
Hampir seminggu Angga menemani Dina berobat di Singapura. Bersama kedua orang tua Dina yang selalu menjaga anaknya.
Berbagai tes dilakukan untuk transplantasi sumsum tulang belakang. Papa Dina pasrah. Ternyata ketidak cocokan antara dirinya dengan anak kandungnya sendiri.
Papa Dina menangis untuk pertama kali dalam hidupnya. Anak semata wayang yang tergolek lemah tak berdaya. Dan ... dia tak mampu berbuat banyak. Tak ada yang bisa di lakukannya.
Mama Dina termenung sesaat. Dia juga tak bisa berbuat banyak. Tak ingin melihat suaminya begitu berduka. Ini pertama kali ia melihat suaminya begitu nestapa.
"Sudahlah pa, gak usah ditangisi. Kita cari jalan keluarnya lagi. Tenang pa, " ucapnya menenangkan hati suaminya sambil menyeka tetesan air mata dari pipinya dengan tangannya sendiri.
"Tak ada jalan lain ma. Kita harus menelpon ibu kandung Dina, " lirih suara papa Dina di sela isak tangisnya.
"A-pa, " jadi mama Dina bukanlah ibu kandung Dina om ? " tanya Angga kaget luar biasa.
"Iya, " terucap sepatah kata dari mulut papa Dina.
Kemudian ruangan perawatan Dina menjadi hening. Tak ada suara yang keluar dari mereka semua. Semua tenggelam dalam lamunan masing - masing.
Papa Dina dan mama Dina duduk di sofa bed yang di sediakan pihak rumah sakit. Sedangkan Angga duduk di kursi penunggu pasien di samping Dina yang terlelap tidurnya.
"Om, tante ... aku pamit. Harus pulang dulu ke Bengkulu. Tidak bisa menunggu lama di sini. Pihak kantor akan bertanya - tanya mengapa belum masuk kantor sudah satu minggu, " pinta Angga pada kedua orang tua Dina.
"Pulanglah, terimakasih sudah setia menjaga anak kami, " ucap pilu papa Dina.
Sedari tadi Dina belum terbangun juga. Terlihat Dina amat sangat lelah. Penyakit leukimia yang sudah hampir 3 bulan dideritanya. Membuat hilang semua keceriaan dalam hidupnya.
Penyakit leukimia ini membuat penderitanya bisa tidur selama 16 jam lamanya. Begitu pula dengan Nara. Sangat terlelap tidurnya.
Efek kemoterapi membuat seluruh sendi tubuhnya merasa sakit. Belum lagi mual dan muntah yang di alaminya.
Tak ada lagi rambut hitam tergerai indah. Rambutnya Dina sekarang di potong pendek. Rambut pendeknya pun kian menipis akibat efek kemoterapi.
Setelah berpikir panjang. Akhirnya Papa Dina mencoba menepis rasa angkuhnya selama ini. Mencoba membuka lembaran baru. Lembaran yang mempertemukan Dina bersama ibu kandungnya selama ini.
Ibu yang tak pernah Dina tahu siapa gerangan. Ibu yang ia tahu adalah mamanya sekarang. Mama yang sangat sayang padanya.
__ADS_1
Dalam hati Angga, ia ingin sekali mengetahui siapa ibu kandung Dina selama ini. Tapi sepertinya papa Dina enggan membicarakannya.
Belum sepatutnya Angga tahu semuanya. Angga cukup tahu diri. Ia belum menjadi suami Dina, hanya sebagai pacar. Makanya ia tak ingin bertanya lebih banyak lagi.
Ingin rasanya melamar Dina. Tapi Dina terlanjur sakit. Dipandangnya wajah Dina, berharap gadis itu bangun. Dina sudah tertidur dari jam 7 malam sampai jam 10 pagi. Seharusnya dia sudah bangun.
Mentari pagi yang beranjak siang. Udara panas menyelimuti kota Singapura. Kota yang hampir sama dengan iklim di Indonesia. Tak perlu mempersiapkan baju tebal dan hangat untuk tinggal di kota ini.
Angga menunggu Dina terbangun. Menunggu untuk pamit pulang dulu ke Bengkulu. Tak berapa lama gadis itu terbangun.
"Alhamdulilah kamu sudah bangun, " ucap Angga.
Dina tersenyum, sambil menguap. Lalu ia berkata, " ma- af menungguku terlalu lama. "
Angga pun membalas senyum Dina seraya berkata, " Aku yang harusnya minta maaf. Aku tak bisa menunggumu lama. Nanti sore aku harus pulang ke Bengkulu. Besok pagi harus mulai masuk kantor. Maafkan aku Dina. "
"Gak apa - apa, Ga. Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Menjadi bebanmu selama ini, " lirih suara Dina.
Papa dan mama Dina ikut meneteskan air mata. Mendengar lirih suara Dina. Anak kesayangan mereka. Tak tega melihat Dina akan di tinggal Angga pulang ke kotanya, kota Bengkulu.
Angga kemudian pamit pulang pada kedua orang tua Dina dan Dina. Terasa berat rasanya Angga meninggalkan kekasihnya itu. Tetes air mata keluar juga dari kedua sudut matanya.
"Jangan menangis Angga. Kau harus kuat, doakan aku di sini. Semoga bisa pulih seperti sedia kala, " lirih suara Dina yang membuat kedua orang tuanya ikut meneteskan air mata.
" Enggak Dina, aku cuma sedih tak bisa berada di sisimu selama mungkin. Maafkan aku, " ucap Angga sambil berurai airmata.
"Gak usah sedih Ga. Ada papa dan mama yang menemaniku, " jawab Nara pelan sambil melirik papa dan mama.
Papa dan mama mendengar namanya di sebut hanya mengangukkan kepala sambil tersenyum memandang Dina yang tergolek lemah.
"Angga sebelum kamu pulang. Mau kah kamu menemaniku berjalan di taman rumah sakit, " pintanya pada Angga.
"Bagaimana om, bisa gak, " tanya Angga memohon pada papa Dina.
"Baiklah. Om, akan tanyakan langsung pada dokter dan perawat yang ada di sini, ucap papa Dina sambil beranjak meninggalkan kamar perawatan Dina menuju ruang perawat.
__ADS_1
Setelah bertanya pada perawat dan dokter yang sedang berjaga di ruang perawat. Papa Dina menghampiri Dina dan Angga.
Tak lama kemudian seorang perawat datang sambil membawa kursi roda.
Dengan di bantu perawat, Dina duduk di kursi roda. Angga kemudian mendorong Dina menuju koridor RS. Dina begitu bahagia, raut wajahnya tampak bahagia. Bisa menghirup udara luar. Bisa bernafas di alam bebas. Suatu hal yang sudah hampir 3 bulan tidak pernah ia lakukan.
Papa dan mama Dina tetap tinggal di dalam ruang perawatan Dina. Waktu di tinggal Angga dan Dina, mereka terlihat berbicara serius.
"Aku tahu. Aku telah lama memutus tali silahturahmi Dina dan ibu kandungnya. Semoga dia masih berada di Bengkulu. Apa jadinya kalau ia pindah ke kota lain. Tak bisa aku bayangkan, mencarinya butuh waktu yang lama, " ucap papa Dina datar.
"Ma ... , ijinkan aku mencari mantan istriku. Demi kesembuhan Dina. Aku amat membencinya, makanya tak pernah aku mengijinkan dirinya bertemu Dina. Perselingkuhannya masih menyisakan luka yang mendalam. Aku tak ingin mengingat hal itu sebenarnya. Tapi Dina memerlukan bantuan ibu kandungnya. Semoga sumsum tulang belakangnya cocok untuk Dina, " ucapnya penuh harap.
Mama Dina hanya mengangguk tanda setuju
Terlintas dalam memorinya 25 tahun yang lalu. Waktu itu ia menikah dengan papanya Dina. Dina masih terlalu kecil ketika dipisahkan dengan ibunya. Dina kecil yang merengek memanggil mamanya. Tak ingin berpisah dari ibunya.
Susah payah akhirnya , gadis kecil itu lupa juga akan mamanya. Terlalu jahat hal yang pernah ia lakukan buat anak yang sekarang hanya mengetahui kalau dirinya hanyalah ibu sambung bagi Dina.
Tak lama kemudian, kurang lebih setengah jam Dina dan Angga kembali. Tampak wajah bahagia Dina didorong menggunakan kursi roda oleh Arif.
Dina dibantu Arif kembali ke kasurnya. Angga sangat telaten merawat Dina selama ini.
"Terimakasih Angga. Terimakasih atas segalanya. Aku tak bisa membalas kebaikanmu. Aku bahagia bisa ada di sisimu, " lirih suara Dina.
"Gak Nara, justru aku bahagia bisa menemanimu, " ucap Angga sambil tersenyum duduk di kursi penunggu pasien.
"Di-na, aku pamit pulang ya. Aku akan selalu menunggumu. Kalau libur, aku janji akan menemuimu, " ucap Angga menguatkan Dina.
Dina tersenyum seraya berkata, " terimakasih ya, hati - hati. "
Mama dan papa Dina meneteskan air mata melihat sepasang kekasih yang akan berpisah. Perpisahan Angga dan Dina yang entah kapan akan bertemu kembali ....
Semoga sang waktu dan takdir cinta mempertemukan mereka. Semoga ada hari esok menanti Dina. Papa Dina akan mengusahakan apapun buat kesembuhan puteri kesayangannya itu.
Pengobatan Dina harus terus berlanjut, meskipun papa Dina harus berkorban rasa. Bertahun - tahun memendam kebencian pada sosok ibu kandung Dina selama ini. Dan ... harus mencoba menghapus rasa bencinya selama ini.
__ADS_1
Angga kemudian pamit pulang pada kedua orang tua Dina. Melangkah keluar kamar perawatan Dina dirawat. Melambaikan tangan sebelum menutup pintu. Melangkah keluar dari Nasional University Hospital , meninggalkan kekasihnya di sini. Berharap ada keajaiban Tuhan. Untuk hari esoknya bersama Dina ....