
"Apa kabarmu, Rik?"
Satu minggu usai melahirkan putri cantiknya, Cindy membesuk suaminya di rumah tahanan.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan anak kita?" tanya Riko sambil menikmati makan siang yang dibawakan oleh istrinya.
Cindy mengeluarkan ponselnya lalu membuka galeri dan menunjukkan foto-foto bayi mungil mereka.
Riko meletakkan sendoknya lalu mengambil ponsel Cindy dan memperhatikan satu per satu foto bayi mungil mereka. Wajahnya berubah penuh dengan senyuman tatkala menatap beberapa foto cantik tersebut.
"Dia sangat cantik, sama sepertimu."
"Semua orang mengatakan hal yang sama seperti itu, Rik."
"Benarkah?" tanya Riko tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang putri di layar ponsel istrinya.
"Ya. Bahkan dokter yang membantu melahirkannya pun mengatakan demikian."
Dengan wajah bahagianya, sejenak Cindy mengingat Alya, orang yang berjasa dalam proses persalinannya.
"Kalau bukan dia yang mendampingiku dan menenangkanku, mungkin aku sudah menyerah dari awal dan meminta dilakukan operasi saja."
Sebenarnya, bukan Alya yang rencananya akan didatangi Cindy saat hendak melahirkan bayinya. Seperti permintaan Riko, sudah ada dokter lain di klinik berbeda yang menjadi pilihan lelaki itu agar istrinya melanjutkan pemeriksaan kehamilan hingga menjalani persalinan di tempat tersebut.
Cindy memang menuruti permintaan Riko. Setelah pemeriksaan terakhirnya di klinik Alya dan pertemuannya dengan mantan istri suaminya itu diceritakannya pada Riko, sontak suaminya murka dan meminta Cindy tidak lagi mendatangi klinik tersebut agar tidak lagi bertemu dengan wanita yang sangat dibencinya sejak kecil.
Namun ketika dia mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan, pikirannya selalu tertuju pada wanita yang berpenampilan anggun dengan hijabnya tersebut.
Bayangan perlakuan Riko pada Alya dan kekerasan yang kerap kali dilakukannya pada wanita itu membuat Cindy didera rasa takut dan khawatir jika suatu saat kelak, perlakuan buruk suaminya itu akan berbalik dan dialami oleh putri mereka.
Di sela-sela kontraksi yang semakin sering dan rutin dirasakannya, wajah lembut Alya terus membayangi pikiran Cindy, bercampur dengan kekhawatiran karena harus menjalani persalinan sendiri tanpa ada suami yang mendampinginya.
Ketakutannya akan karma buruk yang mungkin akan menimpa kehidupan putrinya kelak, membuat Cindy ingin menemui Alya sebelum melahirkan dan meminta maaf atas sikap buruk Riko pada wanita itu selama ini.
__ADS_1
Ditemani oleh Miko dan istrinya yang selama ini menjaga dan menemaninya, Cindy pergi ke klinik di mana Alya bekerja dan pernah dia temui sebelumnya. Hingga akhirnya dia bisa beremu dengan Alya dan melahirkan bayinya dengan bantuan langsung wanita itu.
"Sudah kukatakan padamu, dia adalah dokter yang lebih berpengalaman. Karena itulah aku memintamu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan dan juga melahirkan bayi kita di sana."
Riko meletakkan ponsel Cindy di atas meja dan melanjutkan makan siangnya dengan lahap. Dia belum tahu jika bukan dokter yang dimaksudnya itu yang telah membantu proses persalinan sang istri tercinta.
Cindy masih terdiam dan membiarkan Riko menghabiskan dulu makan siangnya, juga menikmati jus buah segar buatannya untuk sang suami.
"Sebenarnya, aku tidak jadi melahirkan di sana ...," ucap Cindy dengan wajab tenang, usai sang suaminya menghabiskan semua bekal yang dibawakannya.
Riko menoleh ke samping, menatap tajam ke arah istrinya yang sudah lebih dulu menundukkan kepala.
"Jangan bilang kamu pergi ke klinik itu lagi?!" Suara lelaki itu meninggi setiap kali mendengar hal yang berhubungan dengan mantan istri yang tak pernah dicintainya.
"Ya. Aku memang sengaja pergi ke sana untuk menemui Alya."
Tak ada lagi rasa takut untuk mengakui semuanya, meskipun Cindy tidak terbiasa mendengar suara keras Riko kepadanya. Hanya kepada Alya, lelaki itu selalu bersikap penuh amarah yang tak berujung.
Riko menahan kemarahannya di dalam hati. Ada beberapa petugas yang mengawasi dalam ruang pertemuan tersebut. Lagipula, dia tidak mungkin marah kepada istrinya. Hanya kecewa karena Cindy tidak mengindahkan permintaannya.
Riko semakin menggeram mengetahui istrinya justru meminta maaf kepada wanita yang membuat hidupnya serasa diabaikan dan tidak diistimewakan lagi oleh keluarganya sendiri.
"Sebelum aku bertemu Alya, aku merasa sangat kesakitan namun saat diperiksa oleh dokter, pembukaanku tidak bertambah sama sekali."
"Saat itulah aku teringat pada Alya sekaligus teringat tentang kesalahan yang sudah aku dan kamu lakukan kepadanya. Aku takut aku tidak punya waktu lagi untuk meminta maaf kepadanya, sementara aku mulai berada di ujung nyawa untuk melahirkan anak kita."
Riko mulai tersentuh oleh ucapan istrinya. Dia membayangkan beratnya perjuangan sang istri untuk bisa melahirkan putri cantik mereka ke dunia. Apalagi dia tidak bisa berada di sana dan menemani di samping Cindy.
"Maafkan aku karena tidak bisa mendampingimu dan memberimu kekuatan di sana saat itu."
"Semuanya karena dia!"
Riko menyalahkan Alya. Gara-gara Alya, dia harus melewatkan momen indah menyambut kehadiran si kecil di tengah-tengah keluarga mereka untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan Alya lagi, Rik. Dia tidak tahu apa-apa dan tidak melakukan apa pun pada keluarga kita. Kamulah yang salah karena kamu yang selalu menyakiti dirinya."
Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Riko, Cindy mencoba untuk meredam kemarahan di dalam diri suaminya. Dia tidak ingin lelaki itu terkena masalah lagi hanya karena masih menyimpan dendam yang tak berkesudahan pada Alya.
"Kamu masih beruntung, Alya hanya menindaklanjuti satu laporan yang sudah dimasukkan lebih dulu oleh seseorang yang mengetahui perbuatanmu itu. Bukan menambahi laporan lain yang lebih berat tentang perilakumu selama bertahun-tahun sebelumnya."
Tetap saja, Riko beranggapan lain dan tidak terima atas keberanian wanita itu membenarkan laporan yang diadukan atas perbuatannya, sekalipun itu benar adanya.
"Sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah dan anak pertama kita adalah perempuan. Pernahkah kamu berpikir dan membayangkan jika akibat dari perbuatanmu sekarang, suatu saat kelak dia juga akan mendapatkan perlakuan buruk yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Alya selama ini ...??"
Dada Riko bergemuruh hebat mendengar penuturan Cindy yang cukup mengena di hatinya dan membuatnya berpikir tentang masa depan bayi cantik mereka.
Namun di sisi lain, perasaan benci itu terlanjur mendarah-daging di dalam hatinya. Dia tidak suka Alya menikmati hidupnya sementara dia harus mendekam di balik jeruji dan menjalani kesendirian dalam dinginnya dinding penjara.
"Jadilah ayah yang baik dan bijaksana untuk anak kita. Berikan contoh yang baik dengan perilaku baikmu yang akan menjadi teladan bagi anak kita. Karena sejatinya seorang anak adalah peniru ulung dari apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya."
Sekali lagi hati Riko tersentuh mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan istrinya tentang tanggung jawab utama mereka sebagai orangtua.
"Haruskah aku berhenti sekarang dan melupakan semua sakit hati yang selama ini aku rasakan karena kehadirannya di tengah-tengah keluargaku ...?"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.