbatas.


Merasa tidak nyaman saat mengingatnya, Nara buru-buru menepis dan membuang jauh pikirannya tentang Alan dan segera membuka mata.


Saat matanya telah terbuka, betapa terkejutnya Nara begitu mendapati Yoga sudah berdiri di hadapannya dengan sepiring makanan lengkap dan secangkir teh hangat yang baru saja dibuat oleh suaminya.


Seketika rasa gugup menyelimuti dirinya yang malu karena mungkin Yoga melihatnya saat memegang bibir yang baru saja bersentuhan lembut dengan bibir lelaki itu.


"Ini makanannya, Sayang. Aku suapi, ya?" Nara mengangguk dan menggeser posisinya ke tepi untuk memberi tempat bagi sang suami duduk di sampingnya.


Yoga tidak berkata apun setelah itu. Tidak pula membahas apa yang dilihatnya saat masuk ke kamar tadi. Sebenarnya dia memang melihat Nara memejamkan mata dan menyentuh bibirnya sendiri dengan seulas senyuman manis.


Namun dia tidak ingin membahasnya karena Nara pasti akan malu karenanya. Dia sudah cukup bahagia sebab telah mengetahui jika Nara berkesan dengan ciuman pertama mereka.

__ADS_1


Terlebih lagi, Nara juga tidak menolak atau mengatakan apa pun ketika dia mulai memanggilnya dengan sebutan sayang, sehingga Yoga terus menggunakan panggilan mesra itu untuk istrinya.


"Haaak ...." Yoga mulai menyuapi Nara dengan penuh perhatian. Nara pun membuka mulutnya dan menerima suapan suaminya dengan tatapan bahagia.


Hingga suapan yang terakhir, mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya terus saling menatap dan melemparkan senyuman bahagia satu sama lain.


Yoga meletakkan piring kosong di atas meja lalu mengambil cangkir minuman untuk diberikan pada Nara. Selagi hangat, wanita itu segera menghabiskan teh buatan suaminya.


"Terima kasih." Nara menaruh kembali cangkirnya dan hendak mengambil tisu untuk membersihkan bibirnya. Namun Yoga mendahului dan mencegahnya.


Dengan cepat Yoga mencium bibir Nara, menyesap sisa manisnya teh yang terasa di permukaan bibir tipis itu, lalu melepaskannya dan membersihkan dengan tangannya.


Nara yang terkejut dengan sikap spontan suaminya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya menahan senyuman malunya. Jantungnya berdegup sangat kencang, seakan ingin melompat dari tempatnya.


Yoga tak tinggal diam. Dia merengkuh tubuh Nara dan mendekapnya dengan erat.


"Istirahatlah sejenak di sini, sebentar lagi pasti Raga terbangun. Baru setelah itu kita pindah ke tempat tidur."


Nara patuh dan merebahkan kepalanya di atas dada Yoga, lalu tangannya memeluk tubuh suaminya. Dia mulai memejamkan mata, mencoba merilekskan tubuh dan pikirannya untuk memulihkan kembali energinya.


Yoga mencium kening dan puncak kepala Nara, kemudian ikut memejamkan mata seraya mempererat pelukan pada tubuh istri tercintanya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2