
Atas saran Yoga, Nara berusaha menghubungi beberapa teman kantornya dulu, memberitahu mereka tentang Marcell dan meminta untuk tidak mengatakan apa pun tentang dirinya dan kehidupannya sekarang.
Ternyata beberapa dari mereka ada yang sudah mengetahui tentang kasus Marcell di Bali, sehingga mereka pun sama-sama waspada apabila suatu saat bertemu lagi dengan lelaki itu.
"Mas, jangan lupa hari ini ada pertemuan di kafe jam dua siang. Semua berkas yang harus dibawa sudah aku siapkan di dalam tasmu."
Nara mengeluarkan makan siang kiriman dari rumah yang baru saja diantarkan Pak Budi. Jika tidak ada agenda di luar kantor, mereka selalu makan siang dengan menu buatan Bibi Asih. Dia menata dan membukanya di atas meja, lalu menyiapkan air putih untuk mereka berdua.
"Raga sudah tidur?" Pandangan Yoga mengarah ke pintu kamar yang sengaja dibuka oleh Nara.
"Iya, Mas. Badannya sedikit hangat. Sepertinya demam karena akan tumbuh gigi lagi."
Nara menyuapi suaminya bergantian dengan dirinya sendiri, sementara Yoga masih sibuk memeriksa laporan yang baru saja diantarkan oleh Pram.
"Demam?" Wajahnya mulai terlihat khawatir mengingat tadi Raga memang sedikit rewel dan sangat manja saat bermain dengannya.
"Tidak terlalu tinggi. Gusinya sedikit bengkak karena sundulan gigi yang mulai tumbuh. Mungkin itu yang membuatnya merasa tidak nyaman dan sering menangis seharian tadi."
Nara terus menyuapi Yoga hingga dua kotak makanan mereka habiskan bersama. Setelah memberikan gelas air putih untuk sang suami, dia membereskan semua peralatan makan yang sudah selesai mereka pakai lalu dikembalikannya ke dalam tas bekal.
"Sebelum berangkat ke kafe, aku akan mengantar kamu dan Raga pulang dulu. Dia akan beristirahat lebih nyaman jika berada di rumah bersamamu, Sayang."
"Tapi pertemuanmu nanti, Mas?"
"Raga yang paling penting, Sayang. Lupakan dulu pekerjaanmu. Aku bisa menemui mereka sendiri. Atau kalau Pram ada waktu, aku akan mengajaknya nanti."
Nara diam dan mengangguk patuh karena dia tahu jika menyangkut masalah keluarga, suaminya tidak ingin dibantah karena semua keputusannya pasti demi kebaikan mereka.
Yoga menutup laporan yang baru saja diperiksanya dan dia letakkan di atas meja kerja. Kemudian dia berjalan ke kamar dan mendekati Raga yang masih terlelap di tengah tempat tidur.
Disentuhnya kening sang putra dengan punggung tangannya. Masih terasa lebih hangat dari biasanya. Lalu dia membuka mulut Raga dengan hati-hati untuk memeriksa bakal giginya yang mulai tumbuh.
"Aku sudah memberinya sirup pereda demam." Nara menyusul duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan kedua orang yang disayanginya.
"Aku sudah menghubungi Pak Budi dan beliau masih ada di bawah bersama sekuriti yang sedang bertugas. Aku akan pulang bersama Pak Budi saja, Mas. Jadi kamu bisa langsung pergi ke kafe."
__ADS_1
Yoga mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari bocah tampan kesayangannya. Satu tangannya terus mengusapi kepala Raga sambil memanjatkan doa kesembuhan untuk sang putra.
Nara tersenyum haru menyaksikan pemandangan hangat di hadapannya. Setiap saat dia selalu bersyukur atas anugerah yang dimilikinya tersebut. Seorang suami yang sangat mencintainya dan ayah yang sangat menyayangi putra mereka, juga lelaki yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya.
"Semakin hari, aku semakin mengagumimu, Mas. Sikap dan perhatianmu pada keluarga membuatku selalu jatuh cinta dan mencintaimu semakin dalam."
.
.
.
Tepat jam dua siang, Yoga didampingi Pram sudah tiba di kafe yang menjadi tempat pertemuannya dengan seorang pengusaha muda yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
"Selamat siang, Pak Yoga. Perkenalkan, saya Alam. Dan ini istri saya, Embun."
Sepasang suami-istri yang sangat serasi dan kharismatik menyambut mereka dengan sangat ramah. Yoga menjabat erat tangan Alam, lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada untuk memberi salam pada istrinya.
"Selamat siang, Pak Alam dan Ibu Embun. Senang berkenalan dengan Anda berdua. Dan semoga kita bisa terus menjalin kerjasama yang baik ke depannya."
Mereka bertemu untuk lebih mendekatkan diri secara pribadi, karena dalam beberapa pertemuan sebelumnya Alam masih diwakili oleh asisten dan sekretarisnya.
"Mohon maaf Nara istri saya tidak bisa ikut karena putra kami sedang demam. Semoga di kesempatan berikutnya Ibu Embun bisa bertemu dengannya."
Yoga menatap sekilas wanita anggun tersebut dan memberikan salam hormat dengan gerakan kepalanya.
"Saya sudah tidak sabar ingin bertemu dan berkenalan dengan Ibu Nara, istri dari seorang pengusaha terkenal dari kota besar yang sangat sukses. Semoga nantinya kami bisa menjadi teman baik."
Yoga merasa tersanjung dengan ucapan tulus Embun. Dia berharap hal yang sama, semoga Nara bisa menjalin pertemanan dengan wanita itu, yang dinilainya sangat santun dan sederhana, sama seperti istrinya.
Setelah menyelesaikan urusan pekerjaan dan beramah-tamah dengan suasana yang hangat dan akrab, Yoga pamit untuk kembali ke kantor bersama Pram.
Saat tengah berjalan menuju pintu keluar, tatapan mata Yoga terhenti pada satu sosok yang dikenalnya, yang tengah duduk sendiri di meja paling ujung.
Seketika wajah tenang Yoga berubah tegang dan memerah menahan amarah, saat meyakini bahwa seseorang yang dilihatnya tersebut adalah orang yang dibicarakannya dengan Beno dan Nara beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"Mengapa dia ada di sini? Apakah dia sudah mengetahui tentang aku dan Nara?"
Perasaan Yoga menjadi tidak tenang dan terus memikirkan Nara. Diam-diam dari jarak yang cukup tak terlihat, Yoga mengambil foto orang tersebut dan langsung mengirimkannya pada Beno.
"Dia sudah berada di sini. Segera selidiki tentang dia dan cati tahu apakah dia sudah mengetahui tentang aku dan istriku!!" tulis Yoga dalam pesannya pada sang asisten.
"Pastikan keamanan untuk istri dan anakku dua puluh empat jam tanpa henti. Aku tidak ingin ada yang mendekati keluargaku dengan niat buruk sekecil apa pun itu!!" lanjutnya dalam pesan yang kedua.
Setelah itu Yoga bergegas keluar dan menuju mobilnya. Karena pikirannya terus tertuju pada Nara, dia meminta Pram untuk kembali ke kantor menggunakan taksi daring, sementara dirinya langsung melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Yoga segera masuk ke dalam kamarnya. Hatinya yang semula gelisah dan diliputi kehawatiran, mendadak penuh haru ketika melihat wanita yang dicarinya tengah tidur memeluk putra mereka dengan wajah yang penuh kedamaian.
Melangkah pelan menghampiri keduanya, senyuman mulai terlihat menghiasi wajahnya yang semula tegang dan pias. Seketika hatinya merasa tenang setelah bertemu dengan Nara dan buah hati kesayangannya.
Melepas sepatu dan menggulung asal lengan kemejanya, lelaki itu lalu naik ke atas tempat tidur dan mengungkung tubuh istri dan putranya, kemudian menatap lekat-lekat kedua wajah yang senantiasa membuatnya rindu saat jauh dan bahagia saat dekat dengan mereka.
"Aku akan menjaga kalian dengan seluruh jiwaku. Kalian adalah kekuatanku, sumber kebahagiaanku, dan tujuan dalam hidupku."
Yoga mencium kening Raga dan Nara dengan lembut dan penuh senyuman. Lalu dia merebahkan tubuhnya di samping putranya, sehingga bocah kecil itu kini diapit oleh kedua orangtuanya.
Tangan Yoga memeluk kedua tubuh mereka bersamaan, kemudian mulai memejamkan mata dan terlelap bersama rasa bahagia yang membuai hatinya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.