
Semburat sedih tampak jelas di wajah tampan Arif. Ia harus pulang ke Bengkulu. Tak bisa menunda - nunda lagi. Enggan rasanya untuk meninggalkan Nara di sini sendiri.
Kekasih yang diinginkannya sedari dulu. Tak ingin rasanya pergi jauh darinya. Ada rasa khawatir bergelayut dalam hati Arif. Pikiran buruk sempat hinggap dibenaknya. Semua diserahkan Arif pada sang penentu takdir, Allah SWT.
Dua hari lagi Arif akan pulang ke Bengkulu. Sebelum pulang Arif mengajak Nara jalan - jalan ke Restoran Nusa Dusa yang terletak di tengah kota Jakarta. Sebagai acara perpisahan dan selamatan rasa syukurnya karena sudah menyelesaikan wisuda tepat waktu.
Hari yang dijanjikan tiba. Selepas magrib kurang lebih pukul setengah tujuh malam, Arif menjemput Nara. Mereka naik mobil taxi online. Tiba di tempat tujuan pukul setengah delapan.
Pengunjung restoran sudah mulai ramai. Untung saja Arif sudah memesan jauh - jauh hari sebelumnya. Takut momen istimewanya berantakan. Hehe ....
Restoran Nusa Indah yang terletak di tengah kota Jakarta. Restoran yang menyediakan makanan seafood segar yang menggugah selera. Sudah beberapa kali Arif mengajak Nara ke sini. Dan ... mereka menyukai cumi goreng tepung, udang goreng tepung dan cah kangkung yang membuat mereka ketagihan untuk datang kembali ke restoran ini.
Untuk masuk ke dalam restoran ini. Kita akan melewati jembatan kayu kokoh yang mengantar pengunjung untuk masuk ke dalam restoran. Jembatan kayu ini terbentang di atas danau yang cukup luas.
Masuk ke dalam restoran yang berkonsep semi outdoor. Tak tampak tembok, yang ada hanya atap yang melindungi pengunjung dari hujan.
Arif memilih tempat yang menghadap ke arah danau. Sengaja di pilih karena suasana malam tampak romantis. Ditambah kilau kerlap kerlip lampu membuat suasana menjadi syahdu.
Arif dan Nara saling bergandeng tangan masuk ke dalam restoran. Mereka mencari tempat yang telah di pesan. Pelayan restoran menghampiri Arif dan Nara yang sedang duduk melihat daftar makanan yang tersedia.
Setelah memilih menu makanan yang di pesan. Pelayan beranjak pergi meninggalkan Arif dan Nara.
"Nara , besok aku mau pulang ke Bengkulu. Apa kau ingin ikut bersamaku? " tanya Arif yang sebenarnya ia akan tahu jawaban dari mulut Nara.
"Maaf aku belum bisa pulang besok kak Arif. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Semoga kau tak kecewa padaku, " sesal Nara.
"Baiklah, tak mengapa. Aku akan rajin menelponmu. Setidaknya menanyakan kabarmu, " ucap Arif.
Di pandangnya lekat wajah Nara. Arif merasa sungguh beruntung bisa memilikinya. Semoga Naralah yang kelak akan mendampingi hidupnya.
__ADS_1
Dipandang seperti itu. Membuat Nara tersipu malu. Ingin rasanya ia jujur pada Arif. Nara mulai berpikir akan kebaikan hati Arif padanya. Mengapa ada saja hal yang mengganjal hatinya. Belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan kalau Arif adalah kekasihnya.
Nara melihat ada binar - binar cinta yang tulus dari kedua bola mata Arif. Begitu naif kah Nara selama ini. Orang yang selalu ada buatnya adalah Arif. Mengapa hati ini masih saja dilanda ragu.
"Hei, kenapa melamun, " ucap Arif sambil menggenggam jemari tangan Nara.
Nara tersenyum lalu berkata, " kak Arif terlalu baik padaku.
"Iyalah, baik. Kan sama pacarnya sendiri. Hehe ... , " jawab Arif.
Tak lama kemudian pelayan datang membawa makanan pesanan Arif dan Nara.
"Ayo ... kita makan, " ajak Arif.
"Ayo, siapa takut, " kelakar Nara.
Angin malam berhembus pelan. Dedaunan bergoyang di terpa angin malam. Terasa dingin menusuk kulit. Gemericik air hujan pun tumpah. Entah mengapa setiap Arif dan Nara sedang hang out menikmati berbagai macam kuliner. Rinai hujan selalu menemaninya. Dan ... kini hujan itu datang. Seperti turut merasakan kesedihan yang Arif rasakan. Berpisah, terbentang jarak dan waktu.
"Aku akan sangat merindukanmu Nara. Jangan pergi jauh dariku lagi. Janjilah padaku. Rindu dan cintamu hanya milikku. Jagalah hatimu untukku, " Arif berucap sembari menggenggam tangan kanan Nara.
"Iya, akan ku jaga, " jawab Nara sambil tersenyum manis.
"Besok aku pulang, naik penerbangan pesawat City link. Penerbangan di pagi hari, " lirih suara Arif.
"Maaf, tak bisa mengantar, " timpal Nara sambil menyeruput es jeruk.
'Iya, gak usah. Kasihan kamunya nanti kalau mengantar, " jawab Arif.
Malam telah larut, tepat jam 10 malam. Enggan rasanya Arif beranjak pergi dari restoran nusa dua ini. Tapi tak mungkin ia melanggar janji pada orang tua Nara. Menjaga Nara baik - baik sebagai kekasihnya. Tak elok juga seorang gadis pulang terlalu larut malam.
__ADS_1
Arif kemudian memesan taxi online menuju pulang ke kosan mereka. Sepanjang perjalanan Arif dan Nara banyak terdiam sendiri.Terlebih lagi Arif, ia amat sedih berpisah dengan Nara. Kekasihnya ....
"""""""""
Keesokan harinya, Dini hari. Pukul 5.30 pagi. Arif sudah tiba di Bandara setengah jam sebelum jam keberangkatannya. Melakukan chek in terlebih dahulu. Penerbangan ke Bengkulu memakan waktu kurang lebih 1 jam. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bengkulu.
Duduk diam dalam pesawat sendiri. Tak ada teman yang menemaninya. Dulu waktu pertama kali ke Jakarta, Ada Angga yang menemaninya. Sekarang seperti ada yang hilang dari hidupnya. Terlebih lagi perpisahan dengan Nara membuat hatinya terluka.
Arif melirik dari jendela pesawat. Awan - awan putih bergerombol indah, seperti tak ada batas antara dirinya dan langit biru yang diselimuti awan itu. Sungguh indah dipandang, membuat hatinya sedikit lega. "Ah, sudahlah. Bila jodoh tak akan kemana, " batin Arif sambil menarik nafas lega.
Arif Tiba di bandara Fatmawati Bengkulu jam 7 pagi. Kedua orang tuanya datang menjemput Arif. Ada semburat bahagia dari wajah ayah dan ibu Arif. Anaknya meraih gelar magister dari Universitas kebanggaan mereka, UI.
Bersama kedua orang tuanya, Arif pulang ke rumah. Ayah Arif membawa sendiri mobil untuk menjemput anaknya. Ayah yang pegang kendali kemudi dan ibu duduk di sampingnya.
Selama perjalanan banyak hal yang ditanyakan mereka pada Arif.
Sepanjang perjalanan pulang. Terlintas semua kenangan Arif bersama Nara. Melintasi jalanan yang biasa mereka lewati. Apalagi sudah mendekati komplek perumahaan tempat mereka tinggal.
Di komplek perumahan ini Arif pertama kali melihat Nara. Gadis kecil berkepang dua tetangganya. Gadis kecil yang menginjak dewasa. Gadis yang dulu hanya bisa dikaguminya saja. Sekarang telah menjadi kekasihnya.
"Aku akan menunggumu di sini Nara. Kota kita, kota Bengkulu. Ada seribu kenangan dan masa depan untuk kita , " batin Arif.
""'""""'
Sementara itu, Nara di dalam kamar kosan seorang diri . Nara merenungi hidupnya, hari - hari di lalui Nara tanpa Arif di sisinya. Ada rasa kehilangan di hatinya. Seseorang yang siap sedia akan membantunya kini nun jauh di sana.
Begitu berharganya nilai seseorang saat ia tiada. Begitu pula yang di alami oleh Nara. Selama ini ia masih mengharapkan Angga untuk kembali padanya.
Dengan kepulangan Arif, Nara baru menyadari. Hidupnya hampa tanpa Arif. "Aku akan pulang menyusulmu kak Arif , "sesal Nara.
__ADS_1