
Menjalani hari - hari sendiri. Inilah yang dilakukan Dina. Hubungannya dengan Angga sedang break. Sudah hampir satu minggu ini mereka hanya saling tatap saja kalau bertemu di dalam kelas.
Tak banyak yang berubah. Ternyata waktu satu minggu hal yang dirasakan Dina justru membuatnya sadar. Cintanya pada Angga sangat besar. Tak ingin berlarut - larut dalam permasalahan Angga dan Nara. Biarlah kisah mereka telah usai. Sekarang Angga hanyalah milikku seorang. Bukan Nara.
Semua orang punya cerita kelam tentang cinta. Dan Dina ingin cerita cintanya berakhir bahagia. Berharap ia dan Angga akan bersatu dalam ikatan sakral pernikahan suci.
Suatu siang di kampus, hari sabtu. Pelajaran mata kuliah hari ini hanya sampai jam 13.00 Wib. Tak ingin berlama - lama break dengan Angga. Dina memulai mendekati Angga kembali.
Angga terlihat seorang diri. Semua orang satu persatu meninggalkan kelas. Angga sedang merapikan beberapa buku catatannya kedalam tas ranselnya.
"Hai ... , " ucap Dina sambil duduk dibangku kosong sebelah Angga.
Angga hanya menoleh sesaat dan kemudian tetap fokus dan tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Dia tetap memasukan beberapa buku dan fotocopy yang berserakan dimeja.
"Angga ... , kau masih marah padaku, " ucap Dina dengan suara keras.
"Iya, " jawabnya pelan.
"Yang seharusnya marah adalah aku, " ucap Dina lantang.
"Aku marah karena keputusan sepihak mu untuk break dulu hubungan kita. Dan sekarang kau datang mau apa? bukannya ini semua adalah permintaanmu padaku, " ucap Angga ketus.
"Aku minta maaf padamu. Setelah seminggu kita break aku sadar sepenuhnya. Kalau ini semua bukan salahmu sepenuhnya. Aku ingin hubungan kita kembali seperti semula, " ucap Dina memohon.
"Baiklah ... , kita akan sama - sama berusaha melanjutkan hubungan ini. Semoga hubungan ini bisa segera kita halalkan, " jawab Angga menerima permohonan maaf Dina.
"Tapi bagaimana pertemanan kamu dengan Nara, " ucap Angga.
"Biarkan saja hubungan persahabatan ku putus. Aku hanya ingin selalu bersamamu. Tak apa tak punya sahabat, asal jangan pernah kehilangan dirimu kembali, " jawab Dina.
Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Dina. Angga langsung menarik tubuh gadis itu. Dipeluknya erat Dina dalam dekapannya.
Dina bahagia bisa merasakan kembali kehangatan dalam pelukan kekasihnya. Dirangkulnya erat sang kekasih dalam pelukannya. Tak ingin rasanya jauh darinya.
Dina menangis bahagia. Dilepaskannya pelukan dari tubuh Angga. Sesenggukan dan ... tiba - tiba tubuhnya oleng limbung. Dina pingsan.
Untung saja Angga sigap. Dipeluknya kembali tubuh Dina. Terasa berat. Lalu direbahkannya Dina dilantai kelas. Diguncang - guncangannya badan Dina. Tapi dia tak bergeming. Angga lalu berteriak meminta bantuan.
"Tolong ... tolong ... tolong ...."
Angga berteriak sangat panik. Beberapa orang datang menghampiri Angga dan Dina.
Ada yang berusaha membangunkan Dina dengan memberikan/ membubuhkan minyak kayu putih pada hidung Dina. Ada juga yang memencet - mencet jari kaki Dina. Dina masih tak bergeming. Tangan dan kakinya terasa dingin.
__ADS_1
Angga menangis sesenggukan memanggil nama Dina. Air matanya menetes tumpah di wajah pucat Dina. Angga sangat khawatir akan keadaan Dina. Untuk yang kedua kali dalam hidupnya Angga merasa takut. Takut hal buruk menimpa gadis yang ia cintai. Gadis yang membuatnya mengenal cinta untuk pertama kalinya. Dina. Cinta pertama Angga.
Memerlukan waktu 5 menit. Dina siuman. Diedarkannya pandangan ke sebelah kanan. Dilihatnya Angga masih menatapnya dengan mata berkaca - kaca.
"Kamu kenapa Angga, " lirih suara Dina.
"Alhamdulillah ... , kamu sudah sadar, " Angga lalu menggenggam erat tangan Dina.
"Aku ada dimana?, " ucap Dina sambil berusaha duduk.
"Kenapa semua orang berkerumun disini. Kenapa Angga, " Dina mengarahkan pandangnya disekitarnya.
"Tadi kamu pingsan Dina. Semua orang disini mengkhawatirkan dirimu. Terimakasih semuanya ya, " ucap Angga pada orang disekelilingnya.
"Iya sama - sama, " ucap seseorang diikuti dengan yang lain.
Kemudian satu persatu dari mereka pergi meninggalkan Angga dan Dina.
Angga lalu memapah Dina sampai keluar kampus menuju mobil Dina yang ada diparkiran. Dina duduk didalam mobil. Lalu Angga menelpon papanya Dina.
"Assalamualaikum om , ini Angga om. Mau memberi kabar. Dina pingsan di kampus. Sekarang udah sadar om.
"Waalaikum salam. Alhamdulilah sudah sadar. Dina mana Ga?, " pinta ayah Dina.
Lalu Angga memberikan ponselnya pada Dina. "Iya pa. Dina cuma pingsan aja. Kayaknya pagi tadi aku gak sarapan pa, "Dina berdalih.
"Gak usah pa. Aku di kosan saja, " lirih suara Dina.
"Sekarang mana Angga. Papa ingin bicara. "
Lalu ponsel dikembalikan pada Angga kembali.
"Iya, ada apa om?, " tanya Angga.
"Kamu tunggu aja dulu Dina di kosannya. Nanti sore om kesana jemput Dina. Tolong dijagain dulu ya, ' ucap papa Dina memohon pada Angga.
"Iya om. Nanti aku antar dan menjaganya sampai om datang menjemput, " jawab Angga.
"Makasih banyak ya Angga. Assalamualaikum, " papa Dina mengakhiri telponnya.
"Waalaikum salam, " Angga mematikan ponselnya.
"Papa memang lebay Angga. Aku cuma pingsan karena belum sarapan doang, " ucap Dina membela diri.
__ADS_1
"Iya gak apa - apa Dina. Kalau kamu dikosan siapa yang akan menjagamu. Apa kata orang kalau aku yang menjagamu, " ucap Angga sambil tertawa terkekeh.
Angga lalu mengendarai mobil menuju kosan Dina. Membawa Dina untuk beristirahat sejenak. Sesampainya dikosan Dina. Angga minta izin dengan yang punya kosan untuk menjaga Dina sampai papanya datang menjemput.
Dina sudah didalam kamarnya. Angga lalu membuatkan teh manis buat Dina. Setelah memastikan minuman sudah diseruput oleh Dina. Angga menunggu diluar kamar. Menunggu diruang tamu. Membiarkan Dina untuk tidur. Tak lama kemudian Angga sudah tertidur lelap.
Angga terbangun dari tidurnya. Suara dering telpon membangunkannya. "Assalamualaikum Angga, saya papanya Dina. Didepan ada ajudan saya yang akan membawa Dina pulang ke rumah."
"Waalaikum salam. Iya om, saya akan membangunkan Dina terlebih dahulu, " jawab Angga mengakhiri suara teleponnya.
Angga lalu beranjak ke kamar Dina. Melihat gadis cantik itu tertidur amat pulas. Sebenarnya tak tega membangunkan Dina yang terlihat sangat cantik pada saat tidur.
Tapi mau gaka mau ia membangunkan kekasihnya itu.
"Dina ... bangun, " panggil Angga seraya mengguncang pelan bahu Dina.
Dina langsung terbangun. Menggeliat sebentar sebelum benar - benar bangkit dari tidurnya. Ditatapnya wajah kekasihnya. Dia masih disini. Menemaninya yang masih tergolek lemah. Lalu Dina tersenyum seraya berkata , " Ada apa sayang."
Angga diam sesaat. Suara ini yang membuat Angga selalu ingin mendengarnya. Suara yang membuatnya selalu merindukannya. "
"Oh itu sayang. Ajudan papamu ada didepan kosan. Siap - siap mau menjemputmu pulang ke rumah, " jawab Angga sambil duduk ditepi tempat tidur.
Dina kemudian duduk. Dengan kedua kaki masih tetap lurus dikasur. Tiba - tiba ia batuk. Tangan kanannya reflek menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Tak sengaja menyenggol hidungnya. Ada darah ditelapak tangannya. Dina mimisan untuk yang kesekian kalinya.
"Kamu kenapa sayang, " ucap Angga seraya menghapus sisa darah yang masih menetes pada hidung Dina dengan sapu tangan miliknya.
"Aku sudah hampir 2 minggu ini mimisan terus. Mungkin karena aku kecapekan, " ucap Dina.
"Memang biasa mimisan ya, " tanya Angga sambil tetap menyeka darah yang menetes pada hidung Dina.
"Kalau kecapekan saja sayang, " jawab Dina.
"Ya udah, sekarang siap - siap. Ajudan papamu sudah ada di depan kosan, " ucap Angga.
Angga lalu membantu Dina membawa barang - barang Dina untuk dibawa pulang ke rumahnya. Setelah dirasa cukup. Angga memapah Dina membawa kekasihnya itu ke teras kosan.
Di teras ada 2 orang pemuda berpakaian polisi.
"Sore mbak ... , saya ajudan bapak mau menjemput mbak pulang ke rumah, " ucap ajudan papa Dina.
"Iya, " jawab Dina pelan.
"Aku pulang dulu ya sayang. Nanti sering - sering telpon aku ya, " pinta Dina pada Angga.
__ADS_1
"Iya sayang. Aku akan sering menelponmu, " ucap Angga sambil tersenyum memandang Dina.
Dina bersama kedua ajudan papanya meninggalkan Angga seorang diri. Tinggallah Angga seorang diri. Melambaikan tangan perpisahan. Semoga Dina akan cepat pulih. Semoga dia akan kembali di sini. Belajar bersama lagi dan menikmati hari - hari indah bersamanya lagi. Aku menunggumu Dina. Kekasihku ....