
Setelah mendapatkan surat pengantar yang diperlukan untuk esok hari, Ardi terlebih dahulu menyelesaikan administrasi pembayaran di area lobi utama. Sementara itu, Alya keluar dengan Aura yang sudah tertidur di dalam pelukannya.
"Al, apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Rendy yang berdiri di samping Yoga yang juga melihat kehadiran dokter berhijab anggun yang sudah sampai di hadapan mereka.
Rendy merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat Alya menggendong Aura dengan penuh kasih sayang, sama seperti yang dilihatnya saat berada di rumah duka Ardi empat bulan silam. Ada yang terasa menusuk di hatinya meskipun dia tidak ingin berpikiran ke mana-mana.
"Besok pagi akan dilakukan pemeriksaan oleh dokter anak dan pemeriksaan laboratorium guna memastikan semuanya," jawab Alya dengan suara lirih nan lembut yang ditahannya agar tidak mengganggu pulasnya tidur Aura.
Ditatapnya wajah polos dan menggemaskan bayi di dalam dekapan kedua tangannya, yang masih menyisakan roman pucat yang berangsur memerah dan kembali pada suhu tubuh normalnya.
Ardi datang dan menyaksikan dengan penuh haru, saat Alya menunduk dan terus memandangi wajah putri kecilnya, membelai lembut dengan ujung jemarinya, kemudian memberikan ciuman tulus di kening dan kedua pipi ranum bayi cantik tersebut.
Tak ingin larut dalam perasaannya lagi, Ardi mengalihkan perhatian ke arah lain. Yoga yang sudah melihatnya menghampiri dan mengajaknya segera pulang mengingat malam mulai larut.
"Kita pulang sekarang, Di? Kasihsn Aura jika terlalu lama di luar malam-malam begini, apalagi dia masih sakit."
Ardi mengangguk dan segera menghampiri Alya yang masih terus mendekap dan menciumi putri kecilnya.
"Al, kami pulang dulu," kata Ardi pelan setelah sampai di depannya.
Alya yang tengah terhanyut dalam kasih sayang pada bayi mungil di pelukannya, mengangkat wajah dan sekilas menatap Ardi yang juga menatapnya.
"Al? Kamu menangis?" Betapa terkejutnya Ardi saat mendapati wajah wanita berhijab itu basah oleh air mata yang juga masih tampak menggenangi kedua pelupuknya.
Ada desiran yang begitu halus terasa mengaliri sukma kala melihat butiran bening itu menetes pelan di pipi wanita anggun itu.
"Ah, maaf. Aku tidak apa-apa."
Buru-buru Alya menunduk lagi dan menyekanya dengan punggung tangan, kemudian setelah itu sekali lagi mencium lembut kening Aura.
Diserahkannya bayi mungil yang masih terlelap itu ke pangkuan kedua tangan Ardi yang sudah siap untuk mendekap putri kecil kesayangannya.
"Terima kasih kamu sudah memudahkan kami mendapatkan jadwal pemeriksaan untuk besok pagi." Ardi mengingat bantuan Alya di dalam ruangan tadi.
"Besok pagi aku akan menemani kalian menemui dokter anak. Jangan khawatir, Aura anak yang kuat, dia pasti lekas pulih dan sehat kembali."
__ADS_1
Ardi mengangguk dan tersenyum sekilas yang tanpa sadar dibalas pula oleh Alya. Sempat Ardi terhanyut oleh senyuman lembut yang lama tak pernah lagi dilihatnya itu, tapi segera dia kembalikan pikirannya pada putri semata wayang dalam pelukannya.
Mobil yang dikemudikan oleh Pak Budi sudah datang dan berhenti tepat di depan mereka semua. Yoga membuka pintu belakang dan meminta Ardi masuk bersama sang putri yang terus terlelap, lalu menutupnya kembali.
Setelah berpamitan kepada Alya dan Rendy, Yoga masuk dan duduk di samping kemudi. Perlahan mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah sakit.
"Ayo, Al. Kita juga pulang." Rendy yang masih merasa sedikit tidak nyaman memilih untuk segera mengantarkan Alya ke rumahnya.
Berdua dalam hening, mereka terdiam tanpa kata di sepanjang perjalanan. Alya tampak masih larut dalam pikirannya tentang kesehatan Aura, berbeda dengan Rendy yang justru memikirkan keberadaan Ardi di kota ini.
"Harusnya aku tidak perlu merasa sakit hati seperti ini, karena dari awal aku sudah tahu bahwa hatinya memang tidak pernah berpaling dari lelaki itu."
Rendy mulai mengatur napasnya yang terasa sesak lantaran pikiran tentang Alya dan Ardi yang terus menguasai bayangannya.
"Kamu tidak apa-apa, Ren?" tanya Alya yang mendengar suara tarikan dan hembusan napas yang cukup kasar dari lelaki itu hingga membuyarkan lamunannya.
"Entahlah. Aku hanya merasa tidak nyaman saat melihat keberadaan Dokter Ardi yang tiba-tiba saja ada di kota ini," jawab Rendy apa-adanya tentang ketidaknyamanan yang dirasakannya.
Alya menunduk lagi dan merasa bersalah atas apa yang dirasakan lelaki itu saat ini.
Ada yang mengganggu pikiran Rendy dan menjadi pertanyaannya sejak tadi.
"Apa kamu sudah tahu jika dia ada di sini?"
Alya mengangguk jujur dan menatap ke luar jendela. Wanita itu mengingat pertemuannya dengan Ardi yang di luar dugaan sama sekali.
"Kami bertemu di rumah Pak Yoga kemarin sore."
Rendy merasa semakin tersisihkan dari Alya, padahal kenyataannya tidak ada yang istimewa dalam pertemuan mereka kemarin.
"Apa kalian juga berbicara berdua?" selidik lelaki itu tanpa ingin disembunyikannya lagi rasa yang menganggu di relung sanubari.
"Tidak. Kami hanya bertemu sekilas saat dia datang dan ketika aku hendak pulang."
Rendy diam dan semakin larut dalam perasaan tidak nyaman di hatinya. Dia merasa terabaikan padahal dia bukan siapa-siapa bagi Alya. Dia merasa tidak dianggap padahal memang tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka.
__ADS_1
"Apa aku salah jika aku cemburu dan kini menganggapnya sebagai rivalku, Al?" tanya Rendy lagi.
Alya tidak menjawab dan memilih untuk tetap diam mendengarkan apa pun yang akan dikatakan oleh lelaki di sampingnya.
"Aku tahu aku berlebihan dengan perasaanku ini. Tapi itulah yang aku rasakan sekarang, Al. Sejak Dokter Ardi berubah status setelah kehilangan istrinya, aku merasa semakin takut kehilangan kamu."
Alya menyalahkan dirinya lagi. Mengapa dulu dia harus menerima permintaan Rendy untuk menjalani kebersamaan yang lebih dekat dan terbuka, meskipun tetap sebatas teman baik.
"Harusnya dulu aku tetap membatasi kebersamaan kita, Ren. Harusnya aku tidak luluh pada permintaanmu yang ingin kita lebih sering melewatkan waktu bersama, walau tanpa status apa pun selain kita tetap berteman baik."
Rendy menatap sekilas ke arah Alya yang masih menatap ke luar jendela. Ada rasa bersalah yang akhirnya menghampiri hatinya.
"Mengapa harus kukatakan semuanya? Mengapa harus aku akui semuanya? Harusnya aku bisa menahan diri dan tetap menyimpan semuanya di dalam hati. Bukan malah meluapkan segalanya yang sekarang pasti membuatnya merasa tidak nyaman lagi bersamaku."
"Maafkan aku, Al. Aku tidak bermaksud untuk menyudutkanmu. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu merasa bersalah." Rendy berusaha lebih menahan diri untuk tidak terbawa situasi.
"Aku yang salah, aku yang keterlaluan dalam menyikapi hubungan biasa kita dan menganggapnya luar biasa. Sekali lagi maafkan aku, Al."
Rendy masih terus menyalahkan dirinya dan merutuki perbuatannya yang melewati batas, dan pastinya telah menyinggung serta menyakiti perasaan Alya saat ini.
"Ternyata aku masih pamrih, ternyata aku masih egois. Ternyata aku belum bisa setulus hati dalam mencintainya. Masih ada harapan yang seringkali kupaksakan, sekalipun aku tahu semua itu tidak akan bisa menjadi kenyataan."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.