CINTA NARA

CINTA NARA
2.19. BERMANJA DENGAN SUAMI


__ADS_3

Tidak ada yang tahu jika ada kesedihan lain yang dirasakan Nara selain trauma tentang kejadian buruk itu. Hanya suaminya yang tahu dan terus menguatkannya kembali.


Usai keguguran yang dialaminya, diam-diam Nara masih terus menangis meratapi kehilangannya. Meskipun mereka belum berencana menambah momongan, tapi hadirnya kehamilan kemarin pastilah sangat mereka syukuri.


Apalagi Nara memang berharap bisa mempunyai banyak anak bersama Yoga, sehingga Raga memiliki teman bermain dan rumah mereka akan selalu ramai dengan keseruan dan keceriaan anak-anak mereka.


Sebenarnya mereka baru berencana untuk mengawali program kehamilan di tahun depan, saat Raga sudah berusia tiga tahun sehingga ketika adiknya lahir nanti, si sulung sudah mulai bersekolah.


"Mas, kata Dokter Ardi kita bisa langsung melakukan program kehamilan lagi, jika kita berdua sudah siap."


Sebelum mereka tidur, Nara memberanikan diri untuk membicarakan tentang keinginannya pada Yoga.


Karena keguguran yang dialami kemarin, Nara ingin segera hamil lagi untuk mengobati rasa kehilangannya.


"Lalu, apa kamu sudah merasa siap, humm ...??"


Yoga melingkarkan tangan kirinya di pinggang Nara, sementara tangan kanannya berpindah ke atas perut sang istri, menyatu dengan tangan Nara yang sudah lebih dulu berada di sana. Mereka masih duduk bersandar pada kepala tempat tidur.


Ditatapnya wajah sang istri yang penuh pengharapan, membuatnya tidak tega untuk tidak mengabulkan keinginannya.


Nara membalas tatapan mata teduh dari suaminya, membuatnya semakin yakin untuk menganggukkan kepala tanpa ragu lagi.


"Iya, aku siap, Mas," jawab wanita itu mantap.


Meskipun sebenarnya masih mengkhawatirkan kondisi psikis istrinya yang belum sepenuhnya pulih dari trauma yang dialaminya, tapi Yoga tidak kuasa untuk menolak keinginan Nara.


Mungkin saja, dengan dia hamil lagi hal itu justru bisa menjadi penawar rasa kehilangannya yang dulu.


"Kamu yakin sudah benar-benar siap untuk hamil kembali?" Sekali lagi Yoga mencari kepastian jawaban dari Nara agar dia pun merasa yakin untuk memutuskan jawabannya.


"Aku yakin, Mas. Aku siap untuk mengandung anak kedua kita." Nara mengelus lalu menggenggam tangan suaminya yang masih berada di atas perutnya.


Yoga tersenyum meskipun samar. Sungguh dia tidak pernah bisa untuk menolak keinginan wanita itu. Wanita yang sudah memberinya seorang anak dan sekarang ingin segera hamil dan melahirkan anak kedua mereka.


"Baiklah. Kita akan melakukannya, Sayang. Tapi, aku mau kita pergi konsultasi dan menjalani pemeriksaan ulang terlebih dahulu dengan Dokter Alya dan juga Ardi."


Wajah Nara berbinar bahagia. Pijar harapan menyala terang dalam sorotan kedua mata beningnya.


"Terima kasih, Mas. Terima kasih!"

__ADS_1


Kedua tangan Nara berpindah memeluk pinggang suaminya. Lalu sebelum dia merebahkan diri di atas dada Yoga, dia menghadiahi satu kecupan di bibir lelaki itu.


Yoga hanya bisa tersenyum melihat kegembiraan dan kebahagiaan istrinya. Hal yang selalu ingin dilihatnya dari Nara.


Lelaki itu mempererat dekapan hangatnya dan memberikan ciuman tanda kasih di kepala wanita kesayangannya.


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu, Sayang. Terima kasih karena kamu bersedia untuk kembali mengandung anak kita, bahkan setelah apa yang baru saja kamu alami."


Sembari membelai rambut indah Nara, Yoga menempelkan pipinya di atas kepala sang istri dengan perasaan haru.


Tiba-tiba dia teringat pada masa awal kehamilan Nara dulu. Kehamilan yang merupakan buah dari tindakan nekatnya pada Nara di saat kekalutan dan keputusasaan tengah menguasai dirinya atas penyakit yang dideritanya dan nyaris merenggut nyawanya dalam waktu yang singkat.


"Kali ini aku akan menjadikan masa kehamilanmu sebagai masa kehamilan yang indah dan menyenangkan. Kita berdua akan bersama-sama melewati masa kehamilanmu dengan perasaan bahagia sepenuh hati, Sayang."


.


.


.


Minggu berikutnya, Yoga mengajak keluarganya pulang ke rumah orangtua Nara. Yoga sengaja memutuskan untuk menginap di sana selama kembali ke kota kelahiran mereka, agar Bapak dan Ibu bisa lebih leluasa melepaskan kerinduan pada cucu pertama mereka.


"Nanti malam Raga bobok sama Kung dan Uti, mau?" tanya Bapak sambil memangku cucu kesayangannya.


"Bu, Pak, nanti sore kami titip Raga dulu. Aku dan Mas Yoga akan pergi ke klinik Dokter Ardi."


"Lho, apa ada masalah lagi setelah kamu kuret kemarin?" tanya Ibu khawatir, akan tetapi segera dijawab oleh Nara dengan gelengan kepala.


"Tidak, Bu. Kami hanya ingin berkonsultasi saja."


Yoga keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan kemeja.


"Sayang, aku akan pergi ke kantor sebentar. Apa kamu mau ikut?" Yoga yang sudah rapi pamit kepada istrinya.


"Ada mobil Bapak, kamu pakai saja, Ga." Bapak hendak mengambilkan kunci mobilnya di kamar tetapi ditahan oleh Yoga.


"Tidak perlu, Pak. Sebentar lagi sudah ada yang akan menjemput saya." Di kamar tadi, Yoga sudah menghubungi sopir di kediamannya untuk datang menjemput.


Bapak urung berdiri dan kembali bermain bersama Raga yang sekarang dipangku oleh neneknya.

__ADS_1


"Aku di rumah saja, Mas. Jangan lupa nanti sore jam empat kita sudah membuat janji dengan Dokter Ardi." Nara berdiri untuk mengantarkan suaminya ke depan.


"Ya, Sayang. Nanti aku akan pulang bersama Indra." Setelah mencium kepala putranya, Yoga pun pamit pada kedua mertuanya dan melangkah keluar bersama Nara.


Dengan manja Nara menggelayut mesra di lengan suaminya sambil bercengkrama ringan menunggu mobil Yoga datang.


"Kamu tidak malu, manja begini di depan Bapak dan Ibu?" goda Yoga pada istrinya yang masih bermanja di lengan kokoh suaminya.


Bukannya melepaskan, tangan Nara justru berpindah memeluk pinggang lelaki tercintanya hingga tubuh mereka semakin merapat.


"Mengapa harus malu untuk memeluk suami sendiri?" Nara tersenyum malu-malu. Entah mengapa hari ini dia ingin bermanja dengan suaminya.


Melihat wajah Nara yang merona, Yoga mengacak rambut istrinya dengan gemas lalu mencium puncak kepalanya.


"Aku menyukai sikapmu yang manja dan berani seperti ini, Sayang," bisik Yoga di telinga Nara hingga memerahkan wajah wanita itu secara keseluruhan.


Nara menunduk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, tanpa peduli bila mereka tengah berdiri di teras depan.


"Apa kamu ingin menahanku pergi, humm ...?!" Yoga kembali berbisik di telinga Nara hingga wanita itu kegelian karena sapuan hangat nafas suaminya yang membuat dadanya berdesir halus.


Nara terdiam tanpa menjawab pertanyaan suaminya. Sikap tersebut membuat Yoga tersenyum lebar disertai gelegar bahagia di hatinya.


Mobil yang menjemput Yoga datang. Sopir turun dan siap membukakan pintu untuk tuan mudanya.


Nara melepaskan pelukannya lalu mencium tangan sang suami dengan takdzim. Yoga membalasnya dengan meninggalkan ciuman sayang di kening istrinya, seraya berbisik lagi di telinga Nara.


"Jangan menolakku nanti malam, dan bersikaplah seperti ini karena aku sangat menyukainya ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2